Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

ada cerita dibalik secangkir kopi

Kopi buat saya adalah wajib. Minimal 2 hari sekali. Kalau saya nggak ngopi, bisa sakit jiwa. Saya bisa jadi tukang ngamuk yang senggol bacok. Pernah sehari saya benar-benar lupa ngopi, akibatnya nggak ada satu pekerjaanpun yang beres saya lakukan tanpa marah-marah dan mencet-mencet tuts keyboard dengan kasar. Pernah juga saya dengan sadar nggak ngopi seharian. Mengistirahatkan perut saya yang memang menderita maag. Seharian sih baik-baik aja, ya pastinya dengan bawaan marah-marah. Tapi besok paginya, mendadak saya migren. Sejak itu, saya nggak berani lagi bereksperimen sehari tanpa kopi.

Kopi buat saya adalah hitam, kental dan pahit. Perbandingannya 3 : 1 atau 2 : 1. 3 atau 2 sendok kopi dan 1 sendok gula. Harus pahit. Kalau manis ya mending saya minum teh manis aja :D Kenapa harus pahit? Mungkin karena saya memang terbiasa dengan hidup yang pahit kali ya hehehehe….

Kopi buat saya adalah cerita. Terlalu banyak cerita yang mengalir dalam secangkir kopi. Rasanya, orang-orang sekantor tau, bahwa ketika mood saya sedang jatuh, saya harus ngopi. Daripada saya juga merusak mood orang-orang sekantor kali ya :p

Ritual setiap pagi saya adalah merebus 2 cangkir air dan 4 sendok bubuk kopi. Setelah mendidih, saya seduh dalam satu cangkir untuk suami, dan seduhan kedua saya masukkan ke termos kecil, untuk bekal saya di kantor. Karena saya nggak mau lagi membayangkan sehari tanpa kopi.

Ah iya, sebungkus kopi Jambi hadiah seorang kawan masih tersimpan di lemari, karena sebungkus kopi Lintong yang saya beli di salah satu kedai kopi sudah menipis.

Jurus 3i untuk Masa Depan Lebih Baik

Ketika akhirnya mendadak diumumkan kenaikan BBM tanpa pemberitahuan sebelumnya, mau nggak mau akhirnya bikin saya mikir juga. Setelah ngecek lagi keuangan, baru sadar ternyata memang kami berdua ini boros. Dan penggunaan paling banyak biasanya buat makan. Duh :/ Apalagi ngopi-ngopi. Itu juga salah satu yang bikin keuangan kami akhirnya nggak pernah tertata dengan rapi.

Beberapa waktu yang lalu, Din, chief-nya Blogger Sumut, tempat saya terdaftar jadi salah satu blogger (yang malas), nawarin  di twitter untuk datang ke satu acara keuangan. Saya pikir sih, ini mesti promosi dari salah satu badan keuangan buat blogger untuk jadi buzzer. Atau sesuatu yang seperti itu. Tapi, akhirnya setelah menyesuaikan waktu, karena acaranya hari Minggu (dan hari Minggu adalah waktu buat Yash), saya setuju. Niatnya sih buat sekedar ngumpul-ngumpul sama anak-anak Blogger Sumut. Memang, karena kesibukan dari masing-masing anggota, kami memang udah nggak pernah lagi ngumpul bareng di acara tertentu. Dan, acara keuangan sore itu, akhirnya jadi ajang reuni kecil kami.

Ah iya, ada yang ingin saya ceritakan terkait dengan acara beberapa waktu yang lalu. Sudah cukup lama sebenarnya, 16 November yang lalu, tapi ilmu yang saya terima terasa masih nempel sampai hari ini. Jujur aja, saya agak kurang tertarik dengan acara-acara keuangan. Karena biasanya cuma menonjolkan produk-produk buatan badan keuangan tertentu, tanpa mau menyertakan alasan-alasan logis, kenapa peserta yang hadir harus memilih produk tersebut. Tapi, acara yang digagas oleh Manulife Asset Management menghadirkan nuansa yang berbeda. Memberi pencerahan pada saya yang memang memiliki kekurangan soal keuangan.

Acara yang bertajuk “tiga langkah sadar investasi dengan jurus 3i (insyaf, irit, invest)”, benar-benar menampar-nampar saya. Kak Krizia Maulana, sebagai Special Investment Manulife Asset Investment membahas tiga jurus tersebut dengan sangat rinci berikut alasan-alasan yang membuat saya mengangguk-angguk setuju sepanjang presentasi, sambil mengutuki kebodohan saya sebagai manager keuangan rumah tangga.

20141116_152252

Kopi – memang berteman akrab dengan pisang goreng

 

Insyaf

Dari awal presentasi dengan jurus insyaf  ini saja saya sudah merasa ditampar. Bertahun-tahun bekerja, apa sih yang sudah saya punya ? Saya menggeleng dalam hati. Rasanya memang gaji saya cuma sekedar numpang lewat saja. Tanpa sempat berlama-lama. Dengan gaji 15 koma (tanggal 15 udah koma) dan menunggu tanggal 1 dengan rasa nggak sabar, saya memang manager rumah tangga yang gagal. Saya bahkan cuma punya tabungan yang isinya nggak seberapa. Punya niat untuk bikin tabungan pendidikan buat Yash dan tabungan berjangka untuk jaga-jaga. Tapi tetap saja sebatas niat. Mulai hari itu, saya putuskan untuk berubah. Rekening saya harus stabil dari awal hingga akhir bulan. Pendapatan suami harus diatur sedemikian rupa, dengan pembagian yang benar antara kebutuhan rumah tangga, cicilan dan kebutuhan lain, harus disisihkan untuk ditabung.

Yash memang masih 1 tahun, artinya saya hanya punya waktu sekitar 2 tahun sebelum Yash akhirnya harus masuk PAUD. Dan biaya pendidikan sekarang jauh lebih besar dari ketika saya sekolah dulu. Jaman SD, saya sekolah di SD negeri, yang nggak dipungut uang sekolah tetapi hanya diwajibkan membayar BP3 sebagai pengganti SPP, sebesar Rp. 300 rupiah saja. Uang sekolah SD sekarang berapa ? Biaya masuk TK 2 tahun lagi berapa ? Yang pasti nilainya bisa sampai jutaan, bahkan puluhan juta, tergantung sekolahnya. Dan kami harus mempersiapkan dana pendidikan itu sekarang, kalau nggak mau kebingungan pada saat Yash akan masuk sekolah nanti. Belum lagi biaya untuk penunjang pendidikan, seperti buku. Novel-novel yang biasa saya beli sekarang, harganya udah diatas Rp. 30.000, dan buku-buku untuk pendidikan jauh lebih mahal. Fasilitas-fasilitas lainnya, juga harus dipersiapkan juga kan, artinya adalah bahwa persiapan itu harus dilakukan dari SEKARANG!! Fokus kami sekarang memang sedang terpecah antara melunasi cicilan, menabung untuk DP rumah dan biaya sekolah Yash nanti. Maka, kami harus benar-benar insyaf dalam mengatur keuangan kami yang memang ngepas ini.

Presentasi

Presentasi

Irit

Makan adalah porsi paling besar yang mengurangi keuangan kami. Saya dan suami hobi makan. Mencoba-coba makan ditempat yang kami pikir pasti enak. Ngopi ditempat-tempat baru yang menyediakan kopi enak yang bikin kami betah nongkrong dengan suasana yang bikin rileks. Tapi tentu saja kegiatan menghabiskan uang itu perlahan-lahan menggerogoti simpanan kami. Karena kebutuhan-kebutuhan pokok yang lain juga harus dipenuhi. Maka saya sepakat, bahwa kami memang harus mengurangi mencoba-coba tempat makan baru. Boleh kegiatan itu dilakukan, tetapi tidak boleh terlalu sering. Toh, mie ayam gerobak tempat langganan kami juga selain mengenyangkan, juga enak sekali. Nggak kalah dengan kafe-kafe atau restoran yang pernah kami kunjungi.

Untuk urusan ngopi, saya dan suami adalah penggemar kopi hitam yang enak. Untuk sehari-hari di kantor, saya memang biasa mengkonsumsi kopi bubuk atau kopi instan. Tapi suami, karena pekerjaannya yang mobile, lebih sering ngopi di luar dengan alasan kopi disana lebih enak dari kopi merek biasa yang sering saya beli. Nah, karena saya sudah ikut pencerahan dengan  jurus 3i (insyaf, irit, invest), saya memutar otak. Gimana caranya supaya suami juga bisa ngopi enak dengan kopi favoritnya di rumah. Akhirnya saya mengusulkan, bahwa sebaiknya kami membeli biji kopi yang bisa langsung digiling dan dibeli di kopi tiam tempat kami biasa nongkrong. Dengan 1 ons kopi seharga Rp. 25.000 saja, kami bisa irit sampai 2 minggu lebih. Dan setiap pagi sebelum berangkat kerja, saya akan menyimpan kopi hitam racikan saya dalam termos kecil untuk kemudian saya bisa nikmati di kantor, meski sambil meeting :)

Intinya, selain mengatur keuangan kami memang harus irit, mengingat beberapa tahun kedepan, kita nggak akan pernah tau kapan inflasi akan datang. Maka, dari sekarang saya harus bisa mengatur alur masuk dan keluar keuangan rumah tangga.

Invest

Jurus ketiga ini yang akhirnya benar-benar membuka mata saya tentang pentingnya investasi. Investasi juga tak melulu tentang menyimpan uang, tapi juga emas. Nah, Kak Krizia menawarkan satu solusi investasi untuk kita yang benar-benar awam tentang pasar modal. Kalau invest emas, kita semua udah tau kan ya. Tapi soal reksa dana? Saya sendiri baru tau kemarin. Kenapa reksa dana? Kak Krizia bilang, untuk saat ini, reksa dana adalah investasi pasar uang yang lebih aman dan murah selain Forex, saham atau obligasi. Saya sendiri pernah terlibat tidak langsung dengan Forex, karena suami saya pernah bekerja sebagai broker di salah satu perusahaan forex di Medan. Mengingat bahwa bermain forex harus memiliki mental dan emosi yang kuat, saya bukan orang yang cocok untuk investasi di forex. Untuk saham atau obligasi, jelas saya nggak cocok. Keuangan saya jauh dari memadai untuk bermain di pasar saham atau obligasi. Maka, reksa dana adalah pilihan yang pas.

Krizia Maulana – Special Investment Manulife Asset Management

Kenapa reksa dana ? Karena dengan hanya investasi 100 ribu rupiah saja per bulan, saya sudah memiliki sebuah investasi. Semurah itu kah? Yup, dan sangat mudah. Hanya bermodal rekening bank, KTP dan NPWP (kalau ada), kita sudah bisa berinvestasi di reksa dana. Eh tapi, kalau sekedar 100 ribu rupiah per bulan, saya kan bisa membuka rekening satu lagi dan disiplin menyetor 100 ribu setiap bulan. Sama aja kan? Oooppsss… jelas beda. Kalau saya punya tabungan misalnya 10 juta rupiah saat ini, maka belum tentu 2 tahun ke depan nilainya masih sama. Karena ketika terjadi inflasi, maka tabungan dengan nominal 10 juta rupiah itu pasti akan berubah nilainya. Bagaimana dengan reksa dana ? Nah, reksa dana nggak terpengaruh dengan inflasi. Berapapun nilai rupiah yang diinvest pada tahun ini, nggak akan berubah nilainya meski tahun depan terjadi inflasi.

Apa lagi? Reksa dana ini dikelola oleh para manajer investasi profesional yang berpengalaman. Sehingga kita sebagai investor nggak perlu memantau atau mengelola investasi kita sendiri. Kita tinggal menghitung hasil aja. Nggak merepotkan untuk ibu bekerja seperti saya ini.

Yuk, belajar invest - apapun pilihan investasimu

Yuk, belajar invest – apapun pilihan investasimu

Lalu, ketika Kak Krizia bilang bahwa “Menunda itu mahal”, maka saya sepakat pada suami, bahwa bulan depan kami harus sudah mulai investasi untuk masa depan. Kami harus disiplin untuk menyisihkan di awal pendapatan kami untuk investasi. Kalau bisa, tidak hanya di satu tempat. Tapi untuk tahap belajar ber-invest kali ini, saya insya Allah akan mempercayakan pada Investasi Reksa Dana Manulife sebagai salah satu lembaga keuangan yang sudah memberikan pencerahan dengan jelas kepada saya yang buta tentang reksa dana.

Yuk, mulai terapkan jurus 3i – insyaf, irit, invest, SEKARANG!!

Menjual Kenangan

Kemarin, notifikasi Line saya menyampaikan pesan mengejutkan. Ada Apa Dengan Cinta 2014. Hah??!? Itu film udah 12 taun yang lalu kan? Itu film rilis tahun 2002, waktu saya masih semester 3. Artinya sekarang saya udah tua hehehehe… Film AADC waktu itu jadi booming karena awal taun 2000-an waktu itu adalah awal kebangkitan lagi film Indonesia yang sebelumnya cuma diisi film-film nggak mutu yang cuma ngandalin paha sama dada aktrisnya. Lalu kemudian muncullah film-film lain, sampai sekarang. Mendapatkan tiket film AADC waktu itu penuh perjuangan. Bioskop-bioskop dulu juga nggak kayak sekarang. Kalo dulu, kita mesti saingan sama calo tiket, yang dulu mestinya harga selembar tiket cuma 10000, bisa jadi 25000 kalo belinya dari calo. Sekarang sih, nggak perlu ada calo, karena beli tiket juga udah bisa online kan. Nah, balik lagi ke 12 tahun yang lalu. Ketika saya dan kawan-kawan sekelas di kampus sepakat untuk nonton film yang pertama kali diputar di Medan. Bukan gampang, mesti desak-desakan, eh udah gitu sampe depan loket ternyata tiket udah abis, bahkan sampai 2 jam pemutaran film berikutnya. Gila kan calo-calo itu. Dan calo-calo itu juga nggak berhenti di hari pertama, tapi juga hari-hari berikutnya. Akhirnya, berhasil juga nonton film itu setelah beberapa hari film akan habis masa putarnya. Dan sekarang, setelah 12  tahun berlalu, sebuah notifikasi dari sebuah media sosial mengantarkan segala kenangan pada saat itu. Ketika masa muda masih tersandang angkuh dibahu saya. Mini Drama Ada Apa Dengan Cinta 2014. Lengkap dengan pemain utamanya, Cinta (Dian Sastro), Rangga (Nicholas Saputra), Carmen (Adinia Wirasti), Milly (Sissy Priscilia), Alya (Ladya Cherryl) dan Maura (Titi Kamal). Pastinya, semua sudah tumbuh menjadi lelaki dan perempuan dewasa dengan kehidupan yang jauh berbeda dari ketika mereka masih SMA. Marketing LINE ini memang pinter. Kenapa saya bilang menjual kenangan ? Berapa banyak orang yang begitu ingin kembali pada kenangan? Pada cinta pertama? Banyak kan? Tapi, selain mesin waktu memang belum terbukti ada, apa lagi yang bisa mengembalikan kita pada masa lalu, kecuali kenangan? Dan sepertinya itu yang memang ingin dijual Line. Perpisahan Cinta dan Rangga di bandara, yang walaupun ada lanjutannya dengan dibuatnya sebuah sinetron tetap nggak bisa menjawab rasa penasaran penggemar film AADC. Setelah 12 tahun berlalu, berkat sebuah aplikasi pada LINE, akhirnya Rangga menemukan Cinta. Dan berkat Line pula, segala kenangan tentang Cinta dan Rangga berkelebat di benak masing-masing. Tentang perpisahan yang sudah 12 tahun berlalu. Kalo saya bilang, selama 2 hari ini demam AADC berhasil melanda hampir seluruh media sosial yang saya punya akunnya. Semua angkatan tua kayak saya :D, yang waktu itu masih esempe, esema dan yang kuliah (kayak saya, iya iya, saya emang udah tua!!) yang pernah begitu menikmati film ini dan penasaran dengan cerita Rangga-Cinta, pasti akan merasakan nostalgia, kenangan dan reuni yang sama dengan AADC 2014 ini. Ide penjualan seperti ini seharusnya pun ditiru oleh perusahaan lain. Supaya iklan nggak melulu tentang menjual produk. Tapi, iklan tentang menjual kenangan seperti ini, pasti akan berhasil. Line sudah membuktikannya. Salute!!  

Dear Ayah : Selamat Ulang Tahun

Selamat mengulang hari lahir, Yah. Yang ke 67. You’re getting old. And me too hehehehe…. Selamat menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi, Yah. Semoga selalu berbahagia, diberkahi dan sehat.

Terima kasih untuk segala hal yang telah aku terima hingga hari ini, Yah. Cinta yang tak pernah putus. Kasih sayang berlimpah. Dan pendidikan yang cukup, hingga aku bisa sampai pada perjalananku yang sekarang. Terima kasih telah begitu sabarnya menghadapi kekeraskepalaanku, kebandelanku dan bahkan terkadang aku tak mendengar omonganmu. Terima kasih, telah membiarkanku memilih kata hati. Hingga hari ini.

Terima kasih untuk menyayangi Yash dengan kasih sayang yang lebih berlimpah dari yang pernah kurasakan. Terima kasih telah mencintai lelaki kecilku sedemikian rupa. Hingga dada ini buncah setiap kali melihat kau memeluknya dengan cinta.

Terima kasih telah menerima dia, imam kami dengan segala keikhlasan. Terima kasih telah memberinya kesempatan untuk membuktikan kepadamu, bahwa dia mampu membahagiakanku dan Yash dengan segala kerja keras yang dilakukannya.

Terima kasih, telah mencintai Emak begitu rupa. Hingga sampai hari ini, kau masih tetap sendiri. Terima kasih telah menempatkan perempuan tercinta itu pada tempat yang paling tinggi di hatimu.

DSC_0029

Yah, tetaplah berbahagia, tetaplah sehat. Semoga Allah meridhoi dan memberkahi setiap langkah dalam perjalananmu. Semoga Allah memudahkan segalanya atasmu. Semoga Allah memanggilmu untuk mengunjungi Baitullah.

Yah, engkau tau, bahwa aku mencintaimu.

:’)

Terlatih Patah Hati*)

Aku sudah mulai lupa
Saat pertama rasakan lara
Oleh harapan yang pupus
Hingga hati cedera serius

Belakangan saya lagi senang-senangnya dengar lagu Terlatih Patah Hati  milik The Rain feat. Endank Soekamti *). Ini lagu tragis menurut saya. Lagu sedih dengan nada yang menghibur diri sendiri. Dan lagu ini bisa disebut ‘gue banget’ :D Seandainya lagu ini udah ada sekian tahun yang lalu, pasti lagu ini yang akan memenuhi hari-hari saya tanpa jeda.

Terima kasih kalian
Barisan para mantan
Dan semua yang pergi
Tanpa sempat aku miliki

Soal patah hati, saya kerap kali bilang ‘been there, done that’. Bahkan sambil menepuk-nepuk hati yang sepertinya goresannya sudah mulai menebal. Sembuh perlahan, tapi bekasnya tak hilang. Tak lekang meski waktu berlalu hari demi hari. Buat saya, patah hati adalah monumen untuk mengingatkan saya, bahwa saya pernah jatuh, enggan bangkit, berkubang lumpur perih dan benar-benar menikmati setiap patahan hati yang meninggalkan bekas dan bahkan menimpa bekas-bekas lama yang terkadang belum kering. Saya bahkan benar-benar pernah lupa bagaimana rasanya jatuh hati dan perihnya patah hati. Saya membalut hati saya dengan tebal, sengaja membekukan, karena saking seringnya sakit dari pada senang :D Lebay ya. Tapi percaya atau nggak, memang itu yang saya alami. Sejak pertama kali merasa jatuh cinta. Pada dia. Cinta pertama saya ;))

Tak satupun yang aku sesali
Hanya membuatku smakin terlatih
Oh

Cinta pertama dan patah hati yang pertama kali. Saya justru belajar mengobati luka hati pada saat pertama kali jatuh hati. Ketika akhirnya dia justru memilih orang lain. Dan saya kenal dengan orang lain itu. Jangan ditanya rasanya kayak apa. Tapi sepertinya bakat saya untuk belajar mengobati patah hati memang terasah dari sana. Bahkan, saking hebatnya saya belajar, dia nggak pernah menyangka bahwa saya suka dia. Saya memang pintar menutupi perasaan sendiri. Tetap tertawa, padahal dalam hati rasanya udah ntah kayak apa :D Saya masih sebelia itu, tapi sudah bisa belajar mengobati patah hati kronis.

Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti

Tapi seperti lirik diatas, patah hati membuat hati saya justru semakin kuat untuk menerima hal-hal yang lebih buruk dari itu. Terbiasa. Kebal. Terlatih. Dan saya bisa mengantisipasi tanda-tanda bahwa kalau alurnya begini, apa efeknya buat hati saya. Tapi ya, namanya juga hati, bukan logika. Tetapi aja alurnya beda. Kadang suka nggak kompakan. Suka ambil alur sendiri, padahal kondisi Yes atau No nya udah saya stel di flowchart, tetap aja bikin algoritma sendiri. Ya, akhirnya patah hati lagi. Sakit lagi. Ngerasain perih lagi. Belajar dari awal lagi. Tapi, saya lebih kuat dari patah hati sebelumnya.

Bertepuk sebelah tangan  (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Terluka itu pasti
Tapi aku tetap bernyanyi

Setelah sembuh dari satu patah hati, saya beranikan diri untuk menghadapi lagi hati yang lain. Mencoba untuk bangkit lagi. Saya toh masih muda. Masih banyak kesempatan. Maka saya memberanikan diri untuk belajar membuka hati. Bertepuk sebelah tangan sih sering. Mungkin para cowok itu dulu agak aneh ya liat gaya saya yang hancur. Cewek, tapi nggak keliatan kayak cewek. Siapa yang mau? Tapi kemudian, sempat berdekatan, dengan seorang TTM dan ber-HTS-an. Begitu saja. Entah apa sebabnya kami tak pernah maju dari langkah itu. Saling memperhatikan. Saling berbagi cerita. Saling mengenal. Tapi tak pernah ada satu kesepakatan bahwa kami akan sampai pada satu keputusan untuk saling menyerahkan hati satu sama lain. Sampai akhirnya saya terima undangan nikahnya :D Bisa bayangin? Ber-TTM, ber-HTS, akhirnya ditinggal kawin (silakan ngakak guling-guling). Saya memutuskan untuk berhenti jatuh hati.

Beberapa waktu kemudian, setelah insiden ditinggal kawin itu, saya bertemu seseorang. Lagi. Kali ini dia memberanikan diri untuk bersepakat saling mengenal dan melanjutkannya dalam sebuah hubungan yang statusnya jelas. Tapi itupun hanya beberapa bulan sahaja. Tanpa alasan yang jelas, tau-tau dia menghilang. Tanpa jejak, tanpa bekas. Sampai pada suatu waktu, sebuah pesan di Yahoo Messenger saya muncul namanya yang sempat saya hapus. “Kamu apa kabar?” “Selain hati saya yang patah, saya baik-baik saja”. Sarkas ya. Lalu saya harus bilang apa? Sekian waktu kemudian, dia pikir mungkin saya sudah berdamai dengan luka. Dia kembali menyapa, “Kamu apa kabar?” “Baik” “Eh, kamu jurusan komputer kan. pasti ngerti database. Ada yang mau saya tanya.” HAHAHAHAHAHAHAHAH!!!!!

Lama tak kudengar tentangnya
Yang paling dalam tancapkan luka
Satu hal yang aku tau

Terkadang dia juga rindu

Sekian waktu saya sempat mengistirahatkan hati. Benar-benar belajar berdamai dengan segala perih, luka dan patah hati. Tak peduli dengan umur yang semakin bertambah dan pertanyaan tentang kapan menikah yang kerap kali ditujukan. Sampai akhirnya sebuah perjalanan waktu mempertemukan saya dan dia dengan cara yang tak biasa. Dia yang sekarang menemani saya menjalani hidup. Menjadi imam yang harus saya patuhi. Yang mengenal sisi buruk dan baik saya. Yang bisa menerima segala kekurangan saya. Yang tau kapan harus mengalah ketika menghadapi kekeraskepalaan saya. Dia yang mengajak saya untuk menjalani proses hidup bersama-sama ketika kami sudah lelah dengan segala patah hati. Dia yang sekarang menuntun dan menggandeng tangan saya. Bertiga bersama Yash. Insya Allah orang yang tepat.

See ? Patah hati tak seburuk itu. Ingat sebuah quote yang bilang, “Kadang Tuhan memang mempertemukan kita dengan orang yang salah dulu sebelum akhirnya bertemu dengan orang yang tepat”. Been there, done that. Toh saya masih hidup sampe hari ini. Nggak pernah punya niatan bunuh diri gara-gara patah hati ditinggal kawin. Saya belajar menjalani suatu waktu dengan orang-orang yang salah. Belajar menjadi kuat dengan menghadapi patah hati. Dan saya berterima kasih kepada mereka semua. Yang menjadikan saya berani berdiri tegak mengangkat kepala, menantang hidup.

Dan lagi, ingat sebuah quote yang lebih terkenal dari itu? Bahwa dibalik sebuah kesuksesan, ada mantan yang menyesal :D

Maka, nikmatilah lagu ini. Seperti saya menikmati lagu ini dalam senyum. Mengingat segala kenang tentang mereka yang sempat singgah dalam hati dan menoreh luka yang masih membekas hingga kini. Hanya membekas, tanpa rasa sedih.

Begini rasanya… Terlatih patah hati….

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.302 pengikut lainnya.