Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Terlatih Patah Hati*)

Aku sudah mulai lupa
Saat pertama rasakan lara
Oleh harapan yang pupus
Hingga hati cedera serius

Belakangan saya lagi senang-senangnya dengar lagu Terlatih Patah Hati  milik The Rain feat. Endank Soekamti *). Ini lagu tragis menurut saya. Lagu sedih dengan nada yang menghibur diri sendiri. Dan lagu ini bisa disebut ‘gue banget’ :D Seandainya lagu ini udah ada sekian tahun yang lalu, pasti lagu ini yang akan memenuhi hari-hari saya tanpa jeda.

Terima kasih kalian
Barisan para mantan
Dan semua yang pergi
Tanpa sempat aku miliki

Soal patah hati, saya kerap kali bilang ‘been there, done that’. Bahkan sambil menepuk-nepuk hati yang sepertinya goresannya sudah mulai menebal. Sembuh perlahan, tapi bekasnya tak hilang. Tak lekang meski waktu berlalu hari demi hari. Buat saya, patah hati adalah monumen untuk mengingatkan saya, bahwa saya pernah jatuh, enggan bangkit, berkubang lumpur perih dan benar-benar menikmati setiap patahan hati yang meninggalkan bekas dan bahkan menimpa bekas-bekas lama yang terkadang belum kering. Saya bahkan benar-benar pernah lupa bagaimana rasanya jatuh hati dan perihnya patah hati. Saya membalut hati saya dengan tebal, sengaja membekukan, karena saking seringnya sakit dari pada senang :D Lebay ya. Tapi percaya atau nggak, memang itu yang saya alami. Sejak pertama kali merasa jatuh cinta. Pada dia. Cinta pertama saya ;))

Tak satupun yang aku sesali
Hanya membuatku smakin terlatih
Oh

Cinta pertama dan patah hati yang pertama kali. Saya justru belajar mengobati luka hati pada saat pertama kali jatuh hati. Ketika akhirnya dia justru memilih orang lain. Dan saya kenal dengan orang lain itu. Jangan ditanya rasanya kayak apa. Tapi sepertinya bakat saya untuk belajar mengobati patah hati memang terasah dari sana. Bahkan, saking hebatnya saya belajar, dia nggak pernah menyangka bahwa saya suka dia. Saya memang pintar menutupi perasaan sendiri. Tetap tertawa, padahal dalam hati rasanya udah ntah kayak apa :D Saya masih sebelia itu, tapi sudah bisa belajar mengobati patah hati kronis.

Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti

Tapi seperti lirik diatas, patah hati membuat hati saya justru semakin kuat untuk menerima hal-hal yang lebih buruk dari itu. Terbiasa. Kebal. Terlatih. Dan saya bisa mengantisipasi tanda-tanda bahwa kalau alurnya begini, apa efeknya buat hati saya. Tapi ya, namanya juga hati, bukan logika. Tetapi aja alurnya beda. Kadang suka nggak kompakan. Suka ambil alur sendiri, padahal kondisi Yes atau No nya udah saya stel di flowchart, tetap aja bikin algoritma sendiri. Ya, akhirnya patah hati lagi. Sakit lagi. Ngerasain perih lagi. Belajar dari awal lagi. Tapi, saya lebih kuat dari patah hati sebelumnya.

Bertepuk sebelah tangan  (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Terluka itu pasti
Tapi aku tetap bernyanyi

Setelah sembuh dari satu patah hati, saya beranikan diri untuk menghadapi lagi hati yang lain. Mencoba untuk bangkit lagi. Saya toh masih muda. Masih banyak kesempatan. Maka saya memberanikan diri untuk belajar membuka hati. Bertepuk sebelah tangan sih sering. Mungkin para cowok itu dulu agak aneh ya liat gaya saya yang hancur. Cewek, tapi nggak keliatan kayak cewek. Siapa yang mau? Tapi kemudian, sempat berdekatan, dengan seorang TTM dan ber-HTS-an. Begitu saja. Entah apa sebabnya kami tak pernah maju dari langkah itu. Saling memperhatikan. Saling berbagi cerita. Saling mengenal. Tapi tak pernah ada satu kesepakatan bahwa kami akan sampai pada satu keputusan untuk saling menyerahkan hati satu sama lain. Sampai akhirnya saya terima undangan nikahnya :D Bisa bayangin? Ber-TTM, ber-HTS, akhirnya ditinggal kawin (silakan ngakak guling-guling). Saya memutuskan untuk berhenti jatuh hati.

Beberapa waktu kemudian, setelah insiden ditinggal kawin itu, saya bertemu seseorang. Lagi. Kali ini dia memberanikan diri untuk bersepakat saling mengenal dan melanjutkannya dalam sebuah hubungan yang statusnya jelas. Tapi itupun hanya beberapa bulan sahaja. Tanpa alasan yang jelas, tau-tau dia menghilang. Tanpa jejak, tanpa bekas. Sampai pada suatu waktu, sebuah pesan di Yahoo Messenger saya muncul namanya yang sempat saya hapus. “Kamu apa kabar?” “Selain hati saya yang patah, saya baik-baik saja”. Sarkas ya. Lalu saya harus bilang apa? Sekian waktu kemudian, dia pikir mungkin saya sudah berdamai dengan luka. Dia kembali menyapa, “Kamu apa kabar?” “Baik” “Eh, kamu jurusan komputer kan. pasti ngerti database. Ada yang mau saya tanya.” HAHAHAHAHAHAHAHAH!!!!!

Lama tak kudengar tentangnya
Yang paling dalam tancapkan luka
Satu hal yang aku tau

Terkadang dia juga rindu

Sekian waktu saya sempat mengistirahatkan hati. Benar-benar belajar berdamai dengan segala perih, luka dan patah hati. Tak peduli dengan umur yang semakin bertambah dan pertanyaan tentang kapan menikah yang kerap kali ditujukan. Sampai akhirnya sebuah perjalanan waktu mempertemukan saya dan dia dengan cara yang tak biasa. Dia yang sekarang menemani saya menjalani hidup. Menjadi imam yang harus saya patuhi. Yang mengenal sisi buruk dan baik saya. Yang bisa menerima segala kekurangan saya. Yang tau kapan harus mengalah ketika menghadapi kekeraskepalaan saya. Dia yang mengajak saya untuk menjalani proses hidup bersama-sama ketika kami sudah lelah dengan segala patah hati. Dia yang sekarang menuntun dan menggandeng tangan saya. Bertiga bersama Yash. Insya Allah orang yang tepat.

See ? Patah hati tak seburuk itu. Ingat sebuah quote yang bilang, “Kadang Tuhan memang mempertemukan kita dengan orang yang salah dulu sebelum akhirnya bertemu dengan orang yang tepat”. Been there, done that. Toh saya masih hidup sampe hari ini. Nggak pernah punya niatan bunuh diri gara-gara patah hati ditinggal kawin. Saya belajar menjalani suatu waktu dengan orang-orang yang salah. Belajar menjadi kuat dengan menghadapi patah hati. Dan saya berterima kasih kepada mereka semua. Yang menjadikan saya berani berdiri tegak mengangkat kepala, menantang hidup.

Dan lagi, ingat sebuah quote yang lebih terkenal dari itu? Bahwa dibalik sebuah kesuksesan, ada mantan yang menyesal :D

Maka, nikmatilah lagu ini. Seperti saya menikmati lagu ini dalam senyum. Mengingat segala kenang tentang mereka yang sempat singgah dalam hati dan menoreh luka yang masih membekas hingga kini. Hanya membekas, tanpa rasa sedih.

Begini rasanya… Terlatih patah hati….

 

 

 

 

 

 

 

Dear Mr. President

Bertahun-tahun ikut pemilu, baru pada Pemilihan Presiden kemarin saya akhirnya mensahkan suara saya. Berhenti golput (sementara). Karena menurut saya, rugi rasanya kalau saya nggak ikut euforia pemilihan kali ini yang melibat dua orang negarawan yang mampu membuat semua laman sosial media berdebat untuk mengunggulkan calonnya masing-masing.

Seperti kita ketahui, akhirnya Joko Widodo, (mantan) Gubernur Jakarta yang akhirnya berhasil terpilih sebagai Presiden ke – 7 di negara ini. Dan kemarin, kita punya presiden baru. Saya sendiri bukanlah ‘anggota’ yang ikut memasang profil picture salam dua jari di media sosial saya. Sebagai swing voter, (mantan) golput (yang sepertinya masih akan terjadi lagi kalau saya nggak mood buat milih), saya memilih untuk menampilkan profile picture yang netral. Karena saya masih melihat keunggulan masing-masing calon. Tetapi bisa menerima bahwa akhirnya Joko Widodo adalah presiden yang fotonya harus dipajang di setiap instansi dan kantor-kantor di seluruh Indonesia selama 5 tahun ke depan.

Saya sendiri adalah pemilih Prabowo Subianto dengan alasan-alasan tertentu. Jangan protes. Saya sendiri tak pernah menghakimi pilihan orang lain. Toh namanya juga pemilihan umum, saya kan berhak untuk memilih siapapun yang sesuai dengan hati nurani saya. Walaupun pilihan itu tak populer di jagad sosmed. Dan saya sedang tak ingin berdebat tentang apa yang saya pilih. Lagipula, sama seperti Calon Presiden yang tidak terpilih pilihan saya, saya bisa menerima Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia ke 7.  Tanpa protes, tanpa misuh-misuh seperti pendukung fanatik Prabowo yang lain. Saya mencoba fair, bahwa menerima adalah yang paling baik saat ini. Dan mengawasi setiap janji yang pernah terucap ketika kampanye dahulu. Tanpa perdebatan lagi, yang akhirnya cuma akan memperbesar jurang perbedaan.

Maka, secara resmi, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah memimpin negara ini selama satu dasawarsa, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Memang tak mudah memuaskan setiap orang. Apalagi 200 juta lebih rakyat Indonesia. Terima kasih kepada Bapak Boediono yang bekerja dalam diam, tanpa minta publikasi berlebih, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Terima kasih telah bersedia memimpin negara ini beserta seluruh rakyatnya yang banyak maunya, dengan segala protes dan dukungan, dan tetap tersenyum apapun pendapat masing-masing rakyat.

Bagaimanapun, segala euforia, segala pesta, memang harus berakhir. Dan kini saatnya, segala janji yang pernah terucap harus ditunaikan. Lunas. Maka, selamat bekerja, Bapak Presiden. Semoga tabah, tetap amanah dan selalu istiqomah.

Happy beloved birthday, Yash

365 hari sudah terlewati sejak pertemuan kita pertama, Yash. Betapa harum  tubuhmu dan lembut pipimu saat pertama kali kita bertemu masih terasa dicuping hidungku. Berulang ku memuji kebesaranNya yang menitipkanmu pada rahimku, untuk kemudian kujaga dan pada saat yang tepat kita dipertemukan. Banyak yang bilang, bahwa memilikimu pada usiaku saat itu adalah sebuah keterlambatan. Tapi apa peduliku, ketika titipan yang kuterima adalah engkau. Anakku.

IMG_1720

Hari ini, 365 terlewati dengan kegembiraan. Sesuai dengan nama yang disematkan padamu. Keceriaanlah yang mewarnai hari-hari kami. Ayah dan ibumu. Dua orang yang jatuh cinta habis-habisan pada lelaki kecil bermata bulat yang tak henti menebar senyum pada setiap orang yang ditemuinya. Lelaki kecil yang sedang belajar berbagai hal baru yang terkadang mengejutkan. Hal-hal kecil yang menjadi penyemangat kami untuk belajar menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

IMG_3001

Tahun pertama menjadi ibumu tak pernah mudah. Kusesali baby blues yang sempat menjauhkanmu dariku selama seminggu. Dan rasanya, waktu-waktu yang kulewati tak bisa menebus seminggu yang berlalu dengan penuh kegelisahan itu. Yash, ijinkan kami untuk menuntunmu mengenal Tuhanmu, Rasulmu dan jalan yang penuh kebaikan. Apa yang kami ajarkan mungkin tak akan sempurna, nak. Tapi yakinlah, bahwa segala kebaikan kami ikhtiarkan agar engkau tak jauh dari jalan agama. Agar engkau tak mengulangi kesalahan yang pernah kami perbuat di masa lalu.

Yash, melangkahlah dengan tegar dalam jalan yang digariskan oleh Tuhan. Kelak, hidupmu pasti tak semudah yang kau pikirkan. Tapi apapun yang akan kau hadapi kelak, melangkahlah selalu dalam nama Tuhan. Sama seperti nama yang pertama kali kau dengar ditelingamu pada saat ayahmu mengazankanmu pada hari pertama kau hadir dibumi ini. Nama Tuhan dan Rasulmu.

Wahyu Yazeed Ayyash Allegro. Engkaulah petunjuk dari Allah, pekerja keras, selalu tumbuh dalam keceriaan.

Selamat ulang tahun, nak. Semoga Allah selalu memuliakanmu, selalu berbahagia dan membahagiakan, bermanfaat bagi orang banyak, selalu membumi dan semoga segala kebaikan selalu tercurah padamu.

IMG_3002

Sebuah Perjalanan

Bulan ini adalah bulan saya. Tepat hari ini, saya dilahirkan oleh seorang perempuan luar biasa, 2 hari sesudah lebaran Idul Fitri dan membuat panik seorang laki-laki hebat yang menunggu dengan gembira kelahiran saya, 34 tahun yang lalu. Yap, that’s my number for this whole year ;) Tua? Mungkin. Ucapan Dave siang tadi mengingatkan saya bahwa angka yang saya bawa memang sudah sebanyak itu. “Selamat tambah tua dan tambah kerut, kak” ucapan istimewa dari salah satu sahabat saya.

Saya tak berani menghitung-hitung nikmat. Takut kualat. Kalau saya menghitung nikmat, saya takut akan menyesali apa yang tak bisa saya raih. Maka, sejuta syukur yang harus terucap atas perjalanan yang dengan manis menyentuh angka 34 tahun ini. Begitu banyak nikmat. Begitu banyak kejadian. Dan apapun keputusan yang telah saya ambil, tak akan ada penyesalan.

Melewati hari ini bertiga bersama suami tercinta yang selalu berusaha memahami saya, perempuan aneh yang dinikahinya 2 tahun lalu, yang sudah dikenalnya bertahun-tahun lalu, perempuan yang dia hafal segala sifat jelek saya, perempuan yang mencintainya dengan sepenuh jiwa. Dan lelaki kecil yang merebut hati saya habis-habisan, Ayyash, yang membuat saya jatuh cinta lagi. Yang membuat saya bersedia mengorbankan apa saja untuk melihatnya selalu tersenyum. Maka, nikmat Tuhan yang mana yang akan kau dustakan?

Kawan-kawan yang bersedia menjadi bagian dari hidup saya, melewati perjalanan hidup bersama dengan saya disamping mereka, berjuta terima kasih atas penerimaan kepada mereka yang saya kenal. Terima kasih, telah bersedia mengenal perempuan aneh yang bersumbu pendek ini dan menjadikan saya bagian dari hidup kalian.

Ini hanya sekedar angka, yang memang harus saya lewati, persis setiap tahun belakangan ini. Dan insya Allah, saya berharap tahun-tahun yang terlewati memberi keberkahan, tidak hanya buat saya, tapi juga buat mereka yang pada perjalanan ini berpapasan dengan saya pada satu perjalanan waktu.

Alhamdulillah, segala puji bagi Engkau, Rabb. Terima kasih atas segala nikmat yang tercurah. Terima kasih atas segala perjalanan yang membuatku semakin berpikir untuk melangkahkan kaki.

Terima kasih kalian, yang senantiasa mendoakan yang terbaik bagi saya. Semoga Allah membalas segala doa dengan kebaikan.

Pemilu yang Berlalu

Sudah 2 hari Pemilihan Presiden lewat. Dan perang link, perang kata-kata dan perang status masih terjadi media sosial. Alhamdulillah, saya akhirnya benar-benar memilih dan suara saya sah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah saya ikut Pemilu. Dan itu cukup mengejutkan bagi beberapa kawan saya yang tau betapa selama ini saya adalah golput sejati. Tak peduli siapa calonnya, tanpa mau mencari tau terlebih dahulu, saya langsung aja membatalkan suara saya. Selalu begitu di setiap pemilihan umum. Walaupun pada saat itu saya juga sebagai anggota KPPS di TPS yang dekat dengan rumah saya.

Suasana TPS 13

Suasana TPS 13

Tapi kali ini, dengan bangga saya ikut serta dalam Pilpres 2014. Saya memberikan suara pada salah satu calon. Memamerkan warna biru pada jadi tengah saya dengan bangga, bahwa saya berhasli mensahkan suara saya kali ini. Jangan tanya kenapa jari tengah yang selalu berwarna biru. Ini hanya soal kebiasaan saja.

IMG_2855

Jari tengah biru

Saya sedang tak ingin membahas lagi soal kisruh pengklaiman pemenang pilpres berdasarkan hitung cepat. Saya sedang ingin membagi ke siapa saja bahwa kali ini, saya nggak golput. Tapi memang nggak jaminan kalau nanti pada pilkada yang katanya akan dilaksanakan tahun depan, saya nggak golput juga. Tergantung siapa calonnya lah.

Jadi, supaya kawan-kawan nggak mengubah kata kawan menjadi lawan, berhentilah untuk mendukung membabi buta terhadap calon yang didukungnya. Biarkan KPU bekerja dengan sebaik-baiknya. Kita mengawasi bahwa tak ada kecurangan yang dilakukan oleh kedua kubu untuk menghalalkan kemenangan.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.286 pengikut lainnya.