Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

May I trust anybody?

trust-no-one1Like what I said in my “About” page, I really like all Mario Puzo’s stuff. Pertama kali berkenalan dengan para don itu adalah ketika Ogenk, senior sekaligus boss saya sekarang di kantor memperkenalkan saya dengan Don Clericuzio. Dan berikutnya adalah tentang bagaimana ajaran-ajaran para Don yang selalu mendoktrinkan “Never Trust Anybody” itu memasuki kepala saya perlahan-lahan. Perlahan-lahan…

Dan hingga kini, yang menjadi masalah adalah saya selalu sulit untuk bisa mempercayai orang lain. Bukan berarti saya menganggap bahwa semua orang adalah pendusta. Karena toh terkadang, saya juga tak bisa mempercayai diri saya sendiri. Dan buat saya, tak peduli apakah masih ada orang yang mau percaya saya atau nggak. Karena untuk bisa benar-benar mempercayai orang lain itu butuh waktu yang nggak sebentar.

Dan sekarang, kamu yang membuat saya belajar untuk mempercayai orang lain mulai membuat saya ragu. Apakah kamu pantas untuk saya titipkan rasa percaya itu? Kenapa ketika sekarang saya ingin benar-benar menitipkan rasa percaya yang tersisa begitu sedikit,  saya justru meragukanmu? Paling tidak, cobalah untuk jujur. Saya tak pernah ingin memaksa kamu menjaga perasaan saya, tapi paling tidak, jujurlah ketika saya mengajukan pertanyaan.

Buat saya, jujur itu bukan berarti kamu menceritakan seluruh hidupmu pada saya. Bukan begitu. Kamu punya hak untuk punya rahasia yang ingin kamu simpan sendiri saja. Begitu juga saya. Kamu punya hak untuk memilih apa yang ingin kamu ceritakan pada saya atau nggak. Begitu juga saya. Tapi, ketika saya bertanya, tolonglah jawab dengan seluruh kejujuran yang kamu miliki. Yang bisa membuat saya yakin bahwa kamu memang jujur, ketika saya menatap matamu.

Menemukan kalimat-kalimat ini disalah satu halaman di belantara maya, ketika saya meminta bantuan Oom google untuk mencarinya, ketika saya membaca status seorang kawan yang ingin maharnya adalah sebuah hafalan surat Ar Rahman,

Imam Ja’far Ash-shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, dan ketika membaca kalimat ‘Fabiayyi âlâi Rabbikumâ tukadzdzibân’, ia mengucapkan: Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan), jika saat membacanya itu pada malam hari kemudian ia mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid; jika membacanya di siang hari kemudian mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).

Maka, ketika ayat itu bertanya, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. ar-Rahman (55) : 13)“, saya berpikir. Bukankah mempercayai orang lain itu juga adalah sebuah nikmat? Dan saya juga ingin merasakan nikmat itu. Ketika segala keraguan lenyap hanya ketika melihat mata dan senyummu yang berkata dengan jujur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: