Akhirnya Resign

Tak terasa, sudah hampir 9 bulan sejak pengajuan resign saya pada perusahaan konsultan IT tempat bernaung selama 7 tahun 8 bulan. What a wonderful journey that I ever had! Saya berhasil bertahan selama hampir 8 tahun dalam sebuah lingkungan yang memberikan saya pengalaman yang berharga. Yang mengubah saya dari seorang manusia “bersumbu pendek” menjadi seseorang yang lebih mampu mengontrol amarah. Membuat saya menjadi orang yang mau belajar bersosialisasi.

Mengubah kebiasaan yang saya lakoni selama hampir 8 tahun ini memang nggak mudah. Tapi saya bukannya sama sekali tak ada kegiatan. Selama hampir 8 tahun ini saya sudah melakoni 2 kegiatan yang sejurus. Pagi sampai sore saya bekerja di kantor, sore sampai malam saya di kampus, mengajar. Saya paham, selama bertahun-tahun saya sudah berlaku egois dan tak adil pada Yash dan Attar. Membiarkan mereka tumbuh tanpa pengawasan penuh dari saya. Saya lebih banyak menghabiskan waktu diluar. Mungkin ini juga yang dilihat orang-orang. Tapi, sudah sejak lama saya mengabaikan kata-kata orang.

Alasan sebenarnya memang karena adik saya yang sehari-hari menjaga Yash dan Attar akhirnya menikah dan diboyong suaminya ke luar pulau. Maka, saya tak mungkin melepaskan pengasuhan anak-anak saya lebih dari setengah hari pada orang lain. Atau di luar rumah. Itu sebabnya, keputusan untuk resign adalah yang terbaik. Saya tak bisa lagi mempertahankan 2 pekerjaan sekaligus. Saya harus memilih. Dan akhirnya saya memilih untuk kembali ke kampus. 4 November 2017 akhirnya saya mengundurkan diri, melepaskan pekerjaan yang membuat saya belajar lebih baik lagi mengenai menganalisis masalah dan menyelesaikannya.

Ada perasaan sedih memang, tapi hidup itu pilihan, kan? Maka saya juga harus memilih. Dan saat ini, kembali ke kampus menjadi pilihan yang paling realistis. Menggunakan sepenuhnya NIDN yang saya dapat bertahun-tahun lalu. Menjadi dosen tetap pada almamater saya.

Maka, perjalanan saya masih terus berlanjut, meski pada arah yang berbeda. Semoga, memang tak pernah ada penyesalan atas setiap keputusan yang pernah saya ambil.

Farewell. I don’t want to say goodbye, so, I’ll see you when I see you.

Last day at SIRS

Satu-satunya

Pernah ngerasain ada yang mengungkapkan perasaan dengan perasaan sepenuh hati, persis kayak orang dimarahin? Saya pernah. Kapan? Waktu dengar lagu Satu-satunya, D’ Massiv feat Iwan Fals.

Serius.

Coba dengarkan, dengan earphone yang full volume, sekarang di YouTube. Lagu ini sempurna buat kalian yang mau nembak orang yang kalian sayang.

Kenapa saya bilang begini? Karena waktu Iwan Fals yang menyanyikan bagian refrain itu, dengan suara khasnya, seolah ada seorang laki-laki yang berusaha meyakinkan dengan sebenar, bahwa apa yang dia rasakan itu benar dan pasti adanya. Dan cara meyakinkannya, tanpa sadar seolah-olah sedang marah. And d’you know what, ketika part yang dinyanyikan oleh Iwan Fals itu, mendadak mata saya menggenang. Bukan tentang mengingat akan kenangan, tapi akan hari ini, dan esok nanti.

PINK ~ A Girl Safety Manual

Being a woman, is a complicated thing

Honestly, saya bukan penggemar film India. Rasanya capek, ketika sedang seru-serunya jalan cerita malah terpotong dengan segala tarian dan nyanyian. Meski, bagi sebagian orang, tarian dan nyanyian itu justru esensi dalam film India. Jadi, ketika nonton film India yang katanya bagus, saya sering skip bagian tari dan nyanyi.

Tapi, film India yang kali ini saya tonton atas rekomendasi seorang kawan, PINK(2016), yang dibintangi oleh aktor besar India, Amitabh Bachchan, minus tarian. Bahkan lagunya cuma 3. 2 lagu di awal film dan 1 di credit title. So, I continue on to watched this great movie.

pink
Poster PINK

PINK adalah film tentang 3 orang perempuan yang diintimidasi karena telah melukai satu dari 3 orang laki-laki yang baru mereka kenal di sebuah konser Rock. Dan laki-laki yang terluka itu kebetulan adalah keponakan seorang yang berpengaruh di India. Terpikir untuk membalas dendam atas luka yang diderita temannya, mereka memutuskan untuk membalas dendam. Dengan berbagai intimidasi yang gagal, akhirnya 3 orang laki-laki itu melaporkan Minal Arora, perempuan yang melukai Rajveer Singh ke polisi dengan tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Luka yang diterima Rajveer bukan tanpa sebab. Menurut pengakuan Minal, Falak dan Andrea itu karena Rajveer melakukan pelecehan terhadap Minal. Kemudian, tetangga mereka yang pernah melihat Minal diculik ketika pulang dari lari sore tergerak untuk menolong. Deepak Shegal, seorang pengacara yang punya nama di India, yang sebelumnya memutuskan untuk pensiun, akhirnya memutuskan untuk menjadi pengacara Minal. Dan selanjutnya adegan dan percakapan di pengadilan, bikin saya terdiam sambil berkaca-kaca.

Untuk review lengkap dan sinopsisnya, silakan googling aja ya 😀 Saya hanya ingin berbagi sedikit mengenai opini saya mengenai film ini.

Film tentang perempuan memang sangat menarik untuk dibahas. Terlebih ketika masalah yang diangkat adalah pelecehan perempuan. Dimana pelecehan itu terjadi pada perempuan mandiri, yang sering pulang malam dan memakai pakaian yang sedikit terbuka. Stigma mengenai perempuan “seperti itu” yang bisa dilecehkan, ternyata tak hanya terjadi disini. Bahkan di India hal ini juga menjadi issu yang tak hanya berkembang disana, tapi juga mendunia. Betapa banyak kasus pemerkosaan perempuan yang ending-nya tak sesuai dengan yang diharapkan. Tak heran, bahwa film ini juga di-screening di markas besar PBB Di New York dan di kepolisian Rajhastan untuk melatih kepolisian ketika menghadapi kasus serupa.

Jadi perempuan disini, di Indonesia, bukan hal yang mudah. Kita akan sering mendengar “kata orang” daripada kata hati sendiri. Kita akan lebih sering mempertimbangkan “omongan orang” daripada kebahagian sendiri. Dan ketika kita mengabaikan “kata orang” dan “omongan orang”, maka cap jelek akan langsung melekat. Segala hal yang dilakukan harus selalu memikirkan “apa omongan orang kalau pulang kerja selalu diatas jam 9 malam?” Sesuatu yang akan dipakai, harus melalu pertimbangan “apa kata orang kalau pakai baju begini?” Rumit.

Mr. Deepak secara sarkas memberikan beberapa aturan yang seharusnya dipatuhi oleh perempuan kalau mau hidupnya aman. Sarkas sekali. Betapa segala kesalahan itu ditimpakan kepada perempuan. Kasus pelecehan yang berujung pada perkosaan, salah perempuan karena pakaiannya. Padahal bisa saja itu karena memang otak si pemerkosa memang sudah rusak. Salah perempuan karena terlalu percaya pada laki-laki dan mau saja diajak pergi. Padahal, dengan mengenal si laki-laki dan bersedia diajak pergi, bukan berarti para perempuan berhak untuk dilecehkan dan meminta untuk dilecehkan. Salah perempuan juga, karena pulang kerja terlalu malam, salah perempuan karena bersekolah terlalu tinggi, salah perempuan karena mengabaikan keselamatan dirinya dengan terlalu percaya pada laki-laki.

Meski, tak semua laki-laki sebrengsek itu. Tak semua laki-laki otaknya serusak itu. Justru itu, jangan menilai dari pakaian dan kebersediaan perempuan untuk berteman dengan laki-laki. Kami hanya ingin dihargai, tak perlu juga perlindungan secara berlebihan. Hanya perlu dihargai.

Karena TIDAK berarti TIDAK!!! Karena jika seorang perempuan berkata TIDAK, tak akan ada lanjutannya.

Betapa peer saya banyak sekali. Dengan 2 orang anak laki-laki, saya harus mengajari mereka tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki wajib menghormati perempuan, ibunya.

 

– #NulisRandom2017

– Hari ke 7 –

Inkonsistensi masih berlanjut. Maafkan.

Puasa hari ke 13. Cuaca kota Medan masih panas. 2 minggu sudah berlalu dari 1 Ramadhan. Jalanan masih lengang tiap sore, sepulang kantor. Saya suka. Macet nggak terlalu. Mungkin juga karena anak sekolah libur. Biasanya jarak kantor-rumah adalah 45 menit. Kalau ditambah hujan dan banjir, bisa sejam lebih. Tapi, dengan suasana puasa begini, jalanan ikut lengang. Jarak kantor-rumah setiap saya pulang lebih singkat. Bisa 20 sampai 25 menit. Luar biasa ternyata kemacetan di kota Medan ini.

 

Inkonsistensi – #NulisRandom2017

– Hari ke 6 – 

Seperti yang sudah saya tebak, akhirnya saya memang telat 1 hari untuk menyetor tulisan di #nulisrandom2017. Alasan sih bisa saja dibuat. Mentok idelah, nggak ada waktulah, mati lampu lah, apa saja. Intinya sih sebenarnya cuma satu. Malas. Hih!!! Memang kalau malas sudah datang, apapun tak bisa dilakukan. Dan ini tentu saja bukan sebuah pembenaran. Tak ada yang benar dari sebuah kemalasan.

Dan satu lagi, saya pelupa. Terkadang, menjelang berakhirnya hari, saya baru sadar bahwa saya sedang mengikuti tantangan ini :”)

Semoga hanya hari kemarin saja saya gagal setoran. Dan hari-hari selanjutnya saya harus bisa menyelesaikannya dengan baik, benar, konsisten dan semangat.