Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Jembatan antara dua penyangga

Seperti  biasa setiap pagi, sampai ruanganku selalu melakukan kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan. Membuka pintu, menyalakan PC dan AC, merapikan ruanganku, menyeduh kopi dan mulai berlayar diatas papan seluncur bernama Mozilla. Kemudian mengaktifkan pidginku untuk berinteraksi dengan sahabat-sahabat maya yang dikenal dalam kotak kecil bernama Yahoo! Messenger atau peta besar bernama travian. Mulai mencek email, mengurus desa dan upgrade pasukan dan bangunan.

Sambil menyeruput nescafe classic-ku yang kali ini ditambahi creamer (tapi aku lebih suka yang classic, lebih nendang :D) mulai memasuki rumah maya-ku di blogdetik dan melihat beberapa tautan yang pastinya sudah mem-posting beberapa tulisan. Dan seperti biasa singgah ke blognya bang Toga. Eh, ada tulisan baru yang belum sempat aku baca gara-gara sok sibuk dengan audit kemarin. Dan dibacalah tulisan terakhir yang membuatku merasa tersindir habis-habisan. Apalagi ketika di paragraf terakhir yang membuatku tersenyum garing.

Buka dirimu, merasakan perih ketika digigit cahaya. Runtuhkan tembok-tembok itu, tak ada agresor yang sedang berencana menyerang bentengmu.

Ini seperti tulisanku hampir 3 tahun yang lalu. Tentang pendapat temanku tentang aku. Tentang tembok tak terlihat yang mereka rasakan disekeliling diriku. Mungkin dengan bahasa yang berbeda. Karena aku menulisnya dengan bahasa yang begitu jelas, sedang bang Toga menulisnya dengan bahasa yang sarat makna. Yang membuatku harus membacanya 2 kali. Seperti  biasa. Kata-katanya bersayap Elang, sehingga perlu konsentrasi membacanya. Hehehe….

dan sekarang, aku sedang belajar untuk mulai membangun sebuah jembatan. tapi ternyata, itu jauh lebih sulit dari pada membangun dinding. karena dinding cuma perlu tanah tempatku berdiri. Sedang jembatan perlu dua penyangga agar bisa berdiri! bagaimana mungkin sebuah jembatan hanya punya satu penyangga, yaitu aku sendiri? jadi, tolong, ajarkan aku untuk membangun sebuah jembatan !!

Dan orang yang membuatku menulis tentang jembatan itu, akhirnya membuatku kembali merusak jembatanku, bahkan sebelum aku memulainya. Kembali terkurung dalam tembok tinggiku.

Sekarang, jembatan yang aku bangun bersama tuan mudaku, sedang dalam masa pembangunan. Entah, apakah jembatan ini akan kembali rusak atau justru menjadi utuh karena ada dua penyangga. Tak taulah. Tapi, proyek ini sedang berjalan sekarang. Sampai selesai, semoga.

PS : Jadi ingat dengan quote yang terpampang di spanduk kampus 3 tahun lalu.
Manusia kesepian karena membangun dinding ketimbang jembatan.


Iklan

3 responses to “Jembatan antara dua penyangga

  1. Nesia! 6 Februari 2009 pukul 3:03 pm

    iya sih… dalam strategi perang sejak dulu juga, musuh akan lebih dulu menghancurkan jembatan2… sebelum akhirnya mengepung dan meruntuhkan benteng2.

    so, el mundo espera para tu, señorita. buenvenido.

  2. weirdaft 9 Februari 2009 pukul 12:24 pm

    hehehe…I’m in a real world actually, bang
    cuma kadang2 masih suka sembunyi jg. bukan apa2 kadang2 gak siap juga kalau harus terhajar dan babak belur karena “sakit”. Jadi, buat amannya, kalau udah nggak tahan lagi, sembunyi dulu lah. Toh kura2 juga suka sembunyi dalam tempurungnya kan 😀

  3. pria galau 11 Februari 2009 pukul 12:27 am

    hilang jembatanku..uu..uu..
    hilang harapanku..uu..uu..
    yang ku bangun sejak dulu kala..aa..aa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: