Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Ujian semester ganjil

Ujian semesteran. Udah hampir seminggu juga, dimulai dari Selasa kemarin. Dan aku juga ditugaskan untuk menjadi pengawas ujian kali ini. Sebenarnya aku malas, tapi yang namanya tugas dan secara aku juga masih jadi kuli disini (bukan ketua yayasan), kutunaikan juga tugas itu. Toh cuma sampai Senin depan aja. Tapi, meninggalkan desa-desaku yang harusnya bisa kuawasi setiap jam, tak urung membuatku memasang tampang menyeramkan juga ketika tugas jadi pengawas kujalankan.

Dari hari pertama, aku sudah tau, mahasiswa macam apa yang harus aku awasi kali ini. Bukan menjengkali, tapi itu sudah terbukti dari beberapa kali mereka masuk ke ruanganku untuk praktek. Dari antara 45 mahasiswa yang praktek (bahkan hanya sekedar paket pemrograman) tak sampai 10 orang yang benar-benar mengerti materi yang disampaikan dosennya. Kadang, palak juga awak kalau lihat mereka praktek di ruanganku. Udahlah gayanya petentengan, tapi otaknya tak ada seperempat sendok teh (meminjam istilah kawanku). Bukannya aku underestimate sama mereka, tapi memang itu kenyataan yang terjadi di lapangan. Tak semua. Kan sudah kubilang tadi, dari 45 mahasiswa, kurang dari 10 orang yang mengerti. Jadi sia-sia aja kayaknya mereka yang kuliah itu. Buang-buang uang orang tuanya aja. Yang lebih memalakkan lagi, pas dosennya sedang cuap-cuap tentang track dan record hard disk, eh dia malah menggambar-gambar di paint. Pas ujian, tak ada yang bisa dijawabnya. Kalaupun terisi lembar jawabannya itu, karena kebaikan pengawas yang membiarkannya mendapatkan distribusi jawaban dari kawannya. Coba-coba buka contekan kertas, alamat kukoyak-koyak lembar jawabannya.

Tadi, aku mengawas beberapa mata ujian yang disitu sifat ujiannya tertulis Buka Buku. Tapi sama saja, tak ada bedanya. Mau buka buku juga nggak bisa dijawabnya juga sama anak-anak yang ngerasa gayanya udah mengalahkan Justin Timberlake itu. Mau jawab apa kalau bukunya isinya cuma tulisan curhat. Disuruh dosen foto copy bahan, tak mau. Kuliah main-main. Begitu ujian, nunggu jawaban dari kanan kiri. Halaaahhh……mau jadi apa kau dek. Caleg? Pantas lah tak berkualitas anggotanya orang kuliah dari 21 SKS yang dibebankan cuma 3 SKS kau masuk kelas, sisanya di kantin. Upss….menyinggung pulak aku. nanti ada pulak yang tersinggung.

Jadi begitulah, mungkin digelar orang itu aku pengawas killer. Kayak dulunya nggak pernah jadi mahasiswa, mungkin itu yang dibilang orang itu. Waduh deek….salah lah kau kalau kau bilang aku ini mahasiswa kayak kalian dulu. Memang aku tak cantik, bukan kembang kampus, tapi dulu orang-orang tau siapa aku. Bukan mengandalkan gaya yang tak seberapa itu aku, tapi kualitasku yang kuandalkan. Dan itu terbukti. Bukan aku sombong, tapi memang itu yang terjadi sekarang.

Udahlah, merepet pulak aku disini. Tapi itulah, macam mana aku tak mau ngamuk kalau pas ujian ributnya minta ampun. Pengawasnya killer dia tak senang. Maunya dia itu, kuliah main-main, ujian nilainya A, skripsi dia minta dibuatkan orang lain, begitu sidang skripsi dosen tak banyak tanya, akhirnya pakai baju toga dia diwisuda. Bah, enak kali hidupmu kalo kayak gitu. Tapi aku tak mau jadi kayak kau.

Ada yang bilang, ini soal pilihan hidup. Bah, jangan berdebat padaku tentang pilihan hidup. Ini bukan pilihan hidup. Ini adalah menggampangkan hidup. Yang kau pikirnya orang-orang itu jadi menteri langsung jadi? Yang kau pikirnya harta ayahmu itu menjamin kau seumur hidup? Jangan mendebatku soal pilihan hidup, kalau kau bilang aku ini egois, tak mau mendengar orang lain, tak mau pakai perasaan dan semua hal yang kau tau tentang jelek-jeleknya aku. Apapun pilihan hidupku, tak pernah aku merugikan orang lain. Sedang mereka, otomatis kalau seperti ini terus mereka, akan merugikan banyak orang. Mau bukti? Kalau mereka tak lulus sesuai waktu, yang dirugikan itu orang tuanya. Mau berapa banyak lagi uang yang harus dihabiskan ayahnya untuk membiayai kuliahnya yang melewati batas waktu itu? Kalau mereka (akhirnya harus) lulus, lalu bekerja di berbagai instansi pemerintah atau swasta, dengan kualitas mereka yang seperti itu, bukan cuma bikin malu diri mereka sendiri, tapi institusi pendidikan ini akan dicap jelek sama tempat mereka bekerja. Dan artinya yang dicap jelek sudah pasti seluruh alumni dan mahasiswanya (termasuk aku), dosen-dosennya, pegawai-pegawainya, fasilitasnya. Nah sekarang coba hitung, berapa kerugian yang harus ditanggung akibat “pilihan hidup” itu?

Jadi dek, tolonglah kau perbaiki kualitasmu itu. Mulailah kau kuliah yang bagus disini. Besar kali tantangan buat kalian didepan nanti. Nggak usah sok paten kali kalau kau belum jadi apa-apa. Nanti, kalau sudah bisa kau hasilkan 5 juta per minggu, mau petentengan kau ditengah jalan sana tak peduli aku. Tapi jangan kau rusak kualitas kampusku.

Iklan

2 responses to “Ujian semester ganjil

  1. Nesia! 3 Februari 2009 pukul 1:52 pm

    Ini kekna bukan lagi speak your peace deh, tp throw up your anger!

    *keluar jg sisi mafiosonya*

  2. weirdaft 3 Februari 2009 pukul 7:00 pm

    huehehehe…..mafioso kan jg manusia bang
    jadi wajar kalo marah2 jg
    hehehehe…. kyknya perlu jack nicholson neh, tutornya anger management

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: