Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Hujan Bulan Juni

Hujan menepati janjinya pada Juni. Betapa sering dia berkunjung untuk melihat keadaan Juni. Dalam sehari, bahkan bisa beberapa kali. Apakah hanya hujankah yang mampu menepati janjinya pada Juni? Atau kau, juga harus seperti hujan, yang mampu menepati janji pada Juni, meski hanya setahun sekali.

Hujan menepati janjinya pada Juni. Menyapa setiap mahluk yang bersorak gembira ketika Juni dan hujan tiba. Pada waktu yang bersamaan.

petrichor

petrichor

Hujan Bulan Juni 

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono

Mahasiswa Kreatif

Kemarin saya baru posting tentang oknum-oknum mahasiswa yang kurang berpikir dengan logika. Jujur, posting yang kemarin itu benar-benar ungkapan kekecewaan saya. Betapa pola pikir beberapa mahasiswa malah semakin mundur, bukannya maju.

Tapi hari ini, usai saya memberi kuliah pengganti di kampus, pendapat saya sedikit berubah hari ini. Tak semua mahasiswa yang pola pikirnya mundur ke belakang. Beberapa ada yang berpikir jauh kedepan dan malah memberi motivasi, tak hanya pada rekan-rekannya, tetapi juga para dosen.

Selesai perkuliahan, saya ke ruang dosen. Karena memang hari ini bukan jadwal saya, jadi saya nggak ketemu teman-teman yang biasa masuk dengan jadwall yang sama dengan saya. Tapi ada yang beda hari ini. Ada beberapa kotak plastik pembungkus terletak di atas meja. Dan ada yang masih berisi kue-kue dengan bentuk yang sama. Penasaran, ada perayaan apa hari ini.

Ternyata, setelah mendengar komentar-komentar dari Pak Mulkan, bukan tentang perayaan. Tapi tentang satu tim mahasiswa yang terdiri dari 3 orang yang baru akan memulai Proyek Kreatif Mahasiswa. Mereka membuat kue yang dikasih judul Getuk Sushi Ayam Sakang, yang terbuat dari ubi (singkong). Bentuknya seperti sushi. Getuk yang diisi suwiran ayam dan daun sop, lalu dibungkus dengan adonan dari tepung roti yang diberi pewarna hijau. Kreatif. Tapi jangan tanya, kenapa namanya itu, karena mereka juga nggak tau :D

Ide untuk membuat usaha itu ternyata usai mereka mengikuti mata kuliah Kewirausahaan. Tertarik dengan penjelasan dosen pengasuh, mereka lalu berdiskusi dengan sang dosen yang disambut positif. Universitas memang sudah mempunyai lembaga internal yang bernama UKM Center, yang memang ditujukan untuk mahasiswa/alumni yang ingin menjadi wirausaha. Karena tak hanya modal, tapi juga diberikan pelatihan kepada mereka yang berminat berwirausaha. Dan akhirnya muncullah ide lain untuk membuat kue Getuk Sushi Ayam Sakang itu. Dan setelah dicicipi oleh dosen-dosen yang memang masuk hari itu, ternyata memang enak. Rasa getuknya yang dominan tak membuat enek, tapi justru lebih enak, karena ada aroma dari daun sop dan suwiran ayam itu.

Penampakan Getuk Sushi Ayam Sakang

Penampakan Getuk Sushi Ayam Sakang

Saya berharap, Proyek Kreatif mereka ini bisa berlanjut terus dengan dukungan banyak pihak. Termasuk dari anda yang secara kebetulan membaca tulisan ini. Mahasiswa kreatif seperti mereka, kelak akan mampu mencipta lapangan kerja, jika mendapat bantuan dari para investor yang berniat untuk membantu mereka.

Salut untuk mereka yang baru semester 4, laki-laki pula, tapi serius mengaplikasikan mata kuliah yang baru didapat. Dan sang dosen benar-benar berhasil memberikan perkuliahan. Terbukti, dari 1 kelas yang terdiri dari 30 mahasiswa, ada 3 orang yang berhasil mengaplikasikan ilmunya dalam proyek kreatif tersebut. Dan pihak kampus sudah seharusnya mendukung kegiatan kreatif seperti ini. Jadi, mahasiswa memang benar-benar memiliki pola pikir yang maju untuk kebaikan diri dan lingkungannya. Paling tidak, mereka sudah mampu mengaplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Untuk anda yang ingin mencicipi Getuk Sushi Ayam Sakang atau untuk membantu pemodalan mereka, bisa langsung menghubungi Abil di 0853 6250 0845 atau Anto di 0823 6983 7515. Bisa juga langsung ke UKM Center Universitas Panca Budi Medan, Jl. Jend. Gatot Subroto KM. 4,5 Medan. Saya benar-benar berharap, apa yang mereka lakukan sekarang bisa membawa pengaruh yang lebih baik untuk teman-temannya.

Jadi, siapa bilang jadi mahasiswa harus jadi aktivis (tukang demo) ? Mahasiswa juga harus lebih kreatif untuk membuktikan bahwa mereka tak hanya datang, duduk, diam dan lulus.

Demo Yang Menyusahkan

Jadi, hari ini saya pulang telat, karena harus menyelesaikan laporan. Biasanya, setelah jam 6 sore, jalanan yang saya lewati dari kantor nggak terlalu macet. Jam macet itu biasanya dimulai dari jam 4 sampai jam setengah 6. Nah, waktu tadi keluar kantor, langsung kaget liat jalan Prof HM Yamin sudah sepanjang itu macetnya. Tumben nih. Tapi biasanya macet itu cuma sebagian jalan aja. Ternyata setelah kami mulai jalan lagi, macetnya makin parah. Beberapa ruas jalan yang macet bahkan tak bergerak kendaraannya.

IMG_1363 IMG_1362

Akhirnya kami mulai mencari jalan alternatif. Mengelilingi seperempat kota Medan mungkin. Tapi sama aja. Jalanan dikuasai kendaraan yang tak sabar untuk melaju. Di setiap jalanan utama kota Medan, macet menguasai. Dan setelah berputar-putar mencari jalan-jalan alternatif lain yang kira-kira nggak terlalu macet, akhirnya balik lagi ke jalan yang biasa kami lewati (DUENGGGGG!!!). Dan setelah kurang lebih 1 jam (atau 1,5 jam), akhirnya kami bisa tiba di rumah dengan selamat. Phew. Alhamdulillah.

Setelah sampe rumah, baru tau ternyata penyebab kemacetan itu tak lain dan tak bukan adalah Demonstrasi Mahasiswa, sodara-sodara!! Para oknum mahasiswa yang melakukan demonstrasi ini berasal dari Universitas yang namanya memang cukup terkenal seantero Medan. Nommensen. Yang oknum pelaku demonya memang sering melakukan demo yang rusuh. Kalau sekedar bakar ban sih, mungkin masih bisa maklum. Tapi oknum-oknum yang ini malah sering merusak pos polisi dan fasilitas publik lainnya yang saya bayar dengan uang pajak saya. Bahkan suka seenaknya memblokir jalan dan menyebabkan kemacetan parah seperti hari ini.

Penyebab demo masih simpang siur. Menurut berita yang beredar, mereka berdemo karena salah seorang kawan mereka meninggal dunia karena kecelakaan yang disebabkan polisi. Anehnya, mereka bukannya demo langsung ke Poltabes Medan yang jaraknya hanya beberapa meter dari kampus mereka, malah memblokir jalan yang menyebabkan macet parah di wilayah Medan dan sekitarnya. Tapi, apapun masalah mereka dengan polisi, tak sepantasnya mereka menyusahkan masyarakat pengguna jalan. Dan ini bukan sekali ini mereka memblokir jalan. Saya yang berkantor melewati kampus mereka, sering merasakan macet yang bikin suntuk kalau mereka sudah mulai demo. Demo yang mereka lakukan lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Kalau dulu, mungkin, pelaku demo lebih berpihak pada rakyat, tapi apa yang mereka lakukan lebih sering karena masalah pribadi yang seharusnya bisa diselesaikan dengan pertemuan kedua belah pihak.

Nggak tau, sampai kapan salah satu kampus tertua di Medan itu akan terus dicap sebagai kampus yang suka rusuh kalau demo. Sayang sebenarnya. Kalau dulu, kata om saya, Nommensen merupakan kampus yang disegani karena mencetak alumni yang bagus. Tapi sekarang, mungkin perusahaan pun berpikir dua kali kalau menerima salah satu dari oknum tersebut. Entahlah.

Semoga, apapun masalah yang nantinya akan mereka hadapi, bisa lebih dingin dan normal mereka menyikapinya. Karena saya sebagai masyarakat pengguna jalan, benar-benar muak karena sering kali dirugikan oleh ulah oknum-oknum mahasiswa Nommensen.

Kerja Apa?

Saya menikah belum lama, baru juga 4 bulanan. Kalo kata orang sih, lagi manis-manisnya hahaha…. Nggak begitu juga sih, yang namanya masalah sih selalu ada, cuma karena si abang juga orangnya easy going, masalah nggak pernah dibikin berlarut-larut. Diselesaikan saat itu juga. Mungkin karena dia juga mulai mengerti sifat saya yang keras, egois dan mau menang sendiri ini (jelek kali), ya banyakan mengalahnya itu ada di porsinya dia :P

Dan setiap hari, si abang nggak pernah alpa mengantar jemput saya kerja. Dengan celana pendek. Lalu pulang ke rumah. Begitu setiap hari. Sampai akhirnya beberapa tetangga penasaran. “Ini suaminya si Wirda kerja apaan sih? Apa cuma numpang hidup sama mertua?” Begitu mungkin pertanyaan yang terlintas di pikiran mereka. Lalu, akhirnya ada yang benar-benar penasaran. Pulang mengantar saya bekerja, si abang pergi ke Indoma**t. Lalu melewati tetangga yang sedang duduk didepan rumahnya, sambil menyapa si abang “Loh, nggak kerja?” Akhirnya, pertanyaan itu terlontar juga. Dan dijawab sambil senyum “Mau ke Indoma**t, beli vitamin.” Duenggg… jawaban yang nggak nyambung sama sekali :D

Wajar sih memang, kalau ada yang penasaran. Biasanya, kalau orang berangkat kerja kan dari pagi, pulang sore/malam. Saya sendiri begitu, pergi pagi, pulang sore, kadang malam kalau ada jadwal mengajar. Nah, si abang, disaat semua orang sedang kerja, dia malah nyantai. Tapi kadang, disaat orang lagi nyantai, justru dia yang kerja.

Jam kerjanya memang nggak teratur. Abang punya darah seni dialiran darahnya. Pernah diingkari, tapi akhirnya kembali ke habitatnya. Awal-awal datang ke Medan, abang sempat kerja di kantoran. Merasa nggak pernah nyaman diperintah-perintah, akhirnya memutuskan untuk kembali menekuni dunianya, sampai sekarang. Dan Alhamdulillah, itu yang jadi sumber pencariannya sekarang.

Setiap hari, dengan jam kerja yang nggak teratur, si abang nenteng gitar memenuhi jadwalnya datang ke rumah anak didiknya untuk mengajar mereka gitar klasik. Privat. Dan dia menikmati apa yang dilakukannya. Menyalurkan minatnya, lalu mendapat penghasilan dari situ. Toh, dia tak sendiri. Banyak orang-orang lain yang lebih memilih untuk bekerja mengikuti passion-nya. Awalnya memang sulit. Segala sesuatu yang tak lazim, memang tak pernah mudah. Tapi sekarang, dengan gitarnya justru abang bisa menafkahi saya dan mengirimkan penghasilannya kepada orang tuanya di kampung.

Lalu, ketika beberapa orang kembali penasaran, si abang cuma tersenyum. Membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar hilang terbawa angin.

Selamat Ulang Tahun, Kamu

Dear kamu, tuan mudaku

Selamat ulang tahun. Semoga segala keberkahan melimpahimu sepanjang hidup. Semoga Allah senantiasa menjagamu dalam lindungan terbaikNya. Semoga segala kebaikan menyertaimu selalu.

Terima kasih untuk segala yang telah kita lewati hingga hari ini. Tak alpa mengantar jemput setiap hari. Memahami betapa aku memang bukan perempuan sempurna untukmu. Memahami betapa aku memang terkadang sulit untuk dimengerti. Mengerti bahwa hingga kini, aku tetaplah seorang perempuan yang masih punya banyak mimpi.

Hadiahku untukmu adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.182 pengikut lainnya.