Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Perempuan

Mungkin banyak yang meragukan, terutama teman-teman yang mengenal saya dekat, bahwa saya perempuan. Secara fisik dan jiwa. Perempuan. Meski mungkin ada sedikit tingkah, style, pola pikir, ucapan yang agak berbeda dengan perempuan lain, tapi sumpah, saya ini perempuan. Benar-benar perempuan. *Apa sih?*

21 April adalah hari Kartini yang kita peringati setiap tahun. Dengan cara yang sama. Setiap tv swasta atau nasional biasanya menampilkan presenter perempuannya selama sehari penuh untuk setiap tayangan, lalu menampilkan tayangan-tayangan yang mengedepankan perempuan. Lalu disekolah-sekolah akan diadakan lomba Kartini, kebaya Kartini, sanggul Kartini, apalah yang berhubungan dengan Kartini. Meski sebenarnya Kartini bukan satu-satunya perempuan pelopor di negeri ini. Tak perlulah kita mengulang sejarah tentang para perempuan pelopor di Indonesia ini. Meski mungkin ada yang merasa tak adil, bahwa emansipasi sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 11 September 1599 ketika seorang perempuan bernama Malahayati memimpin 2000 pasukan perempuan berperang melawan kapal-kapal dan benteng Belanda dari atas geladak kapal dan membunuh Cornelis de Houtman hingga akhirnya mendapat gelar Laksamana. Bukan ketika seorang perempuan menuliskan berlembar-lembar surat kepada sahabatnya, jauh setelah Laksamana Malahayati menunjukkan kemampuannya sebagai seorang perempuan.

Maaf, jika saya terbaca begitu skeptis terhadap “perjuangan” seorang Kartini. Tapi, saya adalah generasi yang membutuhkan bukti nyata jika ingin dipercaya. Dan karena perjuangan seorang Laksamana Malahayati yang merupakan Laksamana perempuan pertama di dunia,  Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dhien atau Dewi Sartika yang benar-benar membangun sekolah sendiri dengan tangannya yang benar-benar sudah terbukti. Bukan sekedar menulis surat. Maaf, jika ada yang tak sependapat. Toh, dalam hidup saya, begitu banyak orang yang merasa tak sependapat dengan saya. Jadi boleh kan, kali ini saya tak sependapat dengan anda.Toh, bukan hanya saya yang tak sependapat. Jika anda googling dan ingin mencaritahu tentang Kartini, anda juga akan menemukan bahwa ada yang merasa bahwa gelar pahlawan nasional untuk Kartini itu kontroversi.

Dan disini, saya pun sedang tak ingin memperpanjang gugatan atau kontroversi itu. Saya hanya ingin merayakan hari perempuan. Sebagai perempuan, tentu saja. Dan perempuan terhebat menurut saya tentu saja Emak. Satu-satunya perempuan yang mengerti bahwa dibalik keperempuanan saya, tersimpan semangat yang dia yakin saya bisa mewujudkannya suatu hari nanti. Dan saya bersyukur, satu keinginannya dari saya telah saya penuhi. Dengan ikhlas. Emak percaya, bahwa meski saya perempuan saya bisa meraih mimpi tertinggi yang berani saya impikan. Dan untuk itu, hingga hari ini, setelah delapan tahun kepergian Emak, saya belum berhenti bermimpi.

Saya bersyukur, hidup dalam sebuah keluarga yang mengedepankan pendidikan, tak memberi celah pembeda antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga kami. Meski Ayah dan Emak juga bukan orang yang berpendidikan tinggi, hanya lulusan SMP. Tapi ketiga anak mereka adalah sarjana dan ahli madya. Dan sebagai perempuan, saya bebas dan diberi kesempatan untuk berkarya sesuai minat dan bakat kami. Hingga akhirnya, saya bisa begitu mencintai dua pekerjaan saya.

Sebagai perempuan yang hidup di era globalisasi seperti sekarang ini, mestinya kita bisa berbuat lebih banyak lagi. Akses pendidikan, informasi, pengetahuan, segala yang kita mau bisa kita raih sekarang. Tapi hitunglah, berapa banyak perempuan yang beruntung yang bisa mendapatkan itu semua di Indonesia? Toh hingga hari ini kita masih mendengar begitu banyak berita duka tentang perempuan. Meskipun banyak juga perempuan yang mampu bangkit dan bersaing dengan laki-laki. Dan akhirnya lebih berhasil dari laki-laki. Berhasil, karena perempuan mampu bekerja dalam bidang yang mereka minati dan mampu mendidik keluarganya menjadi keluarga yang berhasil pula.

Karena, seperti itulah seharusnya perempuan. Jika hal ini ditanyakan ke saya, belum tentu saya mampu berperan ganda seperti itu, sebagai pekerja dan sebagai ibu bagi sebuah keluarga yang harus bahagia. Lagipula, saya toh belum menikah ^_^

Menjadi perempuan yang berani, itu juga yang harus menjadi cita-cita kita bersama. Berani untuk menjawab tantangan yang ada didepan. Berani untuk tidak menuntut terlalu banyak untuk diistimewakan dalam dunia kerja. Berani untuk berdamai dengan keadaan, apapun yang terjadi. Berani untuk menjadi perempuan yang bahagia. Berani untuk membahagiakan orang-orang disekeliling kita. Berani untuk bersaing secara sehat dengan laki-laki. Berani untuk menjalani kodrat sebagai perempuan.

Maka, untuk perempuan-perempuan hebat Indonesia yang saya kenal maupun tidak :

SELAMAT HARI KARTINI, SELAMAT HARI PEREMPUAN

21.04.11

4 responses to “Perempuan

  1. nich 25 April 2011 pukul 10:09 am

    Referensinya bagus :jempol:

    Berani ini-itu, dimulai dengan rasa kemerdakaan, rasa lepas dari ketergantungan (bukan hanya lepas dari kekangan).

    • weirdaft 25 April 2011 pukul 4:56 pm

      terima kasih, bang

      setuju. setelah lepas dari kekangan, maka pertanyaan berikutnya “what next?” dan akan ada pertanyaan-pertanyaan lain yang akhirnya akan menjadi sebuah bukti nyata.

  2. Pingback: Undangan Terbuka: Antologi Mencatat Perempuan « Opera Aksara

  3. Pingback: Undangan Terbuka: Antologi Mencatat Perempuan | archivelomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: