Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tentang Hari Ulang Lahir

Postingan ini tentu saja telat. Postingan yang terlambat. Karena hari ulang tahun saya terlewat beberapa hari. Tapi, lebih baik telat dari pada tidak sama sekali, bukan ? Bukaannnn!!!

Akhirnya saya menyentuh angka itu juga. 30 something, yang akhirnya dipertegas juga dengan rambut perak yang mulai menunjukkan eksistensinya helai demi helai. Rambut perak yang nggak saya cabut kalau nggak mengganggu sama sekali (baca : gatal).

Bersyukur atas limpahan rahmat dan berkah umur yang Allah berikan kepada saya. Berharap segala langkah yang akan saya jalani akan membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan, bersama Yash dan ayahnya, Insya Allah.

Beberapa hari sebelum hari lahir saya datang, ayahnya Yash bertanya, “Mau dibeliin apa buat ulang tahun nanti?” Saya cuma jawab dengan senyum. Boro boro dibeliin kado, dari pacaran sampe ulang tahun kemaren, kelewatan terus. Malah pernah salah tanggal :D Makanya saya nggak berharap banyak dari ayahnya Yash.

Tapi, beberapa hari kemudian, tepat jam 00:00, waktu saya masih download materi kuliah, si ayah masuk, mengucapkan selamat ulang tahun, sambil cium ubun-ubun saya. Untungnya kemaren itu saya abis keramas. What a big surprise ini sih :D Pertama kalinya ini dalam sejarah kami, tepat waktu; tanggal dan jamnya.

Ah, nikmat apalagi yang hendak saya dustakan ? Apa yang harus saya keluhkan dari hidup saya yang luar biasa ini? Dikarunia begitu banyak kebaikan dan kebaikan. Maka, seharusnya saya meluangkan waktu lebih banyak untuk mensyukuri hidup, bukan mengeluhkannya.

Mengutip kalimat yang saya post di salah satu media sosial saya, “tentang 30 sekian ini, yang bikin saya menerima dengan iklas rambut putih yang mulai menampakkan diri. Sadar bahwa dalam bilangan angka, jarak saya dengan masa muda selangkah lebih jauh sekarang. Tapi, buat saya, kemudaan tak hanya terletak pada angka, tetapi juga pada jiwa dan pikiran. Tua itu pasti, sedangkan dewasa adalah pilihan. Maka, saya memilih untuk belajar menjadi dewasa menghadapi segala yang ada didepan. Belajar dewasa menghadapi Yash yang juga bertumbuh besar. Belajar dewasa untuk selalu mendampingi suami tercinta”.

Melunasi Hutang

Belakangan, hutang menulis saya bertumpuk. Sejak dari lebaran yang rencananya saya mau cerita soal trip pertama saya dan Yash ke kampung halaman ayahnya, sampai pada hari ulang tahun saya, film bagus yang saya tonton dan tentang hari ini, Peringatan Kemerdekaan negara saya.

Dan hutang itu terus bertumpuk dengan mengatasnamakan sebuah alasan klasik yang cenderung dibuat-buat. Sibuk. Padahal, seharusnya saya tak sesibuk itu juga. Dengan gadget yang lumayanlah itu, saya masih bisa posting dari mana saja, seharusnya. Tapi ternyata kemalasan saya yang akhirnya menang.

Jadi, semoga saja saya berhasil merapel satu demi satu hutang menulis sampai akhirnya saya benar-benar bisa istiqomah lagi.

Semangat!!!

Ramadhan Kareem

10 hari terakhir Ramadhan. Alhamdulillah, bisa terlewati dengan baik. 20 hari kebelakang, cuaca di Medan lumayan bikin lemas. Panas. Kadang sampe 33 derajat. Bahkan pernah dalam satu hari, cuaca sampai 34 derajat panasnya. Saya yang sehari-hari di ruang berAC memang nggak terlalu berasa. Tapi, buat suami saya yang kerjanya harus singgah dari satu rumah murid ke rumah yang lain, serta ayah saya dan pegawainya di bengkel, benar-benar cobaan yang berat. Cuaca panas ini mungkin karena Gunung Sinabung yang sedang batuk dan sesekali mengeluarkan awan panas. Kami aja yang di Medan, jauh dari pusat kejadian panasnya luar biasa, apalagi saudara-saudara kami di Berastagi sana. Yang dua kali lebaran ini, akan melewatinya di pengungsian dan masih menunggu bantuan dan simpati dari pemerintah.

Ah iya, di hari ke d20 Ramadhan kali ini saya juga disibukkan berburu tiket mudik. Pertama kalinya saya punya kampung juga, berkat suami :D *finally!!* Insya Allah, lebaran kali ini kami juga akan melewatinya di kampung halaman suami, di Banyu Biru. Sekalian mengenalkan Yash yang dari lahir belum ketemu neneknya. Insya Allah lebaran kali ini ketemu. Dan emaknya juga cukup excited dengan mudik kali ini. Sekaligus bingung, apa aja yang mesti disiapin.

Urusan tiket kelar, nah urusan packing yang bikin bingung. Bingung soal apa aja peralatan perang yang mesti di pack. Secara ayahnya Yash yang rock n roll gitu, isi koper nanti mesti didominasi jeans dan pastinya, baju-bajunya Yash.

Eh, koper apa ransel yak. Hihihi…. ntar aja ah. Mending list aja dulu apa-apa yang mesti dibawa. Dan selanjutnya bingung lagi. Pengalaman pertama mudik, soalnya. Harap maklum

:D

Sudah Cek Gula Darah Anda?

Masih ingat dengan tagline salah satu iklan dari produk pengganti gula ? Minggu lalu, saya akhirnya memberanikan diri untuk cek kadar gula darah, kolesterol dan asam urat. Mengingat pola makan dan pola hidup saya jauh dari sehat.

Salah satu keuntungan bekerja di kantor yang base-nya di rumah sakit adalah, kita bisa melakukan cek langsung ke Laboratorium Patologi Klinik tanpa harus daftar ke Tempat Pendaftaran Pasien. Lalu, siapa nanti yang akan membaca hasilnya ? Itu keuntungan yang lain lagi. Karena saya bertugas mengawasi sistem di bagian Laboratorium Patologi Klinik, saya kenal dengan banyak analis disana, dan bisa minta tolong bacain hasilnya :D

Sebelumnya, saya dan Vera meminta rekomendasi dari Ibu Sondang, salah satu analis disana untuk pemeriksaan yang akan mengecek kadar gula darah, kolesterol dan asam urat. Dan ibu Sondang menyarankan untuk test Lipid Profile untuk mengetahui kolesterol lengkap, termasuk HDL dan LDL-nya, lalu Glukose Puasa untuk cek gula darahnya dan Uric Acid untuk tes asam uratnya. Sehari sebelumnya, kami harus puasa dulu lebih kurang 8 jam sebelum diambil darah. Dan total hanya mengeluarkan uang 97 ribu rupiah saja.

Nah, bagian pengambilan darah ini yang bikin parno. Disuntik itu bagian yang paling tidak saya sukai dari rumah sakit dan sejenisnya. Tapi, pengambilan darah itu adalah satu-satunya cara, maka mau tak mau harus mau juga.

Sekitar 2-3 cc darah saya diambil melalui spuit yang ternyata nggak sesakit yang saya bayangkan. Lengan saya disuntik, lalu darah disedot, kemudian selesai. Kami diminta menunggu hasil yang kemudian akan disimpulkan oleh dokter Patologi Klinik, dan bisa dibaca oleh orang-orang yang mengerti.

Sebenarnya, tanpa harus menunggu hasil print out dari Lab, kami langsung bisa mengecek ke sistemnya :D, tapi biar afdol, pengambilan hasil tetap dilakukan seperti pasien pada umumnya, dan minta tolong dibacakan oleh ibu Sondang.

Dan, inilah hasil cek darah saya minggu lalu

Hasil cek darah

Hasil cek darah

Alhamdulillah, hasilnya baik. Kolesterol, gula darah dan asam urat, semuanya masih dalam batas normal. Alhamdulillah.

Lalu, sudahkah cek gula darah anda ?

Kahlil Gibran

Mendadak saya membuka-buka draft tulisan yang nggak pernah keluar dari foldernya. Tulisan-tulisan lama yang pernah menemani saya ketika masih akrab dengan patah hati :D Dan pada beberapa tulisan, saya sempat jatuh cinta pada tokoh utamanya.

Kemudian, salah satu draft menampilkan sebuah puisi Kahlil Gibran yang juga jadi salah satu teman ketika saya masih bersahabat dengan patah hati.

Dimanakah engkau kekasih
Adakah kau dengar seruan dan ratapanku dari seberang lautan?
Ku melihat kerendahan dan kelemahan diriku?
Tahukah kau akan kesebaran dan daya tahanku?
Tak adakah pantai yang tersembunyi diantara jiwa
Yang membawa keluhan seorang kekasih yang sakit
Dimanakah engkau, kekasih?
Kegelapan membalut diriku
Dan, perkabungan ialah sang penenang
Tersenyumlah ke dalam udara
Dan diriku bakal segar kembali
Dimanakah engkau,kekasih?
Ah, betapa perkasa cinta
Betapa dia menyudutkan aku

Kalau teman berbagi saya waktu itu seperti ini, gimana saya nggak bertahan lama dengan patah hati

:D

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.446 pengikut lainnya.