Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tentang Pendidikan

Saya pengen cerita sedikit, tentang sesuatu yang mengganggu pikiran saya belakangan ini. Saya bekerja disebuah yayasan pendidikan swasta. Cukup terkenal di kota saya, dengan fasilitas yang baik dan biaya yang bisa dibilang menengah ke atas. Ini adalah salah satu contoh yayasan yang dikelola keluarga dengan baik, tanpa adanya perseteruan antara adik dengan kakak, atau paman dengan keponakan. Yayasan ini dibangun dengan landasan agamis dan kekeluargaan yang benar-benar baik. Disini, kami tak pernah sama sekali menemukan konflik keluarga yang berasal dari pembagian hasil atau apalah yang berhubungan dengan yayasan tersebut.

Nah, kemudian, dengan suasana yang begitu nyamannya, apa yang jadi masalah? Tidak ada sama sekali. Tapi ada sedikit yang mengganggu pikiran saya. Tentang orang-orang (keluarga yayasan), terutama perempuan, yang ternyata bisa dihitung yang berpendidikan tinggi. Memang, orang pintar dan berwawasan tidak bisa diukur dari tingkat pendidikannya. Sama sekali tidak bisa diukur seperti itu. Saya juga setuju dengan pendapat, bahwa wawasan, kepintaran, pengetahuan adalah hal yang berbeda dengan tingkat pendidikan formal. Tidak bisa disamakan. Saya hanya menyayangkan, bahwa para perempuan dikeluarga yayasan yang mengelola pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi, justru tidak menyelesaikan pendidikan tingginya.

Oke, salah satu contoh. Saya kenal dengan salah satu anak almarhum rektor saya yang juga anak dari almarhum pemilik yayasan. Tidak kenal dekat memang dengan ibu muda yang satu itu, tapi cukup kenal dari saya kuliah sampai kemudian bekerja disitu. Selesai SMU (dia bersekolah di yayasan keluarganya), dia melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas swasta di Malaysia mengambil jurusan Komputer. Cukup membuat saya iri πŸ˜€ tapi saya tau diri sajalah, siapa saya dan siapa dia. Selesai 1 semester dia balik lagi, dan kami ketemu lagi. Sempat berbincang-bincang di kantin kampus waktu itu, dan akhirnya, dia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke kampusnya. Entah apa alasannya, yang sempat saya dengar dari dia sih, katanya materi kuliahnya cukup bikin dia kewalahan. Padahal setau saya dia cukup pintar, terlihat dari nilai-nilainya juga cukup bagus.

Kemudian, semester baru di kampus kami, dia kemudian tercatat sebagai mahasiswa baru di jurusan Teknik Elektro, yang berarti satu fakultas dengan saya, hanya berbeda jurusan. Upps..sedikit mengherankan buat saya. Kenapa dia nggak melanjutkan aja kuliahnya di luar negeri yang sudah dijalaninya 1 semester? Tapi ya sudahlah, setiap orang kan punya pilihan. Kuliah di Teknik Elektro itupun tak lama, karena saya lihat dia memang lebih sering nongkrong di kantin dengan teman-teman dekatnya sampai kemudian ketika Ujian Akhir Semester tiba, dia juga tidak masuk kuliah. Dan setahun kemudian dia menikah dan sekarang sudah memiliki satu anak perempuan. Tidak melanjutkan lagi pendidikannya.

Dan sekarang, salah satu sepupu perempuannya juga sepertinya mengikuti jejak yang sama dengannya. Selesai SMU, dia masuk ke jurusan Arsitektur di universitas swasta lain masih di kota yang sama. Hanya mengikuti 2 semester saja. Kemudian, pada semester berikutnya, saya lihat dia masuk ke jurusan Teknik Komputer. Itupun hanya bertahan beberapa bulan saja, karena kemudian saya tak lagi melihat dia ada di lingkungan kampus. Yang saya dengar dia ke Jakarta. Saya pikir dia pindah kuliah, karena ketika Ujian Akhir Semester dia tak ada.

But, guess what, yup you are right. Ketika awal semester baru, saya melihat dia lagi di lingkungan kampus. Dan kali ini tidak mendaftar di universitas manapun. Come on, jikapun ingin bekerja di yayasan keluarga, tetap saja mereka harus memiliki gelar sarjana kan? Apalagi ini, yayasan pendidikan, tapi mereka sepertinya tidak mempedulikan pendidikan. Inkonsistensi dengan cita-cita luhur kakek mereka yang ingin memajukan dunia pendidikan di kota kami dan di Indonesia. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam pengabdian pada agama dan dunia, seperti yang tertulis pada piagam yayasan.

Ah, tapi sekali lagi hidup ini pilihan. Toh, jikapun mereka tidak bekerja, tidak memiliki pendidikan yang tinggi, mereka juga masih bisa memenuhi hidup mereka. Dalam artian masih bisa makan dan membiayai hidup mereka jika ingin bermewah-mewah. Dengan yayasan keluarga yang mengelola pendidikan dari TK hingga Perguruan Tinggi, sangat mencukupi untuk hidup keluarga mereka sampai 5 keturunan.

Saya hanya menyayangkan sikap mereka saja. Disaat pendidikan begitu penting bagi banyak orang, mereka yang punya begitu banyak akses dan kesempatan untuk menyempurnakan pendidikannya, tidak menganggap pendidikan itu penting. Ketika saya yang begitu ngotot belajar dan terus belajar lagi, masih berburu beasiswa untuk melanjutkan S2 saya, mencari kesempatan yang mungkin bisa membantu saya mewujudkan cita-cita saya, mereka justru menyia-nyiakan kesempatan itu. Sayang sekali.

Iklan

2 responses to “Tentang Pendidikan

  1. ruangperempuan 26 Desember 2009 pukul 2:56 am

    hiks..:(

    tapi apapun itu, Ibunya mas pasti bahagia di sana..:)

    • weirdaft 26 Desember 2009 pukul 5:08 am

      πŸ™‚ terima kasih. saya juga yakin beliau pasti berbahagia disana

      ehm, anyway, saya perempuan πŸ˜€

      *Kesekian kalinya dianggap laki2 :D*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: