Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Sebuah Perjalanan

Bulan ini adalah bulan saya. Tepat hari ini, saya dilahirkan oleh seorang perempuan luar biasa, 2 hari sesudah lebaran Idul Fitri dan membuat panik seorang laki-laki hebat yang menunggu dengan gembira kelahiran saya, 34 tahun yang lalu. Yap, that’s my number for this whole year ;) Tua? Mungkin. Ucapan Dave siang tadi mengingatkan saya bahwa angka yang saya bawa memang sudah sebanyak itu. “Selamat tambah tua dan tambah kerut, kak” ucapan istimewa dari salah satu sahabat saya.

Saya tak berani menghitung-hitung nikmat. Takut kualat. Kalau saya menghitung nikmat, saya takut akan menyesali apa yang tak bisa saya raih. Maka, sejuta syukur yang harus terucap atas perjalanan yang dengan manis menyentuh angka 34 tahun ini. Begitu banyak nikmat. Begitu banyak kejadian. Dan apapun keputusan yang telah saya ambil, tak akan ada penyesalan.

Melewati hari ini bertiga bersama suami tercinta yang selalu berusaha memahami saya, perempuan aneh yang dinikahinya 2 tahun lalu, yang sudah dikenalnya bertahun-tahun lalu, perempuan yang dia hafal segala sifat jelek saya, perempuan yang mencintainya dengan sepenuh jiwa. Dan lelaki kecil yang merebut hati saya habis-habisan, Ayyash, yang membuat saya jatuh cinta lagi. Yang membuat saya bersedia mengorbankan apa saja untuk melihatnya selalu tersenyum. Maka, nikmat Tuhan yang mana yang akan kau dustakan?

Kawan-kawan yang bersedia menjadi bagian dari hidup saya, melewati perjalanan hidup bersama dengan saya disamping mereka, berjuta terima kasih atas penerimaan kepada mereka yang saya kenal. Terima kasih, telah bersedia mengenal perempuan aneh yang bersumbu pendek ini dan menjadikan saya bagian dari hidup kalian.

Ini hanya sekedar angka, yang memang harus saya lewati, persis setiap tahun belakangan ini. Dan insya Allah, saya berharap tahun-tahun yang terlewati memberi keberkahan, tidak hanya buat saya, tapi juga buat mereka yang pada perjalanan ini berpapasan dengan saya pada satu perjalanan waktu.

Alhamdulillah, segala puji bagi Engkau, Rabb. Terima kasih atas segala nikmat yang tercurah. Terima kasih atas segala perjalanan yang membuatku semakin berpikir untuk melangkahkan kaki.

Terima kasih kalian, yang senantiasa mendoakan yang terbaik bagi saya. Semoga Allah membalas segala doa dengan kebaikan.

Pemilu yang Berlalu

Sudah 2 hari Pemilihan Presiden lewat. Dan perang link, perang kata-kata dan perang status masih terjadi media sosial. Alhamdulillah, saya akhirnya benar-benar memilih dan suara saya sah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah saya ikut Pemilu. Dan itu cukup mengejutkan bagi beberapa kawan saya yang tau betapa selama ini saya adalah golput sejati. Tak peduli siapa calonnya, tanpa mau mencari tau terlebih dahulu, saya langsung aja membatalkan suara saya. Selalu begitu di setiap pemilihan umum. Walaupun pada saat itu saya juga sebagai anggota KPPS di TPS yang dekat dengan rumah saya.

Suasana TPS 13

Suasana TPS 13

Tapi kali ini, dengan bangga saya ikut serta dalam Pilpres 2014. Saya memberikan suara pada salah satu calon. Memamerkan warna biru pada jadi tengah saya dengan bangga, bahwa saya berhasli mensahkan suara saya kali ini. Jangan tanya kenapa jari tengah yang selalu berwarna biru. Ini hanya soal kebiasaan saja.

IMG_2855

Jari tengah biru

Saya sedang tak ingin membahas lagi soal kisruh pengklaiman pemenang pilpres berdasarkan hitung cepat. Saya sedang ingin membagi ke siapa saja bahwa kali ini, saya nggak golput. Tapi memang nggak jaminan kalau nanti pada pilkada yang katanya akan dilaksanakan tahun depan, saya nggak golput juga. Tergantung siapa calonnya lah.

Jadi, supaya kawan-kawan nggak mengubah kata kawan menjadi lawan, berhentilah untuk mendukung membabi buta terhadap calon yang didukungnya. Biarkan KPU bekerja dengan sebaik-baiknya. Kita mengawasi bahwa tak ada kecurangan yang dilakukan oleh kedua kubu untuk menghalalkan kemenangan.

 

Pemilihan Presiden dan Golput yang Tobat (sementara)

Tahun 1999 saya adalah pemilih pemula. Tahun itu pula pemilu legislatif yang pertama sekali dilaksanakan secara demokrasi, dengan jumlah partai yang membengkak menjadi 48 partai dari hanya 3 partai pada pemilu terakhir Orde Baru yang dilaksanakan pada tahun 1997. Sebagai pemilih pemula, disuguhi dengan 48 partai yang harus dipilih, dengan puluhan caleg yang harus dipilih, jelas membingungkan saya. Pada saat itu, sebelum masuk ke TPS, saya sempatkan untuk berdiri di luar TPS. Membaca tata cara pemilihan bagi para pemula seperti saya. Dan mengamati calon-calon anggota legislatif yang katanya akan membawa perubahan bagi negara ini yang jumlahnya puluhan. Dengan segenap kebingungan yang memenuhi kepala anak yang baru selesai SMA, akhirnya saya memutuskan, untuk mencoblos lebih dari satu caleg. Dan suara saya batal. Pemilu saya yang pertama dan golput saya yang pertama.

Tapi itu tidak menjadi satu-satunya. Pilihan saya untuk golput dengan membatalkan suara pada  setiap pemilu akhirnya terus berlanjut. Pemilihan Presiden, Gubernur dan Walikota, saya terus membatalkan suara. Hingga Pemilu Legislatif 9 April kemarin, saya kembali membatalkan suara saya. Bukan tanpa alasan. Karena saya telanjur tak percaya dengan janji-janji yang diucapkan para calon pemimpin negeri ini. Yang membuai saya dengan kata-kata “Kalau saya terpilih…” dan akhirnya kalimat itu menjadi terlupakan ketika benar-benar terpilih. Tak bisa dipungkiri, Walikota Medan dan Gubernur Sumatera Utara adalah tersangka kasus korupsi. Lalu, mana amanahnya ketika akhirnya mereka menjadi penghuni penjara ekslusif karena membohongi pemilihnya?

Dan ketidakpercayaan saya terus berlanjut.

Tapi hari ini, dihari terakhir masa tenang, karena besok adalah 9 Juli, hari Pemilihan Presiden untuk masa bakti 2014 – 2019, saya memutuskan untuk berhenti golput untuk sementara. Saya akhirnya memutuskan untuk ikut serta dalam pesta demokrasi kali ini dengan menjatuhkan pilihan pada salah satu dari dua Capres dan Cawapres yang ada. Saya ingin, suara saya masuk dalam proses penghitungan sebagai suara yang sah, bukan lagi sebagai suara yang batal seperti pemilu yang biasanya.

Apa yang membuat saya memutuskan untuk memilih kali ini? Saya ingin merasakan rasa kecewa ataupun bangga dan bahagia ketika Capres pilihan saya terpilih ataupun gagal. Saya ingin menjadi bagian dari suatu euforia yang dirasakan hampir seluruh anak bangsa menyambut Pilpres 2014 yang luar biasa meriah kali ini. Dan saya ingin, menjadi warga negara yang seharusnya. Bersuara dan mengambil haknya.

Siapa Presiden pilihan saya? Ah, itu akan menjadi rahasia saya dan Tuhan sajalah. Saya masih memegang azas Pemilu yang sakral itu sebagai Langsung Umum BEbas dan Rahasia itu. Kenapa saya tak ikut-ikutan beberapa kawan yang dengan berani, bangga transparan menampilkan avatar yang mendukung Capres pilihan mereka. Saya salut dengan kawan yang dengan berani dan bangga menampilkan pilihannya, tapi bagi saya, pilihan itu tetap menjadi pilihan yang hanya saya dan Tuhan yang tau.

Maka, selamat berpesta esok hari, kawan. Kali ini, saya akan menjadi salah satu peserta pesta demokrasi yang damai ini. Kita akan menikmati proses demokrasi yang seharusnya tak memecah belah persatuan dan pertemanan kita, meski kita berbeda pilihan.

Selamat memilih!!

;)

Ramadhan Mubarak

Hari ke 4 Ramadhan. Dan kali ini sudah bertiga. Ramadhan lalu hanya berdua, dengan Ayyash dalam perut saya. Sekarang sudah bertiga. Dan sudah 4 pagi berturut-turut Ayyash bangun sahur juga. Setiap kali saya beranjak dari tempat tidur, saat itu juga dia bangun, membuka mata dan tersenyum. Ah iya, istimewanya anak ini adalah setiap kali bangun tidur nggak pernah nangis, selalu senyum. Istimewa menurut saya, karena ketiga keponakan saya yang pernah tinggal di rumah, waktu masih bayi selalu nangis tiap bangun tidur. Jadi, setiap pagi saya harus menemani dia dulu, sampai ayahnya selesai sahur dan selanjutnya bergantian jagain Ayyash.

Lepas sahur, saya nggak bisa langsung tidur lagi. Mesti nyiapin buburnya Ayyash dulu. Karena kalau disiapin setelah saya tidur lagi, mesti nggak keburu. Biasanya sih sering kesiangan hehehe… Lepas bikin makanan buat Ayyash, baru lah saya sempatkan tidur sebentar, biar nantinya di kantor nggak nguap-nguap melulu dan akhirnya kelepasan tidur diatas meja kerja hehehehe…

Ramadhan kali ini memang istimewa. Karena Ayyash? Seharusnya sih tiap Ramadhan memang istimewa. Dan saya menikmati setiap moment yang ada kali ini. Walaupun repotnya nambah, dibandingkan tahun lalu yang cuma berdua. Sekarang, apa apa mesti mikirin Ayyash juga. Ah iya, pengeluaran juga nambah, buat beli baju lebarannya Ayyash juga hehehehe….

Anyway, Ramadhan kali ini juga akhirnya saya memantapkan hati untuk mengambil keputusan yang menurut saya agak berat untuk diputuskan. Apapun itu, nantilah saya cerita kalau sudah terjadi. Yang pasti, kali ini saya harus memantapkan hati dan menguatkan diri untuk apapun yang terjadi nanti.

Selamat menikmati hari-hari istimewa Ramadhan yang selalu kita tunggu dengan sukacita sepanjang tahun. Semoga Ramadhan kali ini berjalan dengan lambat, biar saya bisa meresapi tiap harinya yang istimewa.

Jelang Ramadhan

Sepulang kantor tadi, saya mengajak suami untuk menjenguk Emak dan kakak ipar saya. Di makam. Tepatnya berziarah. Tradisi yang dilakukan ketika menyambut Ramadhan yang sebentar lagi tiba. Sengaja, setiap kali berziarah atau nyekar, saya selalu menyebutnya dengan menjenguk. Kalimat yang biasa kami gunakan adalah, “Kita nengok Emak sama kak Purnama, yok,” setiap kali kangen melanda. Apakah kangennya akan hilang? Sudah pasti nggak. Malah semakin bertambah. Kenangan demi kenangan pasti akan terus berkelebat ketika perlahan kami meninggalkan makam mereka berdua.

Ini adalah kali pertama saya mengajak suami mengunjungi Emak dan mengenalkannya dengan kak Purnama, almarhum kakak ipar saya. Sebelum menikah, saya memang belum pernah mengajaknya kesana. Tahun lalu, saya sama sekali nggak mengunjungi Emak dan kak Purnama, karena sedang hamil. Katanya orang hamil nggak boleh berziarah kubur. Maka, tahun inilah akhirnya saya mengunjungi Emak lagi. Bulan lalu, saya juga sebenarnya sudah berkunjung. Membersihkan makam yang sudah ditumbuhi semak belukar. Dan memeriksa kondisi makam yang tanahnya turunnya lagi dan harus diperbaiki. Bertiga dengan adik dan Wawa, ponakan saya, anak perempuan kak Purnama. Dan sore tadi dengan suami. Makam masih bersih, karena minggu lalu nenek, tante, adik dan Wawa juga berkunjung ke sana.

Setiap kali mengunjungi mereka, selalu saja meninggalkan sedih di hati saya. 11 tahun sudah Emak pergi dan 7 tahun sudah kak Purnama menyusul ibu mertuanya. Tapi buat saya, mereka bukan pergi tak akan kembali. Mereka hanya akan pergi untuk kembali kelak. Mungkin karena saya selalu merindukan mereka.

Katanya, setiap Ramadhan, mereka yang pergi pasti akan kembali ke rumahnya masing-masing. Saya percaya itu. Emak dan kak Purnama akan “pulang” ke rumah ketika 1 Ramadhan tiba, dan akan “kembali” ke tempat mereka ketika takbir hari raya berkumandang. Sebulan pasti akan terasa cepat sekali. Tapi setidaknya, “setahun sekali” kami akan berpuasa dengan Emak dan kak Purnama yang “pulang” kembali ke rumah kami. Mereka akan bisa melihat Ayyash, yang sekarang tumbuh dengan sehat. Mungkin tak ada dalil yang membenarkan itu, tapi saya memilih untuk mempercayainya. Setidaknya, rasa rindu ini terobati sedikit.

Sampai bertemu beberapa hari lagi, Mak, Kak. Selamat kembali ke rumah kita. Selamat menikmati indahnya Ramadhan bersama kami lagi. Kami akan bersiap-siap dengan segala suka menyambut Ramadhan, yang artinya Emak dan kak Purnama akan “pulang”.

:’)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.258 pengikut lainnya.