Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tentang Penambal Ban

Sabtu, biasanya memang pulang tak selambat biasanya. Tapi karena tadi keasikan mencari bahan-bahan buat ngajar bulan depan, jadilah aku kesorean di lab. Sudah setengah 6. It’s time to go home now, pikirku. Say goodbye dengan beberapa teman chat yang menemaniku browsing tentang arsitektur komputer, mematikan komputer, membereskan meja dan mengunci pintu. Pulang.

Ambil motor didepan Gedung C, ketemu Ferdy. Ngobrol bentar soal Shasa, anak SMEA yang naksir berat Ferdy yang notabene adalah pegawai juga di SMEA. Ah, cinta….

Lalu menyalakan mesin motor dan pulang. Tapi, belum. Melewati kantin ternyata ada Roni dan Ade yang sedang menonton latihan sepakbola. Dipanggil mereka, dan berhenti. Memarkir lagi motorku dan ngobrol sebentar dengan mereka. Biasalah, selalu saja tentang aku yang tak bisa berpenampilan seperti perempuan. Tentang caraku berpakaian yang lebih suka pakai jeans model cowok, baju yang kebesaran, gaya jalanku yang malah seperti cowok, semua tentang aku yang akhirnya mereka panggil ‘abang’. Dasar….

Sambil ngobrol, Ade lihat ban belakang motorku. “Wir, tuh banmu kempes tuh. kena paku kayaknya. Coba lihat dulu,” Dan bener. setelah di cek memang ada satu paku kecil yang menempel manis diban belakang motorku. Mungkin waktu tadi Maya pinjam kempesnya. Ya udahlah, mau diapain lagi, pikirku. Setelah itu, becandaan lagi dengan 2 teman baikku yang sudah 2 bulan ini tak bertemu. Jam 6 lewat 5 menit. Aku pamit pulang. Sekalian mau tempel ban dululah, kataku.

Pelan aku jalan, beberapa kali motorku oleng akibat tak seimbang, karena ban belakang benar-benar terasa tak nyaman dikendarai. Pelan aku jalan sambil melihat-lihat tukang tambal ban. lalu aku ingat, biasanya didepan jalan Garuda, ada tukang tambal ban. Mudah-mudahan masih buka. Dan Alhamdulillah, ternyata memang ada. Mungkin juga baru sampai tukangnya. Soalnya, tanda Tambal Ban-nya yang terbuat dari ban mobil bekas masih tergeletak pasrah diatas trotoar dekat pohon. Dan lampu petromaksnya juga belum dinyalakan.

Dia tersenyum ketika melihatku. “Pak, bisa tambal ban?” kataku, karena aku pikir dia akan tutup. “Ya,” jawabnya tak jelas. Lalu aku memarkir motorku. “Dimana? Disini aja?” tanyaku lagi. Dan dia mengangguk sambil tersenyum dan menyiapkan peralatannya. Membakar sesuatu lalu mulai membuka ban motorku. Aku duduk diatas trotoar di pinggir jalan itu sambil memperhatikannya bekerja. Azan maghrib mulai berkumandang, berhubung aku memang sedang tidak sholat, aku tetap duduk ditempatku. Malam pun mulai turun.

Aku perhatikan sekali lagi penambal ban itu. Dan kali ini begitu jelas profilnya yang sedang berjongkok disampingku sambil berusaha membuka ban motorku. Seorang laki-laki tua, mungkin umurnya tak terlalu tua, pertengahan 40-an mungkin. Tapi wajahnya menyiratkan guratan tua. Kedua kakinya tak sempurna. Salah satunya agak sedikit bengkok sehingga ketika dia berdiri, kita seperti melihat huruf K. Dan ada yang aneh pada wajahnya. Bukan tidak sempurna, tapi aku melihat dia bukan orang yang dianugerahkan IQ bahkan rata-rata. Tersirat jelas dari wajahnya. Karena salah satu sepupuku juga seperti itu. Ah, betapa sempurna Allah menciptakan manusia yang tidak sempurna seperti ini.

Tak henti aku memperhatikan penambal ban ini bekerja. Begitu sungguh-sungguh mencari lubang kecil di ban itu. Peralatan yang dia punya benar-benar sederhana. Tempatnya juga hanya dipinggir jalan, dengan sebuah becak barang sebagai tempat dia membawa peralatannya. Benar-benar sederhana. Memompanya hanya dengan pompa angin biasa, bukan kompressor seperti yang biasa ada di bengkel-bengkel tambal ban.

Hati-hati dia mencari lubang yang membuat banku kehilangan anginnya. Ketika sudah bertemu lubang itu, dia mulai menempelnya setelah sebelumnya menandainya. Kemudian mengambil alat yang tadi sudah dibakarnya dan masih ada api yang menyala diatasnya. Lalu dia mengambil sebuah alat penjepit ban dan menjepit ban yang sudah ditempel tadi dan meletakkan alat yang dibakar tadi diatas ban. Benar-benar sederhana. Membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk menempel satu lubang saja. Kalau dengan bengkel tambal ban, mungkin hanya perlu waktu 5 sampai 10 menit.

Melihatnya bekerja membuatku miris. Masih ada di Medan ini orang yang seperti ini. Begitu tidak sempurna mungkin fisik dan mentalnya. Tapi begitu gigih dia bekerja. Menjual jasa dengan begitu jujur dan bersungguh-sungguh. Membayar kepercayaan orang yang membutuhkan jasanya.

Melihatnya bekerja membuatku bersyukur, bahwa aku punya pekerjaan yang baik meski dari segi finansial mungkin tidak mencukupi untuk orang lain. Pada malam seperti itu, aku sudah bisa beristirahat dirumah setelah seharian bekerja, sementara dia masih harus bekerja meski telah lelah seharian bekerja. Bekerja dan terus bekerja.

Melihatnya bekerja membuatku bersyukur, meski ayahku bukan orang yang berpendidikan tinggi, tapi nasibnya jauh lebih baik, tak harus bekerja sekeras itu.

Melihatnya bekerja membuatku malu, karena aku pernah merasa tak bersyukur.

Melihatnya bekerja, membuatku sadar. Bahwa apa yang aku miliki, harus aku bagi.

25 menit kemudian, banku selesai ditambal dan dipasang lagi ke motorku. Dia tersenyum sambil membereskan peralatannya. “Berapa, pak?” tanyaku. “Enam ribu,” jawabnya dengan logat batak tak jelas. Aku menyerahkan 2 lembar uang lima ribuan. Dia menyentuh kantung luar celananya, mencari kembaliannya. Aku tersenyum, lalu “Udah, nggak usah dikembaliin, pak” kataku. lalu menyalakan motorku. Dia tersenyum, kali ini lebih lebar. “Terima kasih, ya.” Aku mengangguk sambil tersenyum. “terima kasih banyak, pak. Mari,” kataku lagi. “Hati-hati,” jawabnya.

Ah, Allah. Ada pelajaran yang membuatku begitu terharu hingga hari ini. Bahwa, bagaimanapun cobaan yang Allah berikan, teguran yang dialamatkan, kesenangan yang dititipkan, harus disyukuri. Pelajaran yang mengingatkanku bahwa aku harus bersyukur, apapun yang ada dalam perjalanan hidupku. Pelajaran dari seorang penambal ban yang tak sempurna fisik dan mental.

Mestinya saya yang berterima kasih, pak. Terima kasih banyak.

Iklan

One response to “Tentang Penambal Ban

  1. Yogi 29 Oktober 2008 pukul 4:38 am

    emang sulit kalo hanya berkaca dari diri sendiri
    terkadang dengan melihat orang lain baru kita sadar
    bahwasannya kita telah di karuniai sesuatu yang lebih

    kayak di pertandingan bola
    jadi penonton pasti lebih pinter dalam mengarahkan bola nya
    tapi coba deh kalo kita jadi pemainnya
    butuh waktu untuk bisa tahu mana gawang lawan dan mana gawang kita

    yup yogi, saya setuju. kadang2 kita suka lupa diri, jatuh dikit aja, udah ngerasa kita orang paling malang didunia.
    padahal disekitar kita udah banyak orang yang jatuh, bangkit, jatuh lagi dan bangkit lagi berkali-kali; tapi masih tetap bisa bersyukur dan menjalani hidup dengan senyum. saya jadi malu kalo ingat itu.
    btw, makasi udah berkunjung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: