Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Partai Menjelang Pemilu

Sebenarnya, politik itu bukan wilayahku. Hanya saja, siang tadi aku melihat di sebuah news program di salah satu televisi swasta di Indonesia membahas tentang iklan partai politik menjelang pemilihan umum yang kian dekat. Yah, katakanlah ini salah satu pikiran sok tahuku yang tiba-tiba muncul dan akhirnya terangkai menjadi kata-kata yang tak bermutu. Jadi, maafkanlah jika ketidaktahuan dan kekeliruanku ini menyinggung orang-orang yang tersinggung. Ini hanya sebuah retorika yang tak perlu diperhatikan. Sekali lagi, hanya pendapat sok tahuku yang awam politik. 5 tahun bergulat di perpolitikan kampus membuatku semakin paham, bahwa aku memang tak paham dan tak berbakat politik, meski aku pernah menduduki jabatan sebagai orang nomer 2 di organisasi kampus.

Kembali lagi ke iklan partai politik yang seringkali muncul dalam setiap jeda acara sinetron tak bermutu. Tak hanya sinetron tak bermutu tentu saja, dari pagi sampai masa prime time habis, iklan dari berbagai partai politik dan calon presiden sering kita lihat memenuhi layar televisi kita. Dari mengusung program yang akan diberikan jika kelak partainya menang, mengusung calon yang dianggap telah berhasil dan berjasa sampai isu tentang sembako. Bermacam cara yang dilakukan untuk menjaring pemilih. Dan semakin hari iklan yang muncul semakin beragam dan kreatif. Agaknya para politikus kali ini sudah paham bahwa rakyat Indonesia semakin cerdas untuk memilih partai yang diyakini bisa membawa perubahan, memilih calon pemimpin yang bisa diamanahi tugas dan memilih program yang diusung partai tertentu. Atau, bisa jadi para politikus cukup mengerti bahwa rakyat Indonesia semakin cerdas memilih untuk tidak memilih alias golput, meski MUI hari ini mengumumkan tentang haramnya golput pada pemilu kali ini (Fatwa yang aneh???).

Sebenarnya, karena memang rakyat sudah begitu cerdasnya, tak perlulah partai politik dan para politikus yang akan berlaga di arena perebutan kursi di lembaga elit legislatif hanya mengandalkan pesona mereka saja atau iklan yang dibuat sekreatif mungkin hanya untuk menjaring pemilih atau dengan membawa figur tokoh-tokoh tertentu. Karena, jujur saja, dari sekian banyak calon legislatif yang akan berebut kursi di DPRD tingkat II Medan, aku hanya mengenal 3 calon. Itu juga karena 2 orang calon yang menjadi caleg itu adalah ustadz di kampungku dan seorang lagi adalah bekas rekan kerjaku di salah satu SD swasta di Medan, yag juga seorang guru agama dan ustadz. Ini lagi yang membuatku heran. Ustadz merambah bidang politik? Kali ini aku no comment. Bukan karena underestimate, tapi karena aku tau siapa mereka dan apa yang sudah mereka lakukan untuk lingkungan sekitar rumahku. Ah, tak baiklah kalau aku membeberkan hal-hal yang tidak baik menyangkut orang lain. Biarlah, kembali lagi kita ke pilihan hidup masing-masing bukan.

Dan biarlah kali ini rakyat cerdas mulai memilih dengan cerdas apa yang pantas mereka pilih. Walau iklan yang dibuat dengan biaya yang tak murah terlihat begitu memikat melebihi iklan salah satu parfume pria, tak lantas akan membuat pemilih akan memilih karena melihat iklan yang hebat itu juga kan. Perbaiki saja kinerja jika memang partai yang beriklan saat ini sedang duduk dalam pemerintahan. Menyaring dengan cermat para calon anggota legislatif sehingga kita tak akan lagi melihat Al Amin Nasution yang lain yang akan duduk dikursi pesakitan karena tertangkap bersama perempuan yang bukan istrinya dan uang yang bukan haknya. Karena, sekali lagi, rakyat sudah semakin selektif memilih.

Pemilu memang hanya sekitar 2 bulan lagi. Tapi memang tak ada salahnya mulai mempelajari tiap-tiap partai yang akan berlaga di arena pemilu April nanti. Apakah aku juga akan memilih pada pemilu nanti? Yang jelas, aku tetap akan datang ke TPS dan melaksanakan kewajibanku sebagai warga negara yang baik. Tapi apakah aku akan memilih ? Nah itu yang jadi pertanyaannya. Karena sepertinya kali ini aku tidak akan memilih, atau malah akan memilih beberapa untuk menggagalkan suaraku. Upss,,,apakah ini termasuk golput? Haram dong…apa sama ya kalau aku makan binatang yang diharamkan agamaku?  Hehehehe….yang jelas, aku memenuhi kewajibanku untuk datang ke TPS kan? persoalan apakah aku akan mencoblos (atau mencentang?) itu urusanku kan? Soal haram, ah…Tuhan lebih tau apakah perbuatanku nanti haram atau tidak. Jadi sekali lagi, ini cuma pikiran sok tauku. Peace ah.

Iklan

One response to “Partai Menjelang Pemilu

  1. Nesia! 27 Januari 2009 pukul 11:30 am

    … and one more “weird” thing; mereka itu kok mau-maunya abis2in duit cuma buat turun pangkat. udah bagus jadi rakyat, lha kok malah pengen jadi wakil rakyat?

    hm, pengorbanan yang aneh!

    karena katanya, klo jd rakyat kita mesti bayar,,,,nah jadi wakilnya malah dibayar………
    klo gitu emang mending kita rame2 jadi wakil rakyat aja yuk…..
    eh tapi,,,*mikir mode on* klo semua jadi wakil rakyat, trus yang bayar siapa????
    bingung jg jadinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: