Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Cinta Yang Berbeda

Love is bullshit, isn’t???

Mereka yang percaya cinta hanyalah orang-orang bodoh. Makanya tak sekalipun aku pernah percaya pada cinta. Pacaran boleh, suka oke, tapi cinta??? itu lain soal.

 

Hei… jangan menghakimi aku sebagai seorang perempuan murahan atau perempuan tipe playgirl. Aku perempuan baik-baik. Hanya saja aku tak percaya pada cinta. Tidak… Tidak ada satu hal atau kejadian buruk apapun yang pernah kualami berkaitan dengan cinta. Aku hanya tak percaya cinta. Itu saja.

Bukan tanpa alasan aku tak percaya cinta. Ada sebab untuk sebuah alasan, kan? Dan ketika seseorang yang kau cintai sepenuh hati, kemudian menyakitimu begitu rupa, apakah kemudian ada yang tersisa untuk bisa dipercayai lagi? Kalau kau yang ada diposisiku, kau juga pasti akan berakhir pada satu kesimpulan yang sama. Love is all about bull shit!!

 

Ah iya, dia yang telah membuatku merasakan sakit yang begitu rupa ini, hanya dia yang akhirnya mendapatkan cinta itu sepenuhnya. Laki-laki yang mengejarku dengan segala rupa, laki-laki yang membuatku belajar mencintai, dan akhirnya dia pula yang membuatku berhenti percaya pada cinta. Lengkap, bukan?

 

Orang bilang, kau tak akan pernah dewasa bila kau tak pernah patah hati. Mereka juga bilang bila kau siap untuk jatuh cinta maka kau akan siap untuk mati. Bukankah siklusnya seperti yang ada di buku yang serius kubaca di coffeeshop favoritku saat pertama kali aku melihatnya. Jatuh cinta, patah hati, dan neraka. Ah… tak perlu sampai mati, tapi berada di neraka? Ya… aku pernah berada di neraka itu..

 

Ah… lekaki itu. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?? Bahkan saat kami pertama bertemu pun aku masih mengingatnya. Karena saat itulah aku bisa memahami mengapa para penyair mendeskripsikan cinta dengan berbagai istilah. Meski tak satu orang pun yang tepat mendeskripsikannya. Tak ada degup jantung yang melonjak tajam. Tak ada telapak tangan yang berkeringat gugup. Tak ada duduk yang gelisah. Hanya ada senyum.

 

Jika kemudian menikah dan melewati masa pacaran yang begitu singkat, entah apa yang ada dikepalaku ketika mengiyakan permintaannya untuk menjadi istrinya. Dan pernikahan mewah pun digelar, sebagai anak pertama dan satu-satunya perempuan. Mestinya, pernikahan itu menjadi sesuatu yang membahagiakan untukku. Menikah, berkarir, memiliki anak, berbahagia. Mestinya itu! Bukan malam-malam penuh kesedihan dengan menunggu suami dan ketika dia tiba, bau parfum perempuan murahan yang tercium.  Aku mencintainya, dan apakah seperti ini balasan untuk cinta? Cinta yang susah payah aku bangun, dan ketika semua telah mewujud, semudah itu dia menghancurkannya?

 

Entahlah… Terlalu banyak jika kusebutkan perangai buruknya. Sebelum menikah Mama pernah berpesan, jangan ingat keburukan suamimu, tapi ingatlah apa perbuatan baik yang pernah dia perbuat padamu, cinta hanya bisa bertahan bila kamu selalu mengingat kebaikannya.

 

Aku selalu berusaha mengingat perkataan Mama. Bulan madu romantis di resort terpencil milik seorang berkewarganegaraan asing yang tinggal di Indonesia ini, kesediaannya menjagaku di rumah sakit saat aku tak sengaja terjatuh dari tangga sehingga kaki kiriku patah dua bulan setelah pernikahan kami, dia yang lebih memilih untuk mengantarku kontrol pasca operasi daripada menjalani meeting menjemukan di kantor. Kurang apa lagi dia sebagai suami??? Namun ternyata itu semua hanya semu. Dia memang mencintaiku. Tapi ia juga mencintai para perempuan diluar sana. Tiba-tiba aku tak yakin apakah cintanya untukku sama besar dan istimewanya dengan cinta yang ia berikan kepada para perempuan itu.

 

Entah sial, atau sebuah keberuntungan. Dengan segala sifat buruk yang dimilikinya, dia memiliki keluarga yang luar biasa. Mertua yang menyayangiku, abang ipar yang mengerti kesusahanku dan adik ipar perempuanku yang selalu menemani ketika aku perlu ditemani kemana saja. Hati kecilku percaya bahwa mereka tulus, karena seperti itu pula yang tergambar. Lalu, hanya ingatan tentang kebaikan keluarganya yang selalu teringat, bukan kebaikan dia.

 

Demi itu semua aku bertahan. Demi rasa cinta yang tanpa kusadari akhirnya perlahan-lahan mulai memudar. Kesibukannya sejak mengambil alih kantor cabang yang diberikan papa padaku, semakin membuat kami jauh. Tugas ke luar kota selalu menjadi alasannya untuk jarang pulang.

Aku berusaha memperbaiki semuanya, tapi tetap saja dia tak bisa menerima. Seolah segala sesuatu yang aku lakukan hanyalah kesalahan. Ketika aku memberi tahu papa tentang kesibukan menantu kesayangannya, papa memintaku untuk bersabar. Karena kantor cabang yang diambil alihnya terus berkembang, dan papa pun semakin mempercayainya dari pada aku.

Demi menjadi istri yang baik akupun melepas karierku sebagai salah seorang petinggi di kantor Papa. Hanya saham yang tetap menjadi bagianku. Papa memang melarang aku menjualnya. Bahkan saham bagianku tak bisa bisa dijual kecuali perusahaan juga ikut dijual. Aku juga menyerahkan sepenuhnya pengambilan keputusan dalam rapat dewan pemegang saham kepadanya. Kuputuskan total untuk menjadi ibu rumah tangga sejati.

Dia semakin jauh dari sosok yang kukenal di coffeeshop itu. Kata cinta yang terlintas dari bibirnya hanyalah sebuah kebiasaan tanpa ada makna didalamnya, pagi-pagiku tak lagi dihadiahkan ciuman mesra darinya, malam-malamku pun sepi. Perempuan bodoh. Tak mampu mengatur rumah. Dingin di tempat tidur. Adalah kamus barunya. Selama dia tak memukulku, kata-kata itu tak ada artinya.

Aku melayang antara sadar dan tidak saat aku mendengar suara-suara itu. Itu suara Nah yang sibuk bergosip dengan suara rendah. Kalau sudah bergosip Nah paling jago merendahkan suaranya seperti orang berbisik. Namanya juga gosip Buk, kalau keras-keras bisa terdengar orang, itu katanya padaku. Semakin kudekati suara itu semakin jelas. Apa yang sedang dibicarakan Nah? Mengapa suaranya seperti itu. Kubuka pintu kamar Nah yang tidak terkunci, dua sosok manusia sedang bergulat diatas ranjang. Kulit menyentuh kulit. Desah dan seruan tertahan saling bersahut-sahutan. Tapi bukan Nah yang ada diranjang itu. Ada seorang perempuan bertubuh sintal yang dikenalkan kepadaku seminggu yang lalu sebagai asisten baru di kantor cabang sedang mendekap erat laki-laki yang berada diatasnya, suamiku.

Pengkhianatan yang tak akan pernah bisa aku terima. Sudah cukup semua itu. Tak akan ada lagi maaf. Tanpa mempedulikan nasehat papa, mama dan keluarga mertua, aku mengurus segalanya sendiri. Sebulan setelah kejadian itu, kami resmi berpisah. Segala cinta yang pernah aku coba pertahankan, hilang tak berbekas.

Tapi perpisahan itu meninggalkan sesuatu di perutku. Kehamilan yang tak kuketahui sebelumnya. Sesuatu yang sebelumnya ingin ku buang, tapi berjalannya waktu, rasa sayangku tumbuh. Dia yang mengetahuiku mengandung anaknya, mencoba mendekatiku lagi. Dengan segala rasa penyesalan yang dia tunjukkan padaku. Kami memang masih sering bertemu, karena sejak kami berpisah,  Papa memberikan seperempat saham kepadanya. Tapi segala penyesalannya tak berarti bagiku. Buatku, dia bukan siapa-siapa lagi. Anak ini adalah anakku. Tak akan pernah aku ijinkan dia untuk mengakuinya sebagai anaknya.

Selama masa kehamilanku, abang iparku, maksudku mantan abang iparku, Riza, yang menemaniku untuk kontrol ke dokter. Dia merasa harus bertanggung jawab atas kelakuan adiknya dan bertanggung jawab atas calon keponakannya. Dan waktu, memang berkuasa untuk mengubah segalanya. Termasuk segala perasaan yang kami miliki. Hubunganku dengan Riza akhirnya berubah menjadi kasih sayang antara laki-laki dan perempuan. Rasa sakit yang aku miliki, begitu saja terhapus dengan segala ketulusannya. Laki-laki mana yang mampu mencintai perempuan hamil dan berat badan berlebih dengan begitu tulus? Suara paniknya yang terdengar begitu jelas ketika perutku terasa sakit pada bulan kehamilan ke lima. Dan hatiku terketuk begitu rupa.

Tak mampu kusembunyikan rasa puasku melihat wajah mantan suamiku ketika abang kandungnya mengucapkan akad atasku didepan penghulu dirumah mertuaku, tepat setahun setelah perceraian kami. Dengan memeluk anakku, aku menerima status baruku sebagai istri Riza, dengan mertua yang sama.

Masa lalu telah kucampakkan jauh ke belakang, bersama mantan suami yang terpuruk pada penyesalan. Dia memiliki segala hal, tapi tidak dengan kebahagiaan. Dia telah menghancurkan itu semua, ketika aku berhasil mewujud cinta baginya. Tapi sekarang, aku sedang berbahagia bersama orang yang benar-benar tulus mencintaiku, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang aku miliki. Bersama Riza, aku merasa lengkap.

 

Tulisan ini untuk project #20HariNulisDuet hari ke – 6 dengan @putripwu 

4 responses to “Cinta Yang Berbeda

  1. Pingback: Cinta Yang Berbeda | Dum Spiro, Spero

  2. Pingback: Cinta Yang Berbeda « Putri's Little World

  3. rudy tu jeqo 26 April 2012 pukul 11:43 am

    yaa.. cinta itu menyakitkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: