Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Pemilu Saya

jari tengahku

jari tengahku

9 April 2009. Jari tengahku berbalut tinta pemilu. Kenapa jari tengah? Nggak ada alasan khusus. Cuma, ketika ada yang bertanya, “Kemarin pemilu ikutan nyontreng nggak?” Aku tinggal mengacungkan jari tengahku. hehehehe….

Walaupun jari tengahku berhiaskan tinta pemilu menandakan bahwa aku ikut pemilu, tapi aku tetap konsisten. Aku melakukan apa yang pernah aku katakan. “Aku membatalkan suaraku”. Maaf, tapi saya memilih untuk golput, karena sudah tak percaya lagi pada sistem.

9 April kemarin aku jadi salah satu dari 7 petugas KPPS di TPS dekat rumahku. Tema kali ini adalah budaya Melayu. Dan 6 petugas KPPS lainnya menggunakan pakaian adat Melayu, yaitu teluk belanga. Aku, tentu saja tak mungkin pakai itu. Tadinya, karena ibunya Oom Edy punya usaha tata rias pengantin, aku diminta pakai kebaya. Weaks??? Hell no. Dengan tegas aku bilang, “NGGAK!!” Biarpun ayahku yang memaksa, tetap aku bilang nggak. Dan akhirnya acara pemilihan anggota legislatif  dimulai walau aku tak ikut berseragam seperti mereka.

Seperti biasa, seperti pemilu yang lalu acara dimulai dengan pengucapan sumpah anggota KPPS dan Linmas. Kemudian pembukaan kotak suara yang disaksikan oleh para saksi yang diutus oleh partai politik masing-masing. Setelah surat suara disusun, maka dimulailah proses pemilihan umum untuk calon legislatif DPD, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Para pemilih yang sudah mendaftar dan menunggu panggilan satu-satu mulai memasuki bilik suara ketika nomor antrian mereka dipanggil. Memilih calon legislatif.

Dari penglihatanku langsung, terlihat bahwa beberapa pemilih terlihat kesulitan dengan kertas suara yang begitu besar, seperti kertas koran. Juga dengan banyaknya partai yang tak mereka kenal. Dan dengan para caleg yang harus mereka pilih. Bahkan, ketika petugas KPPS membantu beberapa ibu-ibu yang cukup berumur karena terlihat kesulitan, mereka mengaku bahwa mereka bingung, harus memilih yang mana.  Mereka sudah cukup kesulitan dengan calon yang begitu banyak dari 44 partai, dan harus disulitkan lagi dengan kertas yang begitu lebarnya.

Pukul 12.00 pemilihan selesai. Dan setelah itu langsung diadakan penghitungan suara. Nah, kali ini petugas KPPS-nya yang kerepotan. Karena, ketika pemilu 2004, partai peserta pemilu tidak sebanyak ini. Bayangkan, 44 partai. dan itu harus dilihat satu persatu hasil contrengan para pemilih. bahkan untuk kertas suara DPRD Provinsi harus 2 lembar. dan lebar pula. Kerepotan belum selesai sampai disitu. Setelah penghitungan selesai, masih harus dilanjutkan dengan menulis dan menandatangani berita acara. Dan berita acara bukan sedikit. Mungkin lebih dari 100 lembar. Karena partai peserta pemilu yang banyak.

Hasil perhitungan tadi harus direkap di berita acara dan diserahkan ke PPK untuk kemudian dikirim ke KPU Sumut. Berita acara yang dibuat dan ditandatangi harus dibuat sebanyak 21  set. dan setiap setnya terdiri dari banyak lembar (nggak sempat hitung saking capeknya).  Dan semua itu harus dilakukan dengan teliti, jangan sampai ada kesalahan. Proses itu akhirnya selesai pada jam 4 pagi. GILA!!!! Badan rasanya rontok semua!!!! Tapi itu belum selesai. Kotak suara harus diserahkan hari itu juga ke PPK. Dan berangkat lagi ke kelurahan. Sampai di kelurahan ternyata proses itu masih belum selesai. Secara administrasi, berita acaranya ada kesalahan. Dan harus diperbaiki lagi. Tapi, karena sudah sangat capek, ketua KPPS minta kepada petugas PPK untuk menangguhkan perbaikan sampai besok pagi. Karena semuanya kondisinya sudah pada capek. Fisik dan otak. Dan petugas PPK mengijinkan.

Beberapa jam setelah tidur yang tak nyenyak, kita perbaiki lagi berita acaranya. Sesuai dengan cara yang dimaui KPU. Selesai diperbaiki diantar lagi ke kelurahan. Sampai disana harus diperiksa lagi oleh petugas PPK dan harus ada perbaikan lagi. Kita coba bangun suasana yang capek itu dengan becanda. Supaya tak terlalu dirasakan capeknya. Karena bukan cuma TPS kami yang bermasalah. Ada beberapa TPS yang juga sedang memperbaiki berita acaranya. Dan ketika suasana capek itu makin terasa, terjadi satu insiden.

Pengawas dari salah satu partai yang mengaku ‘keren sekali’ datang. Lalu tanpa mengucapkan salam atau menggunakan etika bertamu yang baik, langsung marah-marah. Aku masih ingat mukanya sampai hari ini. Dengan sok tau meminta penjelasan dari petugas PPK yang saat itu sedang sibuk menyelesaikan administrasi berita acara. Dengan gayanya yang sok banget mulai merasa paling tau disitu, paling dirugikan, dan merasa bahwa orang-orang yang ada disitu sedang melakukan kecurangan. WHAT THE FUCK!!!!!!!!!!!!!!

Kita semua yang ada disitu dalam kondisi yang lelah. Fisik dan otak. Lalu datang satu orang dari salah satu partai yang mengaku “SANTUN”, marah-marah tanpa mengucap salam pula. Dan pada saat itu adalah jadwalnya sholat Jum’at. Sementara dia malah mendahulukan kepentingan partainya daripada Tuhannya. What the………..!!!!!!!!!!!!!!

Tindakan ofensif  seperti itu tentu saja tak bisa dibiarkan. Langsung saja keluar balasan dari kami, orang-orang yang dianggap tak tau apa-apa, melakukan kecurangan karena kedapatan sedang mengutak-atik berita acara. Dikiranya kami sedang berusaha memanipulasi data. BAH!!!!!!!!!!!!!!! Apa dipikirnya kami ini memihak salah satu partai tertentu? Langsung saja, tanpa bisa ditahan, emosiku merangkak naik, “Kami disini tak memihak partai manapun. Maaf, tapi saya memilih untuk golput. Dan beruntung saya golput!!!” Orang sok tau tadi, setelah sindiran demi sindiran terlontar, akhirnya pergi.

Dan segala simpatiku untuk partai yang katanya santun itu langsung lenyap. Tak berbekas. Tadinya, meskipun aku lebih memilih untuk membatalkan suaraku, aku berharap, partai itu bisa mendapatkan suara yang banyak untuk duduk di parlemen. Tapi, karena ulah salah satu anggotanya yang tak simpatik itu, segala kekagumanku pada partai itu langsung lenyap. Rusak susu sebelanga karena nila setitik. Dan partai yang tadinya aku suka karena iklannya yang “keren sekali” itu, berubah menjadi tak suka.

Orang itu, siapapun dia, apapun jabatannya adalah merepresentasikan partainya. Segala tindakannya akan langsung dihubungkan orang-orang dengan partainya. Kalau dia bertindak sopan, beretika, santun pasti orang-orang akan menganggap bahwa dia dan partainya baik. Tapi kalau tindakannya seperti tadi, sesuka apapun orang pada partainya, karena melihat sikapnya menghadapi orang, yang bahkan lebih tua dari dia, akan langsung menjadi tidak simpatik.

kali ini sama seperti yang lalu. Tak menyesal sama sekali membatalkan suaraku. Tak menyesal memilih golput. Kalau ada yang bertanya padaku tentang pemilu kali ini, “Kemarin nyontreng?” aku akan mengacungkan jari tengahku. Dan kalau ada yang bertanya lagi, “Kemarin milih apa?” aku akan bilang, “Maaf, saya golput!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: