Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Ramadhan Kareem

10 hari terakhir Ramadhan. Alhamdulillah, bisa terlewati dengan baik. 20 hari kebelakang, cuaca di Medan lumayan bikin lemas. Panas. Kadang sampe 33 derajat. Bahkan pernah dalam satu hari, cuaca sampai 34 derajat panasnya. Saya yang sehari-hari di ruang berAC memang nggak terlalu berasa. Tapi, buat suami saya yang kerjanya harus singgah dari satu rumah murid ke rumah yang lain, serta ayah saya dan pegawainya di bengkel, benar-benar cobaan yang berat. Cuaca panas ini mungkin karena Gunung Sinabung yang sedang batuk dan sesekali mengeluarkan awan panas. Kami aja yang di Medan, jauh dari pusat kejadian panasnya luar biasa, apalagi saudara-saudara kami di Berastagi sana. Yang dua kali lebaran ini, akan melewatinya di pengungsian dan masih menunggu bantuan dan simpati dari pemerintah.

Ah iya, di hari ke d20 Ramadhan kali ini saya juga disibukkan berburu tiket mudik. Pertama kalinya saya punya kampung juga, berkat suami :D *finally!!* Insya Allah, lebaran kali ini kami juga akan melewatinya di kampung halaman suami, di Banyu Biru. Sekalian mengenalkan Yash yang dari lahir belum ketemu neneknya. Insya Allah lebaran kali ini ketemu. Dan emaknya juga cukup excited dengan mudik kali ini. Sekaligus bingung, apa aja yang mesti disiapin.

Urusan tiket kelar, nah urusan packing yang bikin bingung. Bingung soal apa aja peralatan perang yang mesti di pack. Secara ayahnya Yash yang rock n roll gitu, isi koper nanti mesti didominasi jeans dan pastinya, baju-bajunya Yash.

Eh, koper apa ransel yak. Hihihi…. ntar aja ah. Mending list aja dulu apa-apa yang mesti dibawa. Dan selanjutnya bingung lagi. Pengalaman pertama mudik, soalnya. Harap maklum

:D

Sudah Cek Gula Darah Anda?

Masih ingat dengan tagline salah satu iklan dari produk pengganti gula ? Minggu lalu, saya akhirnya memberanikan diri untuk cek kadar gula darah, kolesterol dan asam urat. Mengingat pola makan dan pola hidup saya jauh dari sehat.

Salah satu keuntungan bekerja di kantor yang base-nya di rumah sakit adalah, kita bisa melakukan cek langsung ke Laboratorium Patologi Klinik tanpa harus daftar ke Tempat Pendaftaran Pasien. Lalu, siapa nanti yang akan membaca hasilnya ? Itu keuntungan yang lain lagi. Karena saya bertugas mengawasi sistem di bagian Laboratorium Patologi Klinik, saya kenal dengan banyak analis disana, dan bisa minta tolong bacain hasilnya :D

Sebelumnya, saya dan Vera meminta rekomendasi dari Ibu Sondang, salah satu analis disana untuk pemeriksaan yang akan mengecek kadar gula darah, kolesterol dan asam urat. Dan ibu Sondang menyarankan untuk test Lipid Profile untuk mengetahui kolesterol lengkap, termasuk HDL dan LDL-nya, lalu Glukose Puasa untuk cek gula darahnya dan Uric Acid untuk tes asam uratnya. Sehari sebelumnya, kami harus puasa dulu lebih kurang 8 jam sebelum diambil darah. Dan total hanya mengeluarkan uang 97 ribu rupiah saja.

Nah, bagian pengambilan darah ini yang bikin parno. Disuntik itu bagian yang paling tidak saya sukai dari rumah sakit dan sejenisnya. Tapi, pengambilan darah itu adalah satu-satunya cara, maka mau tak mau harus mau juga.

Sekitar 2-3 cc darah saya diambil melalui spuit yang ternyata nggak sesakit yang saya bayangkan. Lengan saya disuntik, lalu darah disedot, kemudian selesai. Kami diminta menunggu hasil yang kemudian akan disimpulkan oleh dokter Patologi Klinik, dan bisa dibaca oleh orang-orang yang mengerti.

Sebenarnya, tanpa harus menunggu hasil print out dari Lab, kami langsung bisa mengecek ke sistemnya :D, tapi biar afdol, pengambilan hasil tetap dilakukan seperti pasien pada umumnya, dan minta tolong dibacakan oleh ibu Sondang.

Dan, inilah hasil cek darah saya minggu lalu

Hasil cek darah

Hasil cek darah

Alhamdulillah, hasilnya baik. Kolesterol, gula darah dan asam urat, semuanya masih dalam batas normal. Alhamdulillah.

Lalu, sudahkah cek gula darah anda ?

Kahlil Gibran

Mendadak saya membuka-buka draft tulisan yang nggak pernah keluar dari foldernya. Tulisan-tulisan lama yang pernah menemani saya ketika masih akrab dengan patah hati :D Dan pada beberapa tulisan, saya sempat jatuh cinta pada tokoh utamanya.

Kemudian, salah satu draft menampilkan sebuah puisi Kahlil Gibran yang juga jadi salah satu teman ketika saya masih bersahabat dengan patah hati.

Dimanakah engkau kekasih
Adakah kau dengar seruan dan ratapanku dari seberang lautan?
Ku melihat kerendahan dan kelemahan diriku?
Tahukah kau akan kesebaran dan daya tahanku?
Tak adakah pantai yang tersembunyi diantara jiwa
Yang membawa keluhan seorang kekasih yang sakit
Dimanakah engkau, kekasih?
Kegelapan membalut diriku
Dan, perkabungan ialah sang penenang
Tersenyumlah ke dalam udara
Dan diriku bakal segar kembali
Dimanakah engkau,kekasih?
Ah, betapa perkasa cinta
Betapa dia menyudutkan aku

Kalau teman berbagi saya waktu itu seperti ini, gimana saya nggak bertahan lama dengan patah hati

:D

 

Media dan Vickynisasi

Hari ini saya liat postingan dari seorang kawan di salah satu media sosial terpopuler di Indonesia. Posting status yang menyertakan sebuah link yang menurut saya sangat nggak penting sekali diantara turunnya rupiah dan naiknya elpiji 3 kg.

Tulisannya bikin capek bacanya

Tulisan yang bikin capek bacanya

Yak, ini tentang bahasa aneh yang entah kenapa kok bisa muncul dalam pikiran seorang laki-laki bernama Vicky Prasetyo, yang beberapa waktu lalu, satu keluarga muncul di infotainment gara-gara gagal nikah dengan pedangdut canti Zaskia Gotik. Yang belum tau doi siapa, searching aja deh ya. Banyak kok di google :D

Lihat aja judul di image diatas. Alusinisasi. Sampe capek nyari di KBBI tetap aja nggak ketemu artinya apaan. Cuma dia yang tau apa arti setiap kata yang dia ucapkan. Jujur, baca artikel di atas saya berasa naik tangga ke lantai 5. Capek, ngos-ngosan.

Tadinya, si Vicky ini memang dikenal karena waktu acara tunangannya dengan Zaskia Gotik diliput media. Nah, pas diinterview, mendadak keluar kata-kata aneh yang di proposal penelitian ilmiah dosen juga kayaknya jarang dipake. Kemudian keluar videonya di youtube. Dan selanjutnya infotainment mulai mem-blow up kenapa dia akhirnya gagal nikah dan berbagai kasus bermunculan. Dan sekarang, jadilah dia seleb kontroversial. Gampang ya jadi terkenal di negeri ini.

Hari ini, saya lihat lagi, di media sebesar Tempo akhirnya juga memberikan panggung ke dia. Suka nggak suka, akhirnya mukanya akan muncul nggak cuma di tivi, tapi juga di portal berita online.

Ketidaksukaan saya nggak cuma karena kemunculannya yang memang mendadak dan kontroversi, tapi juga nggak memberi manfaat. Malah merusak perbendaharaan bahasa Indonesia yang sudah apik ini. Belum lagi kalau media mulai mengutip kalimat-kalimatnya, saya capek bacanya. Gimana coba, kalau akhirnya dia dengan menggunakan bahasa anehnya itu, dijamin saya akan cepat kurus, karena kecapekan tiap baca halaman-halamannya.

 

Film PeeKay dan simbol agama

Isu agama adalah isu yang paling sensitif untuk dilontarkan, terutama di negara-negara majemuk yang memang gampang terpancing isu-isu seperti ini. Indonesia adalah salah satunya. Tak jarang pergesekan terjadi gara-gara salah paham. Forum-forum terbuka juga tak sedikit yang menjadikan agama sebagai salah satu perdebatan. Bersyukur tinggal di kota Medan yang aman dan damai dari kisruh antar agama.

Pee Kay

Pee Kay

Mungkin itu juga yang ingin disampaikan film P.K. Film Bollywood yang dibintangi Aamir Khan, yang saya tonton bareng kawan-kawan kantor Sabtu sore yang lalu. P.K atau Pee Kay ya, bukan Penjahat Kelamin :D Film ini direkomendasikan bagus oleh kawan-kawan yang pernah menontonnya. Film yang mengundang kontroversial di India sana juga mengundang protes keras dari tokoh-tokoh agama. Bahkan, Aamir Khan Persis seperti film-filmnya Hanung Bramantyo :D Kalau Hanung (katanya) cenderung menunjukkan sisi jelek dari agama Islam, nah P.K yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani ini, cenderung ke tokoh-tokoh agama Hindu yang tak jarang dikultuskan, seperti Tapaswi Maharaj, yang jadi tokoh agama di film ini. Sinopsis lengkap (spoiler malah) bisa langsung ke sini.

Secara tak langsung, PK memang menyindir keagamaan saya. Bahwa saya masih memandang simbol-simbol itu jauh lebih penting dari pada hubungan saya sendiri dengan Tuhan. Saya memang bukan orang yang religius, tetapi saya percaya bahwa segala apapun yang saya lakukan semata-mata karena takdir yang Dia gariskan untuk saya. Jadi teringat, jaman masih mahasiswa dulu, ketika saya masih aktif berkegiatan di Himpunan Mahasiswa, pernah berkenalan dengan sekelompok pecinta Linux yang waktu itu masih asing. Sekitar tahun 2002 atau 2003-an. Saya yang masih bergaya preman tobat berkenalan dengan orang-orang yang ketika saya ulurkan tangan untuk berkenalan, malah menangkupkan tangan didada, menolak bersalaman. Dan ketika berdiskusi tentang acara seminar yang akan kami buat, nggak pernah melihat wajah saya ketika saya berbicara. Saya merasa seperti PeeKay pada saat itu. Sebagai perempuan dengan ilmu agama yang sedikit, saya jadi bingung, kenapa perempuan seperti saya menjadi sesuatu yang sepertinya haram untuk disentuh, bahkan sekedar berjabatan tangan. Tapi memang mungkin pemahaman saya tentang pergaulan muslim-muslimah memang tak seperti mereka yang saya kenal dulu.

Tak jarang kita memang menganggap simbol-simbol agama itu menjadi jauh lebih penting agama itu sendiri. Sehingga terkadang lupa, bahwa ada banyak orang-orang seperti saya yang memang pemahaman terhadap agama itu sedikit, menjadi berpatokan pada simbol dan ritual-ritual tertentu. Dan PeeKay menggambarkannya dengan sangat jelas sekali. Dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai yang paling dekat dengan Tuhan, tak jarang akan kita anggap sebagai Tuhan. Bukan dengan menyembahnya, tapi justru kita lebih takut terhadap amarah tokoh-tokoh agama tersebut dibanding Tuhan sendiri. Lebih mengikuti kata-kata tokoh agama tersebut, dibandingkan firman-firman yang telah Tuhan sabdakan di kitab suci.

Maka, Pee Kay mengajak saya untuk introspeksi jauh ke dalam diri saya. Sudah baikkah saya memahami agama saya. Sudah paham kah saya dengan ayat-ayat suci yang Allah kirimkan melalui Al Qur’an ? Dan Pee Kay seharusnya bukanlah sebuah film yang menghina agama, tapi mari kita lihat, Pee Kay sebagai sindiran bagi kita, yang mungkin memahami agama dengan sudut pandang yang mungkin sedikit keliru.

 

PS : tulisan diatas cuma sekedar sok tau saya tentang pesan dibalik sebuah film. Peace.

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.438 pengikut lainnya.