Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tentang Lelaki Tangguhku

Miris hatiku melihat laki-laki tegar itu terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Menahan sakit yang aku tau tak sanggup dia tahan. Tapi, dia tak akan menyerah terhadap rasa sakit, seperti dia tak pernah menyerah terhadap penuaan dan rasa kehilangan.

Melihatnya seperti itu, membuat hatiku menangis. Apa yang bisa aku lakukan ketika dia menatapku sedih, seolah berkata dalam hatinya “Apakah aku bisa mewalikan diri untuk pernikahan anak perempuanku yang tak pernah direncanakannya?” Aku menangis dalam hati ketika dia menatapku seperti itu.

Dan sebuah pertanyaan kembali terucap dari abang tertuaku,”Lihat kan, betapa ayah memang perlu kawan lagi dalam hidupnya?” Dan kali ini aku terdiam. Dalam kekalahanku. Yah, sepertinya aku memang harus merelakan ayah, jika dia memang ingin berteman lagi dalam hidupnya. Kali ini aku memang tak pantas untuk menghalanginya.

Sekali lagi, ketika aku menatap wajah tuanya yang sedang tertidur, terpikir olehku, apakah pernah dia merasa bangga terhadapku? Pernahkah dia merasa bersyukur memiliki aku sebagai anaknya? Pernah kah dia merasa menyesal karena aku menjadi bagian dari hidupnya? Ah, apapun itu, aku tak pernah menyesal dan selalu beribu syukur karena Allah mentakdirkan aku menjadi bagian dari hidup laki-laki hebat itu.

Ukuran suksesnya bukan berapa banyak rumah yang dia punya, berapa banyak mobil yang dia miliki, berapa banyak uang yang dia raih. Ukuran suksesnya adalah, ketika dia melihat bahwa apa yang dia harapkan terhadap kami terpenuhi. Bahwa uang yang dia cari dengan tetesan keringat tak kami sia-siakan. Bahwa ketika dia berkata ilmu yang paling penting dalam hidup ini, berhasil kami raih dan tak pernahΒ  henti untuk meneguk lautan ilmu.

Ayah, taukah kau bahwa aku masih ingin melihat senyummu. Jadi, tetap lah disini, jangan pergi kemanapun sampai kau menyerahkan aku kepada pemilik tulang rusukku.

Iklan

3 responses to “Tentang Lelaki Tangguhku

  1. lischantik 21 Januari 2009 pukul 10:50 am

    Lilis jadi teringat saat2 trakir bapak lilis di UGD.

    semoga bapak kmu tenang disana
    dan semoga ayah saya lekas sembuh

    amiiin….

  2. maureen80 21 Januari 2009 pukul 8:53 pm

    hmmhhh… bahagianya masih menikmati hari bersama lelaki tangguh nya ya sista…

    sangat sist…

    and glad he’s going well now

  3. Bening 22 Januari 2009 pukul 10:10 am

    Hiks…jadi kangen Ayah…
    Ning sepakat dengan Abang, Ayah—lelaki tangguh namun terbiasa diurus ibu—mereka sangat gamang saat kehilangan orang yang biasa berada di sisinya, mereka butuh kawan dalam hidupnya. Beda dengan Ibu—perempuan tangguh yang terbiasa mengurus Ayah dan anak-anaknya—kehilangan ayah tak membuat mereka gamang berkepanjangan, karena ibu merasa masih ‘memiliki’ anak-anak.
    Tapi buat Ayah, kehilangan Ibu adalah kehilangan segalanya…

    Semoga Ayah cepat sembuh.

    thanks mbak Ning pencerahannya…
    sepertinya memang benar. klo kata bang Toga, it’s an unfair life. coz every man need woman, but not every woman need a man. πŸ˜€
    Alhamdulillah, ayah udah lebih baik sekarang. Mudah2an proses pemulihannya jg lebih cepat.

    terima kasih kedatangan dan doanya mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: