Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Janji

Nana hanyut dalam diam. Di sebuah kedai kopi, asap mengepul dari secangkir green tea latte panas di hadapannya. Matanya nanar memandangi sepasang remaja yang sedang tertawa mesra di balik jendela kafe. Berpelukan, saling melindungi dari hawa dingin dan rintik hujan. Seulas senyum pahit mengembang, tipis. “Aku pun pernah sebahagia itu dulu,” batinnya.

Ingatannya langsung melayang ke masa 7 tahun yang lalu. Pertemuan pertamanya dengan Rimba di sebuah seminar yang dihadiri oleh mahasiswa berbagai universitas dikotanya. Matanya langsung terpaut ketika Rimba dengan lugasnya mempertanyakan apakah materi kepemimpinan yang disampaikan oleh pemateri relevan dengan keadaan yang sekarang. Disertai dengan fakta-fakta tentang suhu politik pada saat itu. Nana yang tak menyukai politik sejenak terpaku menatap wajah dengan garis tegas pada rahangnya itu. Nana yang bertugas sebagai wartawan kampus,langsung mengejar Rimba ketika seminar usai. Mewawancarainya terkait dengan materi seminar. Dan perkenalan itu berlanjut dengan bertukar nomer handphone hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

7 tahun telah berlalu. Seorang aktivis tampan dengan wartawan kampus yang jadi incaran banyak pria di universitasnya. Serasi, mengundang iri dan decak kagum. Kecerdasan Nana dan selera humor Rimba membuat hubungan mereka begitu berwarna. 3 tahun kemudian, setelah Rimba bekerja di sebuah perusahaan marketing komunikasi dan Nana mantap meniti karir sebagai reporter, mereka menikah. Bahagia itu sungguh nyata. Dulu. Menjalani kehidupan sebagai suami istri begitu indah bagi Nana dan Rimba. Saat-saat terbangun dengan sentuhan lembut dan dengus nafas hangat di tengkuk, pertengkaran konyol merebutkan channel apa yang ingin ditonton, telfon ringan menanyakan kabar di kantor dan sms mesra sekadar mengingatkan waktu makan. Menyenangkan. Namun menyakitkan saat dikenang.

2 tahun pertama, pernikahan mereka seperti sebuah dongeng yang menjelma nyata. Hanya tawa dan bahagia. Karir lancar, rumah tangga bahagia. Begitu sempurna. Kini, dongeng itu hanyalah sebuah dongeng. Tak pernah ada dongeng yang menjadi nyata. Perlahan-lahan semua berubah. Kesibukan mereka bertambah seiring karir yang mulai menanjak. Bertemu hanya pada saat sarapan. Makan siang dan malam, mereka lakukan entah dengan client yang mana. Rumah hanya menjadi tempat persinggahan sementara. Telfon hanya sekedar menyampaikan siapa yang akan pulang lebih awal. Ciuman selamat pagi yang dulu sering diberikan Nana untuk membangunkan Rimba, tak pernah ada lagi. Begitupun sebaliknya. Rimba semakin tenggelam dalam rutinitasnya. Pembukaan kantor cabang baru, dimana dia dipercaya untuk memimpinnya menyita seluruh perhatiannya. Tak ada lagi ciuman selamat malam sebelum tidur didahi Nana, seperti 2 tahun pertama pernikahan mereka.

“Hei sayang, lagi sibuk? Ntar malem jadi kan?”

Sebuah pesan masuk di telpon genggam Nana. Dari Rimba. Tumben semesra ini, pake sayang-sayang. Rasanya mereka tak ada janji malam ini. Yang ia tahu malam ini Rimba ada presentasi ke klien barunya. Klien besar kata Rimba, salah satu politikus yang ingin mencalonkan diri sebagai gurbernur.

“Eh, ada apa nanti malam hon?” balas Nana.

Tapi tak dibalas. Tak sempat berpikir terlalu lama, karena mas Rio, atasannya memanggil. Ada kebakaran hebat di sebuah rumah susun. Kabarnya sudah 2 korban meninggal. Nana dan Ridho, kameraman harus segera berangkat meliput. SMS misterius pun berlalu begitu saja dari ingatannya. Nana menghela nafas, bayangan masa-masa pernikahannya dengan Rimba akhir-akhir ini sering terlintas, terutama saat ia sendiri. Seperti saat ini, di sebuah kedai kopi, menikmati lantunan merdu Whitney Houston.

Lost touch with my soul
I had no where to turn
I had no where to go
Lost sight of my dream,
Thought it would be the end of me

 Malam itu, usai meliput acara pertemuan menteri, Nana dan teman-teman sekantor merayakan ulang tahun Dion, rekan sesama reporter. Disebuah resto nyaman yang jadi favorit Dion. Nana bahkan belum pernah kesitu sebelumnya. Ramai mereka bercanda di meja yang sudah dipesan sebelumnya. Dion memang reporter kesayangan boss. Reporter pintar yang selalu jadi andalan disituasi sulit. Tapi keramaian itu tak membuat Nana bisa menikmatinya. Dalam diam dan senyum sesekali Nana membuka-buka pesan di telepon genggamnya. Dan terlihat lagi pesan Rimba disitu. Rasa penasaran berubah menjadi curiga ketika nomer Rimba tak aktif malam itu. Dan kecurigaannya menjadi kenyataan, ketika akhirnya ditemaram lampu resto, Nana mengenali sepasang kekasih yang masuk ke resto tersebut. Rimba, yang memeluk pinggang perempuan lain dengan mesra. Dan segala dunianya serasa runtuh pada saat itu juga.

Rimba yang tak menyadari kehadiran Nana asik bercengkerama dengan wanitanya. Sesekali wajah keduanya saling beradu, mesra. Dari tempat duduknya Nana mengamati pasangan itu. Tatapan Rimba, senyumnya, jari-jarinya yang sigap merapikan rambut wanitanya menandakan pria itu sedang jatuh cinta. Ya, rona bahagia suaminya itu bersaing dengan indahnya api lilin di meja mereka. Nana terluka.

“Makanya tho nduk, jadi perempuan itu jangan terlalu sibuk. Ndak punya-punya anak nanti kalian ini.” ucapan mertuanya tiba-tiba terngiang kembali. Sementara Whitney Houston masih bernyanyi, seakan menyuarakan perasaan Nana.

Thought it would be the end of meI thought I’d never make it through
I had no hope to hold on to,
I thought I would break

Rimba terkejut ketika Nana menyapanya lembut di restoran. Di hadapan teman-teman kantornya yang juga mengenal Rimba. Mereka menjadi saksi perselingkuhan suaminya. Malam itu Rimba mengakui semua kesalahannya, sembari menyalahkan kesibukan mereka, ketidakhadiran anak dan sikap acuh Nana belakangan ini.

“She keep me alive, Na. Dia melayani seperti aku ini raja baginya.”

Nana tersenyum. Getir. Mengusap pelan wajah Rimba.

“Kita melakukan kesalahan yang sama, Rim. Kamu, aku. Begitu banyak malam yang kita lewati dengan orang lain.”

Rimba menggeleng pelan. Tak bisa membantah kalimat Nana.

“Lalu, kalau sekarang kamu merasa begitu nyaman dengannya, artinya kamu udah nggak butuh aku lagi. Kalau kamu nggak butuh aku lagi, lebih baik kita selesaikan urusan kita,” ujar Nana dengan tenang

Rimba terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya. Dia tak pernah menyangka, hubungannya dengan Reni akan membahayakan rumah tangganya. Dan sekaranng, setelah Nana tau semuanya, dia mengajukan pilihan yang tak sanggup dia terima.

“Maksudmu, kita bercerai?” kelu lidah Rimba mengucap kalimat itu. Nana mengangguk pelan.

“Kamu udah menemukan rasa nyaman dengan orang lain, Rim. Dan aku udah nggak bisa lagi memberikan rasa nyaman yang kamu inginkan. Aku udah nggak bisa lagi melayani kamu seperti raja.” Nana mengulang kalimat Rimba dengan pedih.

“Maafkan aku Na. Sungguh aku minta maaf.” ujarnya lirih. “Tapi kita nggak akan bercerai. Akan aku akhiri hubunganku dengannya. Lalu kita mulai lagi dari awal ya, please.” mohon Rimba. Nana bergeming, “Entahlah Rim, berikan aku waktu.” jawabnya. Lalu beranjak pergi. Untuk pertama kalinya, malam itu Nana tak pulang ke rumah.

Dua hari Nana ijin tak masuk kantor. Diabaikannya telpon dan pesan dari Rimba yang tampak begitu khawatir. Ah, entahlah Nana tak tahu itu tulus atau tidak. Yang ia tahu suaminya berselingkuh, rumah tangganya diambang kehancuran. Terbayang wajah kecewa ayah ibunya jika mereka sampai bercerai. Terlintas ketakutan mertuanya akan menyalahkan Nana atas perselingkuhan Rimba. Bukankah ia perempuan yang tak bisa melayani suami dan memberikan anak.

Hari ketiga, Nana kembali bekerja. Disambut pelukan hangat Sita, news presenter sahabatnya. Senyum simpati dari rekan-rekan yang ada di restoran malam itu. Sebuah karangan bunga terpajang anggun di mejanya. Rangkaian tulip ungu dan mawar putih serta kartu permohonan maaf dari Rimba membuatnya terenyuh. “Bolehkah kuberi dia kesempatan kedua?” tanyanya ragu.

Akhirnya Nana menyerah. Dia bersedia memberikan satu hari Minggunya untuk Rimba. Hanya berdua, dirumah mereka. Membicarakan tentang banyak hal yang sudah terjadi diantara mereka. Memasak bersama, membersihkan rumah dan makan siang bersama. Usai makan siang, diiringi instrumental Dave Koz, mereka berbicara. Meski mereka berdua, berhadapan, tetap terselip rasa sakit dihati Nana. Dia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Nana masih mencintai Rimba, tapi rasa sakit itu begitu mendominasi. Ucapan maaf Rimba yang berulang-ulang hanya terekam dalam otaknya, tapi tak bisa masuk ke hatinya. Segala kenangan indah itu, tertutupi dengan satu kesalahan yang dilakukan Rimba. Kesalahan fatal yang membuatnya harus melewati segala perih.

“Nana, aku masih mencintai kamu. Masih sangat mencintai kamu. Tolong, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan.”

Nana diam, memainkan ujung kemejanya. Mendengar deru nafas panik Rimba yang menanti jawabannya.

“Nana, please. Kesalahanku memang sangat besar. Tapi tolong beri aku kesempatan, please.”

Nana menghela nafas panjang. setetes air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Teringat sebuah jawaban yang ia berikan dan menentukan perjalanan hidup mereka.

Found hope in my heart,I found the light to life
My way out of the dark
Found all that I need
Here inside of me
I thought I’d never find my way
I thought I’d never lift that weight
I thought I would break

 “Aku mungkin tak bisa lagi mencintaimu seperti dulu.”

“Tapi aku berusaha bertahan, Rim. Demi sebuah janji yang kita ucapkan di depan Tuhan, yang diamini oleh seribu malaikat. Untuk ratusan doa dan harapan yang dipanjatkan keluarga kita. To keep this marriage once in a lifetime.”

Hampir 2 tahun berlalu sejak malam itu. Perjalanan mereka tak selalu mulus. Rimba masih jatuh bangun mengakhiri hubungannya dengan perempuan itu. Nana pun masih berjuang mengobati lukanya, menumbuhkan lagi cintanya pada Rimba.

Sampai hari ini, ketika ia mendapati dua garis di alat tes kehamilannya. Tuhan, rupanya telah menjawab doa-doanya, memberinya sumber kekuatan baru untuk terus bertahan dalam badai.

I got through all the painI didn’t know my own strength
Survived my darkest hour
My faith kept me alive
I picked myself back up
Hold my head up high
I was not built to break

Tulisan ini untuk project #20HariNulisDuet hari ke-3 dengan @alfakurnia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: