Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Ketika Luka

Ah ya, masihkah kau mengingat, aku pernah berkata bahwa aku begitu bersahabat dengan luka. Begitu erat bahkan. Meski terkadang, aku ingin sekali melepas segala yang begitu sering membuatku memproduksi bulir-bulir air mata yang tak seharusnya jatuh. Sering pada saat dan waktu yang tak tepat.

 

Dan jika aku mengingatkanmu tentang ini, kau juga pernah berkata, bahwa kaulah yang kelak akan mengenyahkan luka ini. Tak akan membiarkannya berkerak disana. Didalam hatiku yang seharusnya hanya berisi kasih. Itu katamu. Ketika kita masih saling menggenggam tangan dengan erat. Ketika kita masih menyusuri jalan dengan tawa dan senyum bersama. Ketika luka, sempat menghilang untuk beberapa saat.

 

Ah, aku masih mengingat manisnya perih yang akhirnya kau torehkan juga disini. Dihati yang mestinya hanya berisi cinta, bukan luka. Tapi langkah, terkadang tak seperti yang kau pikir. Bahwa ketika akhirnya diujung jalan sana kau memutuskan untuk berbelok tanpa sempat mengajakku, tak sepatah yang sempat tersampai. Hanya hampa. Kembali hampa.

 

Taukah kau, bahwa meski aku telah bersahabat erat dengan luka, tak urung perih itu sempat terasa juga. Taukah kau, meski aku tau bahwa kau tak akan lagi melewati jalan yang sama, aku tetap menunggumu disana. Berharap kau akhirnya mengingat sesuatu. Tentang aku. Tentang kita. Dan tentang segala harap yang pernah kita bangun bersama. Kemarin. Ketika luka sempat bersembunyi untuk beberapa waktu.

 

Ah ya, tak perlu khawatir. Esok pagi, ketika aku terbangun dan tak mendapatimu didekatku, aku tak akan bersedih lagi. Karena luka, sahabatku itu, telah begitu rupa mengajarkanku untuk menikmatinya. Dengan atau tanpamu. Toh aku bisa kembali menghampakan hatiku. Serupa ruang minus oksigen yang membuat gravitasi menjadi tak punya tempat.

 

Dan hey, meskipun aku akan kembali sendiri disini. Didalam liang serupa luka yang begitu dalam tak berdasar ini, serupa hampa yang menggelap tanpa sinar, serupa ruang tanpa gravitasi ini. Aku tak akan mengingkari, bahwa bersamamu, pernah begitu indah.

 

Aku akan baik saja. Tak perlu khawatirkan kesendirianku. Berjalanlah terus, karena kelak kau akan menemukan bahagiamu disana. Aku hanya merasa hampa, itu saja. Lain tidak. Tapi setidaknya, disini, didalam sini, dibalik kehampaan yang terasa begitu nikmat ini, aku masih bisa merasa. Merasa hampa.

 

 

PS : It’s about nothing. Semacam ingin menggalau, malam ini. Itu saja.


 

Iklan

2 responses to “Ketika Luka

  1. warm 22 Juni 2011 pukul 8:20 am

    hampa ? 😐
    maka coba isilah, dengan kesenangan dalam hidup
    demikianlah πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: