Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Menuju Era Teknologi

Sudah hampir 3 bulan saya bekerja di sebuah vendor IT yang berkantor di lantai 2 sebuah Rumah Sakit Umum Daerah di Medan. Dan sudah sebulan ini kami mulai menerapkan Sistem Informasi berbasis komputer tersebut. Perusahaan tempat saya bekerja merupakan vendor yang memenangkan tender dengan Departemen Kesehatan untuk membenahi Sistem Informasi Rumah Sakit yang selama ini masih manual. Menggunakan bolpoin dan kertas.

Rumah Sakit Umum Pusat di Medan, sudah menggunakan program yang dibuat oleh perusahaan tempat saya bekerja selama 2 tahun. Dan menurut laporan keuangan yang dikeluarkan setiap tahun mengalami peningkatan dengan pesat.  Tidak hanya dari keuangan saja, tetapi juga dari segi pelayanan menjadi lebih baik.

Mengingat bahwa keduanya merupakan Rumah Sakit Pemerintah yang melayani pelayanan kesehatan menggunakan Jaminan untuk Masyarakat Miskin, diperlukan sebuah sistem informasi yang transparan dan computerized untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat menjadi lebih baik.

Setelah melakukan pelatihan selama 3 minggu untuk pegawai dan honorer rumah sakit, maka pihak rumah sakit dan perusahaan memutuskan untuk melakukan implementasi selama 1 minggu dan dilanjutkan dengan penerapan langsung.

Dan sudah dimulai selama 1 minggu ini. Tapi ternyata, mengubah sesuatu hal yang sudah berjalan lama itu tidak gampang. Sulit malah. Mengubah stigma dan pola pikir orang-orang yang terbiasa manual, menukar kertas dan bolpoin dengan keyboard dan mouse ternyata tidak mudah. Ada resistansi dari beberapa pihak yang merasa bahwa penggunaan komputer ini jauh lebih sulit, membuat lama pelayanan dan tidak bisa diterima oleh beberapa oknum. Beberapa pegawai yang menangani bagian pendaftaran, penanggung jawab di pelayanan (perawat), bagian kasir dan … errrr…. dokter. Yup, dokter. Yang notabene adalah paramedis yang mestinya bisa menerima perkembangan teknologi dalam dunia kedokteran, sama sekali tak bisa menerima sedikit perubahan dalam pembuatan status pasien dari paper menjadi paperless. Dan pagi tadi, datanglah seorang dokter ke bagian pendaftaran yang bersebelahan dengan kasir, tempat saya bertugas mendampingi kasir. Marah-marah sambil membanting status pasien, “Pakai komputer malah makin lama. Udahlah, gak usah pake komputer, manual aja. Tulis aja di situ. Pakai komputer malah bikin ribet!!”

Ya Tuhan, seperti inikah sumber daya manusia yang diletakkan di Rumah Sakit Pemerintah? Harus seperti inikah mereka menanggapi perubahan yang memang harus terjadi dibelahan bumi manapun? Apakah mereka akan terus bertahan dengan kertas dan bolpoin, tak bisa menerima perkembangan teknologi yang jelas-jelas akan mempermudah dan menyingkat waktu mereka. Tak masuk akal. Dan para honorer, juga tak membantu sama sekali. Malah menyalahkan kami yang ada disitu untuk mendampingi dan memberikan pelatihan tambahan. Mereka juga tak akan dilepas begitu saja menggunakan komputer tanpa pendampingan.

Yang bisa saya lihat disini adalah penolakan karena mereka tidak bisa menerima perubahan. Perubahan yang meskipun mengarah pada kebaikan sulit untuk diterima begitu saja. Kami membawa perubahan untuk perbaikan sistem, memudahkan pekerjaan, mengurangi penggunaan kertas dan mendidik mereka untuk menggunakan komputer yang selama ini mungkin jarang mereka sentuh. Dan mengapa penolakan itu justru berasal dari seorang dokter? Itu yang saya herankan. Mengapa dia, dokter yang profesinya terhormat itu begitu marahnya karena dia tak bisa mencatat tindakan apa yang sudah atau akan dilakukannya untuk pasien sebelum dia memeriksa pasien tersebut? Bukankah dokter tugasnya untuk melayani masyarakat. Kenapa dia tak memeriksa dan melakukan penanganan terlebih dahulu baru mencatat tindakan apa saja yang dilakukannya? Bukankah keselamatan pasien jauh lebih penting daripada jasa medisnya?

Semakin lama saya bergabung di rumah sakit itu semakin bersyukur saya karena keinginan untuk menjadi Pegawai Pemerintahan itu sudah saya kubur dalam-dalam. Saya tak ingin seperti mereka, jadi orang picik yang tak bisa mengambil resiko. Berdiam terlalu lama pada comfort zone dan takut keluar dari zona nyaman saya. Tak bisa menerima perubahan dan takut pada perubahan.

Ah, kalau saja pak Onno W. Purbo melihat mereka hari ini, pasti akan miris. Justru di salah satu kota besar di Indonesia yang melakukan penolakan terhadap perkembangan teknologi informasi.

Semoga saja, beberapa bulan ke depan mereka mau mengikuti perubahan tersebut, untuk kebaikan bersama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: