Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Kubah

Aku ingin duniaku sempurna, meski hanya dalam visual imajinasiku. Tak peduli meski orang bilang bahwa nothing and nobody is perfect. Aku tetap akan membuat duniaku sempurna, no matter what.

Dunia dengan background hijau rerumputan, langit kelabu, hujan rintik, bangku taman yang juga berwarna kelabu, gemericik air dari air terjun buatan setinggi 2 meter, anak-anak kecil yang tertawa, bermain dan berlari di padang rumput yang luas didepanku – diseberang duniaku – dengan baju indah berwarna warni dibawah hujan rintik, bunga yang masih menguncup, dan dia dengan sebuah gitar akustik abu-abu mengiringi duniaku dengan backsound kesukaanku, SEMOGA.

Aku selalu tersenyum dalam duniaku, yang kusebut kubah. Kubah berkaca, dimana setiap orang tak hanya memandang heran, tapi juga berusaha untuk masuk dengan bermacam cara. Once in a while, aku sempat membiarkan mereka masuk, melihat-lihat, mengagumi background hijau dan kelabu, berkomentar – betapa sempit kubah kaca ini, nyaman tapi begitu sempit – yang tak kutanggapi, beberapa sempat memutuskan untuk tinggal dan bermain sejenak, meninggalkan jejak dan merusak sedikit meski tak fatal, tapi kemudian pergi tanpa pamit. Meninggalkan bekas yang tak lekang waktu.

Beberapa memang tinggal, mereka yang begitu ingin bermain dalam padang luas itu dibawah rinai hujan yang turun bagai jarum. Yang tak menyukai hujan memang tak tinggal, tapi berkali-kali singgah untuk menjengukku. Jadi, kubah kaca ini tak sepenuhnya kosong.

Bangku taman kelabu itu, tempatku duduk. Mengamati mereka yang sempat duduk disebelahku, kemudian pergi. Meninggalkan jejak tapak sepatunya diatas rumput yang basah oleh rintik hujan. Lama tak ada lagi yang mencoba duduk diatas bangku taman itu. Lama tak ada yang berminat menegurku dalam diamku.

Kemudian, ada yang mencoba masuk dalam kubah kacaku, berkeliling mengamati, tertawa dan menari dibawah hujan bersama pengunjung yang sering berkunjung. Berkomentar, tapi karena ini duniaku dia memakluminya. Kemudian menghampiriku bersama gitar akustik abu-abunya dan mulai memetik gitarnya.

Tak lama kemudian, dia mulai duduk disebelahku. Berkisah tentang dirinya, hidupnya, masa lalunya, sedihnya, orang-orang yang meninggalkannya dan akhirnya keinginannya untuk tinggal bersamaku dalam kubah kacaku. Kali ini aku yang mengernyit heran. Lagi, ada orang yang ingin bermain dan mengira bahwa nuansa hijau dan kelabu ini akan membuatnya betah berada disini. Hujan rintik sepanjang hari yang jatuh diatas rumput hijau melengkapi suasana kelabu yang dikiranya bisa juga dinikmatinya seperti aku menikmatinya.

Tapi, hingga hari ini dia masih tinggal disini. Sebutnya, nyaman berada disini meski hujan turun sepanjang waktu. Tuturnya, lega tinggal disini meski hijau dan kelabu yang menjadi warna. Dan kemudian, kembali dia memetik gitar akustiknya.

SEMOGA – aku tak ingin berharap lebih – kau tetap disini. Menemaniku dalam hijau dan kelabu duniaku. Dalam sempit kubah kacaku. Dalam hujan yang rinainya membaui seluruh duniaku. Dalam kenyamananku bersamamu. Dalam sempurna duniaku yang aku ciptakan hanya untukku. Kelak, aku juga akan keluar bersamamu dari kubah kacaku. Menikmati duniamu yang tak hanya bernuansa hijau dan kelabu. Dalam duniamu yang tak melulu hujan sepanjang hari tapi juga mentari yang menguapkan hujan yang turun. Dalam duniamu, dimana sedih dan marah tak akan terhindarkan. Dalam duniamu, bersamamu.

Tapi kelak. Bukan sekarang. Hingga aku siap meninggalkan kesempurnaan yang aku ciptakan. Kini, biarkan aku menikmati duniaku bersamamu, bersama denting gitar yang selalu engkau petik, untukku.

Iklan

5 responses to “Kubah

  1. Nesia! 9 Februari 2009 pukul 2:51 pm

    *tertegun*

    a.k.a belum bisa komen.

  2. weirdaft 9 Februari 2009 pukul 3:24 pm

    hehehhe….
    ketawa baca komen yang tak berkomentar
    😀

  3. Nesia! 10 Februari 2009 pukul 12:27 pm

    Di blog sebelah…

    weirdaft: *terdiam* gak bisa komen apa2

    aci pulaknya komen balas dendam!

  4. weirdaft 10 Februari 2009 pukul 2:53 pm

    bukannya balas dendam, tapi memang posting terakhir itu menyentuh hati kali…
    sampe tak bisa aku berkata2, bahkan sehuruf pun
    😀

  5. pria galau 12 Februari 2009 pukul 12:31 am

    udah buru-buru aja di ajak merit si satria bergitarnya..
    hehehhhheehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: