Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Sesapan Kopi

dari mana-mana aja

Aku masih menikmati aroma kopi yang tak matang itu. Alangkah lebih nikmatnya, jika bisa menyeduh butiran hitam yang harum itu dengan air panas yang mendidih, bukan dari dispenser yang harus menunggu giliran agar airnya benar-benar panas (dan bukan mendidih). Tapi sudahlah, di kantor yang penuh dengan canda tawa dibarengi dengan kesibukan dan rutinitas itu hanya tersedia seperangkat dispenser untuk menyeduh apapun dengan air panas (dan bukan mendidih).

Sama seperti pagi dan sore sebelumnya, selalu kuhadapi segelas penuh kopi jatah mingguan kantor yang sepertinya hanya tersedia untukku dan Syahrul yang rutin meminumnya setiap pagi dan sore dengan kekentalan yang nyaris sama. Menikmati sesapan demi sesapan diantara rutinitas yang harus dijalani (kalau tak mau disebut mulai membosankan). Hari-hari tanpa kopi, buatku adalah sama seperti hari-hari tanpa kamu. Agak terlalu hiperbola jika aku bilang seperti sup kekurangan garam dan kebanyakan kentang. Tapi begitulah, kamu, hujan, kopi dan buku adalah daftar penting dalam hidupku, sekarang. Entah nanti.

Aku masih menikmati sesapan demi sesapan kopi pahitku. Sambil berpikir. Tentang hidup, tentang tawa, tentang sedih, tentang cinta. Dan tentang kamu, yang saat ini sedang berpikir entah tentang apa. Mengenalmu, membuatku belajar banyak hal. Tak hanya tentang kamu dan cinta. Tapi juga belajar menangis, belajar cemburu, belajar melepas amarah, belajar melepas topeng dan belajar (benar-benar belajar) mencintai. Buatku, mencintaimu hampir sama seperti menyesap kopi pahit buatanku. Lidahku harus mencari-cari manisnya sesendok gula yang telah melarut dalam segelas air dan tercampur seluruh dengan 3 sendok teh kopi yang membumbung. Tanpa krimer.

Mencintaimu, membuatku harus tetap mempertahankan rasa manis yang terkadang tercampur pahit yang sering kali aku buat sendiri. Rasa pahit yang membuatku harus mengalirkan atau menahan air mata. Rasa pahit yang membuatku harus menahan amarah atau melepas cemburu. Dan rasa pahit yang membuatku tertawa diantara perih. Tapi kamu harus tau, tak selamanya rasa pahit itu buruk. Karena aku ingin, diantara rasa pahit itu, kamu merasakan pekatnya cinta yang mengalir disela-sela pahitku. Dan ketika kepekatan itu menyentuhmu, maka kamu akan menyadari bahwa akulah satu-satunya perempuan yang mampu membuatmu mencampur perih dan bahagia dengan kadar yang kebalikan dari campuran kopi dan gulaku.

Aku masih menikmati sesapan demi sesapan pahitnya kopi yang semakin akrab dengan lidahku yang sekarang lebih suka mengenali rasa pahit daripada manis. Dan mestinya, seperti itu juga hidupku. Mestinya aku juga harus belajar terbiasa untuk menikmati rasa pahit diantara manisnya hidup yang bisa saja menyimpan keburukan. Siapa yang tau? Toh, hidup juga menyimpan begitu banyak kejutan untukku.

Dan aku, masih akan tetap menyesap pahit kopi buatanku, meski kadang pahitnya harus tinggal selama sejam dilidahku. Aku mulai terbiasa. Sama seperti aku harus terbiasa untuk menahan tangis dan lebih banyak tersenyum. Meski terkadang akan sedikit meninggalkan sesak pada sebongkah hati yang menjadi rapuh belakangan ini.

Dan aku akan tetap menikmati sesapan pahit kopi, sama seperti nikmatnya menyesap tawa diantara pekat hidupku.

Dan kamu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: