Ketika Luka

2 Komentar

Ah ya, masihkah kau mengingat, aku pernah berkata bahwa aku begitu bersahabat dengan luka. Begitu erat bahkan. Meski terkadang, aku ingin sekali melepas segala yang begitu sering membuatku memproduksi bulir-bulir air mata yang tak seharusnya jatuh. Sering pada saat dan waktu yang tak tepat.

 

Dan jika aku mengingatkanmu tentang ini, kau juga pernah berkata, bahwa kaulah yang kelak akan mengenyahkan luka ini. Tak akan membiarkannya berkerak disana. Didalam hatiku yang seharusnya hanya berisi kasih. Itu katamu. Ketika kita masih saling menggenggam tangan dengan erat. Ketika kita masih menyusuri jalan dengan tawa dan senyum bersama. Ketika luka, sempat menghilang untuk beberapa saat.

 

Ah, aku masih mengingat manisnya perih yang akhirnya kau torehkan juga disini. Dihati yang mestinya hanya berisi cinta, bukan luka. Tapi langkah, terkadang tak seperti yang kau pikir. Bahwa ketika akhirnya diujung jalan sana kau memutuskan untuk berbelok tanpa sempat mengajakku, tak sepatah yang sempat tersampai. Hanya hampa. Kembali hampa.

 

Taukah kau, bahwa meski aku telah bersahabat erat dengan luka, tak urung perih itu sempat terasa juga. Taukah kau, meski aku tau bahwa kau tak akan lagi melewati jalan yang sama, aku tetap menunggumu disana. Berharap kau akhirnya mengingat sesuatu. Tentang aku. Tentang kita. Dan tentang segala harap yang pernah kita bangun bersama. Kemarin. Ketika luka sempat bersembunyi untuk beberapa waktu.

 

Ah ya, tak perlu khawatir. Esok pagi, ketika aku terbangun dan tak mendapatimu didekatku, aku tak akan bersedih lagi. Karena luka, sahabatku itu, telah begitu rupa mengajarkanku untuk menikmatinya. Dengan atau tanpamu. Toh aku bisa kembali menghampakan hatiku. Serupa ruang minus oksigen yang membuat gravitasi menjadi tak punya tempat.

 

Dan hey, meskipun aku akan kembali sendiri disini. Didalam liang serupa luka yang begitu dalam tak berdasar ini, serupa hampa yang menggelap tanpa sinar, serupa ruang tanpa gravitasi ini. Aku tak akan mengingkari, bahwa bersamamu, pernah begitu indah.

 

Aku akan baik saja. Tak perlu khawatirkan kesendirianku. Berjalanlah terus, karena kelak kau akan menemukan bahagiamu disana. Aku hanya merasa hampa, itu saja. Lain tidak. Tapi setidaknya, disini, didalam sini, dibalik kehampaan yang terasa begitu nikmat ini, aku masih bisa merasa. Merasa hampa.

 

 

PS : It’s about nothing. Semacam ingin menggalau, malam ini. Itu saja.


 

Sebuah Tamparan

Tinggalkan komentar

dari sini http://layanglayang.wordpress.com/2009/11/26/tanda-tanya/

“Wawa udah lama, gak liat aunty sholat.”

Saya terdiam mendengar satu kalimat itu dari bibir anak umur 6 tahun, keponakan saya. Tercenung, dan akhirnya merasakan tamparan yang begitu pedas. Tak pernah seperti ini sebelumnya, ketika ada orang yang mengingatkan saya untuk tak meninggalkan ibadah saya. Orang-orang yang sayang pada saya, sehingga mau berbaik hati mengingatkan saya untuk tak lalai. Peringatan yang lebih sering tak saya gubris, karena ibadah kepada Tuhan saya adalah jalur vertikal yang hanya menjadi urusan saya denganNya. Jadi, jangan urusi urusan saya denganNya. Begitu selalu.

Tapi, kalimat Wawa membuat saya merasa bahwa, saya memang sudah terlalu jauuuh sekali berjalan dari garis lurus yang sudah ditetapkanNya. Bukan cuma bergeser, tapi sudah melenceng jauh. Ah, Rabb, malu saya. Diingatkan oleh seorang gadis kecil yang begitu menyayangi saya, tantenya. Mengingatkan saya, bahwa diantara kesibukan yang saya punya, saya tak boleh meninggalkan satu-satunya milik saya yang kelak akan menemani saya.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan ?

Ayat demi ayat pada Ar Rahmaan, surah favorit saya mengetuk-ngetuk lagi jendela hati yang sempat saya biarkan membatu. Duh Rabbku, tak ada. Tak ada yang bisa saya dustakan. Semua fasilitasMu yang Kau beri secara cuma-cuma tak ada yang cacat. Semuanya sempurna. Hanya, saya yang tak pernah menghitung nikmat yang Kau curah setiap waktu. Bukan hanya karena saya tak mampu, tapi karena saya begitu sibuk menghitung kesukaran yang saya dapat akibat perbuatan saya.

Maka, mulailah saya berwudhu, mensucikan diri untuk memulai lagi pertemuan itu denganMu, wahai Sang Maha Cinta. Ijinkan saya untuk terus mencintaiMu dengan cara saya yang tak pernah mampu untuk sempurna.

“Tumben, aunty sholat”

“Kan, Wawa yang bilang, kalau sekarang Wawa jarang lihat aunty sholat”.

“Jadi, sekarang aunty sholat buat apa?”

Jeda sejenak, saya tersenyum mendengar pertanyaannya.

“Untuk menyenangkan Allah.”

“Oh iya ya, kalau Allah senang, pasti apa yang aunty minta akan dikasih.”

Kalimat-kalimat polos itu membuka mata saya. Benar. MenyenangkanMu, Rabb. Itu yang paling penting. Bukan agar permintaanku Engkau kabulkan, tapi agar hati saya tenang hanya dengan mengingat Engkau. Terima kasih, menitipkan Wawa untuk mengingatkan, bahwa Engkau adalah tujuan hidup.

 

Citizen Journalism – Kompasiana Blogshop

4 Komentar

Learning by Blogging – Citizen Journalism. Itu yang menjadi judul Workshop Kompasiana Blogshop yang diadakan Kompasiana bekerja sama dengan Telkomsel pada 23 April lalu. Giliran Medan kali ini yang dikunjungi. Workshop kali ini yang diadakan di Hotel Soechi saya tidak sendiri lagi. Saya mengajak 3 orang mahasiswa semester 6 yang mengikuti mata kuliah saya. Sengaja saya ajak, untuk mengenal lebih dekat dengan dunia Social Media yang belakangan ini semakin sering digunakan di tanah air tercinta ini.

Menurut Iskandar Zulkarnaen, pembicara yang merupakan Community Editor Kompasiana, “Citizen Journalism merupakan kegiatan melaporkan berita yang dilakukan warga biasa yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh uang tapi memiliki minat pada suatu masalah”. Nah, ketika warga biasa yang ingin menuliskan opininya terhadap suatu masalah dan menerbitkannya pada sebuah blog pribadi ataupun Social Media yang lain yang kemudian dibaca oleh orang banyak, maka warga biasa tersebut telah melakukan Citizen Journalism. Bahkan, surat kabar sekelas Tribun Medan yang merupakan anak dari Group Kompas juga sudah menyediakan satu kolom untuk Citizen Journalism. Dimana, kita sebagai warga biasa diperbolehkan untuk menuliskan opini kita tentang apa saja dan kemudian mengirimkannya ke redaksi. Jika artikel kita yang berupa opini tersebut layak terbit, maka voilaa…nama anda akan muncul di surat kabar, sebagai penulis. Sebagai Citizen Journalist. Dan kita, orang biasa ini akan mampu menjadi bagian dari sejarah, merubah wajah dunia.

Jangan remehkan kekuatan Social Media. Jangan remehkan kekuatan blog. Saya pernah mengenal dan bertemu langsung dengan orang-orang luar biasa yang berhasil mengubah wajah dunia dengan blog. Hanya dengan menuliskan kata-kata pada jurnal online. Sebutlah Enda Nasution yang mempunyai sebutan Bapak Blogger Indonesia, yang melanglang buana berkat blog, mendirikan situs Web 2.0 dan jika anda ingin lebih lengkap lagi sila merujuk ke wikipedia. Kemudian seorang perempuan, pendiri situs Web 2.0 berjudul Ngerumpi yang saya kenal dengan nama Simbok Venus, yang keisengannya menulis diblog pribadi yang merupakan jurnal online tempatnya belajar menulis akhirnya menjadikannya penulis tetap di detik. Kemudian Putra Nasution (entah apakah abang satu ini bersaudara dengan Enda Nasution atau tidak) yang juga berhasil menjejakkan kaki di tanah Colombus juga berkat keisengannya blogging. Dan masih ada banyak lagi yang akhirnya menjadi full time blogger dan berhasil.

Membuat blog memang mudah, tapi merawatnya sangat sulit, itu yang dibilang Heru Margianto, pembicara yang merupakan online journalist Kompas yang memberikan tips tentang bagaimana menulis cepat, menarik dan bermanfaat pada workshop kemarin. Dan saya banyak mencatat beberapa kiat-kiat yang bisa kita tiru agar blog kita selalu update. Intinya adalah Think About Your Passion To Write. That’s it. If you don’t love it, don’t write about it. Benar sekali. Tulislah apa saja yang kita ingin tulis, menulislah dengan hati (begitu tagline di Ngerumpi).

Tak banyak mungkin dari kita yang mengenal siapa itu Ndoro Kakung, Simbok Venus, Enda Nasution, Putra Nasution, Nicholas, Silly, Nonadita dan banyak blogger lain yang akhirnya membentuk komunitas dan berkontribusi pada banyak peristiwa yang terjadi pada bangsa ini justru ketika pemerintah kurang tanggap terhadap masalah tersebut. Hanya melalui Social Media. Sebutlah Blood For Life merupakan komunitas blogger yang peduli dengan donor darah, yang memberikan informasi kepada masyarakat yang membutuhkan darah, yang penggeraknya merupakan seorang ibu rumah tangga, blogger yang dikenal dengan nama Silly. Atau ketika menangani korban pengungsi Merapi dan banyak lagi. Yang masih segar dalam ingatan kita, pengumpulan Koin Untuk Prita, dimulai pada sebuah angkringan di Jalan Langsat Jakarta, yang akhirnya sekarang menjadi besar dan dikenal dengan Komunitas Langsat. Lao Tzu memang benar, The journey of a thousand miles begins with one step.

Thomas Carlyle, seorang filsuf Inggris pernah mengatakan bahwa “Sejarah dunia adalah biografi orang-orang besar”. Tapi itu dulu, ketika Tim Berners-Lee masih belum menemukan world wide web (www). Ketika teknololgi internet masih berada dalam wilayah Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969. Tapi sekarang, dunia mulai mencatat sejarah yang dimulai orang-orang biasa, seperti kita. Hanya dengan sebuah blog kecil kita bisa mengubah sejarah dunia, mampu menyampaikan opini-opini kita. Hanya dengan penyampaian ide-ide dalam kepala kecil kita. Menulis memang tak mudah, tapi tak ada sesuatu pun yang tak bisa dilakukan jika kita mau berusaha.

Seperti kata Heru Margianto,”Menulislah karena ingin menulis, dan jadilah diri sendiri ketika ingin menulis. Dan teruslah menulis, hingga tak ada kata yang keluar lagi”. Maka, menulislah hanya dengan hati, agar bisa diterima dengan hati. Bahkan, seorang Imam Besar yang pernah dimiliki umat Muslim, Imam Ali bin Thalib juga pernah mengatakan, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.

Maka, tak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menulis. Jika Citizen Journalism sudah bisa diterima di bumi nusantara tercinta ini, maka sudah saatnya pula kita belajar menyampaikan opini-opini kita dengan tulisan yang santun.

Mari menulis, mari mengikat ilmu dengan menuliskannya.

25.04.11

12.30

WW

Perempuan

2 Komentar

Mungkin banyak yang meragukan, terutama teman-teman yang mengenal saya dekat, bahwa saya perempuan. Secara fisik dan jiwa. Perempuan. Meski mungkin ada sedikit tingkah, style, pola pikir, ucapan yang agak berbeda dengan perempuan lain, tapi sumpah, saya ini perempuan. Benar-benar perempuan. *Apa sih?*

21 April adalah hari Kartini yang kita peringati setiap tahun. Dengan cara yang sama. Setiap tv swasta atau nasional biasanya menampilkan presenter perempuannya selama sehari penuh untuk setiap tayangan, lalu menampilkan tayangan-tayangan yang mengedepankan perempuan. Lalu disekolah-sekolah akan diadakan lomba Kartini, kebaya Kartini, sanggul Kartini, apalah yang berhubungan dengan Kartini. Meski sebenarnya Kartini bukan satu-satunya perempuan pelopor di negeri ini. Tak perlulah kita mengulang sejarah tentang para perempuan pelopor di Indonesia ini. Meski mungkin ada yang merasa tak adil, bahwa emansipasi sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 11 September 1599 ketika seorang perempuan bernama Malahayati memimpin 2000 pasukan perempuan berperang melawan kapal-kapal dan benteng Belanda dari atas geladak kapal dan membunuh Cornelis de Houtman hingga akhirnya mendapat gelar Laksamana. Bukan ketika seorang perempuan menuliskan berlembar-lembar surat kepada sahabatnya, jauh setelah Laksamana Malahayati menunjukkan kemampuannya sebagai seorang perempuan.

Maaf, jika saya terbaca begitu skeptis terhadap “perjuangan” seorang Kartini. Tapi, saya adalah generasi yang membutuhkan bukti nyata jika ingin dipercaya. Dan karena perjuangan seorang Laksamana Malahayati yang merupakan Laksamana perempuan pertama di dunia,  Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dhien atau Dewi Sartika yang benar-benar membangun sekolah sendiri dengan tangannya yang benar-benar sudah terbukti. Bukan sekedar menulis surat. Maaf, jika ada yang tak sependapat. Toh, dalam hidup saya, begitu banyak orang yang merasa tak sependapat dengan saya. Jadi boleh kan, kali ini saya tak sependapat dengan anda.Toh, bukan hanya saya yang tak sependapat. Jika anda googling dan ingin mencaritahu tentang Kartini, anda juga akan menemukan bahwa ada yang merasa bahwa gelar pahlawan nasional untuk Kartini itu kontroversi.

Dan disini, saya pun sedang tak ingin memperpanjang gugatan atau kontroversi itu. Saya hanya ingin merayakan hari perempuan. Sebagai perempuan, tentu saja. Dan perempuan terhebat menurut saya tentu saja Emak. Satu-satunya perempuan yang mengerti bahwa dibalik keperempuanan saya, tersimpan semangat yang dia yakin saya bisa mewujudkannya suatu hari nanti. Dan saya bersyukur, satu keinginannya dari saya telah saya penuhi. Dengan ikhlas. Emak percaya, bahwa meski saya perempuan saya bisa meraih mimpi tertinggi yang berani saya impikan. Dan untuk itu, hingga hari ini, setelah delapan tahun kepergian Emak, saya belum berhenti bermimpi.

Saya bersyukur, hidup dalam sebuah keluarga yang mengedepankan pendidikan, tak memberi celah pembeda antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga kami. Meski Ayah dan Emak juga bukan orang yang berpendidikan tinggi, hanya lulusan SMP. Tapi ketiga anak mereka adalah sarjana dan ahli madya. Dan sebagai perempuan, saya bebas dan diberi kesempatan untuk berkarya sesuai minat dan bakat kami. Hingga akhirnya, saya bisa begitu mencintai dua pekerjaan saya.

Sebagai perempuan yang hidup di era globalisasi seperti sekarang ini, mestinya kita bisa berbuat lebih banyak lagi. Akses pendidikan, informasi, pengetahuan, segala yang kita mau bisa kita raih sekarang. Tapi hitunglah, berapa banyak perempuan yang beruntung yang bisa mendapatkan itu semua di Indonesia? Toh hingga hari ini kita masih mendengar begitu banyak berita duka tentang perempuan. Meskipun banyak juga perempuan yang mampu bangkit dan bersaing dengan laki-laki. Dan akhirnya lebih berhasil dari laki-laki. Berhasil, karena perempuan mampu bekerja dalam bidang yang mereka minati dan mampu mendidik keluarganya menjadi keluarga yang berhasil pula.

Karena, seperti itulah seharusnya perempuan. Jika hal ini ditanyakan ke saya, belum tentu saya mampu berperan ganda seperti itu, sebagai pekerja dan sebagai ibu bagi sebuah keluarga yang harus bahagia. Lagipula, saya toh belum menikah ^_^

Menjadi perempuan yang berani, itu juga yang harus menjadi cita-cita kita bersama. Berani untuk menjawab tantangan yang ada didepan. Berani untuk tidak menuntut terlalu banyak untuk diistimewakan dalam dunia kerja. Berani untuk berdamai dengan keadaan, apapun yang terjadi. Berani untuk menjadi perempuan yang bahagia. Berani untuk membahagiakan orang-orang disekeliling kita. Berani untuk bersaing secara sehat dengan laki-laki. Berani untuk menjalani kodrat sebagai perempuan.

Maka, untuk perempuan-perempuan hebat Indonesia yang saya kenal maupun tidak :

SELAMAT HARI KARTINI, SELAMAT HARI PEREMPUAN

21.04.11

Only God Knows Why

1 Komentar

Only God Knows Why. Benar sekali. Termasuk tentang patahan yang kini serupa ukiran. Jelas terlihat, seperti berkarat. Seperti itulah proses penyembuhan patahan pada hati. Iya, hati. Yang berdiam didalam sini. Yang dulu, tanpa sengaja pernah kau patahkan, pada sebuah proses bernama cinta pertama.

Ketika kita masih belia, dengan seragam sekolah. Mestinya, sama seperti teman-teman belia kita yang lain, aku merasakan indahnya cinta pertama itu. Bukan belajar untuk menyembuhkan patah hati. Tapi hidup, selalu bermisteri. Tak ada yang bisa mengetahui akhir sebuah kisah. Pun kamu. Apalagi aku. Ketidaksengajaan yang kau buat, mengajarkanku banyak hal. Mengajarkanku menikmati perih, justru pada usia sebelia itu.

Dan sekarang, ketika kita bertemu lagi pada sebuah ranah maya, taukah kau, bahwa segala rasa itu tetap sama. Meski aku tak membiarkannya keluar dari sudut hati yang telah aku tutup rapat. Tapi segala rasa, tetap sama seperti bertahun lalu. Mestinya waktu mengikis segala hal tentangmu, serupa hujan mengikis batu. Serupa kau mengikis aku dari hidupmu.

But, Only God Knows Why. Aku juga tak pernah berharap bahwa segala rasa masih bertahta disini. Karena aku tak ingin menyakiti hati lainnya. Cukup engkau yang membuatku patah. Cukup aku yang merasai perih. Maka jika Tuhan menggiring jalanku untuk melewatimu, biarkan aku menikmati segala  waktu yang pernah tercipta denganmu. Karena hanya kenangan yang aku punya tentangmu. Kenangan yang hanya akan aku nikmati, tidak aku kejar.

Terima kasih telah mengajarkan aku begitu rupa tentang perih, tentang patah dan tentang luka. Kelak jika kau dan aku berpapasan pada sebuah waktu, pada saat itu pula segala perih akan meluruh. Lantak.

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.