Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Gagalkah ?

Damn!

Sorry, tapi saya pengen marah hari ini. Bukan dengan mahasiswa yang entah apa tujuan mereka kuliah. Tapi pada keadaan yang seolah membenarkan apa yang mereka lakukan. Dengan kampus, almamater sekaligus tempat saya mengajar sekarang ? Entah, yang jelas, ketika hari ini semua tak terkontrol, emosi yang mendadak naik melebihi batas yang bisa ditampung, keluar juga kata-kata yang seharusnya tak perlu saya keluarkan. Lagi.

Ini adalah kali kedua saya marah di kelas. Ketika mereka lebih suka tertawa (entah apa yang ditertawakan), berbisik-bisik (entah apa yang diobrolkan) daripada mendengarkan materi yang saya jelaskan didepan kelas.

I don’t need their respect. Karena dari awal saya juga sudah menegaskan, bahwa saya bukan tipe manusia yang suka jaim, suka pencitraan. Saya tak akan segan untuk membuka diri kepada mahasiswa. Saya tak akan malu untuk mengatakan saya tidak tahu, ketika mereka bertanya dan saya belum tau jawabannya. Saya tak akan mencoba membangun wibawa didepan mereka. Saya menempatkan diri sebagai teman diskusi, yang bisa menjadi tempat berbagi untuk mereka.

Nah, ketika segala upaya untuk mengikis perbedaan itu sudah saya lakukan, tetapi justru di kelas mereka malah mengganggu teman-teman lain yang sedang ingin belajar, emosi yang berbicara. Tak sampai menggebrak papan tulis atau memukul meja. Mereka orang dewasa, maka saya perlakukan mereka seperti saya memperlakukan orang dewasa lainnya. Mencoba berbicara dengan penekanan. Saya hanya bilang, bahwa saya punya sisi buruk yang jika emosi yang muncul ke permukaan, tak akan baik jadinya. Entah apakah mereka mengerti. Saya yakin, jika mereka memiliki logika berpikir yang baik, pasti mengerti maksud saya.

Saya nggak butuh dihormati. Saya juga nggak sedang membangun  wibawa. Tapi, cukuplah hormati orang tua yang sudah bersusah payah mencari uang untuk membayar uang kuliah. Belajarlah untuk mengerti bahwa hidup bukan sekedar mencari uang, tapi lebih dari itu.

Saya gagal? Mungkin. Saya mungkin bukan dosen yang pintar dan berwibawa, tapi saya hanya ingin mereka mempunyai tujuan dalam hidup mereka. Mereka punya tujuan setelah selesai kuliah. Yang paling penting adalah Skripsi yang nantinya akan menjadi tiket keluar mereka dari kampus, mereka kerjakan sendiri dengan hati, pikiran dan kemampuan mereka sendiri. Bukan Skripsi yang dibeli. Itu saja.

Jika karena keinginan itu saya dianggap gagal, artinya saya memang harus belajar lagi untuk menjadi pengajar yang baik dan benar.

2 responses to “Gagalkah ?

  1. Bukik 23 Desember 2011 pukul 1:54 am

    ketika mendekatkan diri terkadang disalahpahami sebagai sikap lunak, dan biasanya dimanfaatkan
    Tapi salut untuk terus konsisten untuk membangun kesadaran akan tujuan hidup
    Berhasil ketika murid mempunyai kemauan sendiri

    • weirdaft 1 Januari 2012 pukul 4:15 pm

      amiin.. Insya Allah, pak. semoga saya juga nggak pernah berhenti untuk mengajak mereka sama-sama mencari jalan hidup yang baik🙂

      terima kasih kunjungannya pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: