Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Ketika Perbedaan adalah Rahmat

This night is a christmas eve for my friends. Untuk David, Enike, Vera, Hengky, Coky, Kak Lina, Lidya, David Simanjuntak, Putri, Christina Togiana, Lena, dan teman-teman yang pernah saya kenal dan mengenal saya yang beragama Nasrani. Juga beberapa teman maya yang saya temui di ruang-ruang maya. Dan seperti mereka yang mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada saya dan teman-teman Muslim lainnya, maka ketika tadi siang Vera berpamitan pulang lebih awal, saya dan Dina dengan tulus berseru, “Merry Christmas, Ver”. That’s it, tanpa tendensi apa-apa.

Timeline twitter juga dipenuhi dengan ucapan-ucapan selamat natal yang berseliweran oleh teman-teman maya saya. Sampai akhirnya, sebuat tweet dari seorang teman maya menghentak relung hati saya. Sebuah artikel yang mengharamkan mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nasrani. Astaghfirullah… Dan hati saya serta merta bergejolak. Mengapa sebuah ucapan bisa menjadi begitu fatal untuk keyakinan saya? Ada hal yang tidak saya mengerti disini. Ketidakmengertian oleh seorang  Muslim yang fakir tentang ilmu agamanya.

Saya percaya Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maha Adil, Maha Kaya dan Penguasa segala apa yang ada dilangit dan dibumi. Saya mengakui Islam sebagai jalan saya untuk menuju Allah. Saya mengakui bahwa Muhammad adalah lelaki terbaik pilihan Allah yang diutus untuk menerangi manusia dari alam gelap gulita. Dan saya percaya, bahwa ISLAM adalah RAHMATAN LIL ALAMIN, RAHMAT UNTUK ALAM SEMESTA. Dan dalam surah Al Kafiruun Allah juga menegaskan, bahwa “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. Itu saja.

Lalu, mengapa hanya sebuah kalimat ucapan selamat merayakan hari raya bisa begitu fatal untuk keyakinan saya? Itu yang saya tidak mengerti. Sejarah Rasulullah SAW yang pernah saya baca, Rasulullah SAW juga bisa bertoleransi terhadap agama Yahudi dan Nasrani yang tinggal diwilayah Muslim, tidak memaksakan mereka untuk masuk ke agama Islam. Lalu, kenapa sekarang kita justru saling menjelekkan satu sama lain? Kita memang berbeda. Dan itu sudah pasti.

Teringat perjalanan ke Danau Toba beberapa waktu lalu. Bersama para BVKers (sebutan untuk para karyawan tempat saya bekerja a.k.a teman-teman satu kantor) selama 2 hari 1 malam pergi ke Danau Toba, Parapat. Perjalanan dilanjutkan ke Pangururan, Samosir dan beristirahat di rumah saudara David. Kami bermalam disana. Makan, tidur dan sholat, untuk kemudian kembali ke penginapan di Parapat. Dan seperti David, saudaranya juga Nasrani. Ketika waktu Subuh tiba, kami sholat berjamaah diruangan yang ada salib dan gambar Yesusnya. Dan tuan rumah, saudara David yang Nasrani menyediakan sebuah alas yang bersih sebagai sajadah. Tentang kesucian tempat, hanya kepada Allah kami percayakan. Tapi toleransi dan apresiasi yang tercipta pada saat itu, benar-benar indah. Begitupun ketika perjalanan pulang kembali ke Medan, ketika waktu Ashar dan Maghrib tiba, teman-teman yang Nasrani tidak keberatan untuk menghentikan mobil di masjid, agar kami yang Muslim bisa beribadah tepat pada waktunya.

Maka, ketika esok adalah Natal untuk umat Nasrani, ketika ucapan yang saya berikan seolah menjadi bumerang untuk diri saya dan keyakinan saya; hanya kepada Allah saya serahkan segalanya. Apakah ucapan ini (menurut penulis artikel itu) adalah sebuah legitimasi saya terhadap kepercayaan umat Nasrani, saya percaya Allah yang lebih tau tentang isi hati saya. Tentang cinta saya kepadaNya, kepada RasulNya, kepada KitabNya dan kepada Surah Ar Rahmaan.

Laa kum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku. Kita memang berbeda, saudaraku. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Tapi Islam adalah agama yang penuh dengan rahmat untuk alam semesta, saya percaya bahwa perbedaan yang tercipta diantara kita, adalah rahmat bagi alam semesta. Dan Allah, Tuhan yang saya percayai adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pemberi Ampunan.

 

Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakannya.

2 responses to “Ketika Perbedaan adalah Rahmat

  1. chiil 25 Desember 2010 pukul 7:33 am

    mbaaaaaaaa.. aku mau peluk😀
    makasih yaaa ucapannya.. tentang keyakinan ini memang lagi sensitif banget ya, tapi semoga kita tetep hidup berdampingan dengan damai ya mbaa🙂

    • weirdaft 25 Desember 2010 pukul 2:25 pm

      *hug mamat*

      sangat sensitif mat, dan kadang2 semakin diperuncing dengan ulah orang2 yg memang gak suka damai

      tapi, apapun itu, kita tetap harus hidup berdampingan dengan damai ya mat

      anyway, merry x-mas yaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: