Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Perbedaan

Duluuuuu….ketika saya SD, hari raya adalah hari yang paling ditunggu-tunggu. Hari raya agama apapun. Karena pada saat itu adalah waktunya kue-kue dan segala makanan enak membanjiri kelas kami. Kunjungan ke rumah guru-guru dan teman-teman yang merayakan menjadi moment yang paling ditunggu. Toleransi, tak hanya sebatas kata-kata dalam buku pelajaran PMP (waktu itu). Kami menjalankan toleransi dengan begitu baiknya.

Sekarang, keadaan menjadi sedikit rancu. Ada berbagai macam isu yang dibuat untuk memperkeruh suasana. Pemahaman keagamaan menjalar menjadi sesuatu yang meragukan buat saya. Ada begitu banyak pendapat yang mulai berani mengharamkan dan mengkafirkan saudaranya sendiri yang mungkin belum paham atau memiliki penafsiran berbeda. Perdebatan demi perdebatan mulai terjadi dengan sesama umat.

Begitu pun saya. Yang berteman dengan berbagai macam agama. Yang tidak membawa-bawa agama dalam konteks pertemanan. Yang memang mengerti bahwa perbedaan ini tak akan bisa disatukan. Maka, ketika seorang teman berselisih mengenai hal ini, saya hanya mengembalikannya lagi pada “Lakum dinukum waliyadin”, Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Tuhan sudah begitu indah menuliskan kalamNya tentang perbedaan ini. Lalu, mengapa saya si fakir ini sok mencari satu garis lurus persamaan? Saya dan teman-teman non Muslim saya memang berbeda, tak bisa disatukan. Kami menempuh jalan yang berbeda untuk mencintai Tuhan. Lalu, ketika toleransi itu ingin saya tegaskan lagi dalam lingkaran kehidupan saya, apakah itu salah?

Kami memiliki satu persamaan yang jelas, bahwa kami mencintai damai. Kami mampu hidup berdampingan dengan segala perbedaan ini. Kami mampu bergandengan tangan dikala senang dan susah mendera. Lalu akidah, adalah urusan masing-masing kami dengan Tuhan. Jika Tuhan pun sudah menegaskan itu pada ayat demi ayat Surah Al Kafiruun, semoga Allah Sang Maha Rahim pun mengerti apapun yang saya lakukan dengan segala toleransi ini.

Maka, ketika Natal ini sebagian teman-teman saya merayakannya, saya sebagai seorang kawan pun harus mampu berucap, “Selamat Natal, Kawan” dengan senyum. Jika ada yang tak berkenan, semoga kita tak dipisahkan karena tidak sepakat dengan hal ini.

 

ilustrasi dari sini

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: