Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Pertanyaan yang sama lagi

Sore tadi, di lab komputer, aku sedang santai sambil memperhatikan Andre, teman seruanganku sedang online di Y!M. Sesekali aku tinggalkan dia dan tiduran di karpet biru di ruangan berpendingin 19 derajat itu. Lalu, suara telfon berdering. Dari Dedi di Fakultas Teknik.

“Kak Weirdaft? Ini Dedi. Datang ke Teknik sekarang ya, kak.”

“Ada apa, Ded?”

“Ada yang mau dikasih. Sekarang ya, kak.”

“Oke.”

Jadi, datanglah aku ke Teknik. Di depan kantor Teknik, ketemu dengan Pak Zul dan Pak Suratno. Bersalaman sambil berminal aidin tradisi lebaran, senyum-senyum trus masuk kantor.

Di kantor langsung lihat Dedi yang langsung bangkit dari duduknya ketika lihat aku. Dan mengajakku mengambil sesuatu yang katanya mau dikasih. Lihat Marno bersalaman,  trus Bang Adi. Ada Pak Akhwan juga. Trus ada Bu Leni juga. bersalaman lagi. Lalu ikut Dedi ambil jaket ternyata. Jatah buat dosen. dan aku kebagian satu. lumayanlah dapat gratisan…hehehehe….

Salaman dengan Pak Akhwan, dosen Rangkaian Listrik dan Aljabar Linier dulu,dan sempat ngobrol dengan beliau.

“Kerja dimana sekarang, daft?”

“Disini, pak. Di Lab komputer,” jawabku.

“Ngajar juga, pak.” tambah bu Leni. Aku masih senyum-senyum gitu. Tapi, tau-tau Pak Akhwan malah  bertanya diluar dari pembicaraan semula.

“Gimana, daft, udah dapat jodoh belum?” weaks, nggak nyangka juga akan dapat pertanyaan seperti itu dari dosenku itu. Mungkin menurut orang lain itu pertanyaan wajar, tapi buatku yang sudah menerima pertanyaan itu berpuluh-puluh kali sempat membuatku bosan juga.

“Belum, pak. Ya Insya Allah,” jawabku standard.

“Ooo…belum ya. Iya lah. Tapi kalau bisa cepat loh, daft,” hehehehe….si bapak bisa aja. Aku cuma bisa nyengir doang. sambil bilang.

“Hehehehe….pak, saya udah terlalu sering ditanyain kayak gini. Dan jujur aja, saya udah bosan juga ditanyain kayak gini,” jawabku sambil tertawa. Pak Akhwan juga tertawa.

“Loh, daft, gimana sih. Kalau ada orang yang bertanya seperti ini, artinya kan dia mendoakan juga. Tinggal meng-amin-kan aja,” kilahnya. aku tertawa.

“Iya deh, pak. Saya amin-kan,” aku jawab.

“Iya, Weird, siapa tau Tuhan dengar dan mengabulkan,” bu Leni nambahin.

“Iya bu, amin…” kataku akhirnya. Dan tambahan dari bang Adi,

“Weird, kalau masih ada orang yang mau bertanya seperti itu, artinya orang itu care denganmu.” huehehehehe….kalau terlalu sering kan bosan juga kali bang…. Aku cuma bisa nyengir doang lah.

Fiiuhhh…..nggak tau kenapa, belakangan memang terlalu sering pertanyaan itu terarah ke aku. Mungkin karena umurku juga yang menurut standard orang banyak udah cukup pantas untuk menikah. 28 tahun. Tapi buatku, menikah bukan karena umurku sudah pantas untuk menikah menurut standard orang banyak, bukan juga karena desakan dari keluarga yang semakin sering aku dengar, dan juga bukan karena aku bosan dengan pertanyaan orang-orang tentang “kapan terima undangan nikahnya?”. Bukan karena itu.

Aku akan menikah (entah dengan dia, atau siapapun yang kelak memang menjadi pemilik tulang rusukku ini), karena aku sudah siap untuk menjadi istri seseorang, siap untuk terikat dan diatur oleh suami, siap untuk mengurangi aktifitasku yang lumayan padat sebagai seorang lajang, siap untuk berbagi segala hal dengan orang yang telah menerima akad nikah dari ayahku, siap untuk menjadi ibu dari anak-anaknya, siap untuk menyempurnakan sebagian dari agamaku dan sunnah Rasul.

Apakah sekarang aku sudah siap? Belum. Memang, kami pernah membicarakan tentang kemungkinan ini beberapa kali. Tentang dia yang akan membebaskan aku untuk beraktifitas apapun sekarang, sampai akhirnya dia akan mengikat aku nanti. Tentang kemungkinan kami akan menikah nanti. Entahlah, karena aku bilang padany, bahwa untuk sekarang ini, aku belum siap menikah. Aku masih punya beberapa mimpi dan cita-cita yang ingin aku raih sebelum akhirnya aku terikat dengan dia (atau siapapun). So far, dia bisa mengerti.

Kapan aku siap untuk menjadi istri seseorang? Entah. Aku belum tau. Waktu belum bisa menjawab pertanyaanku. Yang jelas, aku memang ingin menikah. Tapi bukan sekarang atau dalam waktu dekat. Insya Allah, aku akan menikah ketika aku yakin bahwa orang yang akan mengikat aku, mengucapkan akad nikah pada ayahku adalah orang yang Allah pilih sebagai jodohku, orang yang Allah pilih untuk menemaniku seumur hidupku dalam segala situasi, dan orang yang memiliki tulang rusukku.

Siapakah dia? Itu yang jadi rahasia Allah. Dan aku harap aku bisa menemukannya pada waktu dan tempat yang tepat. Insya Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: