Tentang Kata

hanya sekedar kata-kata

#Writer Challenge – Kelahiran

Jika hari ini adalah jamannya para Dewa, maka segala yang terjadi mungkin bisa diramalkan. Tentang kelahiran, kematian, perjalanan hidup, perang, damai, segala hal bisa diramalkan. Tapi saat ini, apa yang sedang kupijak, bukanlah negeri para Dewa. Bukan pula Zeus yang memimpin dengan segala kekuatannya dan membagi dunia dalam tiga bagian bersama kedua saudaranya, Poseidon dan Hades. Ini adalah kehidupan nyata. Kehidupan yang sedang berlangsung adalah nyata. Begitupun apa yang sedang terjadi dalam hidupku.

Orang tuaku tak bisa meramalkan kehidupanku setelah aku dilahirkan. Tak ada yang bisa menyangka apa yang terjadi padaku, setelah mereka membuangku ke sebuah panti asuhan bertahun-tahun lalu. Dan kemudian aku tumbuh besar, menjadi laki-laki yang tak pernah mengenal kasih sayang selain dari pengurus panti. Lalu, bertahun-tahun setelah aku melewati masa remajaku dalam ketidakpercayaan diri, mereka muncul, menangis, meminta maaf, mengajakku kembali ke rumah mereka. Memintaku untuk memberikan mereka kesempatan memperbaiki kesalahan dengan membuangku. Himpitan ekonomi menjadikan alasan mereka untuk membuangku. Dengan dua orang anak yang masih memerlukan biaya, membuangku ke panti adalah jalan keluar terbaik. Untuk mereka, tapi bukan untukku.

Dan sekarang, setelah segala hal membaik di kehidupan mereka, setelah 17 tahun aku hanya mengenal pemilik panti sebagai orang tuaku, mereka mengajakku kembali. Cih! Aku seperti Perseus, yang dibuang kakeknya, Akrisios, karena tak ingin menjadi anak yang mencelakai kakeknya. Dan aku telah dianggap membahayakan kelangsungan hidup kedua kakakku, itu sebabnya mereka membuangku.

Jika kemudian aku berkenalan dengan segala jenis barang-barang yang menenangkan, justru setelah aku kembali ke rumah orang tuaku, itu pasti bukan kesalahanku mutlak. Siapa yang bisa menerima kegilaan ini? Aku anak yang tak diharapkan. Tapi kemudian diambil kembali setelah aku menikmati segala kekurangan dalam hidup. Setelah aku ikhlas menjadi yatim piatu, yang tak pernah kenal siapa orang tuaku. Dan kemudian mereka datang, lalu berpikir semua baik-baik saja? Mereka salah! Tak ada lagi kebaikan. Aku menanggung segala hinaan bertahun-tahun, seperti sepasang seragam lusuh yang harus aku gunakan setiap hari. Menahankan bau yang aku sendiri tak sanggup menciumnya.

Aku masih melayang diantara segala kenikmatan yang tak bisa aku dapatkan ditempat yang mereka sebut rumah, tapi asing bagiku, ketika aku mendengar suara-suara disekitarku. Samar aku lihat wajah perempuan yang terpaksa aku panggil ibu, menangis memanggil namaku. Dan kemudian segalanya menjadi tenang.

Entah sudah berapa lama aku tak sadar. Sampai ketika satu usapan lembut menyadarkanku. Ibu Rahmi, pengurus panti yang selalu menjadi tempatku berkeluh kesah jika rasa tak percaya diriku selalu muncul. Samar aku mendengarnya berbicara. Suara yang selalu menentramkan hatiku.

“Rey, cepat sadar, nak. Ibu dan semua orang disini, menunggu kamu sadar. Kami sayang kamu, nak. Cepatlah sembuh, nak,” aku mencoba menggerakkan tangan. Tapi tak ada yang bisa kulakukan. Bahkan untuk membuka mataku saja begitu berat. Tapi suaranya terdengar jelas ditelingaku. Berkali-kali dia melantunkan doa, menyebut asma Tuhan.

Masih terdengar suara ibu Rahmi yang bercerita tentang masa kecilku yang sekarang melintas jelas di kepalaku. Aku mengingat semuanya, ibu. Aku juga masih mengingat aroma tubuhmu yang selalu menenangkanku, senyummu yang selalu menguatkanku. Aku merindukanmu, ibu. Perempuan yang menjadi ibu yang sesungguhnya. Setitik air mata menetes dipipiku. Air mata ibu Rahmi. Oh Tuhan, untuk pertama kalinya aku membuat ibu menangis. Betapa berdosanya aku.

Masih terdengar suara ibu Rahmi memanggil-manggil namaku. Ah Tuhan, jika Engkau masih memberiku kesempatan, akan aku perbaiki segala yang aku kacaukan. Akan aku jauhi segala barang yang hanya memberikan ketenangan sesaat itu. Tolong Tuhan, aku tak ingin Ibu Rahmi menangis lagi.

Perlahan aku membuka mataku yang tadinya begitu berat. Melihat ibu Rahmi yang tersenyum dalam tangisnya. Berucap syukur berkali-kali. Aku seperti anak yang dilahirkan kembali. Melihat sekelilingku yang berharap kesembuhanku. Kedua orang tua kandungku, Ibu Rahmi, kedua kakakku, sahabatku Tiro ketika di panti asuhan, mereka menunggu kesembuhanku. Aku tersenyum. Ini sudah cukup membahagiakan, mengetahui bahwa mereka ternyata mencintaiku. Tuhan, jika aku Kau beri kesempatan lagi, aku akan menjadi orang yang lebih baik lagi. Jika esok, aku Engkau ijinkan masih menghirup udaraMu, maka aku akan terlahir kembali, menjadi manusia yang jauh lebih baik dari hari ini. Aku tersenyum lagi, pada mereka yang tersenyum melihatku.

Perlahan mataku terkatup. Suara-suara terdengar lagi, isak tangis semakin keras. Badanku terguncang-guncang. Lalu segalanya gelap. Tenang.

 

Tulisan yang dibuat untuk #WriterChallenge.

 

4 responses to “#Writer Challenge – Kelahiran

  1. Teguh Puja 5 Agustus 2012 pukul 11:05 pm

    Masih tetap kental dengan pesan sosial. Keren banget.😀
    Ditambah dengan tambahan nama-nama dewa dan anak-anaknya. It’s epic!

    • weirdaft 6 Agustus 2012 pukul 3:40 pm

      terima kasih. belakangan lagi suka baca2 tentang mitologi Yunani, jadinya keselip juga. pengen nulis jg tentang dewa-dewa Yunani, tapi referensi masih terbatas. dan sekali lagi, writer challenge bikin saya update lagi. thanks a lot😀

      • Teguh Puja 6 Agustus 2012 pukul 3:49 pm

        Beberapa nama yang dihadirkan di tulisan ini gak semuanya aku kenal lho.

        Wah, kalau memang mau sekalian coba nulis tulisan fantasi berdasarkan nama-nama dewa tadi juga sepertinya menarik.😀

        Makasih juga ya, sudah berkenan jadi bagian dari #WriterChallenge lagi. Asyik punya kalian sebagai bagian dari event ini.😀

  2. weirdaft 8 Agustus 2012 pukul 12:07 am

    butuh banyak referensi dan ide, kalo mau nulis fantasi dewa2 Yunani.pengen, tapi cari ilmunya dulu mestinya

    Wah, ide soal #WriterChallenge ini yg bikin kita2 semangat nulis dan eksplore lagi.kyknya tiap ada event, pengen ikut terus.jgn bosan ya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: