Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

(ternyata) bukan si anak hilang

black-father-and-daughter1Sepulang kerja tadi malam, ternyata ayah udah berangkat sholat tarawih. Akhirnya, aku putuskan untuk memberitahukan pertemuan dengan dekan kemarin pagi, setelah ayah pulang aja.

Dan, sekitar setengah 10, sepulang ayah dari mesjid, aku langsung memberitahukan tentang masuknya namaku dalam daftar yang diajukan kampus untuk melanjutkan sekolah ke Jawa. Akan ada seleksi pastinya. Nama yang diajukan adalah 3 nama, termasuk aku, sementara yang akan diberangkatkan hanya 2 orang. Jadi, aku juga bilang bahwa segala kemungkinan masih bisa terjadi. Yang jelas, aku sekarang cuma boleh berdoa dan berusaha aja. Berharap boleh, tapi jangan terlalu berharap.

Biasanya, seperti yang sudah-sudah, ayah cuma akan bilang, “Ya udah, yang penting baek-baek.” Gitu doang. Tapi, waktu aku bilang bahwa kalau terpilih kemungkinan akan dikirim ke salah satu kota di Jawa selama 2 tahun, ayah cukup kaget. Dan itu juga mengejutkan aku. Selama ini, kemanapun aku pergi, jam berapapun aku pulang, sepertinya ayah nggak akan pernah mempersoalkannya. Kalau dalam nada becandanya, “yang penting kalo pergi gak bawa sendok”.

Begitu juga waktu kemarin dekan bertanya, apakah aku bersedia disekolahkan lagi, dengan konsekuensi harus meninggalkan keluarga. Aku cuma bisa bilang, “Sangat bersedia, Pak. Saya ini udah kayak anak hilang, pak.” Beda dengan 2 rekanku yang lain, yang baru menikah, bahkan Hermansyah sedang menunggu kelahiran anak pertamanya yang insya Allah 3 bulan lagi.

Ayah sempat terdiam, waktu aku bilang tentang usulan itu.
Ayah : “Jauh kali, sampe kesana. Apa nggak bisa sekolah disini aja?”
Aku : “Nggak bisa, yah. Udah ditanyain, USU tenyata belum ada program S2-nya. Kampus juga maunya harus di Jawa.”
Ayah : “Iya, tapi jauh kali.”
Aku : “Memang harus gitu, yah. Buat ngurus kepangkatan dosen.”
Ayah : “…”

Akhirnya, aku juga terdiam, sambil berpikir. Ternyata buat ayah, aku bukan anak hilang. Aku baru sadar, bahwa ternyata nggak segampang itu dia melepaskan aku. Meskipun itu masih belum pasti, karena harus menunggu keputusan hasil seleksi. Ah, maaf yah, selama ini aku pikir ayah nggak akan keberatan kemanapun aku pergi. Ternyata, anak hilang, cuma ada dalam pikiranku aja. Masih berupa usulan ayah udah merasa risau. Tapi Yah, kesempatan ini nggak akan datang dua kali. Harus diambil, demi cita-cita emak yang memang selalu dikatakannya padaku, dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: