Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Hujan

hujan dari google

Aku benci hujan. Sangat. Tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Sebelum tangan kasar itu menyentuh bagian paling pribadi tubuhku. Sebelum penantian-penantian ketika hujan membuyarkan segalanya. Masa depanku. Sebelum segala kesialan itu menimpaku, aku sangat mencintai hujan. Ketika rinainya membasahi rambut dan tubuhku, maka pada saat itu juga aku akan menari dibawah hujan. Menari bersama hujan.

Aku membenci hujan, sekarang. Sangat. Ketika hujan menghalangi kepulangan Emak dari pabrik tempatnya mengais rejeki untuk menutupi kebutuhanku dan kedua adikku. Termasuk kebutuhan lelaki bengis yang dipaksa Emak untuk kupanggil Bapak, tiga bulan yang lalu. Lelaki yang membuatku akhirnya membenci hujan.

Aku benar-benar membenci hujan. Ketika hujan menutupi teriakan tak berdayaku akibat berkali-kali harus merasakan kepedihan pada tempat yang sama berulang-ulang. Berulang-ulang. Berulang-ulang. Teriakan-teriakan kepedihan yang tertutupi oleh hujan yang menghantam atap seng. Semakin lebat hujan yang jatuh, maka akan semakin lama penderitaanku.

Mengapa selalu hujan yang seolah mengijinkan perbuatan laknat yang dilakukan laki-laki keparat itu padaku? Mengapa hujan tak pernah adil padaku? Dan ketika belakangan hujan jatuh lebih sering, bahkan Emak pun seolah setuju dengan hujan. Berkali aku cerita pada perempuan tercinta itu, bahwa tubuh mungilku tak sanggup lagi menahan siksaan ini. Bahwa ketika hujan turun, maka aku adalah budak lelaki keparat itu. Betapa kini aku malu bertatap muka dengan Rio, lelaki tampan yang memiliki kumis tipis diwajah remajanya. Betapa aku tak sanggup lagi menahan sesak pada perutku, ketika harus menimba air dan melakukan tugasku sebagai anak perempuan tertua dirumah ini. “Ada sesuatu disini, Mak”, rintihku berkali-kali sambil menunjuk perutku. Tapi Emak hanya bisa menatapku sedih,, tanpa bisa berbuat apa-apa. Emak tak berani mengatakan kepada lelaki pemabuk itu untuk menjauhiku. Bahkan, seragam putih biru yang baru kukenakan dua tahun ini pun sudah tak muat lagi pada bagian perut.

Aku benar-benar membenci hujan. Pada hujan yang ke sekian kalinya, cibiran orang-orang disekolah akhirnya membuatku berhenti melangkahkan kaki ke gedung putih berhalaman luas itu dan membuatku harus mengubur dalam-dalam cita-citaku untuk menjadi perawat. Dan pada hujan yang ke sekian kalinya, yang harus kulewati dengan siksaan yang sama itu, pada tempat yang sama, tak peduli bagian perutku semakin dan semakin membesar, aku memutuskan untuk mengakhiri siksaan hujan padaku. Aku tak sanggup lagi mendengar berisik jatuhnya hujan diatas atap seng dikamar Emak dan rintihan lelaki keparat yang akan selalu menguasai tubuhku kala hujan datang.

Kali ini, akan menjadi hujan terakhir yang menyiksa hidupku. Ketika tubuh besar, mulut berbau alkohol dan tangan kasar itu mulai mendekati tubuhku, secepat kilat aku mengayunkan pisau dapur itu pada sesuatu yang membuat perutku membuncit. Melepaskannya dari tempat yang seharusnya. Sesuatu yang menjijikkan yang membuatku harus menerima tatapan iba dari Rio, lelaki tampan yang tak akan pernah kumiliki itu. Begitu sesuatu itu lepas dari tempatnya, aku mencincangnya hingga hancur. Tak kupedulikan teriakan lelaki bangsat itu. Teriakan yang tertutup oleh suara hujan dan suara tawaku yang terdengar begitu mengerikan, bahkan oleh telingaku sendiri.

Hari ini, hari Rabu. Adalah hari terakhir aku mendengar hujan jatuh dibawah atap seng kontrakan yang dibayar Emak setiap bulan. Hari ini adalah hari terakhir aku membiarkan hujan menyiksaku dengan keangkuhannya. Karena, ketika aku mengeluarkan sesuatu yang mengganggu hidupku dari perut buncitku itu, hujan berhenti. Tepatnya, aku berhenti mendengar suara hujan.

Jika hujan tak bisa menghentikan siksaan itu padaku, maka aku yang akan menghentikannya. Karena dengan begitu, aku tak lagi mendengar suara hujan. Hanya sepi.

 

 


PS : tulisan ini untuk #proyekhujan
Tak pernah terbayangkan, jika aku harus hidup seperti ini

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: