Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

The Missing Rose

Agenda tetap NBC Medan tiap kali kopdar adalah bertukar pinjam buku. Setiap teman yang datang, harus membawa buku yang akan dipinjam oleh teman yang lain. Batasan buku yang dibawa atau dipinjam tidak ada. Yang penting, bertanggung jawab untuk menjaga buku itu seperti dipinjam, dan harus dikembalikan lagi ke pemiliknya ketika kopdar berikutnya.

Nah, kopdar kemarin, saya dapat banyak pinjaman buku dari Mora. Tertarik dengan sampulnya yang hitam dan ada sebuah mawar putih. Cover yang menarik. Lalu, judulnya dengan huruf tipis dan berwarna merah “the missing rose ~ Serdar  Ozkan”. Nama yang tak lazim. Pikir saya, ini hanya buku tentang cinta-cintaan yang menye-menye saja. Tapi, begitu pengantarnya menyebutkan, bahwa mereka yang menyukai Alchemist, pasti juga akan menyukai buku ini, saya agak kaget juga. Alchemist, justru saya jatuh cinta pada Paulo Coelho ya karena Alchemist ini.

Dan akhirnya, pelan-pelan saya mulai membaca buku ini, dan akhirnya menemukan banyak sekali kejutan didalamnya.

Buku ini bercerita tentang pencarian jati diri. Tentang menemukan kebahagian. Bahwa untuk menemukan kebahagiaan sejati, kita harus berani membunuh diri kita yang secara sadar atau tidak menghalangi kita untuk menemukan kebahagiaan sejati yang ternyata ada didalam diri kita sendiri.  Bukan di luar.

Diana menyeberangi lautan untuk menemukan Mary, saudara kembarnya, yang baru diketahuinya dari surat ibunya, setelah ibunya wafat. Melalui surat-suratnya, Mary bercerita tentang keinginannya untuk menemui ibunya, pencarian yang dilakukannya untuk menemukan ibunya dan tentang kemampuannya mendengarkan mawar.

Berbekal surat-surat Mary dan petunjuk dari surat ibunya pencarian itu menuju ke Turki. Tak hanya untuk mencari jejak tentang Mary, tetapi juga untuk belajar mendengarkan mawar. Dan perjalanan itu mempertemukannya pada Zeynep Hanim yang melalui suratnya, Mary mengatakan bahwa Zeynep Hanimlah yang mengajarkannya cara mendengarkan mawar. Pencarian-pencarian itu saling berkaitan. Hingga akhirnya Diana menemukan apa arti pencarian itu, menemukan Mary, kebahagiaannya, keinginan terbesarnya untuk menjadi penulis, dan pada cinta.

Buku ini menghasilkan kejutan di akhir ceritanya. Saya sendiri salah menebak ketika membaca akhir cerita. Tapi yang pasti, ketika cerita menuju pada sebuah epilog, tak sadar saya menghembuskan nafas lega, ketika Diana berhasil menemukan apa yang dicarinya, menemukan kebahagiaannya tanpa peduli komentar dari orang lain, berani membuat keputusan untuk mulai menulis, yang merupakan impian terbesarnya.

Selain itu, di buku ini juga banyak ditemukan kalimat-kalimat bijak yang mau tak mau serasa menampar kepala saya ketika membacanya.

Untuk berdekatan, pertama-tama seseorang harus belajar melepaskan – hal 76

Tuhan tidak membiarkan kita tanpa jawaban – hal. 134

Jika sudah kehendak Tuhan, apa saja bisa terjadi – hal. 135

Dan ada begitu banyak percakapan filosofis yang terjadi disepanjang halaman buku. Percayalah, jika buku ini bisa menampar saya, pasti juga bisa menampar kalian.

Iklan

2 responses to “The Missing Rose

  1. Mambay 20 Mei 2012 pukul 12:39 pm

    srpti’a buku yg bagus nih. 😎

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: