Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

Cinta Pertama ~ #WriterChallenge

Apa yang tertinggal dalam benakmu tentang ketika cinta pertama kali menyentuh hatimu untuk pertama kali, pada saat usia belasan? Indah? Menyenangkan? Tak terlupakan? Atau sejuta rasa yang tak akan terungkapkan? Yang jelas, bagiku, cinta pertama memang tak terlupakan. Sampai akhir hidupku kelak, aku mungkin akan terus membawa serta cinta pertamaku.

Hingga hari ini, aku masih ingat, bagaimana sesosok anak laki-laki dalam balutan seragam putih abu-abu mampu membuat hatiku berdebar kencang, hanya ketika dia menyentuh pundakku untuk meminjam pulpen yang memang tak pernah dia punya. Atau ketika tatap matanya yang jenaka dan bandel akan mengedip ketika dia akan melompati jendela kelas untuk kabur ketika pelajaran Fisika akan dimulai. Atau, bisikan dan tusukan pulpen pada punggungku ketika ulangan Kimia berlangsung. Juga petikan gitarnya pada setiap acara perpisahan sekolah. Aku mengingat segala hal. Segala tentang sosok bandel yang membuatku menyimpan segala cerita tentangnya dalam sudut hatiku. Mengingatnya, tak mampu melupa apapun tentang dia.

Betapa hanya dia yang mampu menggugah hatiku, mengubah seluruh perjalanan hidup dan rencana yang telah lama kususun. Satu kerlingan nakalnya, maka lututku pun akan goyah. Tak kuasa menolak permintaannya, ketika dia menyodorkan buku pe ernya yang masih kosong.

Kamu, cinta pertamaku, yang akan kubawa sampai mati. Dan kamu pula yang akhirnya membuatku berhenti mencintai. Luka yang kamu tanamkan pada hati mudaku, begitu parah. Babak belur. Tak terobati. Tak ada lagi tersisa tempat bagi cinta pada hatiku. Tak ada lagi rancangan tentang bahagia dalam hidupku. Kamu merampasnya sedemikian rupa. Menghancurkan setiap jengkal susunan kehidupanku. Kamu, yang membuatku mencinta begitu tinggi, lalu menghempaskannya tanpa ampun.

“Ibu,” panggil sesosok kecil yang baru bangun tidur ketika aku masih berkutat dengan perkedel kentang yang harus aku siapkan pagi ini.

“Nak, kok udah bangun? Ini masih pagi. Ayo, tidur lagi,” sahutku. Melap tanganku pada rokku yang kumal, dan menuntun buah hatiku yang berusia 5 tahun kembali ke  tempat tidur. Untuk kemudian kembali menyiapkan dagangan pagi ini.

Ya, masa mudaku kau rampas sedemikian rupa. Hingga tak bersisa. Entah apa yang membuatmu mampu merusak masa depan yang kususun dengan rapi. ITB adalah tujuan awalku untuk meraih masa depan, tapi kehamilanku pada usia 17 tahun menghancurkan segalanya.

Segala yang telah terjadi bukan karena takdir, tapi ketololanku yang mau saja mengikuti ajakanmu untuk berteduh dirumahmu ketika hujan lebat, usai kita mengerjakan tugas kelompok. Hujan yang tak kunjung reda akhirnya membuat otakmu berpikir terlalu jauh. Ketika bujukan tak mempan, paksaan itu yang kau lakukan. Hingga akhirnya, beasiswa yang sudah disiapkan sekolah untukku melanjutkan kuliah harus hilang, begitu mereka mengetahui aku hamil pada akhir tahun ajaran di kelas dua.

Dan duniaku runtuh. Harapanku hancur. Dan kau, laki-laki dengan kerlingan nakal dan senyum manis itu tak mampu mempertanggungjawabkan apa yang sudah kau mulai.

Maka disinilah aku sekarang. Dengan seloyang perkedel yang aku buat tiap pagi, untuk menghidupi anakku yang tak tega aku buang ketika kehamilan masih begitu dini. Ikatan tak terlihat antara aku dan bayi diperutku akhirnya membuatku memutuskan untuk memelihara anakku, dan keluar dari sekolah.

Aku mungkin tak memiliki masa depan lagi, tapi aku punya anak laki-laki yang juga memiliki kerlingan nakal matamu dan senyum manismu. Anak ini yang kelak akan meneruskan cita-cita yang dulu pernah aku rancang. Dia yang mewarisi kerlingan nakalmu, yang akan membuatku mampu berdiri tegak menghadapi dunia. Berdua, kami akan menjawab segala cibiran dan hinaan yang bertahun-tahun aku terima.

Dan jika kamu melihat kami dari atas sana, wahai cinta pertamaku, percayalah, aku memaafkanmu.

 

Iklan

9 responses to “Cinta Pertama ~ #WriterChallenge

  1. Teguh Puja 5 Juli 2012 pukul 11:56 pm

    Cinta pertama yang berbuah ‘kesalahan’ pertama juga.

    Tulisan ini menjadi potret dari salah satu hal yang sudah tak asing lagi kita temui di sekitaran kita saat ini.

  2. mas stein 6 Juli 2012 pukul 8:17 am

    entah kenapa, hati saya berdesir, saya gak merasa ini cerita sedih, cerita ini manis sekali 🙂

    • weirdaft 6 Juli 2012 pukul 6:23 pm

      ah, baru mas stein ini yang bilang cerita ini sedih 🙂 terima kasih, sudah mau melihat dari sisi lain 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: