Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Kawin Paksa

 

Rena menangis tergugu disisi ranjang ketika ibunya masuk ke kamarnya, dan melemparkan sehelai kebaya merah kehadapannya.

“Nih, coba. Nggak usah nangis lagi. Keputusanku sudah bulat. Kau harus menikah dengan Pak Gusti. Suka tidak suka!!” bentaknya, lalu keluar dan membanting pintu kamar. Rena semakin tergugu.

Pak Gusti, orang yang telah berbaik hati menyekolahkannya, membayarkan hutang-hutang ibunya, membiayai sekolah 4 orang adik-adiknya, membiayai hidup mereka selama ini. Dan setelah Rena menjadi mahasiswa semester 3, giliran dia yang harus membayar segala apa yang sudah diberikan Pak Gusti kepada keluarga mereka. Menjadi istri ketiga Pak Gusti. Atau, ibunya harus mengembalikan lagi seluruh biaya yang telah dikeluarkan pak Gusti bagi keluarga mereka. Sesuatu yang tidak mungkin.

Tapi, apa yang bisa dilakukannya ? Perempuan berusia 19 tahun yang tak berani membayangkan, seperti apa kelak hidupnya, jika laki-laki berumur 63 tahun itu jadi suaminya. Sementara, cinta pertamanya yang telanjur jatuh pada seorang senior galak yang ternyata baik hati, yang ditemuinya ketika masa ospek sebagai mahasiswi baru.

Semakin dia mengingat sosok senior tercintanya, semakin tergugu dia dalam tangis. Ibunya kembali memasuki kamarnya, dengan suara yang melebihi tangisnya.

“Diam!! Tak ada yang bisa menghentikan pernikahan ini. Lusa, kau harus menikah. Lalu turuti apapun semua kata-kata suamimu nanti!!” bentak ibunya.

Dalam isak Rena mencoba membantah,

“Tapi aku bukan Siti Nurbaya, ibu. Aku tak mau dikawinkan dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi kakekku. Aku masih ingin sekolah, ibu,” tangisnya meledak, mengiris hati siapapun yang mendengarnya, kecuali ibunya.

“Kau memang bukan Siti Nurbaya. Tapi kalau kau tidak kawin dengan dia, jangan harap kau bisa kuliah lagi. Karena selama ini, hidup kita dia yang membiayai. Dan kalau kau memang Siti Nurbaya, pasti sekarang kau sudah mati minum racun, daripada menikah dengan pak Gusti lusa esok!!”

Lalu ibunya membanting pintu kamarnya. Dalam satu klik putaran anak kunci, Rena terkurung dalam kamarnya. Menangis, menunggu hari kiamatnya. Kalimat terakhir ibunya menerbitkan sesuatu dikepalanya yang mulai tak jernih berpikir.

Lusa, setelah dua hari dua malam tak tidur dan hanya minum air putih dan sedikit nasi, usai akad nikah, Rena resmi menjadi istri ketiga Pak Gusti. Orang yang membiayai hidup mereka. Yang sekarang menjadi menantu ibunya.

Usai resepsi yang dihadiri hampir seluruh penduduk kampung dan kedua istri Pak Gusti yang lain dan anak-anaknya, Rena menunggu didalam kamar. Dengan pasrah. Bersiap mengikuti hasrat tuannya yang telah menjadikan Rena miliknya yang sah. Yang bebas dia perlakukan sebagai apa saja.

Karena Rena bukan Siti Nurbaya, yang tak ingin menyerahkan nasibnya pada kematian, maka dia yang akan membalik takdir. Ketika pak Gusti bersiap melaksanakan tugasnya sebagai suami, melihat sesuatu yang akan mengakhiri hidupnya sebagai seorang perempuan muda, dengan secepat kilat Rena meraih gunting yang telah dia persiapkan sebelumnya, yang sedianya dia gunakan untuk mengoyak kebayanya. Krekkk… currr….. sesuatu terlepas dari bagian bawah Pak Gusti dan mengucurkan begitu banyak darah. Disertai lolongan panjang laki-laki terkaya dikampungnya yang beristri tiga dan senyum Rena yang dingin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: