Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

(Sebuah) Lubang di (dalam) hati*

Ada sebuah lubang yang cukup besar menganga. Disini, di dalam hatiku. Cukup besar, mengingat bahwa bentuk fisiknya cuma sekepal tangan. Dan sebuah pertanyaan menggantung dibenak, kenapa ada sebuah lubang besar didalam hati yang sebegitu kecil?

Ya, benar. Ada beberapa hal yang membuat hati menjadi mempunyai sebuah lubang. Ada beberapa hal yang sempat masuk kedalamnya, meninggalkan jejak yang ternyata cukup membekas. Dalam. Sekali, dua kali dan kemudian beberapa kali. Hingga akhirnya bekas-bekas itu menempel demikian kuatnya, tercerabut dengan paksa dan akhirnya meninggalkan sebuah lubang didasarnya. Bagaimana tidak, jika yang datang hanya masuk ke ruang yang itu-itu saja.

Satu, dua dan beberapa kali itu kemudian membuatku berhenti. Sampai akhirnya ada dia yang memperhatikanku. Disana. Berdiri dalam senyum yang memikat. Hey, tuan muda**, sedang apa kau disana? Dan kau masih tetap tersenyum dan beranjak mendekati. Mencoba memasuki sebuah hati yang berlubang.

Ah, ternyata, jatuh cinta memang semenyakitkan ini. Lubang ini tak akan pernah tertutup sempurna. Akan selalu ada celah yang mengingatkanku akan jejak-jejak masa lalu yang tertinggal, membekas. Dan kau tuan muda, masihkah kau berada disana? Dengan segala kekurangan sipemilik hati berlubang ini?

Tuan muda, jika ingin tinggal sejenak, hendaklah tak membuat lubang ini semakin besar. Jika ingin menetap, yakinlah akan setiap hal yang kelak terjadi didepan. Jangan berspekulasi denganku, dengan cintaku, dengan hatiku, dengan logikaku.

Dulu, pernah terucap sebuah janji padamu, tuan muda. Tak akan aku menyakiti tembok kamarku lagi. Tapi kali ini, aku ingin sekali mengadu kekuatan buku-buku jari tangan kananku. Bolehkah? Karena ganjalan ini membuat lubang dalam hatiku terasa semakin membesar. Membuat sesak saja. Dan sebuah interaksi manis antara kepalan tangan dan tembok kamarku akan melegakan semuanya. Bolehkah?

Ah tuan mudaku, semakin sesak saja rasanya. Inikah jatuh cintaku padamu, tuan mudaku? Inikah rasa yang sempat hilang dulu? Inikah aliran dari sebuah anugerah terbesar yang diturunkan Tuhan? Entahlah, jika ini anugerah, kenapa terasa sakit?

Tuan mudaku, aku sedang mencoba lagi, belajar jatuh cinta lagi. Padamu. Jika aku seorang murid tolol yang lambat menangkap, maklumi aku. Jika aku seorang murid bebal yang suka membantah, pahami aku. Jika engkau bersabar dan perlahan bersamaku menambal lubang ini menjadi sebuah celah kecil yang tak terlihat, tinggal denganku. Jika akhirnya kau tak bisa memaklumiku, memahamiku dan tinggal denganku, pergilah dalam diam. Dan biarkan aku bersama sebuah lubang yang akan terus membesar. Dan kau, akan menetap sementara disana. Sakitnya pasti akan sama, airmatanya juga tak beda, perihnya tak akan lain, tapi bukan berarti tak bisa hilang, meski meninggalkan bekas dan sebuah lubang.

Jadi tuan muda, pilihan ada didepanmu. Aku akan menunggu hingga kau pahami aku seluruhmu. Aku, duniaku, hidupku dan sebuah lubang besar di hatiku. Jika kau berkenan, isilah. Jika itu terlalu berat, beranjaklah. Lubang ini bukan sebuah beban. Hanya sebuah perjalanan hati dan proses panjang menuju bahagia. Kelak di kemudian hari.

*pinjam judul lagunya Letto-Lubang dihati
**pinjam istilah bang Toga


Iklan

One response to “(Sebuah) Lubang di (dalam) hati*

  1. Nesia! 23 Februari 2009 pukul 1:12 pm

    Jika kau berkenan, isilah. Jika itu terlalu berat, beranjaklah.

    Kalo belanja di Petisah, ini gaya nawar acuh tak acuh, biar harga diturunkan. Huahahaha… “Kalo mau segitu saya beli. Kalo nggak, gapapa”. Trus kata si abang penjual: “Ya udahlah kak. Penglaris, belum buka dasar soalnya!”

    hayaaaaaaaahhhh…….gak pintar pulak aku menawar, makanya bilangnya kek gitu. gak bisa naikin bargain,,,,hayaaahhh,,,,gaya kali yak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: