Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Bicaralah, maka telinga akan mendengar

Dia seorang yang ekstrovert, maka dimanapun dia berada akan mudah menemukan banyak teman. Tak sulit baginya untuk beradaptasi di lingkungan baru. Hanya dalam hitungan jam, dia akan mulai menguasai keadaan dan mengenali area yang sedang dimasukinya. Lelaki, perempuan, tua, muda, siapapun yang mengenalnya akan langsung merasa dekat ketika dia mulai berbicara. Meski terkadang selalu itu yang menjadi sumber masalahnya.

Saya, kebalikannya. Introvert, kaku, sulit beradaptasi pada lingkungan dan suasana yang baru kali itu saya masuki. Bahkan, seorang rekan kerja saya yang ketika itu ditugaskan di Medan sempat menebak dengan begitu tepatnya ketika dia melihat saya menulis. Kamu pasti sulit beradaptasi ya orangnya. Buat kamu, di tempat baru itu merupakan hal yang sedikit menyiksa.” Itu katanya, yang langsung membuat saya terdiam, sekaligus menganggukkan kepala. Darimana dia tau kalau saya seperti itu? Dari tulisan kamu, yang tiap katanya berjarak. Itu menandakan kamu orangnya sulit beradaptasi, dan sedikit tertutup.” Dan kali ini saya tersenyum.

Sifat kami yang berbeda, dunia kami yang berbeda, memang saling melengkapi. Tapi tak jarang, justru itu yang menjadi sumber setiap pertengkaran. Ketika tanpa (atau dengan) sengaja saya menemukan satu nama yang tak saya kenal muncul di inbox smsnya dengan kalimat, “Mlm, gi ngpain? Dan satu kalimat itu saja akan langsung menyemburkan api dari hidung saya seperti Saphira yang mengamuk ketika Eragon disakiti.

Sejelas apapun dia menjelaskan tentang si pengirim sms, tetap saja saya akan terus meradang. Cemburu. Marah. Dan sebenarnya hanya karena saya tak ingin kehilangan. Itu saja.

Dan kali ini, masih dengan masalah yang sama. Saya menemukan nama lain lagi, karena firasat saya menuntun tangan saya yang meski berkali-kali saya tahan, menyentuh hpnya dan menemukan kalimat itu. “Sore…” Dan tak pelak, kali ini segala yang tertahan kembali menyembur. Sms demi sms terkirim dengan emosi yang menyertainya. Tanpa sadar, kami akhirnya saling menyakiti dengan kalimat-kalimat yang kami buat. Dan berujung dengan satu hantaman kepalan tangan saya di tembok dan hantaman-hantaman lain di pegangan tangga yang membuat salah satu teman saya spontan menahan saya menyakiti pegangan tangga kantor.

Segala perih menyebar, membuat pekerjaan menjadi sesuatu yang melelahkan buat saya. Menjalani detik demi detik mengerjakan tugas seperti siksaan. Usai menjalani kewajiban, saya meminta kepada Penguasa Langit dan Bumi, “Ya Allah, tolong lembutkan hatiku”. Saya tau, permintaan saya mungkin harus ada didaftar tunggu, mengingat saya bukanlah mahluk yang taat kepadaNya. Tapi saat itu, saya memang perlu Pegangan.

Ketika sampai waktunya pulang, dia sudah menunggu saya didepan. Seperti biasa. Menyerahkan helm tanpa suara, meski saya meminta maaf karena membuatnya menunggu. Dan kali ini, Tuhan punya banyak cara untuk memberitahu bahwa Dia mendengar dan mengabulkan doa saya. Ban depan motor saya kempes. Tepat didepan kami ada tukang tambal ban. Sambil menunggu perbaikan ban, kami berdiri. Dia membelakangi saya. Saya tau, amarah masih menguasainya. Begitupun saya. Bisa saja saya membiarkan suasana amarah ini menggantung dan menemani kami hingga pulang. Saling diam, tanpa bicara. Tapi, kemudian saya memanggilnya, meminta dia duduk disebelah saya dan mencoba membahas soal itu.

Percakapan kami terhenti ketika tukang tambal ban bilang bahwa motor sudah selesai diperbaiki. Percakapan itu menggantung. Tapi dia tak ingin membahasnya lebih jauh lagi. Saya hanya bisa menahan segala perih dibelakangnya. Dan segala kenangan yang telah kami lewati bersama, selama hampir dua tahun ini kembali melintas dalam benak saya. Dan tanpa sadar saya menangis. Dibelakangnya.

Mendekati rumah kosnya, dia melihat saya ke belakang. “Maafin aku ya. Aku memang salah. Maafin aku,” Dan airmata yang tadi sempat mengering kembali menggenang. Sambil terisak dibelakangnya, aku menjawab, “Kalau abang memang butuh waktu, aku mengerti.” Dia tersentak, menoleh sebentar kemudian menjawab dengan sedih, “Waktu untuk apa?” Waktu untuk menjauh sebentar dari aku. Aku tau abang jenuh. Tapi aku mengerti.” Dia menggeleng. “Kita bicara di kos”.

Sejak dengannya aku memang jadi cengeng. Tak pernah seperti ini sebelumnya. Orang-orang yang tau aku, mengenalku sebagai perempuan yang keras dan tak cengeng. Tapi dengannya, segala anggapan itu terpatahkan.

Di teras kos, aku cuma bisa menyeka airmataku. Perih. Dia melihatku dengan sedih. Menggenggam tanganku dan memelukku. Dan kami bicara. Inginnya, inginku. Dan kami bicara hingga selesai. Dan dia memelukku lagi. Lega.

Dia mengantarku pulang. Dibelakangnya aku bertanya, “Abang masih ingat tempat kita makan steak murah itu?” “Ingat, kapan ya kita ke situ lagi?” “Aku masih ingat dimana kita duduk waktu itu. Makanan apa yang kita pesan. Minuman apa yang kita minum. Becandaan kita waktu itu. Aku masih ingat semuanya.” Dia diam. Mencoba mencerna, kemana arah pembicaraan kali ini. “Tau kenapa aku masih ingat semuanya?” Dia menggeleng, “Nggak tau”. Aku menghela nafas, mencoba menahan tangis, “Karena, ketika kita selesai, sepanjang jalan pulang naik motor ini, abang pegang tanganku terus. Dan sampai kapanpun, aku nggak akan pernah lupa tentang itu.” Dan pertahananku kembali jebol. Dan dia cuma bisa mengusap wajahnya, lelah. Dan sedih.

Ketika aku berpamitan, dia cuma memegang tanganku. Erat. Erat sekali.

Dan permintaan maafnya saya tutup dengan kalimat yang akhir-akhir ini jarang kami ucapkan.

I Love You …


PS : tulisan yang ada disini yang mengingatkan saya, bahwa bagaimanapun canggihnya dunia teknologi berjalan, komunikasi verbal dan tatap muka adalah hal yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan setiap masalah. Thanks a lot, Simbok..

4 responses to “Bicaralah, maka telinga akan mendengar

  1. venus 11 Mei 2010 pukul 7:00 pm

    oh, ya tuhan. ternyata ngelink ke ‘diam’, padahal aku baru mau komen tentang pengalamanku. ya yg aku tulis di ‘diam’ itu *ribet yak* :p

    semua butuh proses, dear. setiap hubungan juga perlu proses untuk sampai di tahap di mana cemburu dan curiga2an jadi gak penting dan malah menggelikan. untuk percaya bahwa kita layak pun butuh waktu.

    hampir semua perempuan bermasalah dengan rasa percaya diri, rasa bahwa kita layak mendampingi kekasih kita. my case, aku butuh setengah taun sebelum aku bener2 percaya bahwa hubungan kami nyata. bahwa dia gak main-main dan bahwa dia gak akan kemana-mana. sebelum setengah taun itu, dikit2 aku mancing keributan gara2 hal2 kecil, dikit2 marah dikit2 curiga. sekarang hampir gak pernah, karena kalo mau mikir pake akal sehat, hanya dia yg cukup gila berani macarin perempuan dengan kondisi seperti aku sekarang ini. single mom, punya dua anak yg udah gede2, perempuan yang seumuran sama mamanya. dan itu udah lebih dari cukup. malu rasanya kalo masih mempertanyakan kesungguhan dan perasaannya.

    aaah malah curcol giniiii…. :p

    • weirdaft 12 Mei 2010 pukul 8:55 am

      aiiihhh simbok. setelah nangis2, kesel2 dan banting2 hape (eh mbok, beneran banting2 hp aku) aku ingat artikel yg ‘diam’ itu. dan akhirnya, menyingkirkan segala gengsi, aku lebih milih membicarakannya dari pada sekedar ‘diam’. dan memang bener, jauh lebih aman klo kita ngomong daripd cuma marah2 g jelas.
      dan sekarang aku jg mikir, klo udah saatnya benar2 belajar percaya klo sampai hari ini dia masih ada disini, didekatku, itu artinya dia emg g main2.

      aiihhh…senang nih simbok curcol disini, at least, diumur segini aku udh harus berenti marah2, ngambek2 g jelas kyk abege

      skali lg, makasih ya mbok. artikel2 simbok tuh kadang2 kayak nggetok kepalaku hehehe….😀

  2. wahyuseptiarki 11 Mei 2010 pukul 11:42 pm

    Wew, simbok curcol.😛 *dilempar ulekan*

    Bener banget artikelnya simbok itu, mbak. Fish to fish adalah cara komunikasi paling efektif. Dari gestur sampai ekspresi wajah, kita tahu. Bukan hanya telpon, email, atau bahkan sms yang multi interpretatif. Dan alhamdulillah, semua berakhir baik.🙂

    Selebihnya, saya setuju sama simbok dah.😛

    • weirdaft 12 Mei 2010 pukul 8:57 am

      alhamdulillah. udh saatnya emg menyingkirkan segala gengsi klo mau terus baik2 aja. dan saya belajar banyak dari simbok yg klo dilihat hubungannya saya Elia sumpah, bikin iri. romantissss abeeeesss… hehhe

      saya jg setuju banget sama simbok😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: