Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

curhat seorang kawan

Siang tadi, ketika masih menikmati sisa istirahat siang setelah makan sambil ngobrol dengan tuan muda yang kemarin-kemarin begitu susah dihubungi, my wife’s friend yang sudah lama tak bertemu masuk sambil menyapa aku yang sedang telfon sambil memeriksa desa-desaku di travian.  Bertanya, apakah aku terlalu sibuk untuk mendengar ceritanya. Tadinya aku pikir dia hanya akan cerita hal-hal yang ringan. Tapi kemudian, ketika dia mulai cerita, lebih tepatnya curhat, aku pamitan dengan tuan muda. Memintanya mengerti kalau aku harus mematikan telfon saat itu juga.

Dan kemudian mulailah bergulir kekesalan demi kekesalan yang sepertinya sudah dipendam lama. Kemudian wajahnya mulai menganak sungai. Arrgghh,,,aku paling tak bisa menghadapi orang yang menangis. Apalagi perempuan. Dan diantara kepanikanku, aku minta Sugi yang sedang menyeduh teh manis untuk membuatkannya juga dan kemudian menyerahkan tissue. Mendengarkannya yang hanya perlu tempat untuk curhat, meski aku tak punya solusi yang tepat untuk mengatasi masalahnya. Mau kasih solusi apaan kalau status dengan tuan muda juga masih mengambang. Ini persoalan yang sudah melibatkan lembaga negara, bukan sekedar komitmen antara dua orang dewasa. Tapi juga kepada Tuhan dan masyarakat. Aku nyerah kalau begini. Aku bukan orang yang tepat untuk dimintai solusi. Tapi kalau sekedar tempat curhat, aku akan dengarkan. Sampai keluar semua yang mengganjal.

Sudah lama tak melihat wajah cantik itu. Terakhir kali adalah ketika dia bilang kalau dia sedang hamil muda. Aura bahagia masih terpancar dari wajah cantiknya. Aku juga masih bisa bercanda dengan temanku yang adalah suaminya. Masih terlihat bahagia setelah membina keluarga baru mereka.

Tapi sekarang, tak kulihat lagi wajah cerah itu. Yang ada hanya wajah sedih yang berurai airmata, bingung dan pucat. Tak lagi modis seperti ketika masih berstatus pacaran. Perubahan yang drastis dan sayangnya bukan perubahan yang baik. Belum setahun menikah, tapi sudah banyak masalah yang datang. Dan dia merasa tidak kuat, ingin menyerah. Tuhan…. tolong, jangan biarkan dia mengambil keputusan dengan emosi. Itu adalah sebuah kesalah besar.

Sungguh, jika ada yang bisa aku katakan untuk membuatnya merasa lebih baik, pasti itu yang akan aku katakan. Tapi, untuk ikut campur, sepertinya aku nggak bisa. Jelas itu cuma akan memperkeruh masalah mereka. Jauh lebih baik kalau aku tetap berada ditempatku.

Setelah merasa lebih lega, dia mulai beranjak pulang. Aku pesan padanya, untuk nggak berbuat yang aneh-aneh dan boleh datang kapan saja dia mau. Aku disini kalau dia cuma perlu sekedar menumpahkan isi hati yang dia tak tau harus cerita pada siapa.

Dan kemudian, ketakutan itu muncul lagi. Kalau perempuan secantik, semodis dan seceria dia bisa begitu berubah, apa yang akan terjadi padaku kalau aku harus mengalami hal seperti ini juga? Apa aku juga akan menangis dihadapan orang lain ketika masalah yang menyesakkan menghadang perjalananku? Orang-orang memang pernah melihatku menangis ketika Emak dan Kak Purnama pergi. Tapi menangis karena ada masalah, baru tuan muda yang mengetahuinya. Dan aku tak mau mengalami apa yang dialaminya. Menyakitkan kalau harus seperti itu. Dan ketakutan itu kembali aku ceritakan pada tuan muda ketika aku memberitahunya. Walaupun dia bilang setiap orang punya jalan hidup yang beda, dan berbeda-beda juga dalam menghadapi masalah, jangan salahkan aku kalau ketakutan itu muncul lagi. Dan kali ini sepertinya lebih parah.

Kalau dulu mereka menikah karena cinta, lalu apakah cinta itu bisa menghilang juga? atau perlahan terkikis? ah, semoga tidak. Semoga yang terbaik adalah mereka tetap bersama. Demi anak yang akan lahir beberapa bulan  lagi. Semoga semuanya akan baik-baik saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: