Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Film PeeKay dan simbol agama

Isu agama adalah isu yang paling sensitif untuk dilontarkan, terutama di negara-negara majemuk yang memang gampang terpancing isu-isu seperti ini. Indonesia adalah salah satunya. Tak jarang pergesekan terjadi gara-gara salah paham. Forum-forum terbuka juga tak sedikit yang menjadikan agama sebagai salah satu perdebatan. Bersyukur tinggal di kota Medan yang aman dan damai dari kisruh antar agama.

Pee Kay

Pee Kay

Mungkin itu juga yang ingin disampaikan film P.K. Film Bollywood yang dibintangi Aamir Khan, yang saya tonton bareng kawan-kawan kantor Sabtu sore yang lalu. P.K atau Pee Kay ya, bukan Penjahat Kelamin :D Film ini direkomendasikan bagus oleh kawan-kawan yang pernah menontonnya. Film yang mengundang kontroversial di India sana juga mengundang protes keras dari tokoh-tokoh agama. Bahkan, Aamir Khan Persis seperti film-filmnya Hanung Bramantyo :D Kalau Hanung (katanya) cenderung menunjukkan sisi jelek dari agama Islam, nah P.K yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani ini, cenderung ke tokoh-tokoh agama Hindu yang tak jarang dikultuskan, seperti Tapaswi Maharaj, yang jadi tokoh agama di film ini. Sinopsis lengkap (spoiler malah) bisa langsung ke sini.

Secara tak langsung, PK memang menyindir keagamaan saya. Bahwa saya masih memandang simbol-simbol itu jauh lebih penting dari pada hubungan saya sendiri dengan Tuhan. Saya memang bukan orang yang religius, tetapi saya percaya bahwa segala apapun yang saya lakukan semata-mata karena takdir yang Dia gariskan untuk saya. Jadi teringat, jaman masih mahasiswa dulu, ketika saya masih aktif berkegiatan di Himpunan Mahasiswa, pernah berkenalan dengan sekelompok pecinta Linux yang waktu itu masih asing. Sekitar tahun 2002 atau 2003-an. Saya yang masih bergaya preman tobat berkenalan dengan orang-orang yang ketika saya ulurkan tangan untuk berkenalan, malah menangkupkan tangan didada, menolak bersalaman. Dan ketika berdiskusi tentang acara seminar yang akan kami buat, nggak pernah melihat wajah saya ketika saya berbicara. Saya merasa seperti PeeKay pada saat itu. Sebagai perempuan dengan ilmu agama yang sedikit, saya jadi bingung, kenapa perempuan seperti saya menjadi sesuatu yang sepertinya haram untuk disentuh, bahkan sekedar berjabatan tangan. Tapi memang mungkin pemahaman saya tentang pergaulan muslim-muslimah memang tak seperti mereka yang saya kenal dulu.

Tak jarang kita memang menganggap simbol-simbol agama itu menjadi jauh lebih penting agama itu sendiri. Sehingga terkadang lupa, bahwa ada banyak orang-orang seperti saya yang memang pemahaman terhadap agama itu sedikit, menjadi berpatokan pada simbol dan ritual-ritual tertentu. Dan PeeKay menggambarkannya dengan sangat jelas sekali. Dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai yang paling dekat dengan Tuhan, tak jarang akan kita anggap sebagai Tuhan. Bukan dengan menyembahnya, tapi justru kita lebih takut terhadap amarah tokoh-tokoh agama tersebut dibanding Tuhan sendiri. Lebih mengikuti kata-kata tokoh agama tersebut, dibandingkan firman-firman yang telah Tuhan sabdakan di kitab suci.

Maka, Pee Kay mengajak saya untuk introspeksi jauh ke dalam diri saya. Sudah baikkah saya memahami agama saya. Sudah paham kah saya dengan ayat-ayat suci yang Allah kirimkan melalui Al Qur’an ? Dan Pee Kay seharusnya bukanlah sebuah film yang menghina agama, tapi mari kita lihat, Pee Kay sebagai sindiran bagi kita, yang mungkin memahami agama dengan sudut pandang yang mungkin sedikit keliru.

 

PS : tulisan diatas cuma sekedar sok tau saya tentang pesan dibalik sebuah film. Peace.

 

Every Child is Special

Sebagai seorang (yang katanya) blogger, saya merasa gagal. 2015 sudah berjalan selama 42 hari, tetapi saya baru menuliskan posting pertama tahun ini tepat pada hari ke 42 dan pada bulan kedua. Seharusnya kesibukan nggak bisa dijadiin alasan kan ya. Dan saya nggak punya excuse buat bikin alasan apapun kenapa baru nulis sekarang. Intinya, saya memang malas :/

Jadi, menebus rasa bersalah, saya mau cerita sedikit soal film yang kemarin saya tonton bareng kawan-kawan di kantor. Saya penikmat segala film, yang penting filmnya bagus. Apalagi kalo ada pesan moralnya, lebih bikin saya bisa belajar dari situ.

Kapan itu, saya liat Nicholas posting tentang satu film di FB. Film India. Rekomendasinya sih bagus.Makanya saya donlot juga di torrent. Sebenernya saya males nonton film India. Bukan anti ya. Ada beberapa yang memang saya suka. Ada beberapa yang baru nonton, udah ditinggal. Atau kalau nonton hasil donlotan, pas bagian nyanyi-nyanyinya saya skip. Kelamaan. Tapi, kata adek saya yang penggemar film India, di lagu-lagu dan tarian itu lah esensi dari film India. Nah, ketika akhirnya saya baca sinopsis filmnya, saya yakin kalau film ini pasti bagus.

Taare Zameen Par judulnya, artinya seperti bintang-bintang di langit. Film yang disutradai dan diproduseri Aamir Khan, aktor top India. Film produksi tahun 2007 ternyata. Saya telat 7 tahun untuk nonton film sebagus itu!! Nggak heran kalau film ini menyabet beberapa penghargaan. Bahkan masuk ke dalam nominasi Academy Awards ke 81 untuk kategori Best Foreign Film, walaupun akhirnya karena satu dan lain hal, nominasinya dibatalkan.

taree zameen par

taree zameen par

Film ini bercerita tentang Ishaan, murid kelas 3 sekolah dasar yang bermasalah. Tak hanya 1, tapi seluruh mata pelajaran. Satu hal yang dia suka, melukis. Dan imajinasinya dalam memandang dunia ini, begitu luar biasa. Kedua orangtuanya menganggap bahwa Ishaan adalah anak nakal. Selalu membuat masalah. Karena guru-guru disekolahnya selalu mengeluh tentang Ishaan, akhirnya dia dikirim ke sekolah asrama. Ishaan menganggap keluarganya membuangnya, ibunya sudah tidak menyayanginya lagi. Ishaan depresi. Sayangnya, tak ada yang menyadari apa yang dideritanya. Semua menganggap bahwa Ishaan hanya murid bodoh yang pemalas. Sampai akhirnya, muncul seorang guru melukis pengganti. Mr. Nikhumb. Yang menemukan Ishaan yang hanya terdiam tanpa ketertarikan apapun di kelas melukis. Tak seperti teman-temannya yang antusias bermain warna dan berimajinasi dalam kertas gambar mereka. Ram Nikhumb mulai menganalisis, hingga akhirnya menyadari bahwa dyslexia-lah yang menyebabkan Ishaan ada di sekolah asrama itu.

Setiap anak adalah istimewa. Dengan segala tingkah lakunya. Anak adalah peniru terbaik. Apa yang dilihatnya, itulah yang akan dilakukannya. Anak merekam apa yang dilihatnya dalam otaknya, kemudian mempraktekkannya. Anak mempunyai imajinasi yang sangat tinggi. Sebagai seorang kanak-kanak, saya pernah berimajinasi sebagai anggota dari 5 sekawan, yang berpetualang tanpa kenal takut. Saya pernah berimajinasi sebagai salah satu anggota kerajaan negeri dongeng, yang memiliki banyak permintaan dan selalu dikabulkan Nirmala dengan tongkat ajaibnya. Saya pernah berimajinasi memiliki buntelan ajaib seperti Pak Janggut, yang bisa mengeluarkan benda-benda apa saja, tepat pada saat dibutuhkan. Bahkan, saya pernah meniru gaya Ikang Fawzi dengan syal berbentuk segitiga yang menutupi lehernya, dan saya sering disangka sakit batuk, karena mengikat sapu tangan dengan gaya yang sama dengan Ikang Fawzi. Yeah, that’s me.

Kita, pernah menjadi anak-anak. Dengan segala imajinasi tanpa batas. Kita pernah seperti Ishaan, yang memandang dunia hanya dari sudut pandang kanak-kanak kita. Tanpa beban. Melihat Ishaan, seperti melihat diri saya sendiri. Saya bukan penyandang dyslexia. Bahkan menurut almarhumah ibu saya, saya bisa membaca sejak usia 5 tahun, sebelum saya masuk SD. Tapi, saya pernah melakukan kenakalan-kenakalan seperti Ishaan. Kenakalan kanak-kanak yang seharusnya lucu, membuat gemas, tanpa menimbulkan kemarahan.

Film ini adalah pelajaran berarti untuk saya. Mengingatkan saya, bahwa Yash adalah spesial, sama seperti anak-anak lainnya. Yash pasti juga punya keunikan tersendiri, yang saya dan ayahnya harus siap menghadapinya, dengan penuh kesabaran. Karena seperti Ishaan,  Yash juga pasti kelak akan menemukan kenakalan-kenakalan lucu khas kanak-kanak.

ada cerita dibalik secangkir kopi

Kopi buat saya adalah wajib. Minimal 2 hari sekali. Kalau saya nggak ngopi, bisa sakit jiwa. Saya bisa jadi tukang ngamuk yang senggol bacok. Pernah sehari saya benar-benar lupa ngopi, akibatnya nggak ada satu pekerjaanpun yang beres saya lakukan tanpa marah-marah dan mencet-mencet tuts keyboard dengan kasar. Pernah juga saya dengan sadar nggak ngopi seharian. Mengistirahatkan perut saya yang memang menderita maag. Seharian sih baik-baik aja, ya pastinya dengan bawaan marah-marah. Tapi besok paginya, mendadak saya migren. Sejak itu, saya nggak berani lagi bereksperimen sehari tanpa kopi.

Kopi buat saya adalah hitam, kental dan pahit. Perbandingannya 3 : 1 atau 2 : 1. 3 atau 2 sendok kopi dan 1 sendok gula. Harus pahit. Kalau manis ya mending saya minum teh manis aja :D Kenapa harus pahit? Mungkin karena saya memang terbiasa dengan hidup yang pahit kali ya hehehehe….

Kopi buat saya adalah cerita. Terlalu banyak cerita yang mengalir dalam secangkir kopi. Rasanya, orang-orang sekantor tau, bahwa ketika mood saya sedang jatuh, saya harus ngopi. Daripada saya juga merusak mood orang-orang sekantor kali ya :p

Ritual setiap pagi saya adalah merebus 2 cangkir air dan 4 sendok bubuk kopi. Setelah mendidih, saya seduh dalam satu cangkir untuk suami, dan seduhan kedua saya masukkan ke termos kecil, untuk bekal saya di kantor. Karena saya nggak mau lagi membayangkan sehari tanpa kopi.

Ah iya, sebungkus kopi Jambi hadiah seorang kawan masih tersimpan di lemari, karena sebungkus kopi Lintong yang saya beli di salah satu kedai kopi sudah menipis.

Jurus 3i untuk Masa Depan Lebih Baik

Ketika akhirnya mendadak diumumkan kenaikan BBM tanpa pemberitahuan sebelumnya, mau nggak mau akhirnya bikin saya mikir juga. Setelah ngecek lagi keuangan, baru sadar ternyata memang kami berdua ini boros. Dan penggunaan paling banyak biasanya buat makan. Duh :/ Apalagi ngopi-ngopi. Itu juga salah satu yang bikin keuangan kami akhirnya nggak pernah tertata dengan rapi.

Beberapa waktu yang lalu, Din, chief-nya Blogger Sumut, tempat saya terdaftar jadi salah satu blogger (yang malas), nawarin  di twitter untuk datang ke satu acara keuangan. Saya pikir sih, ini mesti promosi dari salah satu badan keuangan buat blogger untuk jadi buzzer. Atau sesuatu yang seperti itu. Tapi, akhirnya setelah menyesuaikan waktu, karena acaranya hari Minggu (dan hari Minggu adalah waktu buat Yash), saya setuju. Niatnya sih buat sekedar ngumpul-ngumpul sama anak-anak Blogger Sumut. Memang, karena kesibukan dari masing-masing anggota, kami memang udah nggak pernah lagi ngumpul bareng di acara tertentu. Dan, acara keuangan sore itu, akhirnya jadi ajang reuni kecil kami.

Ah iya, ada yang ingin saya ceritakan terkait dengan acara beberapa waktu yang lalu. Sudah cukup lama sebenarnya, 16 November yang lalu, tapi ilmu yang saya terima terasa masih nempel sampai hari ini. Jujur aja, saya agak kurang tertarik dengan acara-acara keuangan. Karena biasanya cuma menonjolkan produk-produk buatan badan keuangan tertentu, tanpa mau menyertakan alasan-alasan logis, kenapa peserta yang hadir harus memilih produk tersebut. Tapi, acara yang digagas oleh Manulife Asset Management menghadirkan nuansa yang berbeda. Memberi pencerahan pada saya yang memang memiliki kekurangan soal keuangan.

Acara yang bertajuk “tiga langkah sadar investasi dengan jurus 3i (insyaf, irit, invest)”, benar-benar menampar-nampar saya. Kak Krizia Maulana, sebagai Special Investment Manulife Asset Investment membahas tiga jurus tersebut dengan sangat rinci berikut alasan-alasan yang membuat saya mengangguk-angguk setuju sepanjang presentasi, sambil mengutuki kebodohan saya sebagai manager keuangan rumah tangga.

20141116_152252

Kopi – memang berteman akrab dengan pisang goreng

 

Insyaf

Dari awal presentasi dengan jurus insyaf  ini saja saya sudah merasa ditampar. Bertahun-tahun bekerja, apa sih yang sudah saya punya ? Saya menggeleng dalam hati. Rasanya memang gaji saya cuma sekedar numpang lewat saja. Tanpa sempat berlama-lama. Dengan gaji 15 koma (tanggal 15 udah koma) dan menunggu tanggal 1 dengan rasa nggak sabar, saya memang manager rumah tangga yang gagal. Saya bahkan cuma punya tabungan yang isinya nggak seberapa. Punya niat untuk bikin tabungan pendidikan buat Yash dan tabungan berjangka untuk jaga-jaga. Tapi tetap saja sebatas niat. Mulai hari itu, saya putuskan untuk berubah. Rekening saya harus stabil dari awal hingga akhir bulan. Pendapatan suami harus diatur sedemikian rupa, dengan pembagian yang benar antara kebutuhan rumah tangga, cicilan dan kebutuhan lain, harus disisihkan untuk ditabung.

Yash memang masih 1 tahun, artinya saya hanya punya waktu sekitar 2 tahun sebelum Yash akhirnya harus masuk PAUD. Dan biaya pendidikan sekarang jauh lebih besar dari ketika saya sekolah dulu. Jaman SD, saya sekolah di SD negeri, yang nggak dipungut uang sekolah tetapi hanya diwajibkan membayar BP3 sebagai pengganti SPP, sebesar Rp. 300 rupiah saja. Uang sekolah SD sekarang berapa ? Biaya masuk TK 2 tahun lagi berapa ? Yang pasti nilainya bisa sampai jutaan, bahkan puluhan juta, tergantung sekolahnya. Dan kami harus mempersiapkan dana pendidikan itu sekarang, kalau nggak mau kebingungan pada saat Yash akan masuk sekolah nanti. Belum lagi biaya untuk penunjang pendidikan, seperti buku. Novel-novel yang biasa saya beli sekarang, harganya udah diatas Rp. 30.000, dan buku-buku untuk pendidikan jauh lebih mahal. Fasilitas-fasilitas lainnya, juga harus dipersiapkan juga kan, artinya adalah bahwa persiapan itu harus dilakukan dari SEKARANG!! Fokus kami sekarang memang sedang terpecah antara melunasi cicilan, menabung untuk DP rumah dan biaya sekolah Yash nanti. Maka, kami harus benar-benar insyaf dalam mengatur keuangan kami yang memang ngepas ini.

Presentasi

Presentasi

Irit

Makan adalah porsi paling besar yang mengurangi keuangan kami. Saya dan suami hobi makan. Mencoba-coba makan ditempat yang kami pikir pasti enak. Ngopi ditempat-tempat baru yang menyediakan kopi enak yang bikin kami betah nongkrong dengan suasana yang bikin rileks. Tapi tentu saja kegiatan menghabiskan uang itu perlahan-lahan menggerogoti simpanan kami. Karena kebutuhan-kebutuhan pokok yang lain juga harus dipenuhi. Maka saya sepakat, bahwa kami memang harus mengurangi mencoba-coba tempat makan baru. Boleh kegiatan itu dilakukan, tetapi tidak boleh terlalu sering. Toh, mie ayam gerobak tempat langganan kami juga selain mengenyangkan, juga enak sekali. Nggak kalah dengan kafe-kafe atau restoran yang pernah kami kunjungi.

Untuk urusan ngopi, saya dan suami adalah penggemar kopi hitam yang enak. Untuk sehari-hari di kantor, saya memang biasa mengkonsumsi kopi bubuk atau kopi instan. Tapi suami, karena pekerjaannya yang mobile, lebih sering ngopi di luar dengan alasan kopi disana lebih enak dari kopi merek biasa yang sering saya beli. Nah, karena saya sudah ikut pencerahan dengan  jurus 3i (insyaf, irit, invest), saya memutar otak. Gimana caranya supaya suami juga bisa ngopi enak dengan kopi favoritnya di rumah. Akhirnya saya mengusulkan, bahwa sebaiknya kami membeli biji kopi yang bisa langsung digiling dan dibeli di kopi tiam tempat kami biasa nongkrong. Dengan 1 ons kopi seharga Rp. 25.000 saja, kami bisa irit sampai 2 minggu lebih. Dan setiap pagi sebelum berangkat kerja, saya akan menyimpan kopi hitam racikan saya dalam termos kecil untuk kemudian saya bisa nikmati di kantor, meski sambil meeting :)

Intinya, selain mengatur keuangan kami memang harus irit, mengingat beberapa tahun kedepan, kita nggak akan pernah tau kapan inflasi akan datang. Maka, dari sekarang saya harus bisa mengatur alur masuk dan keluar keuangan rumah tangga.

Invest

Jurus ketiga ini yang akhirnya benar-benar membuka mata saya tentang pentingnya investasi. Investasi juga tak melulu tentang menyimpan uang, tapi juga emas. Nah, Kak Krizia menawarkan satu solusi investasi untuk kita yang benar-benar awam tentang pasar modal. Kalau invest emas, kita semua udah tau kan ya. Tapi soal reksa dana? Saya sendiri baru tau kemarin. Kenapa reksa dana? Kak Krizia bilang, untuk saat ini, reksa dana adalah investasi pasar uang yang lebih aman dan murah selain Forex, saham atau obligasi. Saya sendiri pernah terlibat tidak langsung dengan Forex, karena suami saya pernah bekerja sebagai broker di salah satu perusahaan forex di Medan. Mengingat bahwa bermain forex harus memiliki mental dan emosi yang kuat, saya bukan orang yang cocok untuk investasi di forex. Untuk saham atau obligasi, jelas saya nggak cocok. Keuangan saya jauh dari memadai untuk bermain di pasar saham atau obligasi. Maka, reksa dana adalah pilihan yang pas.

Krizia Maulana – Special Investment Manulife Asset Management

Kenapa reksa dana ? Karena dengan hanya investasi 100 ribu rupiah saja per bulan, saya sudah memiliki sebuah investasi. Semurah itu kah? Yup, dan sangat mudah. Hanya bermodal rekening bank, KTP dan NPWP (kalau ada), kita sudah bisa berinvestasi di reksa dana. Eh tapi, kalau sekedar 100 ribu rupiah per bulan, saya kan bisa membuka rekening satu lagi dan disiplin menyetor 100 ribu setiap bulan. Sama aja kan? Oooppsss… jelas beda. Kalau saya punya tabungan misalnya 10 juta rupiah saat ini, maka belum tentu 2 tahun ke depan nilainya masih sama. Karena ketika terjadi inflasi, maka tabungan dengan nominal 10 juta rupiah itu pasti akan berubah nilainya. Bagaimana dengan reksa dana ? Nah, reksa dana nggak terpengaruh dengan inflasi. Berapapun nilai rupiah yang diinvest pada tahun ini, nggak akan berubah nilainya meski tahun depan terjadi inflasi.

Apa lagi? Reksa dana ini dikelola oleh para manajer investasi profesional yang berpengalaman. Sehingga kita sebagai investor nggak perlu memantau atau mengelola investasi kita sendiri. Kita tinggal menghitung hasil aja. Nggak merepotkan untuk ibu bekerja seperti saya ini.

Yuk, belajar invest - apapun pilihan investasimu

Yuk, belajar invest – apapun pilihan investasimu

Lalu, ketika Kak Krizia bilang bahwa “Menunda itu mahal”, maka saya sepakat pada suami, bahwa bulan depan kami harus sudah mulai investasi untuk masa depan. Kami harus disiplin untuk menyisihkan di awal pendapatan kami untuk investasi. Kalau bisa, tidak hanya di satu tempat. Tapi untuk tahap belajar ber-invest kali ini, saya insya Allah akan mempercayakan pada Investasi Reksa Dana Manulife sebagai salah satu lembaga keuangan yang sudah memberikan pencerahan dengan jelas kepada saya yang buta tentang reksa dana.

Yuk, mulai terapkan jurus 3i – insyaf, irit, invest, SEKARANG!!

Menjual Kenangan

Kemarin, notifikasi Line saya menyampaikan pesan mengejutkan. Ada Apa Dengan Cinta 2014. Hah??!? Itu film udah 12 taun yang lalu kan? Itu film rilis tahun 2002, waktu saya masih semester 3. Artinya sekarang saya udah tua hehehehe… Film AADC waktu itu jadi booming karena awal taun 2000-an waktu itu adalah awal kebangkitan lagi film Indonesia yang sebelumnya cuma diisi film-film nggak mutu yang cuma ngandalin paha sama dada aktrisnya. Lalu kemudian muncullah film-film lain, sampai sekarang. Mendapatkan tiket film AADC waktu itu penuh perjuangan. Bioskop-bioskop dulu juga nggak kayak sekarang. Kalo dulu, kita mesti saingan sama calo tiket, yang dulu mestinya harga selembar tiket cuma 10000, bisa jadi 25000 kalo belinya dari calo. Sekarang sih, nggak perlu ada calo, karena beli tiket juga udah bisa online kan. Nah, balik lagi ke 12 tahun yang lalu. Ketika saya dan kawan-kawan sekelas di kampus sepakat untuk nonton film yang pertama kali diputar di Medan. Bukan gampang, mesti desak-desakan, eh udah gitu sampe depan loket ternyata tiket udah abis, bahkan sampai 2 jam pemutaran film berikutnya. Gila kan calo-calo itu. Dan calo-calo itu juga nggak berhenti di hari pertama, tapi juga hari-hari berikutnya. Akhirnya, berhasil juga nonton film itu setelah beberapa hari film akan habis masa putarnya. Dan sekarang, setelah 12  tahun berlalu, sebuah notifikasi dari sebuah media sosial mengantarkan segala kenangan pada saat itu. Ketika masa muda masih tersandang angkuh dibahu saya. Mini Drama Ada Apa Dengan Cinta 2014. Lengkap dengan pemain utamanya, Cinta (Dian Sastro), Rangga (Nicholas Saputra), Carmen (Adinia Wirasti), Milly (Sissy Priscilia), Alya (Ladya Cherryl) dan Maura (Titi Kamal). Pastinya, semua sudah tumbuh menjadi lelaki dan perempuan dewasa dengan kehidupan yang jauh berbeda dari ketika mereka masih SMA. Marketing LINE ini memang pinter. Kenapa saya bilang menjual kenangan ? Berapa banyak orang yang begitu ingin kembali pada kenangan? Pada cinta pertama? Banyak kan? Tapi, selain mesin waktu memang belum terbukti ada, apa lagi yang bisa mengembalikan kita pada masa lalu, kecuali kenangan? Dan sepertinya itu yang memang ingin dijual Line. Perpisahan Cinta dan Rangga di bandara, yang walaupun ada lanjutannya dengan dibuatnya sebuah sinetron tetap nggak bisa menjawab rasa penasaran penggemar film AADC. Setelah 12 tahun berlalu, berkat sebuah aplikasi pada LINE, akhirnya Rangga menemukan Cinta. Dan berkat Line pula, segala kenangan tentang Cinta dan Rangga berkelebat di benak masing-masing. Tentang perpisahan yang sudah 12 tahun berlalu. Kalo saya bilang, selama 2 hari ini demam AADC berhasil melanda hampir seluruh media sosial yang saya punya akunnya. Semua angkatan tua kayak saya :D, yang waktu itu masih esempe, esema dan yang kuliah (kayak saya, iya iya, saya emang udah tua!!) yang pernah begitu menikmati film ini dan penasaran dengan cerita Rangga-Cinta, pasti akan merasakan nostalgia, kenangan dan reuni yang sama dengan AADC 2014 ini. Ide penjualan seperti ini seharusnya pun ditiru oleh perusahaan lain. Supaya iklan nggak melulu tentang menjual produk. Tapi, iklan tentang menjual kenangan seperti ini, pasti akan berhasil. Line sudah membuktikannya. Salute!!  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.381 pengikut lainnya.