Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Sisi yang Berbeda

Kemarin, disela-sela hujan dan menjawab pertanyaan dari game trivia yang kelihatan simple tapi rumit abis, sempat sedikit berdiskusi dengan Arif di ruangan maintenance. Ah, bukan diskusi mungkin, cuma sedikit pembicaraan melenceng yang tak pernah dibahas sebelumnya.

Bermula dari game The Sims yang dimainkan Dedi, yang kali ini dibuat set-nya tokohnya punya rumah, tidak menikah tapi berganti-ganti pasangan. Dan aku cuma tertawa ketika Dedi bilang “Kalo udah nikah, bosan mainnya. Jadinya lebih enak dibikin kayak gini aja, kak.” Hehehe….satu lagi, otak minus yang semakin terkontaminasi. “Jadi bebas lah, Ded. Unsafe sex,” kataku sambil geleng-geleng kepala. Dan obrolan terus berlanjut. Kali ini dari Arif.

“Kadang kak, memang ada orang yang seperti itu. lebih suka bebas dari pada terikat.” kata Arif.
“Tapi kalau gitu kan rugi di ceweknya lah Rif. Nggak ada kejelasan kayak gitu.”
“Tapi kakak, ada juga perempuan yang mau kayak gitu. Bukan cuma laki-lakinya aja. Dulu ada, tetanggaku waktu aku di Bogor. Dia udah punya suami, tapi juga masih mau sama yang lain. Dan suaminya nggak tau. Parahnya lagi, suaminya itu tempat kerjanya jaraknya dekat dari tempat aku kerja. Trus, ada lagi, satu perempuan yang udah punya anak 2. Janda, masih cantik, tarifnya 300ribu untuk short time.”
“Wuih, mahal tuh.”
“Emang, soalnya orangnya juga masih cantik. Biarpun anaknya udah 2.” Dan obrolan berikutnya sepertinya tak layak diposting disini.

Tapi akhirnya aku bilang ke Arif dan yang lainnya, bahwa orang hidup mungkin memang bermacam-macam caranya menjalani hidup. Aku nggak akan bilang bahwa pekerjaan ini salah (tapi hey, siapa sih yang tidak melacurkan diri? Caranya mungkin memang berbeda, tapi sebagian besar orang melacurkan dirinya untuk mendapatkan tujuannya). Memang tidak halal, dan aku bisa bilang seperti ini karena aku punya pekerjaan yang halal. Tapi ada bermacam alasan untuk perempuan melakukan pekerjaan semacam ini. Dan aku nggak akan men-judge perempuan yang melakukan pekerjaan ini. Karena sekali lagi, ada bermacam alasan untuk mereka melakukannya. Cobalah kita melihatnya dari sisi lain, bukan sekedar menghakimi. Dari segi agama, apa yang mereka lakukan pasti salah. Tapi coba kita lihat dari sisi lain dari mereka, tidak sekedar menghakimi. Mungkin ada juga perempuan yang melakukan ini karena ingin kesenangan, mungkin juga ada rasa ingin membalas sakit hati, atau memang karena tak tau apa yang harus dilakukannya untuk menghidupi 2 anaknya, mungkin 2 orang tua dan 2 adik yang semuanya perlu makan untuk hidup, perlu sekolah untuk masa depan dan perlu jaminan bahwa mereka juga layak menikmati hidup yang layak.

Akhirnya, hidup memang pilihan. Bagaimana kita menjalani hidup itu adalah tergantung cara kita memandang hidup. Aku mensyukuri hidupku, sangat. Dalam aturan yang tak melanggar aturan masyarakat dan agama. Tapi, aku juga tak akan menghakimi mereka (baca : perempuan) yang melakukan pekerjaan seperti ini. Karena memang, seperti yang aku bilang tadi, bahwa setiap orang pasti punya alasan untuk melakukan segala sesuatu.

Semua orang boleh berenang sampai ke dasar lautan. Semua orang bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: