Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Sasha

Banyak yang bilang, betapa beruntungnya aku memiliki kekasih seorang perempuan yang hampir sempurna seperti Sasha. Cantik, pintar, baik hati dan sayang anak-anak. Tak seperti pacar-pacarku sebelumnya, mama sangat menyayangi Sasha seperti anaknya sendiri. Buat Mama, Sasha bukan sekedar calon menantu, tapi juga seperti anaknya sendiri. Mereka bisa tertawa bersama ketika sedang ngobrol. Bisa mellow bersama ketika menonton DVD drama. Kadang, tak jarang mama mengajak Sasha belanja bersama. Tak jarang, orang yang baru pertama kali bertemu kami ketika jalan bertiga, mengira bahwa Sasha yang anak Mama, bukannya aku. Mereka sangat dekat. Dan ya, aku memang sangat beruntung.

Tak terasa, dua tahun sudah terlewati. Kami sudah melewati banyak hal. Tapi memang, selama dua tahun ini tak pernah ada kesulitan yang berarti. Kami saling mengerti tentang kesibukan masing-masing. saya tak pernah berkeberatan untuk mengantar jemput Sasha kemanapun dia mau. Pergi – pulang kantor, bertemu teman-temannya, beli buku, kemanapun dia mau dan saya ada waktu, saya selalu menemaninya. Begitu juga sebaliknya. Jadi kami masing-masing mengerti dan tau apa saja kegiatan kami. Aku nyaman seperti ini, tetapi Sasha? entahlah.

Pernahkah kamu merasa, bahwa kamu adalah makhluk paling beruntung di dunia? Aku pernah. Keberuntunganku tidak biasa-biasa saja. Tiliklah, aku punya wajah di atas rata-rata, cantik, bentuk badan yang membuat setiap lelaki yang melintas akan menoleh lama padaku, terpesona. Aku bisa menyanyi, berdansa dan halhal menyenangkan lainnya. Kesialanku di dunia ini mungkin cuma satu, aku terlahir miskin

Tetapi, lagi, keberuntungan lain datang, seolah dewi fortuna tak pernah menjauh pergi dariku. Aku bertemu Hans, lelaki yang mungkin juga memiliki keberuntungan sama sepertiku, pengecualiannya hanya satu. Dia terlahir kaya.

 Awalnya, aku mempercayainya sepenuhnya. Awalnya, aku yakin bahwa cintanya padaku tulus, tanpa diembel-embeli apapun. Bahwa materi hanyalah keberuntungan yang aku miliki, sebagai anak tunggal seorang pengusaha. Jikapun aku tak memiliki ini semua, Sasha akan tetap memilihku. Awalnya aku meyakini benar hal ini.

Tapi, entah setan apa yang datang padaku suatu malam. Ketika sebuah bisikan aku terima, ketika suara telfon yang menjawab diseberang sana suara lelaki yang tak aku kenal. Sasha tidak setia! Sebagai laki-laki yang tak pernah ditolak, aku merasa Sasha sudah meremehkan aku. Menghancurkan rasa percaya yang aku berikan padanya. Menghancurkan kasih sayang mama yang tulus padanya. Bisikan itu kembali meracuniku. Sasha mengkhianatiku.

Hubunganku dengan Hans berjalan hampir dua tahun. Dua tahun yang melelahkan. Bukan, bukan karena dia adalah kekasih yang tak baik hati, sungguh, bukan karena itu. Sebaliknya, dia lelaki sempurna, bahkan tiap kali aku jalan dengannya, seolah aku selalu ditusuk oleh pandanganpandangan mata wanita lain, mereka memuja Hans, sebagian malah menggilainya. Tapi Hans memujaku. Ya, dia tergila-gila padaku, sampai telepon sialan itu berdering beberapa malam yang lalu. Hans mulai curiga kepadaku, beberapa kali dia bertanya siapa gerangan si penelpon itu. Ah Hans, ada hal yang belum perlu kamu ketahui, akan tiba waktunya, tapi belum saat ini

 Sasha memang perempuan pintar. Begitu rapat dia menyembunyikan siapa laki-laki yang membuatnya mengkhianati cintaku. Bahkan, perlakuannya padaku tak pernah berubah. Kencan kami setiap Sabtu malam tak pernah meleset semenit pun. Janjian disetiap waktu, tak pernah alpa. Maka, kisah lelaki penjawab telpon itu pun berlalu begitu saja.Tapi, bangkai busuk pun akan tercium baunya. Ketika pada suatu malam, usai mengantarnya pulang ke apartemen yang aku beli untuknya pada saat ulang tahun kedua hubungan kami. Tak seperti biasa, aku berbalik arah. Kembali ke apartemennya. Menunggu ditempat tersembunyi. Untuk membuktikan kecurigaanku. Berdoa dalam hati semoga kecurigaanku tak pernah terbukti. Tak lama menunggu. Akhirnya aku melihat apa yang aku takutkan selama ini. 10 menit yang lalu aku mengantarnya sampai ke pintu kamarnya. Tapi sekarang, aku melihat dia berdiri tepat diparkiran sambil melambaikan tangannya pada sebuah mobil yang mendekati tempatnya berdiri. Seorang lelaki keluar. Sasha menyambutnya dengan pelukan mesra, dan ciuman mesra. Di bibir.

Rabu malam, seperti biasa, Hans menjemputku dari tempat kerja, mengajakku makan malam di sebuah restoran Jepang ternama. Dan seperti biasa, tidak ada yang istimewa, makan malam kami selalu diawali dengan bertanya kabar dan bagaimana kegiatan hari ini, monoton. Ya Hans tipikal lelaki yang memegang teguh adat ketimuran, darah jawa yang mengalir di tubuhnya membuatnya selalu bertatakrama disetiap kesempatan dan, ya, bagiku itu sedikit membosankan. Lalu, tiba-tiba aku teringat dia, lelaki yang empat bulan ini diamdiam menjalin hubungan denganku. Lelaki paruh baya dengan pesona yang luar biasa. Lelaki yang mampu membuatku mengkhianati Hans, lelaki yang lebih sempurna dari Hans. Entah anugerah atukah musibah bagiku, aku tidak dapat menolak setiap pesona yang ditawarkan lelaki ini. Bahkan ketika suatu malam, setelah berkencan dengan Hans, dengan sadar aku mendatangi lelaki ini, memintanya datang menjemputku. Memintanya membawaku ke kamar hotelnya. Ahh. Dengannya, segala kebaikan Hans seolah tenggelam, tak tampak apa-apa. Aku menebus apa yang tidak bisa ku dapat dari Hans dengannya, semuanya, termasuk… Bercinta

Epilog

Pintu kamar hotel itu berdegum terbuka, Sasha dengan rakus meloncat ke pelukan lelaki setengah baya itu, melahap bibirnya sampai menciumi lehernya.  Dasi lelaki itu longgar dan jas kerjanya berantakan. Tapi tangannya dengan leluasa menopang tubuh Sasha yang menggantung menciuminya. “Wanita ini benarbenar luar biasa”. Dengan setengah sempoyongan, dia berusaha menggendong Sasha menuju ranjang beralas merah bata. Susah, ya tentu saja, berjalan dengan jarak 2 meter pun terasa susah jika dalam posisi seperti ini, kakinya berusaha melepaskan sepatu, tangannya menopang tubuh Sasha, bibirnya hilang dalam lumatan penuh nafsu wanita ini, dan otaknya, ah, jangan tanya, otaknya justru sudah berada di kasur itu sedari tadi.

Hans mengikuti mobil yang tak dikenalnya itu dengan nafas menderu. Ketakutannya terbukti. Kecurigaannya terbayar. Terbayang wajah ibunya dan Sasha yang sedang tertawa bersama. Apa yang salah padanya? Bukankah selama ini tak pernah ada masalah? Atau justru itu masalahnya? Pikirannya melayang, sampai akhirnya dia tersadar ketika melihat mobil itu berhenti di sebuah hotel mewah. Kedua pasang kekasih yang dimabuk asmara itu terlihat berpelukan. Sesekali dilihatnya Sasha mencium sekilas leher lelaki dipelukannya. Nafas Hans memburu. Tak ada lagi cemburu, yang ada hanya sakit hati.  Tergesa diparkirnya mobilnya. Diikutinya Sasha dengan hati-hati dari jarak yang jauh, tapi masih cukup untuk melihat arah Sasha berbelok. Semakin lama, rasa sakitnya semakin tampak jelas ketika dilihatnya Sasha dan lelaki itu memasuki sebuah suite room. Ditunggunya 5 menit. Sampai kemudian, dengan seluruh kekuatannya, dia mengetuk pintu. 3 kali dia mengetuk pintu, sampai terdengar sahutan suara lelaki dari dalam. Otaknya merespon dengan cepat, menggali memorinya untuk mengenali suara lelaki itu. Perlahan pintu terbuka,
“Papa…”

 

Tulisan ini untuk hari ke – 4 #20HariNulisDuet dengan @alithdqueen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: