Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Menjadi Perempuan

Sebenarnya, apa sih yang sudah dilakukan seorang Raden Ajeng Kartini dari dalam kamarnya? Toh hanya menulis sebuah surat. Perempuan lain juga bisa melakukan itu semua. Tidak, jangan salah paham. Aku tidak membencinya. Sama sekali tidak. Hanya saja, kenapa aku harus berterima kasih padanya, bukan kepada Tjut Njak Dhien atau Christina Martha Tiahahu yang memang benar-benar menjalankan emansipasi kalau memang emansipasi artinya adalah berdiri sejajar dengan laki-laki?

Kalau aku ingin menganggap seorang perempuan menjadi begitu istimewa, dialah ibuku. Emak. Yang berbuat jauh lebih banyak daripada Kartini yang hanya bisa mengeluh tentang ketidakadilan yang dialaminya dan berbuat hanya dengan berlembar-lembar surat yang belum juga terbukti keotentikannya.

Jika Kartini menuliskan nasibnya pada berlembar-lembar kertas, maka Emak menuliskan takdirnya dengan berani menikahi Ayah yang pada saat itu “hanya” seorang pegawai bengkel mesin bubut, tanpa paksaan. Emak mengambil haknya, dengan menikahi laki-laki yang dicintainya, bukan karena sebuah perjodohan. Emak satu langkah didepan Kartini.

Ketika kami ada, Emak membantu perekonomian keluarga dengan membuka sebuah warung kecil didepan rumah. Kemudian sepeda tua ayah berganti menjadi sebuah sepeda motor. Dan ketika bengkel tempat Ayah bekerja harus gulung tikar, Emak tetap mendukung ketika Ayah harus di-PHK. Kemudian mendirikan sebuah bengkel Radiator disamping warung Emak. Waktu itu aku masih kelas 2 SMP. Cukup berat, karena aku juga bersekolah disebuah SMP swasta yang uang sekolahnya tidak murah. Dengan membangun usaha dari awal, tentu saja perekonomian keluarga tak seperti dulu. Ayah harus merelakan sepeda motornya dijual untuk membangun bengkel kecil itu. Dan selama beberapa bulan ke depan, saat itu warung Emak menjadi bagian dari bangkitnya ekonomi keluarga. Buat Emak, pendidikan itu paling penting. Tak apa makan seadanya, karena usaha Ayah belum menunjukkan hasil, yang penting aku, abangku dan adikku masih bisa bersekolah.

Bertahun kemudian, usaha Ayah mulai mengalami kemajuan. Alhamdulillah. Karena Emak  tak perlu lagi meneruskan usahanya. Waktunya beristirahat, menikmati cinta Ayah dan membagi cintanya pada kami. Keinginanku untuk terus sekolah tak dihalangi. Emak bukan perempuan yang berpikir bahwa perempuan harus mengurus rumah, memasak didapur. Itu adalah kodrat perempuan, tapi bukan satu-satunya. Karena perempuan juga berhak untuk mendapat pendidikan. Aku ingat kata-kata Emak ketika aku baru mulai belajar di bangku kuliah, “Emak mau kau nanti jadi dosen!” Permintaan sederhana dari seorang perempuan sederhana. Dan apa yang diinginkannya sekarang terwujud. Jika Emak melihatku dari Atas Sana, aku tau dia pasti tersenyum bangga dan berbahagia karena apa yang diinginkannya dulu terwujud.

Dari Emak aku belajar tentang hakku sebagai perempuan. Dari seorang laki-laki seperti Ayah yang didukung perempuan tangguh, Emakku. Belajar tentang kewajiban perempuan yang tak boleh ditinggalkan, karena perempuan begitu istimewa.

Dulu sekali, ketika begitu bersemangat dengan sekolahku, dengan buku-buku, aku sempat berujar pada Emak, “Mak, gimana nanti kalau aku nggak kawin (a.k.a menikah)?” Emak terdiam, lama memandangku. “Nak, menikah itu sunnah Rasul. Kalau tak menikah, bukan umat nabi Muhammad. Kau boleh sekolah tinggi, boleh bekerja, punya jabatan yang lebih dari laki-laki, tapi kau tetap harus menikah. Karena itu fitrah manusia.” Betapa sederhananya pengertian yang Emak beri pada saat itu. Tapi menusuk dan tetap berbekas hingga hari ini.

Emak tak mengenal Kartini seperti aku mengenalnya dari membaca biografinya yang menjadi landasan para Feminis Indonesia untuk “membuktikan diri”. Tapi Emak, jauuuuuuuhh….lebih baik dari Kartini. Emak berbuat jauh lebih banyak daripada Kartini yang hanya menyerah pada nasibnya.

Perempuan, emansipasi bukan sekedar mensejajarkan diri dengan laki-laki. Tapi Emak sudah membuktikan padaku. Bahwa emansipasi adalah menjadi partner sejati seorang laki-laki, yang bahkan setelah 6 tahun kepergian Emak, masih tetap begitu setia pada Emak. Emansipasi adalah menjalankan hak tanpa mengabaikan kewajiban. Dan Emak adalah salah satu pelaku emansipasi, karena membiarkan aku terus maju dan mempunyai cita-cita. Karena aku perempuan.

perempuan indonesia

perempuan indonesia

4 responses to “Menjadi Perempuan

  1. kamaliya 20 April 2009 pukul 4:15 pm

    lam kenal juga ya???

    aku suka tulisan mu, keren euyy…

    hehehe…kunjungan balasan nih….terima kasih sudah berkunjung

    salam

  2. mayuka 21 April 2009 pukul 5:21 pm

    hehehehe….

    bagus mbak wird…
    aq suka banget tulisan ini…
    emang betul itu yg mbak critakan, udah lama aq jg mikir tentang perempuan2 yg memperjuangkan emansipasinya agak di sejajarkan dengan laki2 tanpa sadar apa kodrat dia sbenarnya, yaitu pendamping laki2🙂
    dan aq sadar, gak akan pernah perempuan itu sejajar dengan laki2 kecuali 1 tingkat dibawahnya…
    (gimana maksudnya, aq jg bingung menjelaskannya😛 )
    kliatan jg bukitnya pada masa yg baru lewat kan?? (pemilu, banyak cewe yg nyalonkan diri)
    aq gak suka itu karna laki2 adalah pemimpim perempuan

    itu aja deh comment q, panjang banget nih… ^_^

    tulisan ini jg buat mengingatkan aku juga. supaya aku sadar, kalo seberapa kuat pun aku berusaha, aku nggak akan bisa sejajar dengan laki-laki. pada beberapa bidang mungkin iya. tapi aku tetap perempuan. dan bagaimanapun, perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk laki2 untuk jadi partnernya. itu yg aku tau

    hehehe….thanks for coming dekku, reply nya jg panjang neh😀

  3. ferrys 22 April 2009 pukul 7:17 am

    Tulisan yang indah, mbak.

    Kodrat, atau apapun istilahnya, bagi sy nggak terlalu penting.
    Intinya adalah saling hormat, saling menghargai & proporsional.

    Maka, Insya Allah semua akan OK. Kalo kata bule for better or worst.

    Salam

    thanks mas,,,udah mampir. apa yg saya tulis, itu refleksi dari yang saya lihat sepanjang hidup saya. kadang, kita suka lupa bahwa laki2 dan perempuan adalah partner, bukan rival😀

    Salam

  4. SiMunGiL 28 April 2009 pukul 5:23 pm

    hehehe..apa kabar, Mba?
    sudah lama tidak bermain kemari..

    makin seru aja tulisannya🙂

    selamat hari kartini juga yah!

    banggalah jadi perempuan Indonesia…

    hehehehe…makasih nih dikunjungin terus. jgn bosen2 ya mbak😀
    klo saya sih sangat bangga jadi perempuan Indonesia, selalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: