Meski masih bisa tertawa ketika dikeramaian, aku tau bahwa hatiku yang perih menangis didalamnya. Setiap kali mengingat dia, selalu saja melelehkan airmata. Aku tak suka ini. Betapa cinta menjadikan aku cengeng. Setiap kali aku melihat ke belakang, bayang masa lalu mentertawakanku. Betapa jauhnya perubahan yang telah dilakukan seorang dia padaku. Menangis karena cinta? Dulu akulah orang yang akan tertawa paling keras ketika ada teman yang mengadu tentang perjalanan cintanya yang tersandung dan membuatnya jatuh. Tapi kali ini, aku yang menggelepar menahan sakit dan akhirnya aku mengerti mengapa mereka tersedu ketika itu. Maka, tertawakanlah aku, karena aku tak peduli. karena aku hanya ingin dia….

Dan pengakuan itu meluncur juga padanya. Bahwa aku merindukannya. Tapi kami sudah tau, bahwa lebih baik memang seperti ini dulu. Jika memang Tuhan menuliskan takdir kami bersama, berada dijalan yang sama, bersisian, bergandeng tangan menuju tujuan yang sama, maka kami akan bersama. Tapi saat ini, kita nikmati saja dulu, setiap perih yang mendera dan menyiksa hati kita. Klise jika ada yang bilang cinta tak harus memiliki, tapi inilah yang terjadi sekarang.

Aku menangis lagi hari ini. Memukul tembok lagi. Tersayat perih lagi. Ingin berhenti sebenarnya. Tapi tetap, ingatan yang sering kali melayang padanya membuatku luruh. Begitu pedih kali ini sakit yang terasa. Mengalirkan darah dan airmata lebih banyak. Begitu membekas, tertoreh diatas luka lama. Aku tau tuan muda, bahwa kau juga merasakan perih yang sama. Tapi tak ada yang bisa kita lakukan. Jika kita kembali bersama, kita tetap akan stuck, tak akan kemana-mana dan itu akan membuat sakit yang jauh lebih terasa dari sekarang.

Kau, aku, kita pasti akan bertemu, suatu saat nanti, entah dimanapun. Itu yang kau bilang. Aku mengaminkannya dalam hati. Semoga kali ini Tuhan mendengar pinta hati yang sedang meradang perih.