Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tentang Wakil Rakyat dari Sudut Pandang Seorang GolPut

Baiklah, politik memang bukan wilayah saya. Berkali-kali saya sebutkan itu dalam setiap tulisan serius saya. Saya tak pernah paham tentang politik, sedikit bingung. Sebingung ketika saya membaca terjemahan Il Principe-nya Niccolo Macchiavelli, buku tua yang terselip diantara novel-novel dan buku-buku filsafat di perpustakaan kampus beberapa tahun yang lalu. Saya memahami petuah-petuah Godfather, tapi politik? Jauh dari akal saya. Tak paham.

Apalagi sebagai Golongan Putih selama beberapa kali pemilihan, seseorang pernah mengatakan bahwa saya tak pantas untuk berkomentar apapun tentang negeri ini, karena saya memilih untuk tidak memilih. Jadi, jika sesuatu terjadi pada negeri ini, sebagai Golongan Putih, saya cuma bisa melihat, tak boleh berkomentar. Apatah lagi protes.

Tapi, kelakuan para Anggota Dewan yang merupakan wakil rakyat pilihan wakil rakyat selama beberapa hari ini menjadi sorotan serius di berbagai media. Kelakuan minus yang ditunjukkan mereka yang katanya, mengaku berpendidikan, terhormat dan pintar itu. Kelakuan yang tak pantas dilakukan oleh orang-orang kepada rakyat yang “menggaji” mereka. Dengan sombongnya mereka mempertontonkan ketidakpatutan mereka kepada rakyat yang harus berkeringat, berpanas dibawah matahari hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mana janji-janji yang pernah mereka ucapkan ketika masa kampanye terdahulu? Hilang lenyap seperti asap tertiup angin.

Sudah lama saya tak melihat berita-berita di televisi yang belakangan juga dikuasai para birokrat pemerintah. Alhasil, televisi yang mestinya jadi hiburan buat saya, menjadi sesuatu yang saya jauhi. Tak sudi saya melihat kumpulan-kumpulan shitnetron tak bermutu dan berita-berita yang dipelintir sedemikian rupa dari corong-corong pemerintah. Internet adalah tempat saya mencari tahu hal-hal yang terjadi. Menjauhi hal-hal yang tak ingin saya lihat.

Tapi, selain Breaking News di televisi swasta, Social Media adalah tempat paling tepat untuk memberitahu apapun kepada khalayak. Internet adalah media tercepat untuk mengetahui berbagai informasi. Dan akhirnya memang, usai para lelaki di kantor sholat Jum’at, saya melihat berita dari timeline twitter saya dari media online yang saya follow, detik.com. Tentang seorang wakil rakyat, bernama Arifinto yang kedapatan membuka sebuah film porno dari ipadnya, sebelum sholat Jumat. Dilakukan pada saat sidang paripurna DPR, di gedung yang mereka bilang tempat terhormat, menggunakan fasilitas yang memakai uang pajak rakyat dan akhirnya menerima gaji dari rakyat yang memeras keringat setiap hari. BETAPA ZHALIMNYA ANDA, WAHAI WAKIL RAKYAT! Dari sebuah partai yang mengaku sebagai partai dakwah, partai bersih, profesional berlandaskan Islam. Dan dibela habis-habisan oleh anggota partai lain yang setiap harinya berkicau di timeline-nya tentang Tuhannya, etika dan segala macam kicauan yang tak penting. BETAPA MUNAFIKNYA ANDA, WAHAI MENTERI KEM**FO!

Kemudian, hari ini kembali saya menemukan lagi kebusukan mereka. Kali ini MARZUKI ALIE. Beliau, sebagai Ketua DPR yang terhormat akan diadukan ke BK DPR, terkait persetujuannya untuk membangun Gedung Baru DPR yang penuh dengan kebohongan (bisa baca disini) dan pernyataannya yang benar-benar menyinggung perasaan saya sebagai seorang rakyat (meski saya GolPut).

“Bagi rakyat biasa, dari hari ke hari, yang penting perutnya berisi. Itu saja sudah jalan, makan, kerja, ada rumah, ada pendidikan, itu selesai buat rakyat. Jangan diajak ngurusin yang begini. Urusan begini orang-orang pintar diajak bicara, ajak kampus-kampus bicara kita diskusikan,” ujar Marzuki.

Buat saya, cukup jelas pernyataannya ini. Bahwa rakyat yang ada dibawah mereka cuma sekumpulan orang-orang bodoh yang tak layak mengurusi negeri ini. Bahwa saya, tak pantas khawatir tentang negeri ini. Hey, saya memang GolPut, tapi saya membayar pajak untuk menggaji mereka. Kalau saja 100 juta rakyat negeri ini sepakat untuk tidak membayar pajak, siapa yang akan menggaji mereka? Hey, wakil rakyat, kami adalah boss kalian!! Ingat itu!!

Kemudian, seorang wakil rakyat yang lain. Sang hedon, penikmat duniawi dari partai beringin yang sempat belajar etika di Yunani dan kemudian menikmati tari perut di Turki.Nudirman Munir yang terhormat.

Ia mengaku tampak merasa terhina berkantor di gedung megah DPR yang ada sekarang ini. “Kita jangan aneh-aneh membandingkan dengan rakyat yang susah. Itu jelas berbeda. Apa kita harus tinggal di gubuk reot juga, becek-becekan, kita harus realistis,” ujarnya dalam sidang paripurna itu.

Waaaah……hebat sekali pernyataannya itu. Apa dia pikir, yang memilih dia waktu itu adalah SETAN? HANTU? Dimana diletakkannya otaknya ketika mengatakan itu? Kali ini saya marah! Ratusan juta rakyat kecil dia lecehkan dengan pernyataannya itu. Kemudian, apakah masih pantas dia menikmati kursi panas itu, dibayar dengan gaji berjuta  rupiah itu?

Nudirman mengaku malu ketika harus menunjukkan ruangannya kepada beberapa Bupati yang datang berkunjung. “Bupati berkunjung ke ruangan saya, dia katakan ruangan pembantunya saja lebih besar dari ruangan anggota dewan,” ujarnya.

Kemudian, apakah anda, para pemilih tetap akan berdiam diri saja melihat kenyataan yang sekarang terjadi didepan mata? Keegoisan yang dilakukan oleh para wakil rakyat yang anda pilih dengan berjuta harapan? Apakah anda rela dikhianati begitu rupa oleh mereka yang mengaku mewakili rakyat, berbuat untuk kepentingan rakyat? Rakyat yang mana?

Sudah waktunya kita bertindak menjadi boss dinegeri ini. Beritahu mereka, bahwa anda, para pemilih juga berhak menentukan nasib mereka. Pecat saja mereka-mereka yang anda anggap tak pantas mewakili suara anda. Mereka yang egois, yang tak pernah memikirkan nasib anda.

Tunjukkan kepada mereka, wahai rakyat Indonesia, bahwa KEDAULATAN ADA DI TANGAN RAKYAT!

Iklan

2 responses to “Tentang Wakil Rakyat dari Sudut Pandang Seorang GolPut

  1. Nich 18 April 2011 pukul 12:54 am

    Saya pernah singgung masalah golput di blog saya (Pemilu 2009).

    Ya, bagi saya, golput yang tidak saya suka adalah yang “unjuk gigi” dengan tidak hadir ke TPS. Saya justru senang kalau ada yang golput; dia datang ke TPS, lalu kasih tahu kalau dia golput (entah coblos semua pilihan, atau siapin spidol lalu tulis “GOLPUT, WAK” gitu) :p

    Benar bahwa para wakil rakyat itu “digaji” oleh rakyat, melalui pajak. Dan semoga mereka jangan pongah hati, lalu mengulang kasus Ivan Brimob yang dulu sempat naik pamor :p

    • weirdaft 19 April 2011 pukul 10:20 pm

      😀 setiap pemilu pasti, saya selalu datang. gak pernah alpa, org saya ini petugas KPPS kok. eh, tapi biarpun petugas, saya kan jg punya hak politik sendiri. memilih untuk tidak memilih. paling tidak, klo suara saya batal, kan jdnya abstain. gak ada bedanya toh, dgn mereka yg duduk disana.

      Nah, jd karena digaji oleh pajak rakyat, mintanya sih mereka2 yg disana itu tau diri dgn kedudukannya. gitu aja kok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: