Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Bersyukur

Udah seminggu saya kerja di tempat yang baru. Sebuah perusahaan konsultan IT untuk software Rumah Sakit. Dan udah seminggu juga saya beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan, suasana dan teman-teman ditempat yang baru. Dan pekerjaan yang out of my imagination. Beda dari yang pernah ada dipikiran atau dibayangan saya sekalipun. Tapi, sekali lancung ke ujian, surut kita berpantang. Setiap langkah yang udah diambil, nggak boleh mundur lagi ke belakang.

Dan hari ini, setelah seminggu belajar tentang teori dan praktek aplikasi yang harus digunakan untuk pekerjaan baru bulan depan, sampai juga pada bagian supervisi ruangan. Ikut para senior di tiap-tiap bagian, memperhatikan cara kerja tiap-tiap bagian, melihat masalah yang timbul dilapangan dan memperbaiki/memberi solusi kalau masalah itu berkaitan dengan aplikasi. Dan hari ini, setelah masuk ke ruang obgyn, mampir sebentar ke perinatology. Dan disitu, akhirnya bisa melihat RIZKA, bayi kaki empat, yang dititipkan di situ. Subhanallah… Allah Maha Besar, menciptakan makhluk dengan segala bentuk rupa. Rizka, bayi yang istimewa itu memang udah hampir 10 bulan diasuh oleh para perawat disitu, karena dia memang memerlukan penanganan khusus.

Tapi, Rizka yang tadinya cuma bisa saya lihat di koran, tv atau layar komputer saya, akhirnya bisa saya lihat didepan mata saya sendiri. Kondisinya, membuat hati saya ngilu. Bayi perempuan cantik itu, yang mestinya berkumpul bersama keluarga kandungnya, harus terpisah dikarenakan kondisinya yang istimewa itu. Benar-benar membuat hati saya ngilu. Lalu ada lagi seorang bayi yang kakinya harus digips, karena patah ketika proses kelahiran di rumah sakit lain. Mal praktek lagi, dan kali ini oleh masyarakat dengan Jamkesmas. Tak ada daya, untuk menuntut rumah sakit yang melakukan proses persalinan itu. Kecuali berpasrah dan berharap bayinya sembuh lagi.

Keluar dari perinatology, perjalanan dilanjutkan lagi. Melihat ruangan-ruangan lain, belajar lagi soal aplikasi dan mengatasi masalah di tiap ruangan. Sampai akhirnya harus tiba di Ruangan Kelas III. Dan kali ini yang harus saya lihat adalah pasien-pasien dengan jaminan negara alias gratis yang harus berkumpul 1 ruangan dengan berbagi kamar dengan 8 pasien lainnya. Dan kali ini yang saya lihat adalah pasien yang sepertinya sudah sering di kemotheraphy. Dengan kondisi kepala yang botak, laki-laki atau pun perempuan. Ah, sudahlah. Cukup saya menceritakan apa yang saya lihat siang tadi.

Dan apapun itu, dalam setiap langkah saya ketika terakhir melewati ruang Haemodialisa, dengan pasien yang menunggu giliran untuk cuci darah, membuat saya bergidik dan spontan memegang pinggang saya. Alhamdulillah, sampai hari ini Allah memberikan saya kesehatan yang membuat saya masih bisa bekerja dan nggak merepotkan keluarga saya.

Ditempat ini, akhirnya saya benar-benar bisa belajar mensyukuri setiap susah dan senang yang saya alami. Setiap takdir yang Allah beri buat saya. Dan setiap langkah yang sedang saya ambil untuk masa depan saya. Ditempat ini juga, saya belajar bersabar dari para pasien yang sedang menikmati rasa sakit yang Allah turunkan untuk mereka. Banyak sekali ilmu yang saya dapat disini. Bukan sekedar ilmu tentang pekerjaan dan komputerisasi. Tapi juga ilmu tentang hati.

Semoga saya termasuk daripada orang-orang yang mensyukuri nikmat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: