Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Ar Rahmaan

Bukan hanya karena umat muslim akan memasuki bulan penuh berkah saya menulis tentang ini. Tapi entah kenapa, setelah sholat maghrib, saya tergerak membaca Al Qur’an yang ternyata sudah lama sekali tak saya sentuh. Hati saya begitu ingin membaca ulang Ar Rahmaan, surah ke 55. Bukan pula karena belakangan ini saya merasa dosa saya bertumpuk-tumpuk, bukan pula karena saya punya keinginan yang begitu tinggi sehingga kembali saya membaca kalam illahi dengan lisan saya yang tak sempurna ini.

Begitu saja. Tergerak begitu saja. Saya hanya ingin sekali membaca itu. Membaca surah tentang pertanyaan Tuhan kepada manusia tentang nikmat. Bahkan sekedar kedipan mata. Dan saya memang manusia yang tak pandai mensyukuri nikmat. Ketika Tuhan dengan arif dan adil membagi nikmat kepada seluruh umat manusia sesuai porsi yang harus diterima, malaikat tak pernah alpa menabur nikmat kepada saya. Dan saya selalu lupa, bagaimana cara bersyukur.

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Ah, kalimat ini begitu keras menohok batin saya. Kapan saya terakhir kali benar-benar bersyukur atas setiap hembusan nafas yang saya hirup dan keluarkan setiap detik? Kapan saya benar-benar bersyukur atas setiap kedipan mata setiap saat? Kapan saya benar-benar bersyukur atas setiap waktu yang saya jalani? Entah. Saya tak pernah tau. Sepertinya memang tak pernah.

Saya ingin, ketika saya kembali membaca Ar Rahmaan, saya tak lupa juga membaca Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan). Bukan karena saya telah mengetahui, jika saat membacanya itu pada malam hari kemudian ia meninggal, maka matinya seperti matinya orang yang syahid; jika membacanya di siang hari kemudian meninggal, maka matinya seperti matinya orang yang syahid.” Tapi karena saya memang benar-benar tidak mendustakan setitik pun nikmat yang telah Tuhan tabur untuk saya setiap detik. Karena itu. Karena benar-benar bersyukur.

Ketika saya bilang kepada tuan muda, bahwa saya begitu menyukai surah ini, saya juga menambah satu poin permintaan kepadanya. Bahwa ketika dia meminta saya menjadi istrinya, saya ingin mahar saya selain Apple Macintosh dan Al Qur’an digital, saya ingin dia menghafal Ar Rahmaan untuk saya. Jika pun tak bisa menghafalnya, cukup dengan membacanya saja. Insya Allah dengan lafaz yang benar. Jika pun Apple begitu berat baginya, cukuplah hanya Al Qur’an dan bacaan Ar Rahmaan saja untuk saya. Agar ketika saya memasuki kehidupan saya yang baru dengannya, saya berada pada pilihan yang tepat. Dan saya berdiri dibelakang imam yang tepat.

Saya bukan perempuan yang fanatik pada agama saya. Tapi Ar Rahmaan benar-benar menggugah hati saya, karena ini adalah tentang Maha Pemurahnya Allah pada setiap makhluk dilangit dan dibumi. Dan saya ingin, ketika tuan muda saya meminta saya kepada ayah saya dan ayah saya menyerahkan saya kepada tuan muda adalah karena kasih, cinta. Itu.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

4 responses to “Ar Rahmaan

  1. Ridwan 24 Agustus 2010 pukul 7:37 pm

    Ar-Rahman, salah satu surah favoritku… terima kasih

  2. Maman 22 Oktober 2010 pukul 6:41 pm

    Wahhh…kisah nya sangat menyentuh batin saya..!!
    Makasih,, mba bwt share kisah ini. . .! ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: