Citizen Journalism – Kompasiana Blogshop

4 Komentar

Learning by Blogging – Citizen Journalism. Itu yang menjadi judul Workshop Kompasiana Blogshop yang diadakan Kompasiana bekerja sama dengan Telkomsel pada 23 April lalu. Giliran Medan kali ini yang dikunjungi. Workshop kali ini yang diadakan di Hotel Soechi saya tidak sendiri lagi. Saya mengajak 3 orang mahasiswa semester 6 yang mengikuti mata kuliah saya. Sengaja saya ajak, untuk mengenal lebih dekat dengan dunia Social Media yang belakangan ini semakin sering digunakan di tanah air tercinta ini.

Menurut Iskandar Zulkarnaen, pembicara yang merupakan Community Editor Kompasiana, “Citizen Journalism merupakan kegiatan melaporkan berita yang dilakukan warga biasa yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh uang tapi memiliki minat pada suatu masalah”. Nah, ketika warga biasa yang ingin menuliskan opininya terhadap suatu masalah dan menerbitkannya pada sebuah blog pribadi ataupun Social Media yang lain yang kemudian dibaca oleh orang banyak, maka warga biasa tersebut telah melakukan Citizen Journalism. Bahkan, surat kabar sekelas Tribun Medan yang merupakan anak dari Group Kompas juga sudah menyediakan satu kolom untuk Citizen Journalism. Dimana, kita sebagai warga biasa diperbolehkan untuk menuliskan opini kita tentang apa saja dan kemudian mengirimkannya ke redaksi. Jika artikel kita yang berupa opini tersebut layak terbit, maka voilaa…nama anda akan muncul di surat kabar, sebagai penulis. Sebagai Citizen Journalist. Dan kita, orang biasa ini akan mampu menjadi bagian dari sejarah, merubah wajah dunia.

Jangan remehkan kekuatan Social Media. Jangan remehkan kekuatan blog. Saya pernah mengenal dan bertemu langsung dengan orang-orang luar biasa yang berhasil mengubah wajah dunia dengan blog. Hanya dengan menuliskan kata-kata pada jurnal online. Sebutlah Enda Nasution yang mempunyai sebutan Bapak Blogger Indonesia, yang melanglang buana berkat blog, mendirikan situs Web 2.0 dan jika anda ingin lebih lengkap lagi sila merujuk ke wikipedia. Kemudian seorang perempuan, pendiri situs Web 2.0 berjudul Ngerumpi yang saya kenal dengan nama Simbok Venus, yang keisengannya menulis diblog pribadi yang merupakan jurnal online tempatnya belajar menulis akhirnya menjadikannya penulis tetap di detik. Kemudian Putra Nasution (entah apakah abang satu ini bersaudara dengan Enda Nasution atau tidak) yang juga berhasil menjejakkan kaki di tanah Colombus juga berkat keisengannya blogging. Dan masih ada banyak lagi yang akhirnya menjadi full time blogger dan berhasil.

Membuat blog memang mudah, tapi merawatnya sangat sulit, itu yang dibilang Heru Margianto, pembicara yang merupakan online journalist Kompas yang memberikan tips tentang bagaimana menulis cepat, menarik dan bermanfaat pada workshop kemarin. Dan saya banyak mencatat beberapa kiat-kiat yang bisa kita tiru agar blog kita selalu update. Intinya adalah Think About Your Passion To Write. That’s it. If you don’t love it, don’t write about it. Benar sekali. Tulislah apa saja yang kita ingin tulis, menulislah dengan hati (begitu tagline di Ngerumpi).

Tak banyak mungkin dari kita yang mengenal siapa itu Ndoro Kakung, Simbok Venus, Enda Nasution, Putra Nasution, Nicholas, Silly, Nonadita dan banyak blogger lain yang akhirnya membentuk komunitas dan berkontribusi pada banyak peristiwa yang terjadi pada bangsa ini justru ketika pemerintah kurang tanggap terhadap masalah tersebut. Hanya melalui Social Media. Sebutlah Blood For Life merupakan komunitas blogger yang peduli dengan donor darah, yang memberikan informasi kepada masyarakat yang membutuhkan darah, yang penggeraknya merupakan seorang ibu rumah tangga, blogger yang dikenal dengan nama Silly. Atau ketika menangani korban pengungsi Merapi dan banyak lagi. Yang masih segar dalam ingatan kita, pengumpulan Koin Untuk Prita, dimulai pada sebuah angkringan di Jalan Langsat Jakarta, yang akhirnya sekarang menjadi besar dan dikenal dengan Komunitas Langsat. Lao Tzu memang benar, The journey of a thousand miles begins with one step.

Thomas Carlyle, seorang filsuf Inggris pernah mengatakan bahwa “Sejarah dunia adalah biografi orang-orang besar”. Tapi itu dulu, ketika Tim Berners-Lee masih belum menemukan world wide web (www). Ketika teknololgi internet masih berada dalam wilayah Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969. Tapi sekarang, dunia mulai mencatat sejarah yang dimulai orang-orang biasa, seperti kita. Hanya dengan sebuah blog kecil kita bisa mengubah sejarah dunia, mampu menyampaikan opini-opini kita. Hanya dengan penyampaian ide-ide dalam kepala kecil kita. Menulis memang tak mudah, tapi tak ada sesuatu pun yang tak bisa dilakukan jika kita mau berusaha.

Seperti kata Heru Margianto,”Menulislah karena ingin menulis, dan jadilah diri sendiri ketika ingin menulis. Dan teruslah menulis, hingga tak ada kata yang keluar lagi”. Maka, menulislah hanya dengan hati, agar bisa diterima dengan hati. Bahkan, seorang Imam Besar yang pernah dimiliki umat Muslim, Imam Ali bin Thalib juga pernah mengatakan, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.

Maka, tak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menulis. Jika Citizen Journalism sudah bisa diterima di bumi nusantara tercinta ini, maka sudah saatnya pula kita belajar menyampaikan opini-opini kita dengan tulisan yang santun.

Mari menulis, mari mengikat ilmu dengan menuliskannya.

25.04.11

12.30

WW

Perempuan

4 Komentar

Mungkin banyak yang meragukan, terutama teman-teman yang mengenal saya dekat, bahwa saya perempuan. Secara fisik dan jiwa. Perempuan. Meski mungkin ada sedikit tingkah, style, pola pikir, ucapan yang agak berbeda dengan perempuan lain, tapi sumpah, saya ini perempuan. Benar-benar perempuan. *Apa sih?*

21 April adalah hari Kartini yang kita peringati setiap tahun. Dengan cara yang sama. Setiap tv swasta atau nasional biasanya menampilkan presenter perempuannya selama sehari penuh untuk setiap tayangan, lalu menampilkan tayangan-tayangan yang mengedepankan perempuan. Lalu disekolah-sekolah akan diadakan lomba Kartini, kebaya Kartini, sanggul Kartini, apalah yang berhubungan dengan Kartini. Meski sebenarnya Kartini bukan satu-satunya perempuan pelopor di negeri ini. Tak perlulah kita mengulang sejarah tentang para perempuan pelopor di Indonesia ini. Meski mungkin ada yang merasa tak adil, bahwa emansipasi sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 11 September 1599 ketika seorang perempuan bernama Malahayati memimpin 2000 pasukan perempuan berperang melawan kapal-kapal dan benteng Belanda dari atas geladak kapal dan membunuh Cornelis de Houtman hingga akhirnya mendapat gelar Laksamana. Bukan ketika seorang perempuan menuliskan berlembar-lembar surat kepada sahabatnya, jauh setelah Laksamana Malahayati menunjukkan kemampuannya sebagai seorang perempuan.

Maaf, jika saya terbaca begitu skeptis terhadap “perjuangan” seorang Kartini. Tapi, saya adalah generasi yang membutuhkan bukti nyata jika ingin dipercaya. Dan karena perjuangan seorang Laksamana Malahayati yang merupakan Laksamana perempuan pertama di dunia,  Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dhien atau Dewi Sartika yang benar-benar membangun sekolah sendiri dengan tangannya yang benar-benar sudah terbukti. Bukan sekedar menulis surat. Maaf, jika ada yang tak sependapat. Toh, dalam hidup saya, begitu banyak orang yang merasa tak sependapat dengan saya. Jadi boleh kan, kali ini saya tak sependapat dengan anda.Toh, bukan hanya saya yang tak sependapat. Jika anda googling dan ingin mencaritahu tentang Kartini, anda juga akan menemukan bahwa ada yang merasa bahwa gelar pahlawan nasional untuk Kartini itu kontroversi.

Dan disini, saya pun sedang tak ingin memperpanjang gugatan atau kontroversi itu. Saya hanya ingin merayakan hari perempuan. Sebagai perempuan, tentu saja. Dan perempuan terhebat menurut saya tentu saja Emak. Satu-satunya perempuan yang mengerti bahwa dibalik keperempuanan saya, tersimpan semangat yang dia yakin saya bisa mewujudkannya suatu hari nanti. Dan saya bersyukur, satu keinginannya dari saya telah saya penuhi. Dengan ikhlas. Emak percaya, bahwa meski saya perempuan saya bisa meraih mimpi tertinggi yang berani saya impikan. Dan untuk itu, hingga hari ini, setelah delapan tahun kepergian Emak, saya belum berhenti bermimpi.

Saya bersyukur, hidup dalam sebuah keluarga yang mengedepankan pendidikan, tak memberi celah pembeda antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga kami. Meski Ayah dan Emak juga bukan orang yang berpendidikan tinggi, hanya lulusan SMP. Tapi ketiga anak mereka adalah sarjana dan ahli madya. Dan sebagai perempuan, saya bebas dan diberi kesempatan untuk berkarya sesuai minat dan bakat kami. Hingga akhirnya, saya bisa begitu mencintai dua pekerjaan saya.

Sebagai perempuan yang hidup di era globalisasi seperti sekarang ini, mestinya kita bisa berbuat lebih banyak lagi. Akses pendidikan, informasi, pengetahuan, segala yang kita mau bisa kita raih sekarang. Tapi hitunglah, berapa banyak perempuan yang beruntung yang bisa mendapatkan itu semua di Indonesia? Toh hingga hari ini kita masih mendengar begitu banyak berita duka tentang perempuan. Meskipun banyak juga perempuan yang mampu bangkit dan bersaing dengan laki-laki. Dan akhirnya lebih berhasil dari laki-laki. Berhasil, karena perempuan mampu bekerja dalam bidang yang mereka minati dan mampu mendidik keluarganya menjadi keluarga yang berhasil pula.

Karena, seperti itulah seharusnya perempuan. Jika hal ini ditanyakan ke saya, belum tentu saya mampu berperan ganda seperti itu, sebagai pekerja dan sebagai ibu bagi sebuah keluarga yang harus bahagia. Lagipula, saya toh belum menikah ^_^

Menjadi perempuan yang berani, itu juga yang harus menjadi cita-cita kita bersama. Berani untuk menjawab tantangan yang ada didepan. Berani untuk tidak menuntut terlalu banyak untuk diistimewakan dalam dunia kerja. Berani untuk berdamai dengan keadaan, apapun yang terjadi. Berani untuk menjadi perempuan yang bahagia. Berani untuk membahagiakan orang-orang disekeliling kita. Berani untuk bersaing secara sehat dengan laki-laki. Berani untuk menjalani kodrat sebagai perempuan.

Maka, untuk perempuan-perempuan hebat Indonesia yang saya kenal maupun tidak :

SELAMAT HARI KARTINI, SELAMAT HARI PEREMPUAN

21.04.11

Only God Knows Why

1 Komentar

Only God Knows Why. Benar sekali. Termasuk tentang patahan yang kini serupa ukiran. Jelas terlihat, seperti berkarat. Seperti itulah proses penyembuhan patahan pada hati. Iya, hati. Yang berdiam didalam sini. Yang dulu, tanpa sengaja pernah kau patahkan, pada sebuah proses bernama cinta pertama.

Ketika kita masih belia, dengan seragam sekolah. Mestinya, sama seperti teman-teman belia kita yang lain, aku merasakan indahnya cinta pertama itu. Bukan belajar untuk menyembuhkan patah hati. Tapi hidup, selalu bermisteri. Tak ada yang bisa mengetahui akhir sebuah kisah. Pun kamu. Apalagi aku. Ketidaksengajaan yang kau buat, mengajarkanku banyak hal. Mengajarkanku menikmati perih, justru pada usia sebelia itu.

Dan sekarang, ketika kita bertemu lagi pada sebuah ranah maya, taukah kau, bahwa segala rasa itu tetap sama. Meski aku tak membiarkannya keluar dari sudut hati yang telah aku tutup rapat. Tapi segala rasa, tetap sama seperti bertahun lalu. Mestinya waktu mengikis segala hal tentangmu, serupa hujan mengikis batu. Serupa kau mengikis aku dari hidupmu.

But, Only God Knows Why. Aku juga tak pernah berharap bahwa segala rasa masih bertahta disini. Karena aku tak ingin menyakiti hati lainnya. Cukup engkau yang membuatku patah. Cukup aku yang merasai perih. Maka jika Tuhan menggiring jalanku untuk melewatimu, biarkan aku menikmati segala  waktu yang pernah tercipta denganmu. Karena hanya kenangan yang aku punya tentangmu. Kenangan yang hanya akan aku nikmati, tidak aku kejar.

Terima kasih telah mengajarkan aku begitu rupa tentang perih, tentang patah dan tentang luka. Kelak jika kau dan aku berpapasan pada sebuah waktu, pada saat itu pula segala perih akan meluruh. Lantak.

Tentang Wakil Rakyat dari Sudut Pandang Seorang GolPut

2 Komentar

Baiklah, politik memang bukan wilayah saya. Berkali-kali saya sebutkan itu dalam setiap tulisan serius saya. Saya tak pernah paham tentang politik, sedikit bingung. Sebingung ketika saya membaca terjemahan Il Principe-nya Niccolo Macchiavelli, buku tua yang terselip diantara novel-novel dan buku-buku filsafat di perpustakaan kampus beberapa tahun yang lalu. Saya memahami petuah-petuah Godfather, tapi politik? Jauh dari akal saya. Tak paham.

Apalagi sebagai Golongan Putih selama beberapa kali pemilihan, seseorang pernah mengatakan bahwa saya tak pantas untuk berkomentar apapun tentang negeri ini, karena saya memilih untuk tidak memilih. Jadi, jika sesuatu terjadi pada negeri ini, sebagai Golongan Putih, saya cuma bisa melihat, tak boleh berkomentar. Apatah lagi protes.

Tapi, kelakuan para Anggota Dewan yang merupakan wakil rakyat pilihan wakil rakyat selama beberapa hari ini menjadi sorotan serius di berbagai media. Kelakuan minus yang ditunjukkan mereka yang katanya, mengaku berpendidikan, terhormat dan pintar itu. Kelakuan yang tak pantas dilakukan oleh orang-orang kepada rakyat yang “menggaji” mereka. Dengan sombongnya mereka mempertontonkan ketidakpatutan mereka kepada rakyat yang harus berkeringat, berpanas dibawah matahari hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mana janji-janji yang pernah mereka ucapkan ketika masa kampanye terdahulu? Hilang lenyap seperti asap tertiup angin.

Sudah lama saya tak melihat berita-berita di televisi yang belakangan juga dikuasai para birokrat pemerintah. Alhasil, televisi yang mestinya jadi hiburan buat saya, menjadi sesuatu yang saya jauhi. Tak sudi saya melihat kumpulan-kumpulan shitnetron tak bermutu dan berita-berita yang dipelintir sedemikian rupa dari corong-corong pemerintah. Internet adalah tempat saya mencari tahu hal-hal yang terjadi. Menjauhi hal-hal yang tak ingin saya lihat.

Tapi, selain Breaking News di televisi swasta, Social Media adalah tempat paling tepat untuk memberitahu apapun kepada khalayak. Internet adalah media tercepat untuk mengetahui berbagai informasi. Dan akhirnya memang, usai para lelaki di kantor sholat Jum’at, saya melihat berita dari timeline twitter saya dari media online yang saya follow, detik.com. Tentang seorang wakil rakyat, bernama Arifinto yang kedapatan membuka sebuah film porno dari ipadnya, sebelum sholat Jumat. Dilakukan pada saat sidang paripurna DPR, di gedung yang mereka bilang tempat terhormat, menggunakan fasilitas yang memakai uang pajak rakyat dan akhirnya menerima gaji dari rakyat yang memeras keringat setiap hari. BETAPA ZHALIMNYA ANDA, WAHAI WAKIL RAKYAT! Dari sebuah partai yang mengaku sebagai partai dakwah, partai bersih, profesional berlandaskan Islam. Dan dibela habis-habisan oleh anggota partai lain yang setiap harinya berkicau di timeline-nya tentang Tuhannya, etika dan segala macam kicauan yang tak penting. BETAPA MUNAFIKNYA ANDA, WAHAI MENTERI KEM**FO!

Kemudian, hari ini kembali saya menemukan lagi kebusukan mereka. Kali ini MARZUKI ALIE. Beliau, sebagai Ketua DPR yang terhormat akan diadukan ke BK DPR, terkait persetujuannya untuk membangun Gedung Baru DPR yang penuh dengan kebohongan (bisa baca disini) dan pernyataannya yang benar-benar menyinggung perasaan saya sebagai seorang rakyat (meski saya GolPut).

“Bagi rakyat biasa, dari hari ke hari, yang penting perutnya berisi. Itu saja sudah jalan, makan, kerja, ada rumah, ada pendidikan, itu selesai buat rakyat. Jangan diajak ngurusin yang begini. Urusan begini orang-orang pintar diajak bicara, ajak kampus-kampus bicara kita diskusikan,” ujar Marzuki.

Buat saya, cukup jelas pernyataannya ini. Bahwa rakyat yang ada dibawah mereka cuma sekumpulan orang-orang bodoh yang tak layak mengurusi negeri ini. Bahwa saya, tak pantas khawatir tentang negeri ini. Hey, saya memang GolPut, tapi saya membayar pajak untuk menggaji mereka. Kalau saja 100 juta rakyat negeri ini sepakat untuk tidak membayar pajak, siapa yang akan menggaji mereka? Hey, wakil rakyat, kami adalah boss kalian!! Ingat itu!!

Kemudian, seorang wakil rakyat yang lain. Sang hedon, penikmat duniawi dari partai beringin yang sempat belajar etika di Yunani dan kemudian menikmati tari perut di Turki.Nudirman Munir yang terhormat.

Ia mengaku tampak merasa terhina berkantor di gedung megah DPR yang ada sekarang ini. “Kita jangan aneh-aneh membandingkan dengan rakyat yang susah. Itu jelas berbeda. Apa kita harus tinggal di gubuk reot juga, becek-becekan, kita harus realistis,” ujarnya dalam sidang paripurna itu.

Waaaah……hebat sekali pernyataannya itu. Apa dia pikir, yang memilih dia waktu itu adalah SETAN? HANTU? Dimana diletakkannya otaknya ketika mengatakan itu? Kali ini saya marah! Ratusan juta rakyat kecil dia lecehkan dengan pernyataannya itu. Kemudian, apakah masih pantas dia menikmati kursi panas itu, dibayar dengan gaji berjuta  rupiah itu?

Nudirman mengaku malu ketika harus menunjukkan ruangannya kepada beberapa Bupati yang datang berkunjung. “Bupati berkunjung ke ruangan saya, dia katakan ruangan pembantunya saja lebih besar dari ruangan anggota dewan,” ujarnya.

Kemudian, apakah anda, para pemilih tetap akan berdiam diri saja melihat kenyataan yang sekarang terjadi didepan mata? Keegoisan yang dilakukan oleh para wakil rakyat yang anda pilih dengan berjuta harapan? Apakah anda rela dikhianati begitu rupa oleh mereka yang mengaku mewakili rakyat, berbuat untuk kepentingan rakyat? Rakyat yang mana?

Sudah waktunya kita bertindak menjadi boss dinegeri ini. Beritahu mereka, bahwa anda, para pemilih juga berhak menentukan nasib mereka. Pecat saja mereka-mereka yang anda anggap tak pantas mewakili suara anda. Mereka yang egois, yang tak pernah memikirkan nasib anda.

Tunjukkan kepada mereka, wahai rakyat Indonesia, bahwa KEDAULATAN ADA DI TANGAN RAKYAT!

Teruntukmu

Tinggalkan Komentar

Hey, kamu. Iya, kamu. Yang selama hampir tiga tahun ini mendiami seruang luas dihatiku. Yang menetap dengan masa unlimited. Yang akhirnya memenuhi ruang yang sempat kosong. Yang mengajarkan aku begitu banyak hal, tentang cinta. Tentang hidup dan tentang berbagi.

Kamu, yang betah mendengarkan cerita-cerita masa laluku. Kamu, yang tak lelah bertanya tentang hari-hari yang aku lewati. Kamu, yang percaya tentang mimpi-mimpi yang sedang aku rajut, yang banyak orang mentertawainya. Kamu, yang memintaku untuk menikmati hidup.  Kamu, yang mengajarkan aku untuk percaya.

Seseorang yang akhirnya membuatku berani bermimpi tentang cinta dan masa depan. Laki-laki yang mengajakku untuk mewarnai hidupnya, padahal dia tau bahwa sebagai perempuan aku begitu kaku bila berurusan dengan cinta. Perempuan yang kamu tau, bersembunyi dibalik kerasnya hati, menggunakan topeng untuk menutupi kelemahanku.

Dan kamu, laki-laki yang membuatku belajar berpikir selain angka-angka. Laki-laki yang mengajarkanku menggunakan hati selain logika untuk  syntax dan query. Laki-laki yang membuatku memprogram hatiku sendiri dengan software bernama kasih. Kamu, yang tak lelah melantunkan lagu Semoga dengan gitarmu. Menyanyi dengan hati, untukku.

Terima kasih. Kamu mengajarkan begitu banyak tentang hidup kepadaku. Perempuan yang lebih akrab dengan perih dan patah hati ini akhirnya belajar untuk menciptakan bahagianya sendiri. Kamu membuatku belajar menggunakan hati yang telah membeku akibat luka-luka yang menghajarnya selama bertahun-tahun.

Hari ini adalah hari dimana kamu mengulang hari lahirmu. Kita telah membicarakan begitu banyak tentang masa depan yang tak mudah untuk kita raih. Tapi, keyakinanmu yang membuat kita akhirnya bertahan, meski rintang itu semakin hari makin tak mudah. Selamat ulang tahun untukmu, tuan mudaku. Tetaplah ditempatmu sekarang berada. Tetap disana, ditempat kita saling menemukan. Semoga Allah memberikan segala berkah, rahmat dan karunia disepanjang hidupmu. Semoga Rabb-ku Sang Maha Penguasa mengabulkan segala pinta yang terucap dari hatimu.

 

Mencintaimu,

WW

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.