Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Orang-orang pintar yang tersingkirkan

Saya tak berminat dengan politik. Bukan pengamat politik. Tak peduli dengan politik. Bahkan (mungkin) sudah 5 kali pemilihan saya memilih GOLPUT. Buat saya, (meski dibantah oleh sebagian besar politikus) politik itu kotor. Politik hanya tentang kepentingan. Cuma kepentingan yang abadi di politik. Itu sebabnya, setelah selesai dari jabatan politik di kampus, saya lebih memilih bergabung di organisasi olahraga dan himpunan mahasiswa. Jauh dari hingar bingar perpolitikan kampus.

Tapi, belakangan ini saya mulai terusik dengan pemberitaan tentang Sri Mulyani. Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu I – II yang prestasinya bisa dibandingkan dengan para wakil rakyat yang cuma rapat di gedung yang minta diganti dengan anggaran 1,8 T. Perempuan pintar, tangguh dan punya segudang prestasi itu, bukan cuma tersandung. Tapi juga didorong jatuh. Satu kesalahan fatal membuat seluruh prestasinya tak berarti dimata anggota DPR. Saya tak ingin membahas secara politis disini. Karena saya memang tak pernah mengerti politik dengan segala pernak perniknya. Yang saya tau, kalau lembaga internasional sebesar Bank Dunia memanggilnya, apalagi yang bisa kita ragukan tentang kompetensinya?

Sri Mulyani “dipaksa” untuk mundur sebelum masa jabatannya habis. Dan bukan hanya sekali ini “prestasi” DPR, menjatuhkan orang-orang yang masih layak untuk berbakti pada negeri ini. Masih ingat orang pintar yang lain, BJ Habibie yang lebih memilih menetap di Muenchen daripada terhina dan tersudut dinegerinya sendiri. Yang lain, banyak yang memilih menetap di negara lain seperti Prof. Nelson Tansu yang lebih memilih menjadi Professor di Lehigh, Amerika Serikat, dari pada pulang ke Indonesia. Siapapun juga tau, bagaimana jadi dosen di sini (dan saya seorang dosen di perguruan tinggi swasta). Kemudian, Ken Kawan Soetanto, yang berhasil meraih empat gelar doktor dalam disiplin ilmu yang berbeda dari empat universitas berbeda adalah kelahiran Surabaya yang memilih untuk menjadi kepala divisi di Universitas Waseda, Jepang. Mereka pasti punya alasan untuk menetap di luar negeri daripada kembali ke Indonesia.

Mestinya kita lebih menyadari hal itu. Bahwa, jika orang-orang pintar yang ada diluar negeri difasilitasi untuk kembali ke Indonesia, membangun Indonesia seperti Professor Yohanes Surya, yang memilih untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Dan apakah beliau diikutsertakan dalam pemerintahan? Sepertinya tidak. Diberi penghargaan iya, tapi diajak untuk bertukar pikiran dan ide tentang bagaimana pendidikan Indonesia ke depan, sepertinya tidak.

Saya tak mengenal Sri Mulyani, dan siapalah saya yang berharap untuk dikenal Sri Mulyani. Bagaimanapun, beliau hanya manusia yang bisa berbuat salah. Tapi, sebandingkah kesalahannya untuk dihujat habis-habisan dengan prestasi yang sudah dia ukir, dan apa yang dilakukannya untuk Indonesia? Memang, sudah saatnya pemerintah, wakil rakyat, benar-benar mewakili rakyat. Bekerja hanya untuk kepentingan rakyat, bukan sekedar kepentingan golongan. Dan harus ingat, bahwa gedung yang mereka tempati, fasilitas yang mereka dan keluarga mereka nikmati, gaji yang mereka terima setiap bulannya adalah HASIL KERINGAT RAKYAT. Jadi, sudah sepantasnya mereka benar-benar bekerja untuk yang membayarnya. Yaitu rakyat.

Dan mulai sekarang, kita, seluruh aspek kehidupan bangsa benar-benar harus belajar menghargai hasil kerja orang lain. Bukan hanya sekedar bisa berkomentar, tapi juga membuktikan dengan kinerja yang paling tidak sama.  Sudah cukup mereka menyingkirkan orang-orang pintar yang masih berkompeten. Mau berapa orang pintar lagi yang “disingkirkan” dari negeri ini? Dan buatlah orang-orang pintar Indonesia yang berada diluar negeri untuk mau kembali lagi ke Indonesia.

Aarrgghhh….kalau orang-orang luar lebih menghargai prestasi orang-orang pintar kita, kenapa disini, di Indonesia tercintaku, menjatuhkan orang yang berada dipuncak adalah sebuah prestasi?? Mohon, rekan-rekan mahasiswa. Hentikan euforia kalian, sebelum segalanya menjadi lebih buruk.

1,8 Triliun untuk Gedung DPR yang katanya miring? TAK PERLU. Perbaiki kinerja kalian, wahai wakil rakyat yang tak pernah kupilih, baru kalian minta reward.

4 responses to “Orang-orang pintar yang tersingkirkan

  1. wahyuseptiarki 6 Mei 2010 pukul 11:33 pm

    Wah, mbak. Kalo ngomongin politik, saya angkat tangan dah. Doakan saja negeri ini menjadi lebih baik.🙂

    • weirdaft 8 Mei 2010 pukul 3:16 pm

      hehehe… saya nih bkn mau sok2 ikut2an politik sih. saya jg malah g ngerti klo politik. ini cuma sekedar pemikiran org yg susah tdr aja😀
      g ada mksd laen

  2. cicilia 11 April 2011 pukul 8:33 pm

    mengapa anda bisa tersingkirkan padahal pintar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: