Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Sebuah Tamparan

dari sini http://layanglayang.wordpress.com/2009/11/26/tanda-tanya/

“Wawa udah lama, gak liat aunty sholat.”

Saya terdiam mendengar satu kalimat itu dari bibir anak umur 6 tahun, keponakan saya. Tercenung, dan akhirnya merasakan tamparan yang begitu pedas. Tak pernah seperti ini sebelumnya, ketika ada orang yang mengingatkan saya untuk tak meninggalkan ibadah saya. Orang-orang yang sayang pada saya, sehingga mau berbaik hati mengingatkan saya untuk tak lalai. Peringatan yang lebih sering tak saya gubris, karena ibadah kepada Tuhan saya adalah jalur vertikal yang hanya menjadi urusan saya denganNya. Jadi, jangan urusi urusan saya denganNya. Begitu selalu.

Tapi, kalimat Wawa membuat saya merasa bahwa, saya memang sudah terlalu jauuuh sekali berjalan dari garis lurus yang sudah ditetapkanNya. Bukan cuma bergeser, tapi sudah melenceng jauh. Ah, Rabb, malu saya. Diingatkan oleh seorang gadis kecil yang begitu menyayangi saya, tantenya. Mengingatkan saya, bahwa diantara kesibukan yang saya punya, saya tak boleh meninggalkan satu-satunya milik saya yang kelak akan menemani saya.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan ?

Ayat demi ayat pada Ar Rahmaan, surah favorit saya mengetuk-ngetuk lagi jendela hati yang sempat saya biarkan membatu. Duh Rabbku, tak ada. Tak ada yang bisa saya dustakan. Semua fasilitasMu yang Kau beri secara cuma-cuma tak ada yang cacat. Semuanya sempurna. Hanya, saya yang tak pernah menghitung nikmat yang Kau curah setiap waktu. Bukan hanya karena saya tak mampu, tapi karena saya begitu sibuk menghitung kesukaran yang saya dapat akibat perbuatan saya.

Maka, mulailah saya berwudhu, mensucikan diri untuk memulai lagi pertemuan itu denganMu, wahai Sang Maha Cinta. Ijinkan saya untuk terus mencintaiMu dengan cara saya yang tak pernah mampu untuk sempurna.

“Tumben, aunty sholat”

“Kan, Wawa yang bilang, kalau sekarang Wawa jarang lihat aunty sholat”.

“Jadi, sekarang aunty sholat buat apa?”

Jeda sejenak, saya tersenyum mendengar pertanyaannya.

“Untuk menyenangkan Allah.”

“Oh iya ya, kalau Allah senang, pasti apa yang aunty minta akan dikasih.”

Kalimat-kalimat polos itu membuka mata saya. Benar. MenyenangkanMu, Rabb. Itu yang paling penting. Bukan agar permintaanku Engkau kabulkan, tapi agar hati saya tenang hanya dengan mengingat Engkau. Terima kasih, menitipkan Wawa untuk mengingatkan, bahwa Engkau adalah tujuan hidup.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: