Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Tentang Etos Kerja (Saya)

Pagi tadi, disela-sela pekerjaan yang hari ini load-nya cukup ramai, saya sempatkan membuka timeline twitter saya. Sekedar mengucapkan selamat pagi untuk menyemangati diri sendiri dan menyapa teman-teman maya yang pagi itu juga sudah berkicau tentang kegiatan hari dan apa saja yang menyertai mereka di perjalanan.

Sampai kemudian saya menemukan twit pak @Nukman yang memang selalu memberikan pencerahan dan penyegaran setiap harinya. Tapi kali ini, saya tersentak ketika di TL saya muncul twit beliau :

“Faktanya, orang2 berkarakter “tak peduli gaji” spt Jobs, Jokowi dan Dahlan Iskan itu prestasinya kinclong” – @Nukman.

Nah, tentu saja twit tersebut menampar-nampar kepala saya. Jujur saja, selama ini saya bekerja tentu saja untuk menerima fee setiap awal bulannya. Menerima kenaikan gaji sekian persen setiap tahunnya dan THR. Dan berharap, disela-sela itu perusahaan berbaik hati untuk memberikan bonus sesekali😀 . Hanya itu. Etos Kerja Profesional ? Jauuhhh dari itu. Kinerja saya hanya sebatas tugas-tugas dan job description yang dibebankan kepada saya. Selebihnya, jika load kerja sedikit longgar, maka saya akan mempergunakan waktu yang longgar disela-sela bekerja tersebut untuk sedikit bersantai atau melakukan hal lain yang mungkin tak ada hubungannya dengan pekerjaan saya ( Semoga HRD perusahaan saya tidak membaca hal ini).

Kemudian, tentang Joko Widodo dan Dahlan Iskan yang belakangan ini namanya begitu mencuat karena sebagai Pejabat Publik mereka begitu merakyat dan benar-benar bersimpati kepada rakyat, dengan sikap-sikap mereka yang tidak berlebihan. Berbeda dengan beberapa anggota DPR dan Pejabat Publik lain yang merasa bahwa memegang jabatan bukan memegang amanah, tapi kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Menurut berita yang tersebar, bahkan Joko Widodo tidak mengambil gajinya selama bertugas sebagai walikota Solo. Bertolak belakang dengan informasi yang beredar dan saya temui di kota tempat saya tinggal. Dan Dahlan Iskan, tinggal searching saja, apa yang sudah beliau lakukan selama beberapa bulan ini menjabat sebagai Menteri Negara BUMN. Etos Kerja Profesional mereka, tak diragukan lagi.

Dari tadi saya ribut membahas tentang Etos Kerja. Sebenarnya, apa sih Etos Kerja itu? Hasil dari googling, saya dapati bahwa Pengertian Etos kerja ialah suatu sikap jiwa seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan perhatian yang penuh. Maka pekerjaaan itu akan terlaksana dengan sempurna walaupun banyak kendala yang harus diatasi, baik karena motivasi kebutuhan atau karena tanggungjawab yang tinggi.

Buat saya pribadi, Etos kerja tak hanya sesuai dengan pengertian di atas. Etos kerja tentu saja berkaitan dengan produktifitas yang dihasilkan. Tapi seharusnya, etos kerja juga berkaitan dengan lingkungan kerja dan fasilitas yang diberikan perusahaan. Selama kita masih berstatus karyawan suatu perusahaan, adalah tanggung jawab kita untuk menjaga rasa nyaman dan menjaga fasilitas yang diberikan. Menjaganya, seolah fasilitas tersebut adalah milik kita.

Beberapa dari kita mungkin mengabaikan hal ini. “Ah, itu kan bukan milik saya, buat apa saya menjaganya. Toh, kalau salah satu fasilitas ini rusak, kantor akan menggantinya dengan segera”. Dan berikutnya adalah, kita akan membiarkan meja-meja atau komputer atau fasilitas lain yang tidak kita gunakan menjadi berdebu dan bisa jadi sarang kecoa. Jika fasilitas yang kita gunakan saja kita malas menjaganya, apalagi hal-hal lain dilingkungan kantor yang kita anggap tidak ada hubungannya dengan kita ? Dan bisa jadi kita akan berakhir seperti robot yang akan menjalani rutinitas yang itu-itu saja selama bertahun-tahun.

Ah, seharusnya saya sudah harus mengubah itu semua. Bekerja berdasarkan passion. Jika pun saya belum diberikan kesempatan untuk terjun total ke dalam pekerjaan yang berdasarkan passion saya, seharusnya saya bisa lebih menghargai pekerjaan yang sekarang ini menjadi tanggung jawab saya. Tak hanya menjalankan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab saya, tapi juga tidak menganggap tanggung jawab tersebut sebagai BEBAN. Merawat fasilitas yang saya gunakan seperti milik saya sendiri. Belajar menciptakan suasana nyaman untuk diri saya sendiri dan lingkungan. Meski, tentu saja kita tak bisa menyenangkan semua orang.

Jika saja saya bisa bekerja dengan hati yang senang setiap hari, maka load kerja yang saya rasakan hari demi hari adalah pembelajaran yang akan membuat saya menemukan sumber ilmu setiap hari. Tak melulu bekerja hanya untuk menunggu tanggal gajian setiap awal bulan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: