Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Konsekuensi

Kali ini saya pengen curhat. Boleh ya. Supaya sedikit lega aja. Rasanya, memang lebih gampang mengeluarkannya dengan cara menuliskan daripada bicara.

Saya orangnya tempramental. Sangat. Beberapa teman yang kenal saya cukup lama, mengerti betapa jeleknya watak saya ini. Gampang meledak-ledak. Menahan amarah dan belajar sabar adalah hal yang sulit buat saya. Di awal saya bekerja di perusahaan yang sekarang, itu menjadi kendala yang benar-benar disorot para bos. Betapa watak saya ini berbahaya untuk kelangsungan hubungan dengan klien.

Sebenarnya, tak mungkin tanpa alasan saya marah-marah atau bahkan bisa dikatakan mengamuk. Selalu ada sebab dan akibat. Selalu ada asap setelah api. Maka, ketika ada hal-hal yang menggangu kestabilan emosi, maka tanpa menggunakan logika dengan baik dan benar, meledaklah segala apa yang semula tersimpan rapi.

Saya bukannya tak belajar. Waktu dua tahun mengajarkan saya banyak hal tentang kesabaran. Tentang bagaimana menyembunyikan amarah dengan senyum. Tentang belajar senyum, meski tangan terkepal erat. Tentang bagaimana mengedepankan logika ketimbang emosi. Dan itu bukan perkara mudah. Terlalu sulit buat saya. Tapi disini, di kawah candradimuka ini saya belajar banyak tentang itu semua. Tentang sabar dan pengendalian diri. So far, so good. Meski terkadang suka lepas kontrol juga, sesekali.  Hey, I’m just a human being.

Konsekuensi dari amarah yang terlontar keluar tanpa kendali ini, tentu saja ada. Banyak malah. Balasan amarah dari orang lain, tentu saja. Belum lagi efek dendam yang tertinggal setelahnya. Benar-benar buruk watak saya ini. Saya paham betul atas segala konsekuensinya. Tapi apa lacur, kalau kesalahan yang terjadi berulang-ulang, berulang-ulang dan seolah-olah dilindungi. Menutup mata dengan segala yang terjadi. Malah adanya pembenaran terhadap segala kesalahan itu dengan menimpakan kesalahan pada pihak lain, atau meminta pengertian yang lebih dan lebih dari yang bisa diberikan, maka segala amarah itu dipastikan akan meledak.

Marah, tak berarti membenci. Saya tak pandai menyampaikan emosi yang tersimpan seperti batu ini dengan kepala dingin. Jika sedikit saja pancingan datang, saya akan sambut dengan serta merta. Apapun resikonya. Jika itu memang salah, maka akui saja kesalahan itu. Teguran terkadang tak berarti saya sedang membenci orang yang melakukan atau menutupi kesalahan itu. Hanya pengingat, bahwa tak semua orang mampu menerima segala pembenaran atas kesalahan itu dengan lapang dada.

Maka, jika suatu ketika amarah saya meledak tanpa bisa ditahan, maka yakinlah, itu adalah efek dari tersimpannya segala macam masalah yang berusaha saya tahan dengan susah payah. Saya paham segala resiko yang mengikutinya. Tak bermaksud menjadi pahlawan kesiangan, atau menjadi martir untuk sebagian orang. Hanya, jika kesalahan yang itu itu saja, terlihat dengan jelas dan tegas didepan mata, tetapi diabaikan, jangan salahkan orang lain jika akhirnya apa yang tersimpan akhirnya keluar tanpa ada filternya.

Watak saya memang jelek, tapi terkadang, apa yang ada dibalik amarah itu tak melulu jelek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: