Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Sebuah Pertemuan Oleh Waktu

Waktu merupakan sesuatu yang nyata didunia. Abstrak, tetapi nyata. tak ada penjelasan lebih jauh soal ini. Hanya saja, tak ada suatu benda yang bisa mendeskripsikan bentuk nyata waktu. Tapi, tak ada juga yang bisa mengatakan bahwa waktu adalah sesuatu yang abstrak. tapi kita melewatinya selalu. Ah, saya juga tak bisa menjelaskan lebih soal ini.

Yang saya tahu, bahwa terkadang waktu merupakan sahabat bagi seseorang, tapi tak jarang waktu juga seolah menjelma momok yang tak ingin dilewati. Tapi, banyak yang mengakui bahwa waktu adalah penyembuh yang paling ampuh diantara segala obat yang bisa ditawarkan para dokter di Indonesia yang hanya sedikit menularkan pengabdiannya.

Dua anak manusia yang juga terpisah oleh waktu, akhirnya bertemu kembali pada suatu kesempatan yang diberikan Tuhan pada makhluknya. Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sesuai dengan kehendak Tuhan. bahkan, seorang Don Clericuzio – tokoh rekaan Mario Puzo – juga mengakui itu. Dan memang, mereka tak hendak mempermasalahkan ini. Hanya saja, setelah sepuluh tahun, sesuatu yang berhenti diharapkan perempuan itu akhirnya terjadi juga. Banyak syukur dan puji yang terlontar ketika dia melihat sosok tinggi laki-laki itu, yang pernah dengan amat penuh mengisi hatinya. Ketika pertama kali dia merasakan sebuah cinta menyelusup di hati kanak-kanaknya. ketika seragam putih biru masih membalut tubuh kecil mereka. Sebuah kenangan manis, yang juga menoreh sebuah luka yang akhirnya berkarat hingga saat ini.

Mereka bukan lagi kanak-kanak. Tak lagi ribut didalam kelas yang berhadapan dengan lapangan upacara. Tak lagi berlari riang mengelilingi tiga kolam ikan kecil yang berisi puluhan ikan mas yang sesekali menyembulkan kepala mereka.Tak lagi berlari mengelilingi lapangan basket ketika jam pelajaran tiba. Tak lagi merasa takut ketika sebuah bola voli yang mereka mainkan memecahkan kaca jendela perpustakaan. Ah, kenangan yang manis. Sangat manis. Jika ada mesin waktu, jika memang ada, ingin dia kembali pada masa itu. Masa ketika tak ada beban yang menggayuti pundak, seperti sekarang. Masa ketika bersama merajut mimpi dan harapan akan masa depan.

Pertemuan yang sebenarnya tak pernah diduga perempuan itu. tapi, jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, sebuah pengharapan sempat meletup akan pertemuan ini. Dengan laki-laki yang entah kenapa, bahkan setelah tiga belas tahun berlalu masih tetap bercokol manja disalah satu ruang rindunya. Masih menyimpan sebuah rasa manis sekaligus perih ketika ingatan itu melayang diakhir waktunya mengenakan seragam putih biru itu. Ah cinta, memang tak mengenal batas usia. Dan laki-laki tinggi berkulit coklat itu, ternyata jauh dilubuk hatinya juga merasakan sebuah penyesalan yang teramat akan luka yang sempat ditorehkannya tiga belas tahun yang lalu. Sebuah penyesalan yang tak sempat terucap, bahkan ketika mereka sempat bertemu sepuluh tahun yang lalu. Betapa, selama ini, meski waktu memisahkan mereka dengan sangat, rasa bersalah itu tak jua hilang. Malah mengubahnya menjadi sebuah cinta, yang takut untuk diikrarkan.

Memandang perempuan itu, diantara teman-teman mereka ketika masih berjibaku di sebuah sekolah tingkat pertama swasta itu, menghadirkan sebuah getar yang tiba-tiba hadir dan menghajar jantungnya, merusak sistem kerja jantung yang biasanya hanya berdetak ringan. Tapi tidak kali ini. Melihat senyum perempuan itu, membuatnya terpaku. Ada sesuatu yang ingin keluar dan melompat dari hatinya. Arrgghhh…jerit hatinya tak kuasa menghalau rasa itu.

Perempuan itu seolah menangkap sinyal. Kepalanya menoleh ke arah pemberi sinyal. Dan, ada percakapan yang hanya dimengerti oleh hati mereka. Kendati hanya senyum yang tercipta dari kedua bibir mereka. Kinerja jantung mereka tak lagi normal. Ketidakteraturan itu memberikan sebuah kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka sedang ditemani cupid dengan sepasang sayap sambil menggenggam anak panah yang kini terarah pada mereka. Riuh suara tawa seolah berada dikejauhan ketika laki-laki itu perlahan mendekat. Tergantikan oleh debar jantung mereka yang saling berlomba berdetak. Masih tak ada kata terucap, hanya rasa yang kemudian menyala dari mata mereka sudah cukup untuk mewakili perasaan mereka.
“apa kabar kamu?”
“baik. senang bisa ketemu lagi”
lalu senyum menghias ketika tangan berjabat.

Kemudian, pertemuan ini menjadi sebuah awal. Mestinya, ini terjadi tiga belas tahun yang lalu. Tapi, Tuhan memang menjadikan segalanya begitu indah tepat pada waktunya. Ini adalah rahasiaNYA yang tak dibagi pada mahluknya. Jadi, ini bukan sebuah keterlambatan. Tak ada yang terlambat pada soalan mereka. Justru, kini mereka beruntung dipertemukan pada saat yang tepat. Meski memang, sebuah pengakuan belum muncul. tapi, itu cukup untuk mengkomunikasikan hati mereka, bahwa kali ini mereka sedang berada disebuah jalan yang sama.

Seorang teman sempat bertanya pada perempuan.
“kalian pacaran?” dia menggeleng sebagai jawabannya. tersenyum
“lalu? kalian begitu dekat?” sebuah gedikkan bahu menjawab.
“aneh! bingung jadinya”
“aku juga. tapi, aku yakin bahwa Tuhan sayang pada orang yang sabar.” lalu tersenyum, menutup percakapan itu.

Pada sebuah senja yang luruh memasuki malam mereka kembali bertemu.
“sudah dua minggu tak bertemu” mata laki-laki itu seolah ingin menumpahkan rindunya.
“iya. kamu baik-baik kan?”
“yup, hari minggu kemarin kemana? aku telfon kok gak aktif?” sebuah cappucino menggantung diudara dalam genggaman tangan kokohnya.
“Ooh… itu. minggu lalu pergi nonton ke bioskop.” suara riang terdengar. ada desir halus yang meninggalkan perih begitu terasa di hati laki-laki itu.
“oh ya, sama siapa?” perlahan dia bertanya, berusaha menyembunyikan perihnya.
“Sama Nirwan.” perempuan masih tersenyum, lalu menceritakan film yang ditontonnya.
“berdua aja?” kali ini dia mengharapkan jawaban yang berbeda, tapi yang terlihat adalah anggukan lembut dari perempuan yang masih tersenyum riang.tapi senyum langsung menguap dari wajah laki-laki itu. tanpa sepatah kata dia meninggalkan perempuan itu dengan cappucino dan lemon tea.
Perempuan menatap nanar dengan otak yang dipenuhi kebingungan. Ada apa ini??? Apa saya salah ucap, pikirnya galau. Apa ini???

Sebuah kesalahan yang tak diketahuinya kembali memporakporandakan hatinya. lagi. oleh orang yang sama. Tapi kali ini, dia yakin. bahwa jika memang laki-laki itu adalah pemilik tulang rusuknya, Tuhan akan mengembalikannya lagi padanya, dengan cara yang sangat istimewa. Tapi sementara itu, perempuan merasakan bahwa dunianya berputar dengan sangat lambat. Amat sangat lambat. Ada yang hilang dalam hari-harinya. Tapi tak bisa ditemukannya dimanapun. Laki-laki itu seolah hilang. Jikapun bertemu, dia memalingkan wajahnya. tak ingin menemuinya lagi. hatinya sakit. Dia perempuan, yang meskipun wajahnya menunjukkan ketegaran, hati tak bisa menipu. Sakit yang dirasanya jauh lebih perih dari yang pertama. Atau dari patah hatinya yang lalu. Hatinya seolah tercecah, terburai, dan dia tak ingin menyatukannya lagi. Hanya laki-laki itu, atau dia akan membiarkan hatinya hancur.

Lagi, seorang teman bertanya.
“kalian kenapa?” perempuan hanya menggeleng lemah. tapi sebuah soalan yang menjadi percikan api itu terucap juga. disertai kebingungan yang sangat. Apa yang sedang dialami hatinya lagi?
“sepertinya dia cemburu.” perempuan menggeleng.
“aku nggak tau. dia tak pernah bilang tentang perasaannya.” sebuah tikaman tak yang kasat mata kembali menghujam jantungnya.

Dunia masih berputar sangat lambat. dia ingin keluar dari ini semua. Dia ingin kembali menemukan hari-harinya ketika sebelum mereka bertemu. Tapi cinta, telah menghajar hatinya sedemikian rupa. Perempuan tak ingin menyalahkan cinta, apalagi Tuhan. Buatnya ini hanya sebuah episode panjang dalam perjalanan cintanya. Dia toh sudah pernah mengalami ini. Tak akan begitu sulit jika dia mau melipatgandakan usahanya. Waktu. Sebuah penyembuh yang sangat ampuh. Dan dia percaya itu.

Seorang teman menariknya keluar dari kubangan patah hatinya.
“hari ini ada acara di kafe anu. kamu harus ikut.” dia hanya mengangguk pasrah. dia memang harus tetap bersosialisasi. tak boleh mengisolasi dirinya. jadi, disinilah mereka. disebuah kafe yang mengalunkan suara merdu James Blunt.
“kamu pesan apa?”, temannya bertanya.
“cappucino”, disekelilingnya temannya terperangah heran. bukannya dia tak suka kopi? bukannya seharusnya dia memesan lemon tea? tapi pertanyaan itu hanya berupa bisikan diantara mereka. dan dia tak peduli. dia hanya berharap, inilah minuman yang akhirnya bisa membuatnya rela untuk melepas laki-laki itu dan menyerahkan takdir cintanya pada Tuhan.
“aku ke toilet sebentar” kemudian dia beranjak.
tak lama kemudian dia kembali. tapi, tak melihat sebuah cangkir cappucino seperti pesanannya, tapi segelas lemon tea, lengkap dengan irisan jeruk lemon dibibir gelas.
“hey, aku tadi pesan cappucino, kenapa malah diambil!” protesnya pada teman disebelah kursinya. dan spontan, temannya menoleh. tapi, itu adalah DIA. LAKI-LAKI ITU. membuka topi temannya dan tersenyum manis.
“duduk sini”, pintanya sambil menepuk kursi disebelahnya. kursi yang tadi dia duduki. seperti dihipnotis dia menghampiri kursi itu. masih dengan menatap laki-laki itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
“Cappucino-nya buatku aja, ya. kamu udah aku pesankan lemon tea. tak apa kan?”, dia hanya bisa menggeleng.
“aku, ah…”, laki-laki itu dilanda kebingungan ingin memulainya dari mana. perempuan masih menunggu. diantara teman-temannya yang berpura-pura menyibukkan diri.
“aku…minta maaf. aku udah berbuat paling bodoh yang pernah dilakukan manusia. aku benar-benar minta maaf”, keluar juga penyesalan itu. dan perempuan hanya memandangnya dengan hati yang berkecamuk. bahagia, lega, perih yang berangsur hilang, semuanya…
“kamu akan memaafkan aku kan?”, tanya laki-laki itu lagi. dia mengangguk. tak terasa sebutir air dari matanya mengalir perlahan tanpa sempat ditahannya. dan membuat temannya berucap heran.
“heran, sepertinya kamu jadi cengeng sekarang”, dan tawa terdengar melihat pemandangan bahagia itu. dia menatap temannya bingung.
“cengeng? aku?”, dia meraba pipinya. dan sebuah isakan meluncur pelan dari bibirnya.  dia menyadari bahwa dia menangis sekarang. lalu cepat mengaduk-aduk isi tasnya.
“aah…mana sih sapu tanganku…”, serunya sambil mengaduk-aduk isi tasnya mencari sapu tangannya, dan menutup rasa malunya dihadapan teman-temannya. Tapi, satu tangan kokoh berkulit coklat merengkuh bahunya.
“sini”, dan sebuah pelukan hangat menaungi pundaknya, tubuhnya. sebuah usapan lembut menyentuh kepalanya. dan isakannya berubah menjadi tangis.
“maaf…maaf…maaf…maaf”, hanya itu yang bisa diucapkannya. sebuah anggukan terasa pada dadanya yang bidang. dan perasaan sayang yang sempat tersimpan lama itu membuncah.
“aku…”, kembali keraguan menyergap laki-laki.
“sayang kamu!”, akhirnya keraguan itu lenyap seiring dengan rengkuhan pada pundak itu menguat. memberikan ketenangan pada hatinya yang sempat terombang ambing selama bertahun-tahun. karena satu nama itu terpatri begitu kuat pada hatinya. pada jantungnya. pada aliran darahnya. pada detak nadinya.
“kamu akan ikut aku kan?”, tanyanya. menatap perempuan yang dari matanya terpancar kebahagiaan yang tak terlukiskan.
“aku akan ikut kamu, kalau kita memang searah”, dan perempuan menangis lagi. bahagia kini. kembali rengkuhan lembut tangan kokoh menaungi pundaknya. kali ini dalam kebahagiaan.

Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan sepasang kekasih. Mempertemukan pemilik tulang rusuk dengan perempuan yang menyangga tubuhnya dengan rusuknya. Dan waktu, selalu punya andil dalam hal ini. Waktu, sesuatu yang abstrak, tetapi begitu nyata.

untukmu,
yang pernah mengenalkan cinta (sekaligus patah hati pada saat yang sama) untuk pertama kali,
– dimanapun kamu berada



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: