Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Ada yang salahkah dengan logikaku?

Kemarin, disela-sela menyelesaikan pekerjaan menjelang malam usai maghrib. Sambil tetap mengawasi desa-desaku, masih berkutat di source list ubuntu yang mulai berantakan dan tak ter-update dan mengawasi mahasiswa yang sedang ujian praktek aku sempatkan untuk sekedar bertanya pada temanku. Curhat mungkin. Ntah apalah namanya. Mulanya sekedar bertanya, mengapa dia begitu ngototnya untuk nunggu mantan pacarnya yang sekarang sedang dijodohkan dengan orang lain dan sebentar lagi akan menikah. Dan jawabannya klise kalau aku bilang.
“Karena gw sayang dia. Karena gw mencintai dia.”

Beeggghhh,,,,kalau seperti ini,susah buatku mendebatnya. Dan kemudian aku bertanya lagi, gimana caranya kita bisa tau bahwa itu cinta? Dengan tuan mudaku yang sekarang, aku merasa sayang. Ngerasa kangen juga. Apa itu cinta? “Yup. Itu cinta.” Tapi kalau cinta, kenapa aku ragu?
“Tanya hati lu. Apapun kata hati lu, itulah jawabannya.” Sepersekian detik kemudian, jeda. Aku tak bisa mendebatnya lagi. Malah mengajukan pertanyaan lagi. Gimana caranya bertanya pada hati? Dan kali ini jeda dipihaknya. “Pake hati lu.” Dan aku menjawab, “Gw udah lama gak mengikutsertakan hati dalam hal cinta. Lebih enak pake otak, karena gw bisa mengantisipasi kalau terjadi segala sesuatu yang tak diinginkan.” Jeda lagi dipihaknya. Aku menambahi, ajarkan gimana caranya bertanya pada hati. Dan kalimat-kalimat yang meluncur berikutnya di jendela pidgin-ku adalah kalimat-kalimat pedas yang cukup menohok.
“Ego. Ego lu terlalu tinggi. Lu menganggap diri lu terlalu pintar dengan mikir pake logika lu. Lu gak pernah mau pake hati. Lu terlalu angkuh menganggap bahwa lu gak akan mau sakit lagi. Lu gak mau ngerasain sakit dengan hati lu. Padahal, hati selalu benar. Tapi lu selalu nutup pake logika lu. Lu tau, lu sedang mengadudomba cinta dengan logika lu. Lu bikin hati dan otak lu perang.”

Dan setelah jeda beberapa menit, kemudian dia offline. Lalu aku terbahak. Lagi, orang yang merasa dia sudah kenal aku. BAH!!! Apa ada salah dengan logikaku? Selama ini aku pakai otak untuk segala sesuatu. Sedang hati, hey, jangan pernah berpikir bahwa aku tak punya simpati dan empati terhadap apapun. Manusia diciptakan dengan hati dan otak. Dan tentu saja aku menggunakan keduanya. Tapi memang, selama aku hidup otakku lebih dominan dari hati. Tapi apa itu salah?

Sebelum offline, dia sempat bilang, “Lu tau, lu terlalu cerdas untuk menggunakan hati lu. Tapi satu hal yang mungkin lu lupa. Bahwa hati nggak pernah salah. Jangan terlalu angkuh.” Dan disela-sela judgement terhadap diriku aku sedang menceritakan yang terjadi pada saat itu dengan seorang kawan yang lain. Dia tertawa melihat istilah-istilah yang aku ketik di private message-ku. Dan katanya, menyambung kata-kata temanku tadi, “Mungkin memang, menjadi  cerdas itu kutukan ya.” Dan kali ini aku akhirnya tertawa lagi.

Ah, nggak. Aku nggak secerdas itu. Hanya memang, setiap berhadapan dengan sesuatu, aku selalu mempertimbangkannya lebih lama. Melihatnya dari berbagai sisi yang berbeda. Karena memang persepsi tiap-tiap orang itu berbeda. Aku pikir, itu bukan kecerdasan lah. Hanya aku tak ingin tergesa dalam memilih keputusan yang akan diambil. Dan pasti, tentu saja memerlukan logika. Samalah seperti setiap bahasa pemrograman yang diajarkan dosen-dosenku dulu.

Setiap bahasa pemrograman pasti mempunyai sebuah fungsi yang bernama fungsi IF. Contohnya bahasa Pascal. Selalu dimulai dengan mendeskripsikan variabel yang akan digunakan, lalu BEGIN untuk memulai PROCEDURE. Kalau ada pilihan-pilihan yang sudah ditetapkan, maka akan dimulai IF, jika tidak IF ELSE akan ada pilihan berikutnya, jika masih tak cocok IF THEN ELSE akan ada pilihan yang lain. Dan kemudian, END, selesai. Sama kan seperti itu.

Membuat sebuah program saja perlu logika pemrograman, apalagi menyelesaikan masalah. Kalau melulu menggunakan hati, yang ada malah nggak selesai masalahnya. Hati memang perlu, tapi lihat juga porsinya harus digunakan sebesar apa.

Nah, ini sekedar pendapatku. Kalau ada yang tidak setuju, sekali lagi ini adalah sudut pandangku. Kalau ada yang berbeda, tak akan dilarang. Toh perbedaan itu yang membuat hidup ini jadi lebih ramai, kan. Dan ini juga tentang pilihan hidup masing-masing kita *kata seorang kawan*. Dan tentang pilihan hidup ini dan logika, dia bahkan sempat bertanya siang tadi ketika menelfonku dan bertanya tentang pembicaraan yang terputus tadi malam. “Sebenernya lu perempuan bukan sih?” Setan!!!!!! Sejuta topan badai!!!!!! Gw perempuan lah!!!! ASLI!!!!!!!!!!!!!

Iklan

3 responses to “Ada yang salahkah dengan logikaku?

  1. Nesia! 27 Januari 2009 pukul 11:31 am

    … ternyata pikiran ada jenis kelaminnya juga ya?

    nah kalo ini sih pendapat sebagian besar org2 yg kenal dan sering berinteraksi dgnku.
    hehehehe……….. “memangnya ko perempuan?” beeeeeggggggghhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!

  2. pria galau 11 Februari 2009 pukul 1:16 am

    ada judul film..
    “wanita bkalung sorban”
    nah kalo lu yg main filmnya, judulnya dirubah jd :
    “wanita berkalung rantai”
    ckckckck.. kaya anak punk

    piss :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: