Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tentang 11 Tahun Yang Lalu

Kemarin malam, disela-sela menyelesaikan seri chicklit kedua yang aku baca, (all right everybody, ternyata memang membaca chicklit ini berlanjut sudah πŸ˜€ ), yang berjudul The Guy Next Door-nya Meggin Cabbot, hp-ku bersenandung I’m Just A Kid – Simple Plan. Telfon masuk. Nomor yang tak aku kenal. Tapi tetap aku angkat juga.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam,”
“Ini Wirda ya, yang dulu sekolah di STM anu?”
“Yup, bener, ini siapa?”
“Ini Minu, Wir. Masih ingat? Teman seangkatan dulu,”
“Iya, masih ingat, apa kabar?”
“Baik, bla-bla-bla…”

Dan berikutnya perbincangan SLJJ Medan – Batam itupun berlanjut selama setengah jam. Nostalgila, istilahnya πŸ˜€ Dan tak terasa, memang sudah 11 tahun berlalu sejak kami sama-sama lulus dari sekolah menengah yang didominasi laki-laki. Minutakah Dewi lengkapnya. Namanya unik, itu sebabnya, meski berbeda kelas aku masih ingat namanya hingga sekarang. Perempuan yang saat itu tomboy, lincah, ceriwis, banyak teman, aktif, pintar dan kami sama-sama aktif di OSIS. Bersekolah di sekolah yang minoritas perempuan (yang pada saat itu dari seluruh angkatan tak pernah lebih dari 15 orang) memang menyimpan banyak cerita tersendiri.

Setiap orang yang bertanya, “sekolah dimana” dan dijawab “di STM anu” dan selanjutnya komentar orang-orang pada saat itu adalah “wah, cewek di STM, pasti jadi idola, ya”. Huahahaha….kalau buat yang lain mungkin iya, tapi aku? Jelas nggak. Siapa juga yang mau mengidolakan perempuan bersepatu kets yang jarang dicuci kalau tak kehujanan, pakai kemeja berukuran L dan rok yang panjangnya melebihi lutut dengan alasan supaya bisa leluasa jongkok atau duduk bersila ditanah, rambut yang paling panjang yang pernah dipunya adalah sebahu dan selalu ditutupi dengan topi sekolah yang dekil, ransel yang tak kalah dekil, punya panggilan kesayangan mac gyver dari teman-teman seangkatannya dan malangnya lagi sebagian besar teman-temannya tak tau nama aslinya, ketika pelajaran olahraga teori mengejutkan gurunya ketika menjawab pertanyaan tentang Borussia Dortmund sebagai pemenang Piala Toyota tahun 1997, dan sekian lagi keanehan yang dimilikinya. Dan sekali lagi jawabannya, memang NEVER!!!

Minu dapat nomer hp-ku dari Mulyadi, teman seangkatan yang berbeda jurusan yang beberapa waktu lalu datang ke kantor untuk sekedar menyambung lagi silaturahim (halaahh…bahasaku sok paten). Dan kemudian meluncurlah cerita demi cerita tentang sebelas tahun yang lalu. Tentang sekolah tercinta, kawan-kawan, guru-guru, kegiatan yang dilakukan pada saat itu, pacar si anu, mantan pacar si anu, dan sebagainya. Dan tentang hidup masing-masing setelah terpisah sekian lama. Sudah bisa ditebak memang, bahwa Minu sudah menikah dan sudah punya 2 orang anak. Tapi yang mengejutkan, anaknya sudah kelas 3 SD, 9 tahun. Hah??? Sementara aku? Status dengan tuan muda pun masih terombang ambing. Dan setelah ditelusuri lebih lanjut lagi tentang kawan-kawan yang lain, memang diantara semua kawan perempuan seangkatan kami, cuma aku sendiri yang belum menikah. Being single and happy. πŸ˜€

Ternyata, masa-masa SMA itu sudah 11 tahun berlalu. Sudah selama itu ternyata meninggalkan masa remaja yang tak kulalui dengan pacaran karena ayah memang melarang anak-anaknya untuk pacaran ketika masih sekolah atau kuliah. Masa dimana kebandelan dan tak bertanggungjawab mendominasi. Dan sekarang semuanya berubah sudah. Kebandelan demi kebandelan yang dulu pernah terjadi sekarang hanya kenangan. Dan semua mahluk bandel itu sudah jadi sosok-sosok yang bertanggungjawab terhadap keluarganya masing-masing.

Dan satu lagi bukti adalah, kalau aku terus menerus ada dalam kotak 17 inch ini setiap hari, setiap waktu, berada dalam dunia travian, google, email, facebook, bisa dipastikan dalam dunia nyata aku adalah seorang anti-sosial akhirnya. Ah, tapi semoga tidak.

Iklan

2 responses to “Tentang 11 Tahun Yang Lalu

  1. mayuka 24 April 2009 pukul 9:08 pm

    mbak…..
    nostalgia nih ye…. πŸ˜›

    emang sulit kalo status kayak mbak y, di depan komputer teruus… -.-
    hmmmm…………
    (lg merenungi nasib qu… mudah2an aq gak slamanya didepan komputer, nanti komputer pula yg jadi jodoh qu, bukan orang)
    huehehehehehehe……. πŸ˜€

    hehehe…nostalgila dek. gitulah jadinya klo trus2an kencan sama komputer. lama2 bisa jd anti sosial jg hehehe,,,,,

    tapi klo dinikmati gak jg kok, soalnya aku jg nemuin banyak org2 yg asik2 disini, kyk anak2 Laskar dan kamu….heheheh,,,,,

  2. littleucrit 29 Juni 2009 pukul 3:12 pm

    di dalam kotak 17 inch itu kan bisa bersosialisasi juga sis.. πŸ™‚

    yup. right. kita buktinya ya…hehehe….bahkan lebih dari sekedar bersosialisasi jg kan. wkwkwkwk….tapi, kadang2 bisa jd antisosial jg dalam dunia nyata kalo kta kelamaan ada didalam kotak 17″ ini hehhehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: