Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

I’m ( not just ) what I wear

 Saya bukan orang yang punya style bagus dalam berpakaian. Style saya sangat standard. Begitu juga untuk pakaian kerja. Celana bahan atau jeans dan kemeja atau kaos. Sesekali pakai blazer kalau akan menemui klien atau batik ketika Jum’at tiba. Selalu seperti itu. Maka, manakala ketika saya iseng ingin tampil beda, dengan celana bahan dan kemeja panjang hampir selutut, lalu kemudian ada komentar miring, mau tak mau itu membuat saya down.

Oh, come on. Ini kantor yang tak mengharuskan karyawannya menggunakan seragam. Tidak seperti karyawan yang memang seruangan dengan kami tapi berbeda instansi. Sebagai pihak ketiga di instansi tersebut, mau tak mau kami harus menerima bergabung di satu ruangan dengan mereka. Selama 2 tahun ini toh tak pernah ada masalah, karena kami menjaga batas wilayah masing-masing.

Lalu, ketika komentar dan candaan itu akhirnya semakin berkembang sehingga membuat mereka seperti pengamat mode jempolan, mau tak mau saya jengah juga. Mereka toh tau, kalau dalam hal style saya memang ketinggalan jauh. Saya tak pandai bergaya seperti mereka yang pede dengan gamis, atau baju dengan warna cerah dan berbagai mode. Dengan celak tebal dan wajah warna warni. Saya punya style sendiri yang membuat saya merasa nyaman mengenakan pakaian dan style yang sama setiap hari. Jika sesekali saya ingin tampil beda, masih dengan cara saya sendiri, seharusnya cukup berkomentar, tak lantas menjadi pengamat mode. Mengkoreksi apa yang harus saya pakai, apa yang harus saya lakukan dengan jilbab saya, atau apa yang harus saya lakukan dengan kemeja atau kets saya. This is me. I wear what I want to wear and I feel comfort in it. Seharusnya dia menghormati apa yang saya kenakan, bukan mencela seperti itu.

Mahluk nyinyir memang ada di mana saja. Orang-orang yang selalu merasa lebih tau dan lebih baik dari orang lain. Tapi, itu tak membuat saya berhenti mengenakan apa yang saya sukai. Terserah orang menilai tampilan saya seperti apa. Itu hak mereka. Karena saya juga punya hak untuk mengabaikannya.

Iklan

2 responses to “I’m ( not just ) what I wear

  1. Chici 19 Maret 2012 pukul 10:17 am

    Be yourself aja kakak…
    Kalo ngebahas tentang gaya berpakaian, kalo chi kuncinya “nyaman” aja kak, memang kadang kritikan nggak ngenakin gitu sering bikin kita yang awalnya pengen tampil beda malah jadi down duluan 😦

    • weirdaft 22 Maret 2012 pukul 12:02 pm

      Ah iya, Chi. kadang2 ada orang yg lebih suka jd pengamat mode dengan cara yang “kasar” ya. masukan pasti dibutuhkan untuk kita yang memang gak bisa dandan.tapi, pastinya gak dgn cara kasar. Kalo gitu, biasanya aku balik lagi ke jeans dan kemeja. Nyaman dan aman 😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: