Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Sudah Cek Gula Darah Anda?

Masih ingat dengan tagline salah satu iklan dari produk pengganti gula ? Minggu lalu, saya akhirnya memberanikan diri untuk cek kadar gula darah, kolesterol dan asam urat. Mengingat pola makan dan pola hidup saya jauh dari sehat.

Salah satu keuntungan bekerja di kantor yang base-nya di rumah sakit adalah, kita bisa melakukan cek langsung ke Laboratorium Patologi Klinik tanpa harus daftar ke Tempat Pendaftaran Pasien. Lalu, siapa nanti yang akan membaca hasilnya ? Itu keuntungan yang lain lagi. Karena saya bertugas mengawasi sistem di bagian Laboratorium Patologi Klinik, saya kenal dengan banyak analis disana, dan bisa minta tolong bacain hasilnya :D

Sebelumnya, saya dan Vera meminta rekomendasi dari Ibu Sondang, salah satu analis disana untuk pemeriksaan yang akan mengecek kadar gula darah, kolesterol dan asam urat. Dan ibu Sondang menyarankan untuk test Lipid Profile untuk mengetahui kolesterol lengkap, termasuk HDL dan LDL-nya, lalu Glukose Puasa untuk cek gula darahnya dan Uric Acid untuk tes asam uratnya. Sehari sebelumnya, kami harus puasa dulu lebih kurang 8 jam sebelum diambil darah. Dan total hanya mengeluarkan uang 97 ribu rupiah saja.

Nah, bagian pengambilan darah ini yang bikin parno. Disuntik itu bagian yang paling tidak saya sukai dari rumah sakit dan sejenisnya. Tapi, pengambilan darah itu adalah satu-satunya cara, maka mau tak mau harus mau juga.

Sekitar 2-3 cc darah saya diambil melalui spuit yang ternyata nggak sesakit yang saya bayangkan. Lengan saya disuntik, lalu darah disedot, kemudian selesai. Kami diminta menunggu hasil yang kemudian akan disimpulkan oleh dokter Patologi Klinik, dan bisa dibaca oleh orang-orang yang mengerti.

Sebenarnya, tanpa harus menunggu hasil print out dari Lab, kami langsung bisa mengecek ke sistemnya :D, tapi biar afdol, pengambilan hasil tetap dilakukan seperti pasien pada umumnya, dan minta tolong dibacakan oleh ibu Sondang.

Dan, inilah hasil cek darah saya minggu lalu

Hasil cek darah

Hasil cek darah

Alhamdulillah, hasilnya baik. Kolesterol, gula darah dan asam urat, semuanya masih dalam batas normal. Alhamdulillah.

Lalu, sudahkah cek gula darah anda ?

Kahlil Gibran

Mendadak saya membuka-buka draft tulisan yang nggak pernah keluar dari foldernya. Tulisan-tulisan lama yang pernah menemani saya ketika masih akrab dengan patah hati :D Dan pada beberapa tulisan, saya sempat jatuh cinta pada tokoh utamanya.

Kemudian, salah satu draft menampilkan sebuah puisi Kahlil Gibran yang juga jadi salah satu teman ketika saya masih bersahabat dengan patah hati.

Dimanakah engkau kekasih
Adakah kau dengar seruan dan ratapanku dari seberang lautan?
Ku melihat kerendahan dan kelemahan diriku?
Tahukah kau akan kesebaran dan daya tahanku?
Tak adakah pantai yang tersembunyi diantara jiwa
Yang membawa keluhan seorang kekasih yang sakit
Dimanakah engkau, kekasih?
Kegelapan membalut diriku
Dan, perkabungan ialah sang penenang
Tersenyumlah ke dalam udara
Dan diriku bakal segar kembali
Dimanakah engkau,kekasih?
Ah, betapa perkasa cinta
Betapa dia menyudutkan aku

Kalau teman berbagi saya waktu itu seperti ini, gimana saya nggak bertahan lama dengan patah hati

:D

 

Media dan Vickynisasi

Hari ini saya liat postingan dari seorang kawan di salah satu media sosial terpopuler di Indonesia. Posting status yang menyertakan sebuah link yang menurut saya sangat nggak penting sekali diantara turunnya rupiah dan naiknya elpiji 3 kg.

Tulisannya bikin capek bacanya

Tulisan yang bikin capek bacanya

Yak, ini tentang bahasa aneh yang entah kenapa kok bisa muncul dalam pikiran seorang laki-laki bernama Vicky Prasetyo, yang beberapa waktu lalu, satu keluarga muncul di infotainment gara-gara gagal nikah dengan pedangdut canti Zaskia Gotik. Yang belum tau doi siapa, searching aja deh ya. Banyak kok di google :D

Lihat aja judul di image diatas. Alusinisasi. Sampe capek nyari di KBBI tetap aja nggak ketemu artinya apaan. Cuma dia yang tau apa arti setiap kata yang dia ucapkan. Jujur, baca artikel di atas saya berasa naik tangga ke lantai 5. Capek, ngos-ngosan.

Tadinya, si Vicky ini memang dikenal karena waktu acara tunangannya dengan Zaskia Gotik diliput media. Nah, pas diinterview, mendadak keluar kata-kata aneh yang di proposal penelitian ilmiah dosen juga kayaknya jarang dipake. Kemudian keluar videonya di youtube. Dan selanjutnya infotainment mulai mem-blow up kenapa dia akhirnya gagal nikah dan berbagai kasus bermunculan. Dan sekarang, jadilah dia seleb kontroversial. Gampang ya jadi terkenal di negeri ini.

Hari ini, saya lihat lagi, di media sebesar Tempo akhirnya juga memberikan panggung ke dia. Suka nggak suka, akhirnya mukanya akan muncul nggak cuma di tivi, tapi juga di portal berita online.

Ketidaksukaan saya nggak cuma karena kemunculannya yang memang mendadak dan kontroversi, tapi juga nggak memberi manfaat. Malah merusak perbendaharaan bahasa Indonesia yang sudah apik ini. Belum lagi kalau media mulai mengutip kalimat-kalimatnya, saya capek bacanya. Gimana coba, kalau akhirnya dia dengan menggunakan bahasa anehnya itu, dijamin saya akan cepat kurus, karena kecapekan tiap baca halaman-halamannya.

 

Film PeeKay dan simbol agama

Isu agama adalah isu yang paling sensitif untuk dilontarkan, terutama di negara-negara majemuk yang memang gampang terpancing isu-isu seperti ini. Indonesia adalah salah satunya. Tak jarang pergesekan terjadi gara-gara salah paham. Forum-forum terbuka juga tak sedikit yang menjadikan agama sebagai salah satu perdebatan. Bersyukur tinggal di kota Medan yang aman dan damai dari kisruh antar agama.

Pee Kay

Pee Kay

Mungkin itu juga yang ingin disampaikan film P.K. Film Bollywood yang dibintangi Aamir Khan, yang saya tonton bareng kawan-kawan kantor Sabtu sore yang lalu. P.K atau Pee Kay ya, bukan Penjahat Kelamin :D Film ini direkomendasikan bagus oleh kawan-kawan yang pernah menontonnya. Film yang mengundang kontroversial di India sana juga mengundang protes keras dari tokoh-tokoh agama. Bahkan, Aamir Khan Persis seperti film-filmnya Hanung Bramantyo :D Kalau Hanung (katanya) cenderung menunjukkan sisi jelek dari agama Islam, nah P.K yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani ini, cenderung ke tokoh-tokoh agama Hindu yang tak jarang dikultuskan, seperti Tapaswi Maharaj, yang jadi tokoh agama di film ini. Sinopsis lengkap (spoiler malah) bisa langsung ke sini.

Secara tak langsung, PK memang menyindir keagamaan saya. Bahwa saya masih memandang simbol-simbol itu jauh lebih penting dari pada hubungan saya sendiri dengan Tuhan. Saya memang bukan orang yang religius, tetapi saya percaya bahwa segala apapun yang saya lakukan semata-mata karena takdir yang Dia gariskan untuk saya. Jadi teringat, jaman masih mahasiswa dulu, ketika saya masih aktif berkegiatan di Himpunan Mahasiswa, pernah berkenalan dengan sekelompok pecinta Linux yang waktu itu masih asing. Sekitar tahun 2002 atau 2003-an. Saya yang masih bergaya preman tobat berkenalan dengan orang-orang yang ketika saya ulurkan tangan untuk berkenalan, malah menangkupkan tangan didada, menolak bersalaman. Dan ketika berdiskusi tentang acara seminar yang akan kami buat, nggak pernah melihat wajah saya ketika saya berbicara. Saya merasa seperti PeeKay pada saat itu. Sebagai perempuan dengan ilmu agama yang sedikit, saya jadi bingung, kenapa perempuan seperti saya menjadi sesuatu yang sepertinya haram untuk disentuh, bahkan sekedar berjabatan tangan. Tapi memang mungkin pemahaman saya tentang pergaulan muslim-muslimah memang tak seperti mereka yang saya kenal dulu.

Tak jarang kita memang menganggap simbol-simbol agama itu menjadi jauh lebih penting agama itu sendiri. Sehingga terkadang lupa, bahwa ada banyak orang-orang seperti saya yang memang pemahaman terhadap agama itu sedikit, menjadi berpatokan pada simbol dan ritual-ritual tertentu. Dan PeeKay menggambarkannya dengan sangat jelas sekali. Dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai yang paling dekat dengan Tuhan, tak jarang akan kita anggap sebagai Tuhan. Bukan dengan menyembahnya, tapi justru kita lebih takut terhadap amarah tokoh-tokoh agama tersebut dibanding Tuhan sendiri. Lebih mengikuti kata-kata tokoh agama tersebut, dibandingkan firman-firman yang telah Tuhan sabdakan di kitab suci.

Maka, Pee Kay mengajak saya untuk introspeksi jauh ke dalam diri saya. Sudah baikkah saya memahami agama saya. Sudah paham kah saya dengan ayat-ayat suci yang Allah kirimkan melalui Al Qur’an ? Dan Pee Kay seharusnya bukanlah sebuah film yang menghina agama, tapi mari kita lihat, Pee Kay sebagai sindiran bagi kita, yang mungkin memahami agama dengan sudut pandang yang mungkin sedikit keliru.

 

PS : tulisan diatas cuma sekedar sok tau saya tentang pesan dibalik sebuah film. Peace.

 

Every Child is Special

Sebagai seorang (yang katanya) blogger, saya merasa gagal. 2015 sudah berjalan selama 42 hari, tetapi saya baru menuliskan posting pertama tahun ini tepat pada hari ke 42 dan pada bulan kedua. Seharusnya kesibukan nggak bisa dijadiin alasan kan ya. Dan saya nggak punya excuse buat bikin alasan apapun kenapa baru nulis sekarang. Intinya, saya memang malas :/

Jadi, menebus rasa bersalah, saya mau cerita sedikit soal film yang kemarin saya tonton bareng kawan-kawan di kantor. Saya penikmat segala film, yang penting filmnya bagus. Apalagi kalo ada pesan moralnya, lebih bikin saya bisa belajar dari situ.

Kapan itu, saya liat Nicholas posting tentang satu film di FB. Film India. Rekomendasinya sih bagus.Makanya saya donlot juga di torrent. Sebenernya saya males nonton film India. Bukan anti ya. Ada beberapa yang memang saya suka. Ada beberapa yang baru nonton, udah ditinggal. Atau kalau nonton hasil donlotan, pas bagian nyanyi-nyanyinya saya skip. Kelamaan. Tapi, kata adek saya yang penggemar film India, di lagu-lagu dan tarian itu lah esensi dari film India. Nah, ketika akhirnya saya baca sinopsis filmnya, saya yakin kalau film ini pasti bagus.

Taare Zameen Par judulnya, artinya seperti bintang-bintang di langit. Film yang disutradai dan diproduseri Aamir Khan, aktor top India. Film produksi tahun 2007 ternyata. Saya telat 7 tahun untuk nonton film sebagus itu!! Nggak heran kalau film ini menyabet beberapa penghargaan. Bahkan masuk ke dalam nominasi Academy Awards ke 81 untuk kategori Best Foreign Film, walaupun akhirnya karena satu dan lain hal, nominasinya dibatalkan.

taree zameen par

taree zameen par

Film ini bercerita tentang Ishaan, murid kelas 3 sekolah dasar yang bermasalah. Tak hanya 1, tapi seluruh mata pelajaran. Satu hal yang dia suka, melukis. Dan imajinasinya dalam memandang dunia ini, begitu luar biasa. Kedua orangtuanya menganggap bahwa Ishaan adalah anak nakal. Selalu membuat masalah. Karena guru-guru disekolahnya selalu mengeluh tentang Ishaan, akhirnya dia dikirim ke sekolah asrama. Ishaan menganggap keluarganya membuangnya, ibunya sudah tidak menyayanginya lagi. Ishaan depresi. Sayangnya, tak ada yang menyadari apa yang dideritanya. Semua menganggap bahwa Ishaan hanya murid bodoh yang pemalas. Sampai akhirnya, muncul seorang guru melukis pengganti. Mr. Nikhumb. Yang menemukan Ishaan yang hanya terdiam tanpa ketertarikan apapun di kelas melukis. Tak seperti teman-temannya yang antusias bermain warna dan berimajinasi dalam kertas gambar mereka. Ram Nikhumb mulai menganalisis, hingga akhirnya menyadari bahwa dyslexia-lah yang menyebabkan Ishaan ada di sekolah asrama itu.

Setiap anak adalah istimewa. Dengan segala tingkah lakunya. Anak adalah peniru terbaik. Apa yang dilihatnya, itulah yang akan dilakukannya. Anak merekam apa yang dilihatnya dalam otaknya, kemudian mempraktekkannya. Anak mempunyai imajinasi yang sangat tinggi. Sebagai seorang kanak-kanak, saya pernah berimajinasi sebagai anggota dari 5 sekawan, yang berpetualang tanpa kenal takut. Saya pernah berimajinasi sebagai salah satu anggota kerajaan negeri dongeng, yang memiliki banyak permintaan dan selalu dikabulkan Nirmala dengan tongkat ajaibnya. Saya pernah berimajinasi memiliki buntelan ajaib seperti Pak Janggut, yang bisa mengeluarkan benda-benda apa saja, tepat pada saat dibutuhkan. Bahkan, saya pernah meniru gaya Ikang Fawzi dengan syal berbentuk segitiga yang menutupi lehernya, dan saya sering disangka sakit batuk, karena mengikat sapu tangan dengan gaya yang sama dengan Ikang Fawzi. Yeah, that’s me.

Kita, pernah menjadi anak-anak. Dengan segala imajinasi tanpa batas. Kita pernah seperti Ishaan, yang memandang dunia hanya dari sudut pandang kanak-kanak kita. Tanpa beban. Melihat Ishaan, seperti melihat diri saya sendiri. Saya bukan penyandang dyslexia. Bahkan menurut almarhumah ibu saya, saya bisa membaca sejak usia 5 tahun, sebelum saya masuk SD. Tapi, saya pernah melakukan kenakalan-kenakalan seperti Ishaan. Kenakalan kanak-kanak yang seharusnya lucu, membuat gemas, tanpa menimbulkan kemarahan.

Film ini adalah pelajaran berarti untuk saya. Mengingatkan saya, bahwa Yash adalah spesial, sama seperti anak-anak lainnya. Yash pasti juga punya keunikan tersendiri, yang saya dan ayahnya harus siap menghadapinya, dengan penuh kesabaran. Karena seperti Ishaan,  Yash juga pasti kelak akan menemukan kenakalan-kenakalan lucu khas kanak-kanak.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.395 pengikut lainnya.