Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

2nd Chance To Be Happy*

Saya jatuh cinta bukan pada saat yang tepat

Itu cuplikan kalimat yang keluar dari Mieke Amalia ketika tangan saya tak sengaja memencet channel Metro TV yang sedang menayangkan acara Just Alvin yang dipandu oleh Alvin Adam. Saya sudah tertinggal setengah acaranya. Dan kali ini adalah episode tentang pengakuan Mieke Amalia yang memang jatuh cinta dan sudah berhubungan dengan Tora Sudiro.

Kalimat yang indah, sekaligus miris menurut saya. Jatuh cinta, tapi pada saat yang tidak tepat. Tapi, apakah kita tau kapan saat yang tepat itu? Seperti juga saya, apakah kali ini saya jatuh cinta juga pada saat yang tepat? Bagaimana denganmu tuan muda? Tak ada yang pernah tau, kapan saat yang tepat itu ada.

Inti dari tayangan itu adalah tentang keberanian kita untuk bangkit, setelah sesuatu sedang dan telah terjadi pada hidup kita. Beranikah kita melanjutkan hidup setelah sesuatu yang buruk terjadi? Saya tak punya jawaban, mungkin malah jawaban saya adalah, saya tak berani. Tapi bagaimanapun, hidup harus terus berlanjut, bukan? Karena dunia juga terus berputar. Apapun yang terjadi, tak ada alasan untuk berhenti. Kita tetap harus melangkahkan kaki, paling tidak untuk mencari tau, apa yang harus kita lakukan selanjutnya.

Dan tuan muda, kita adalah dua orang yang sedang belajar bangkit karena sesuatu yang pernah dan sedang terjadi saat ini. Kuatkah kita untuk terus berjalan hingga akhirnya kita menemukan tempat untuk melepas lelah? Bukan sekedar berhenti sejenak untuk beristirahat, tapi memutuskan untuk menetap dan menghabiskan hari-hari kita ditempat itu. Kamu dan saya, sudah kenyang merasakan hal-hal yang tak mengenakkan dalam hidup. Kita pernah merasakan tertawa begitu bahagia, dan kita juga pernah merasakan begitu terpuruk karena luka, hingga merasa tak ingin bangkit lagi.

Dan kali ini, dengan cara yang tak biasa, Tuhan menawarkan satu lagi jalan yang tak gampang ini untuk kita lewati. Begitu terjal memang, tapi apakah kita sanggup untuk melewatinya? Sanggupkah kita berjalan diatas rintang yang mungkin akan melukai kita dan orang-orang terdekat kita untuk menuju rumah hati kita? Saya tak bisa kalau harus berjalan sendiri. Putuskan, apakah kamu mau menemani saya di jalan terjal ini atau tidak? Jika tidak, saya akan mencari jalan lain yang jauh lebih mulus dari jalan yang harus kita lewati berdua. Tapi, kalau kamu masih berani untuk berjalan diatas keterjalan ini, maka saya akan ikut.

Pertanyaannya adalah, Are we dare to take our second chance to be happy?

question-mark3a

*judul diambil dari tayangan Just Alvin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: