Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Perih

Sekali lagi tentang perih. Aku hanya punya satu hati. Dan lebih baik membiarkannya membeku. Dan kali ini untuk waktu yang lebih lama. Tuhan punya milyaran rahasia yang tak akan pernah dibagiNya pada hambaNya. Tak akan pernah. Dunia ini panggung sandiwara dan setiap manusia punya perannya masing-masing.

Sekali lagi tentang sakit. Yang sepertinya kali ini memang harus dilakukan, atau sakit ini akan menjalar dan meninggalkan kerusakan yang tak akan pernah bisa diperbaiki. Aku tau, mungkin aku jahat, mungkin aku tak baik, tapi semua ini memang harus terjadi. Dia juga tau bahwa apa yang aku lakukan ini penuh dengan keterpaksaan. tak ada yang bisa dilakukan. Aku ingin semuanya berakhir dengan baik seperti ketika dimana kami memulainya dengan begitu baik.

Segala sakit, perih dan luka luruh seketika. Segala sakit, perih dan luka mengucurkan airmata. Tak ada tempat berpegang selain Tuhan. Mungkin memang bukan jalan yang terbaik, tapi saat ini hanya ini yang bisa kulakukan. Tak ingin menghambat jalannya jika kami masih ada dijalan yang sama.

Tuan muda, maaf. Terima kasih untuk setahun yang mengesankan ini. Tak pernah merasa hal ini sebelumnya. Jika aku mengingatmu dalam setiap detik yang kulalui, yang terlintas pasti hanya rasa sesal. Tapi aku tak ingin berbalik tuan muda. Apa yang sudah aku ambil, aku terima segala konsekuensinya. Hari akan semakin panjang untuk kulalui dan malam adalah waktu yang ingin aku lewati dengan cepat. Tanpamu tuan muda, aku tau waktu akan jadi lawan yang berat untukku.  Seorang kawan pernah bilang, “bahwa luka dan segala perihnya adalah unsur kehidupan. Menolaknya berarti menolak kehidupan”. Aku tak ingin menolak kehidupan, karena aku akan terus merayakan kehidupan selama Tuhan masih memberikan aku nafas. Merayakan kehidupan dengan segala unsur yang membentuknya, tawa, tangis, luka, perih, airmata, kesenangan dan segalanya tuan muda.

Kau, tetap akan ada ditempat ketika aku menemukanmu. Tetap ada dalam sebuah ruang dihatiku sambil mendentingkan gitarmu menyuarakan “semoga” dengan begitu tulusnya. Kau pernah membuatku percaya bahwa cinta ada untukku juga dan aku akan tetap percaya itu. Aku pasti akan merindukan suara gitarmu. Dan malam-malam dimana kau menemaniku dengan petikan gitarmu. Tapi saat ini kita harus tetap melangkah maju. Dan yang terbaik adalah kita ada diarah yang berlawanan.

Jalan tak pernah berujung tuan muda, jika suatu hari nanti ternyata kita ada dijalan yang sama dan masing-masing kita tetap menempuh jalan ini sendirian, ijinkan aku kembali menggandeng tanganmu dan berjalan disisimu seperti waktu itu. Tapi, jika ketika kita berada dijalan yang sama dan kau telah bersama orang yang jauh lebih baik dariku maka aku akan mengambil jalan lain yang lebih baik untukku.

Perih ini kembali mengalirkan airmata dan menghancurkan hati. Tapi kau dan aku tetap harus melangkah maju. Ada hal yang lain yang jauh lebih penting yang harus kau lakukan. Maaf jika aku tak pernah bisa mengerti tentang itu. Tapi kau harus percaya satu hal, bahwa aku melakukan ini karena tak ingin membebanimu lebih banyak lagi. Tak ingin memberikan tuntutan yang tak bisa kau penuhi.

Terima kasih untuk setahun yang sudah membuatku begitu dicintai. Dan terima kasih karena pernah mencintaiku begitu tulus. Aku tau akan sangat menyesali ini, tapi kau dan aku tetap harus melangkah maju.

Ah tuan muda, jika ini kuteruskan aku akan menangis lagi. Sekali lagi maafkan aku.
Aku mencintaimu.

W

Iklan

10 responses to “Perih

  1. littleucrit 4 Juni 2009 pukul 10:29 am

    jujur, saya nangis waktu baca blog ini… :((

    hmm… dont know wat 2 say…

    Apa yang tertulis disini adalah apa yang sedang saya rasakan dan saya alami skrg..

    salam kenal

    -littleucrit-

    saya jg nangis waktu ngetik post ini disini. mestinya bukan kejutan jg klo ada org yg mengalami hal yg sama, diwaktu yang sama tetapi berada pd tempat yg berbeda.

    thanks udah berkunjung…

    salam kenal 😀

  2. abi 11 Juni 2009 pukul 3:54 pm

    Mba Wirda, ane bersimpati dan ber-empati thd dirimu…

    Kehidupan adalah segala sesuatu yang menyibakkan misteri…misteri itu sendiri akan terungkap ketika kita mampu melewti masalah, menceritakan kebahagiaan…menghilangkan kekhatiran dan beribadah kepada Tuhan, Allah Swt

    Menghilangkan misteri sama artinya dengan menafikan warna dari kehidupan itu sendiri.
    Biarkan gitar itu tetap melantun, meskipun lagu itu bukan khusus utk dirimu
    Biarkan juga Pengeran berjalan walau tak menghampiri dirimu

    Biarkan akhirnya = pemulaannya
    Karena Sang Pengeran dan denting gitar awalnya memang seperti itu

    salam empati – slm ukhuwah
    elha
    http://www.jangankedip.blogspot.com

    terima kasih. so far, saya masih bisa jalan terus meski sesekali tetap melihat ke belakang. hidup itu memang harus melangkah mju, bukan mundur ke belakang. dan saya bersyukur bahwa Allah menganugerahkan hidup saya dgn keluarga, teman2 yang baik dan pekerjaan yang bisa membuat saya fokus dengan apa yg sedang dan akan terjadi..
    sekali lagi terima kasih 🙂

  3. 1234560 13 Maret 2012 pukul 11:48 am

    Aku Suka Ini….

  4. adi 24 Mei 2012 pukul 4:39 pm

    saya terkesan sekali…

  5. aditya sky 1 September 2012 pukul 8:20 am

    kata-kata ini merasa menusuk ke hati ku
    se akn aku jatuh ke dua kali nya ke lubang yg sama
    perih hati ku
    sakit hati ku tercantum dalam kata” itu……
    i like it

  6. mezzaluna 17 September 2012 pukul 2:03 am

    hati ku bergumam disertai dengan airmata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: