Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tentang hujan dan seorang perempuan

dari internet

Ada sebuah kisah. Tentang seorang perempuan yang begitu setia pada hujan. Menganggap bahwa hujan adalah kekasihnya. Setiap musim penghujan, kekasihnya selalu mendatanginya, dan dia menari dibawah hujan, kekasihnya. Hujan tak pernah datang tepat waktu. Dia hanya datang manakala dia suka. Dia hanya akan datang manakala bumi membutuhkannya. Tapi bagi perempuan itu, hujan adalah nafasnya. Entah bagaimana dia bisa hidup tanpa bernafas.

Sudah dua purnama berganti, tapi hujan belum juga datang. Hujan tak pernah berjanji akan datang. Tetapi hujan hanya akan datang manakala dia suka. Dan perempuan itu menanti disebuah lapangan luas. Menanti hujan, kekasihnya. Dia begitu rindu menari dibawahnya, berlari dibawahnya dan tersenyum dibawahnya. Bumi telah mengering, tapi hujan tak kunjung datang. Dan perempuan itu masih menanti dilapangan luas yang mulai mengering, tapi hujan belum juga datang.

Hujan tak pernah peduli, apakah perempuan itu akan mengering bersama rumput atau tidak. Hujan tak pernah peduli, meski cinta perempuan itu lebih besar daripada rasa sakit yang dideritanya akibat merindu pada sentuhan hujan, kekasihnya.

Lima purnama berlalu, dan hujan masih dengan angkuhnya menanti dibalik awan. Tak bergeming, meski perempuan itu mulai mengering. Hujan tau, bahwa masih ada perempuan-perempuan lain yang mencinta dirinya, mencinta hujan. Dan kepada merekalah dia memberikan sejuk airnya. Kepada perempuan-perempuan yang tengah menari genit dibawah sejuk airnya. Dan hujan tersenyum manis pada mereka.

Dilapangan luas yang mulai mengering akibat hujan yang tak kunjung datang, perempuan itu mulai terbaring. Melayu, mengering. Terbaring lemah bersama rumput yang mengering dan menguning. Dia akhirnya sadar, cintanya yang begitu besar ternyata tak berbalas. Bahkan diakhir deritanya, hujan tak juga turun menemuinya. Tapi dia tetap berbaring disana, dilapangan luas ditemani rerumputan yang menguning dan mengering. Dengan air mata yang mengering dan berbekas hitam di kedua pipinya.

Hujan, dengan segala keangkuhannya melihat lapangan luas yang mulai mengering itu. Dan melihat sesosok tubuh yang berbaring diantara keringnya rumput dengan bekas airmata yang menghitam dikedua pipinya. Perempuan yang mengakhiri penderitaannya bersama kekeringan, tanpa hujan.

Belum pernah ada yang memuja hujan seperti perempuan itu mempersembahkan seluruh cinta dan hidupnya kepada hujan. Perempuan itu tak seperti perempuan lain, yang menanti hujan hanya karena ingin menari dibawahnya. Yang akan segera berlalu meski hujan masih mengguyur bumi. Tidak seperti perempuan itu. Dia selalu menemani hujan hingga hujan menyelesaikan tugasnya. Dan membiarkan tubuhnya mengering bersama angin yang tertinggal ketika hujan pergi. Dan terus menanti meski hujan tak kunjung datang.

Tapi kini, perempuan itu berada pada ujung takdirnya yang telah ditentukannya sendiri. Mengering, hingga sang waktu menamatkan cerita hidupnya dan cintanya pada hujan yang dibawanya hingga diujung kematian. Disisa tenaganya, perempuan itu menengadah menatap langit. Melihat awan hitam yang menggantung berat dan padat. Menunggu untuk mencurahkan bebannya . Hujan, kekasihnya yang dirinduinya. Dia tersenyum, akhirnya hujan datang menemuinya. Meski itu adalah hujan yang bisa dia nikmati untuk terakhir kalinya.

Hujan berada pada ujung penyesalannya. Hujan menangis. Tak pernah hujan datang diatas lapangan itu seperti ini. Murka. Menangis, meraung, meratap. Menyesali semua yang telah terlambat. Tak akan ada lagi yang memuja hujan seperti perempuan itu memuja kekasihnya. Meski petir dan kilat menyambar, mencoba membangunkan perempuan itu dari tidur lelapnya, tetap tak bisa. Perempuan itu telah masuk pada akhir takdirnya. Pada tidur panjang, dengan senyum, karena akhirnya hujan datang, meski diakhir hidupnya. Dan segala penyesalan selalu datang diakhir cerita, selalu datang terlambat.

Untuk terakhir kalinya, sebelum perempuan itu diangkat ke angkasa, untuk menemui Penciptanya, dia sempatkan untuk mendekati hujan yang masih meratapi takdirnya. Perempuan itu tersenyum pada hujan, seraya berbisik, “Mencintaimu adalah seperti menghela nafas, bagaimana aku bisa berhenti?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: