Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Melenyapkan segampang menepuk

Aku menepuk satu nyamuk gemuk yang sedang asyik mengisap darahku. Menyisakan kematiannya dan tetesan darahku yang tadi dihisapnya. Kenyamanan memang sering membuat lupa. Tak hanya manusia, tapi juga hewan. Rasa nyaman, nikmat dan kenyang membuat si nyamuk lupa untuk terbang lagi. Seharusnya, nyamuk itu menghisap darahku sekedarnya saja, tak perlu sekenyang-kenyangnya, sehingga dia akhirnya kesulitan untuk terbang karena perutnya kekenyangan akan darahku.

Selagi merasa seru sendiri mencari-cari nyamuk yang dari tadi sudah menghisap darahku, satu sms masuk. Mengganggu keasyikanku.

+0811606****

Gimana urusan kita? Beres?

Aku terdiam, memandangi layar telpon genggam yang masih monochrom. Memutar-mutarnya sesaat. Pencarian nyamuk menjadi terlupakan. Satu baris kalimat itu saja, mampu menyita seluruh perhatianku.  Aku menggaruk darah kering yang menempel dipunggung tanganku, bekas gigitan nyamuk yang aku bunuh tadi.

Ini bukan perkara gampang. Meskipun aku sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya, tapi kali kedua akan melakukannya, tetap saja menyelipkan rasa takut. Meskipun si pengirim sms tadi sudah menekankan, bahwa tak akan ada buntut dari rencana yang sudah disusun dengan rapi oleh si pembuat rencana.

Seandainya membunuh manusia segampang membunuh nyamuk, pikirku kacau.

“Bang, lusa wak Trimo datang lagi. Katanya, kalau kita nggak sanggup bayar tunggakan kontrakan 3 bulan ini, sebaiknya kita cari kontrakan baru. Kita dikasi waktu 2 minggu untuk cari kontrakan baru dan beres-beres,” suara istriku dari kamar membuyarkan lamunanku.

“Iya, kalau besok dia datang lagi, bilang sama dia, lusa aku kasih uang kontrakan untuk 4 bulan ini,” balasku menenangkan istriku.

Istriku adalah perempuan terindah yang membuatku meninggalkan segala kemewahan hidup yang seharusnya aku terima dari warisan orang tuaku. Sebagai anak tertua. Tapi, dengan mengikuti agama istriku dan meninggalkan rumah, aku telah mengijinkan ayahku untuk mencoret namaku dari daftar warisannya. Berikut segala subsidi dan fasilitas yang biasa aku terima dulu, setiap bulan. Sebelum aku pindah agama dan menikahi istriku. Tapi cinta, membuat segala hal menjadi mungkin.

Dan disinilah aku sekarang. Di kontrakan sempit, bertiga dengan anak lelakiku. Dua orang yang aku cintai lebih dari apapun. Yang membuatku mampu melakukan apapun. Termasuk menjadi penambal ban, karena ijazah S1-ku tak mampu membendung kekuasaan ayahku yang meliputi hampir separuh kota kecil ini.

Satu pesan kembali membuat telpon genggamku bergetar. Layar monochrom itu kembali menampilkan sebuah pesan dari nomer yang berbeda.

+0815324****

Gimana? Siap nggak? Kalau sudah yakin, aku tunggu di perempatan disamping ATM. Kalau 1 jam kau tak datang, perjanjian batal. Kalau urusan ini selesai, uang akan ditransfer hari ini juga langsung dari rekening bapak yang di luar negeri. Kalau sudah jelas, hapus pesan ini.

Ujung hidungku berkeringat. Tanganku gemetar ketika menghapus pesan itu. Kuambil jaket dan tas, lalu menemui istriku yang sedang menidurkan anakku di atas dipan berkasur tipis.

 

“Rin, abang berangkat dulu,” pamitku.

“Jadi, abang pergi? Kapan pulang? Selesai antar kayu, abang langsung pulang, ya,” pintanya. Ada sedikit kekhawatiran dimatanya. Tuhan, bagaimana aku tak mencintainya, begitu besar cinta yang dia punya untukku.

Aku mengangguk. Mengelus rambutnya pelan.

“Doakan urusan abang beres. Cuma dua hari aja, kok. Supaya kita bisa membayar kontrakan. Ya,” ucapku serak. Dia mengangguk pasrah.

“Abang berangkat dulu,” pamitku.

***

Aku memasukkan kartu ke mesin ATM. Menekan pin yang sudah diberikan oleh teman seperjalananku. Tercengang aku membaca angka demi angka yang tertera di layar. Lima ratus empat puluh lima juta rupiah. Terbata aku mengeja angka demi angka. Tiga kali aku membaca, dan angka itu tak berubah.

Masih gemetar aku menekan angka demi angka untuk mengeluarkan uang yang kini menjadi hakku. Berbagai rencana berputar di otakku. Yang jelas, akhirnya aku bisa membahagiakan istri dan anakku. Aku bisa hidup layak dan menepati janjiku pada mertuaku, bahwa aku akan membahagiakan anak mereka.

Sebuah pesan singkat menghiasi layar telpon genggamku lagi.

 +0819871****

Bapak mengucapkan terima kasih. Beliau bilang, kerjamu baik. Ambil paket yang dititipkan di warung depan ATM ini. Selesai kau baca pesan ini, hapus seluruh data dari hapemu, patahkan SIM cardmu, dan buang hape ini dengan melepaskan komponennya. Selamat menikmati hasil kerjamu. Kita akan bertemu lagi nanti.

Aku menyesap kopi dengan nikmat. Melihat istriku yang sedang menyusun barang-barang kami, untuk segera pindah dari kontrakan 3 x 4 meter ini. Rina, istriku, tersenyum sambil memilih barang yang akan dibawanya besok, menuju sebuah rumah yang aku tunjukkan lewat layar telpon genggamku yang kini sudah bisa bernyanyi dan memotret.

Kami akan pergi jauh dari kota ini. Meninggalkan segala ketidakbahagiaan yang tercipta di kota kecil ini. Satu tusukan perih dan gatal terasa di lenganku. Refleks aku memukul sumber perih dan gatal itu. Seekor nyamuk kembali menjadi korban. Meninggalkan darah yang keluar dari perutnya yang pecah. Aku terdiam. Darah. Dan itu mengingatkanku pada sepenggal cerita yang membuatku harus pergi dari kota ini.

 ***

Aku menggenggam tangan istriku. Menuntunnya menaiki bis yang akan membawa kami keluar pulau. Pelan aku menghela nafas, menentramkan gemuruh jantung yang berdetak 3 kali lebih cepat. Perlahan tanganku membuka koran yang sedari tadi aku lipat. Koran yang aku beli dari penjaja koran di terminal. Kembali aku membaca headline yang tercetak tebal di koran kriminal itu. Mataku menyusuri baris demi baris kalimat yang membuat nafasku memburu.

Ditemukan sesosok mayat yang terpotong didalam sebuah koper. Diduga, kematiannya sudah lebih dari 2 hari. Mayat tersebut dikenali sebagai seorang penyidik di kejaksaan yang sedang menyidik kasus korupsi ijin penebangan hutan yang dilakukan seorang bupati…

 

Iklan

6 responses to “Melenyapkan segampang menepuk

  1. Teguh Puja 18 Juni 2012 pukul 11:14 pm

    Untuk perkara uang, memang segala sesuatu~baik atau pun buruk, selalu saja bisa dilakukan. Terlepas dari apakah pekerjaan yang dilakukan itu membawa manfaat atau justru yang sebaliknya.

    Untuk satu tulisan terbaru di malam tantangan sekarang, ini keren banget, 😉

    • weirdaft 18 Juni 2012 pukul 11:33 pm

      idenya dari nyamuk yg beterbangan disekitar kaki dibawah meja 😀 dan juga mslh2 yg belakangan sedang rame dibicarain di negara kita. jadinya ya begitu.

      terima kasih kesempatannya.mdh2an gak ke-block lagi sama kemalasan nulis 😉

  2. Nich 21 Juni 2012 pukul 12:43 pm

    :jempol: :jempol:

    Kusangka kakak cerita nyamuk di teras Pak Gun
    *nguaciirrrr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: